Cuk dan Cis : Wayang Keroncong Bercerita

Sebuah seni pertunjukan dengan nafas lama seni drama namun unik segar manakala kembali ke permukaan dalam balutan seni wayang dan keroncong. Bungkusan menarik ini sukses luar biasa ditampilkan oleh group teater Behind The Actor pada pementasannya di Pusat Kebudayaan Erasmus Huis-Jakarta, 13 Mei 2009 setelah sebelumnya sempat dimainkan lebih dulu pada Gedung Kesenian Dewi Asri, STSI-Bandung.

stanbul-wayang-keroncong2

Berangkat dari keprihatinannya atas seni tradisi seperti wayang dan keroncong yang seolah tenggelam popularitasnya dalam masyarakat kekinian, maka Asep Budiman, sang sutradara mengenalkan kembali dua kesenian tersebut. Menurutnya, wayang merupakan akar tradisi pertunjukan teater. Sementara keroncong sendiri dari dulu sudah mempunyai daya tarik kontemplatif dan bermagnet romantika. Maka wayang keroncong ini mencoba menggali seni tradisi menjadi lebih universal dan global sehingga tidak hanya sekedar pertunjukan wayang bersama dalang atau nyanyian keroncong tapi juga akting dan tarian.

Kisah Cuk dan Cis

Lakon ini merupakan kisah yang diangkat dari sebuah cerpen berjudul Tjoek dan Tjies karya Jan Boon yang mengangkat biografi Gerda dan Didi, hasil terjemahan HB Jassin. Kisah Cuk dan Cis sendiri merupakan pertunjukan teater dua babak. Di mana Cuk, seorang perempuan yang hidup dalam kerasnya dunia laki-laki, bergaul dengan laras senapan dan perkelahian adalah rutinitasnya. Man adalah sahabatnya berpetualangnya. Namun begitu, Cuk tetap saja perempuan yang meleleh hatinya, mencintai tuan Barres seorang guru musik dan pemain cello handal. Namun sayang cinta Cuk tak berbalas, dan maut menjemput Cuk yang terhisap oleh rawa berlumpur. Man sahabatnya mengangkat jasadnya dan menangisi kepergian cintanya.

Sementara Cis dengan kisah yang sama tragisnya, Cis yang masih muda belia menikah dengan seorang Stirman keturunan Belanda. Saat menikah Cis sudah dalam keadaan hamil oleh kekasihnya Teddy yang pergi dan tak pernah kembali. Cis gagal dan menyerahkan hidup dan cintanya pada sang Stirman tua bangka, namun cinta itu tak disangka lebih besar dari yang dikiranya, bahkan disaat tentara Jepang menahan sang Stirman tersebut, Cis dengan gagah berani melawan dengan kekuatannya hingga akhirnya tentara Jepang membunuh Cis karena dianggap terlalu berbahaya.

Pementasan yang diiringi dengan musik keroncong ini merupakan buah perpaduan yang mencoba menggali kembali pementasan stambul yang saat ini praktis tidak pernah lagi dimainkan. Komposisi musik keroncong yang dimainkan dalam pementasan ini masih butuh pendalamanlagi, agar tidak semata-mata menempel pada pementasan atau sekadar mengusung romanstisme keroncong belaka.


Jan Boon dan Keroncong

Jan Boon (1911 -1974) atau dikenal dengan nama samaran sebagai Vincent Mahieu atau juga Tjalie Robinson merupakan penulis kisah Tjoek en Tjies, yang kemudian diterjemahkan oleh HB Jassin menjadi Tjoek dan Tjies. Sebagai wartawan dan sastrawan, nama Vincent Mahieu sangat terkenal, juga kecintaan pada musik keroncong. Sehingga, ketika wafatnya, Vincent Mahieu dikremasikan, dan abu jenasahnya ditaburkan di perairan Teluk Jakarta dengan iringan lagu-lagu keroncong.

Kelekatan Vincent Mahieu pada musik keroncong sangatlah kuat, terlebih Vincent Mahieu adalah salah satu pelopor Pasar Malam Tong-Tong di Den Haag, yang hingga saat ini masih terus berlagsung. Dan pementasan Tjoek dan Tjies ini juga dalam rangka memperigati 35 tahun meninggalnya Vincent Mahieu.

Geliat tari dan wayang dengan iringan keroncong menjadi penanda kebangkitan keroncong, seperti juga kepakan sayap-sayap merpati yang terbang seiring suara gemuruh angin yang membisikkan harapan. (CR-09)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial