Keroncong : Dari Akulturasi hingga Nasionalisme demi Kejayaan Bangsa dan Negara

Oleh : Johan Sopaheluwakan

Edisi Lalu :

Di akhir abad 19 karena Belanda memerlukan musik dalam permainan tonil/sandiwara maka dipakailah musik keroncong. Awalnya dengan nama Kroncong Betawi lalu Kroncong Jakarta

Di Jakarta saat itu membutuhkan musik yang netral yang dapat diterima semua suku bangsa yang menetap di Jakarta. Permasalahannya adalah semua suku bangsa memiliki musik daerah masing-masing. Orang Ambon misalnya sulit menerima musik Jawa. Demikian pula orang Aceh tidak mau menerima musik Ambon, demikian pula sebaliknya. Maka satu-satunya musik yang dapat diterima saat itu yang mewakili semua suku bangsa yang ada di Jakarta adalah musik keroncong.

Para seniman sandiwara/tonil dibawa ke seluruh Jawa, lalu terjadi proses penyempurnaan dengan standar yang tetap. Gitar dan Mandolin tetap ada. Ritme juga tetap. Di Jawa meskipun sudah memiliki gamelan, tetapi gamelan bersifat elit karena tidak semua rakyat mampu memainkannya. Rakyat ingin yang lebih bebas dan akhirnya menggunakan keroncong sebagai musik yang merakyat. Pada akhirnya pemain musik mempengaruhi dan menyempurnakan keroncong sesuai selera Jawa, maka jadilah langgam.

Dalam perkembangannya orang Jawa lebih konsisten. Musik gamelan memang sudah lebih dulu ada tetapi musik jawa/gamelam telah selesai secara sistemnya sehingga musik dari luar sulit mempengaruhinya. Tetapi karena mereka ingin lebih bebas mengembangkan musik maka berkreasilah generasi-generasi baru yang pada akhirnya dituangkan dalam bentuk musik keroncong.

Pada awal abad 20 di Nusantara timbul pergerakan-pergerakan nasional yang pada gilirannya melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tokoh-tokoh politikus di Nusantara terdiri atas politikus yang peduli budaya dan ada yang kurang peduli budaya. Politikus yang peduli budaya memikirkan konsep ciri bangsa Indonesia yang menjadi jati diri bangsa. Bahasa sudah ada, kesatuan wilayah ada, hanya dari sisi budayalah khususnya di bidang musik yang belum dimiliki, yang dalam kerangka berbangsa dan bernegara nantinya dapat merangkum dan bernafaskan nasionalisme : Indonesia.

Ada usulan bahwa musik itu yang beraliran Hindia Belanda di parlemen (volksaard) : Dr Douwes Dekker ditolak oleh Belanda, juga ada usulan beraliran Jawa namun juga ditolak. Namun ada satu pengusul yang tidak memunculkan budaya Jawa. Diungkapkan bahwa hasil budaya-budaya daerah yang memiliki nilai tinggi seyogyanya dijadikan modal untuk budaya nasional. Penggagasnya adalah Ki Hajar Dewantara, namun ditolak oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan Mohammad Yamin. Mengapa ? Ternyata saat itupun masih kental unsur kedaerahannya, kesukuan waktu itu demikian kuatnya.

Lalu ada seorang tokoh yang mengusulkan keroncong, tokoh itu adalah Armijn Pane. Dia seorang penyair (bukan pemusik) orang sunda (bukan sumatera). Armijn Pane mempertahankan keroncong menjadi musik bangsa. Alasan yang disampaikan akhirnya dipahami oleh tokoh-tokoh pergerakan waktu itu. Karena memang pada akhirnya fakta membuktikan bahwa tatkala dikejar Belanda orang-orang pergerakan dapat mengalihkan perhatian dengan memainkan keroncong. Berlindung dibalik keroncong. Lambat laun lahirlah lagu-lagu keroncong dan juga lahir pemusik-pemusik dan penyair dengan lagu-lagu yang berkualitas tinggi dan membangkitkan nasionalisme, seperti lagu Bandung Selatan karya Ismail Marzuki. Musikus dan penyair bersatu, memberikan dampak positip bagi pergerakan nasional. Pasca Kemerdekaan perkembangan keroncong tertunda karena terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia, misalnya DI/TII, RMS Maluku, dll. Akhirnya keroncong hanya berkembang di Jawa.

Bersambung .

Please follow and like us:

One thought on “Keroncong : Dari Akulturasi hingga Nasionalisme demi Kejayaan Bangsa dan Negara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial