Telah Hadir Tjroeng Edisi 14

Cover Tjroeng Edisi 14

Cover Tjroeng Edisi 14

TELAH TERBIT TJROENG EDISI 14 “KERONCONG PELOSOK NEGERI”. Dapatkan di kota-kota berikut ini : Padang Panjang, Palembang, Lampung, Jakarta, Bogor, Bandung, Cilacap, Yogyakarta, Semarang, Demak, Solo, Surabaya, Malang, Bali, NTB, Kutai. Untuk Singapore, Malaysia, Netherlands, USA, dll dapatkan softcopynya.

Pelosok Negeri Keroncong

Manakala harga Bensin diindikasikan akan naik, dari harga Rp 4,500 menjadi Rp 6,000 per liternya, sontak gemuruh aksi demontrasi merebak nyaris di setiap kota besar Indonesia. Berbagai kejadian anarkhis terjadi, yang bahkan belakangan tidak lagi bermuara pada issue kenaikan harga BBM, melainkan aksi brutal geng motor.

Kondisi di atas serupa dengan peristiwa keroncong yang hendak di-claim sebagai produk Negara lain. Sontak para pegiat keroncong di segenappenjuru Indonesia mengepalkan tangan. Bangkit, meski tidak berujung pada perilaku anarkhistis yang merugikan seluruh pihak.

Diplomasi Keroncong Nusantara

Kesenian, dalam hal ini music keroncong sebagai bagian dari kebudayaan pastilah sangat menjunjung tinggi perilaku beradab. Dan pada kondisi ini ditunjukkan melakui langkah diplomasi. Dan diplomasi paling sahih dan handal tentulah berproduksi dan terus berkomunikasi. Mustahil dunia akan mengakui music keroncong sebagai hasil karya seni Indonesia, jika di Indonesia sendiri tidak ada geliat music keroncong.

Di sini, produktivitas dan geliat keroncong sangatlah luar biasa di pelosok Nusantara. Musik keroncong dalam keseharian menunjukkan kesahihan yang tiada banding. Berbagai komunitas keroncong ada di setiap daerah aktif menggemakan irama keroncong. Kota Palembang misalnya, sebagai kota pempek praktis kurang terdengar gaungnya dalam khasanah music keroncong. Namun, di setiap Selasa Malam, pukul 21:00, Sriwijaya TV menggelar Keroncong Lovers, sebuah acara yang diminati oleh masyarakat.

Geliat keroncong Tingkilan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menunjukkan corak yang berbeda. Irama keroncong dengan sentuhan etnik memberikan kekayaan karakter keroncong pada umumnya.

Upaya mendorong diplomasi keroncong Indonesia ke dunia internasional setidaknya telah dirintis oleh beberapa group dalam mengisi event ke manca Negara. Pasar Malam Tong-Tong di Den Haag, Pesta Keroncong Johor di Malaysia setidaknya merupakan ruang untuk diplomasi melalui keroncong.

Bagaimana posisi keroncong di pelosok Nusantara dalam ruang diplomasi tersebut?

Jamboree Keroncong

Kekayaan sentuhan local dalam keroncong yang tersebar di Indonesia sangatlah luar biasa. Dan, untuk meramu kekayaan tersebut, kiranya perlu dipikirkan untuk adanya sebuah event nasional keroncong yang lebih merakyat dan memunculkan karya-karya baru. Jamboree Keroncong bisa menjadi salah satu pintu bagi penguatan jaringan, sekaligus ruang untuk memperkaya dan meningkatkan produktivitas karya music keroncong. Lokalitas merupakan sumber yang tak ada batasnya bagi pengayaan keroncong, dan pada gilirannya akan semakin mempertegas tonggak keroncong sebagai Indonesian Heritage.

Sedemikian pentingnya geliat keroncong di pelosok Nusantara, sebab semakin mengakar di masyarakat semakin kuat pula keroncong untuk terus hidup dan berkembang. Membangun ruang konsolidasi seperti halnya menyelenggarakan jamboree keroncong Nusantara menjadi salah satu agenda yang dapat memiliki banyak manfaat. Persatuan seluruh pelosok Nusantara pastilah akan mengguncang dunia. (mboets)

Ariyanta Rusmana: Pendekar Keroncong dari Timur …

“Le, kamu harus bangga menjadi penyanyi/pemusik keroncong!”

“Karena musik keroncong itu asli milik bangsa kita. Di samping itu, jarang orang yang menyanyikan atau memainkan alat musik keroncong sehingga kalau kamu bisa, maka kamu termasuk orang yang pandai. Orang yang memainkan musik keroncong sekarang ini sudah sepuh-sepuh. Siapa lagi yang akan menggantikan kalau bukan kamu?” begitu wejangan dan harapan yang disampaikan oleh Ibunda tercinta, yang begitu dalam membekas di hati Ariyanta kecil, yang sudah sering diajak latihan keroncong sejak usia 6 tahun. Oleh karena itulah, Ariyanta kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda yang menggemari keroncong.

Ariyanta lalu mencoba mengikuti ajang pemilihan Bintang Radio dan Televisi (BRTV) Tingkat Remaja tahun 1987 di RRI Stasiun Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan hasilnya mendapat Juara Harapan 1. Keyakinan mulai timbul di dalam diri Ariyanta dan menambah semangatnya untuk serius mengeroncong. “Boleh dibilang, sejak saat itu, saya mulai keranjingan keroncong,” jelas Ariyanta. Peran dan jasa ayah ibu Ariyanta sangat besar dalam hal ini. “Ibu saya yang penyanyi keroncong, Alm Hj Ruliyah, dan ayah saya, Alm H Ahmad, adalah orang-orang yang sangat berjasa membuat saya mencintai keroncong, juga saudara-saudara saya,” lanjutnya kemudian.

Ariyanta, yang menjadi anggota aktif OK Irama Masa Mataram sejak 1986, lalu mulai menekuni keroncong lebih dalam. Tidak hanya bernyanyi dan bermain musik keroncong, ia juga aktif bermain musik dengan irama lain. “Pada saat saya masih mahasiswa, sekitar tahun 1988, selain bermain keroncong, saya juga bergabung dalam sebuah kelompok band. Hampir setiap Sabtu malam kami mengisi acara, ngamen di Hotel bintang 4 di Senggigi. Di waktu yang sama, ada jadwal latihan keroncong OK Irama Masa Mataram yang dimulai jam 8 malam, sedangkan ngamen-nya dimulai jam 7 malam. Pada pimpinan OK Irama Masa, saya minta ijin agar bisa latihan mulai jam 11 malam karena ngamen di Senggigi berakhir pada jam 10 malam,” kenangnya Ariyanta.

Karena seringkali terlihat tergesa-gesa meninggalkan tempat ngamen, salah seorang personil band pernah bertanya kepadanya, “Kenapa terburu-buru? Mau kemana? Istri saja belum punya…” Ariyanta menjawab, “Saya ditunggu teman-teman latihan keroncong di Mataram. Perjalanan dari sini ke Mataram butuh waktu sekitar 30 menit.” Temannya lalu menjawab, “Ahhh… Kenapa kamu berat sekali sama musik keroncong, itu kan punya orang tua. Nanti kamu cepat tua! Orang-orang keroncong itu kan kampungan, kelompok marjina.” Mendengar pernyataan seperti itu, Ariyanta tidak menyahut lagi, marah dan segera meninggalkan tempat. Tetapi setelah Ariyanta merenung, ternyata apa yang dikatakan temannya sebenarnya tidak salah karena memang teman bermain keroncongnya memang sudah sepuh-sepuh, kemudian miskin ilmu musik. “Banyak yang kurang mampu. Tapi, hal itu tidak membuat saya menjadi surut. Justru saya semakin ingin meningkatkan ilmu musik dan segera mengajak musisi ternama di Mataram untuk bergabung di keroncong,” papar Ariyanta sembari tersenyum.

Hari demi hari berlalu, Ariyanta mulai menimba ilmu pada Helmy Anwar, seorang musisi ternama di Mataram, yang kebetulan bisa bermain berbagai alat musik seperti keyboard, piano, flute, sax, clarinet, trompet dan gitar. Ternyata kemudian, Helmy malah berkenan untuk bergabung bersama di OK Irama Masa. “Suatu ketika, saya tunjukkan kepada teman personil band tadi, apakah Helmy Anwar sudah sepuh? (umurnya waktu itu kurang lebih 35 tahun) Atau marjinal? Teman saya malu luar biasa dan mengatakan bahwa saya beruntung bisa main sama Helmy, yang diakui sebagai panutan musisi di Mataram,” papar Ariyanta bangga.

Selain bergabung dengan sebuah orkes keroncong, Ariyanta juga membantu beberapa orkes keroncong lain, bahkan juga melatih OK Korma (Keroncong Mahasiswa) Mataram dan OK Harmony Mataram. Kiprahnya tidak tanggung-tanggung karena ternyata di waktu senggangnya, Ariyanta juga menciptakan lagu keroncong. “Kurang lebih 30 lagu. Salah satunya adalah Kr Hati Lara yang pernah dibawakan pada acara Gebyar Keroncong TVRI Jakarta tanggal 25 Mei 2009. Waktu itu yang menyanyikan Lusiebaya dan diiringi OK Pesona Jiwa-nya Koko Thole,” tambahnya.

Petualangan Ariyanta dalam rangka melestarikan keroncong membuatnya malang melintang di ajang BRTV, baik sebagai peserta, pengiring, maupun sebagai salah satu dewan jurinya. Salah satu ajang keroncong yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti Festival Nasional Musik Tradisional (Keroncong) Tingkat Nasional pada tanggal 24-28 Oktober 1993 di Jakarta, yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Ketika ditanya tentang perkembangan keroncong saat ini, Ariyanta berkata bahwa keroncong saat ini boleh dikatakan hidup segan mati enggan. Ia lalu berkhayal,”Jika setiap SMA dan Kampus di Indonesia memiliki satu grup keroncong, kita bisa adakan festival keroncong tingkat pelajar dan mahasiswa se-Indonesia.” Parahnya, lanjut Ariyanta, sekarang ini banyak orkes keroncong yang gontok-gontokan gara-gara job. Ada juga musisi atau vokalis keroncong yang apatis, tidak mau tahu kalau disebutkan keroncong itu asalnya dari Portugis atau Amerika atau Malaysia. Padahal hal ini penting: musik keroncong itu asli milik Bangsa Indonesia, tidak bisa ditawar-tawar, tegasnya.

Ketika disinggung soal peningkatan kemampuan bermusik seorang musisi keroncong, Ariyanta menjawab,”Mungkin karena main keroncong itu sudah pasti (pakem), jadi musisinya tidak mau meningkatkan ilmu musiknya. Padahal, semakin tinggi ilmu musik yang dimilikinya akan semakin baik juga wawasannya.” Hal inilah yang mengakibatkan apresiasi masyarakat terhadap keroncong juga rendah. Jika musisi/vokalisnya berilmu musik terbatas sehingga kemampuannya terbatas, pasti berpengaruh terhadap penampilannya, lanjutnya.”Apresiasi masyarakat terhadap keroncong akan baik jika disuguhkan dengan elegan, saya yakin itu,” jelasnya meyakinkan.

Dalam mengembangkan dan memajukan musik keroncong, masing-masing harus mengambil bagian dan peran masing-masing. Sebagai contoh, musisi dan vokalis keroncong harus meningkatkan ilmunya untuk dapat dibagikan kepada generasi muda setelah ia mencapai umur tertentu. Kemudian pemerhati/pegiat keroncong yang memiliki kemampuan lebih harus turut berpartisipasi dalam hal donasi anggaran, untuk menunjang kegiatan operasional. Pemerintah mempunyai peran mengadvokasi dan memfasilitasi keroncong untuk dapat meremajakan musik ini, melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan/Pariwisata, untuk dapat memfasilitasi pengenalan orkes keroncong melalui pertunjukan di hotel-hotel maupun tempat hiburan lainnya. Sementara media berfungsi untuk menyebarkan informasi yang luas kepada masyarakat tentang keroncong, seperti yang dilakukan oleh Buletin Tjroeng. Begitu ungkap Ariyanta, memberikan sumbang sarannya dalam hal pelestarian keroncong.
“Penyanyi keroncong idola saya sangat banyak, baik pria maupun wanita, seperti Ismanto, Toto Salmon, Imam Mukri, Soekardi, Sri Widadi, Soendari Soekotjo, Waldjinah, Tuty Maryati dan masih banyak lagi,” jawabnya saat ditanya soal idola. “Mus Mulyadi, Rama Aipama, Bondan Prakosa, Waldjinah, Hetty Koes Endang dan Sundari Soekotjo, adalah seniman-seniman keroncong yang memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan keroncong di Indonesia,” tambahnya.

Kalau soal lagu keroncong yang disukai, Ariyanta menjawab cepat,”Hampir seluruh lagu keroncong saya sukai, tapi yang paling berkesan adalah Kr Sepercik Nyala Api karya Budiman BJ,” Bunyi syair Kr Sepercik Nyala Api:

Kabut hitam membayangi dihari-hari yang lalu
Berarak diangkasa tiada celah yang cerah gairahpun membeku
Nyala api didalam dada ingin segera menembus gelapnya alam budaya ini
Walaupun hanya sekedar percik api yang tiada berarti
Terbayang kini harapan sepoi  angin meniup melenyapkan gelapnya semesta
Semoga kian membara budaya bangsaku Indonesia

“Lagu ini menggambarkan bahwa Pak Budiman BJ melihat kebelakang bahwa musik keroncong didominasi oleh para sepuh, sehingga kekhawatiran beliau terhadap regenerasi keroncong digambarkan pada kata “kabut hitam”. Kemudian, beliau ingin agar keroncong lebih maju dengan apa yang ada pada beliau, untuk lebih meremajakan musik keroncong. Selanjutnya, Pak Budiman juga melihat ada para remaja yang beliau bina dapat memberikan angin sejuk untuk melanjutkan generasi keroncong dengan harapan dapat mempertahankan dan memajukan budaya asli Indonesia, yakni musik keroncong. Pak Budiman adalah tokoh pembarahu keroncong Indonesia,” jelas Ariyanta.

”Intinya, untuk dapat membaur di kalangan remaja dan anak muda, musik keroncong harus berbenah diri, mulai dari umur penyanyi dan pemainnya yang diremajakan. Peningkatan ilmu bermusik pun harus ditingkatkan agar dapat dijual, sehingga biaya operasionalnya dapat dipenuhi. Itulah kenapa sampai sekarang saya ingin terus meremajakan keroncong di daerah saya,” harapnya menutup pembicaraan dengan Tjroeng. (Totot)

BIODATA:
Nama                        :     ARIYANTA RUSMANA, SE
Nama Panggilan       :     ANTA
Tempat Tgl Lahir     :     PRAYA, 16 JANUARI 1969
Status                       :     MENIKAH
Istri                           :     ANIS SU’UDAH, SP
Anak-anak               :     1. ADHYATMA ANANDA PRATAMA
2. AUFA DWI PUTRANTO
Pekerjaan                :     PNS (Bagian Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Kab  Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat)
Sekolah                        :    SDN.    4 PRAYA (1975-1982) di PRAYA
SMPN 2 PRAYA (1982-1985) di PRAYA
SMAN 1 PRAYA (1985-1988) di PRAYA
FAK EKONOMI UNRAM (1988-1994) di MATARAM

GELIAT KERONCONG NUSANTARA

Katanya sedang di Palembang,” demikian sebuah pesan yang ada dalam laman facebook personel Tjroeng. Pesan itu membuat terhenyak, terlebih setelah tahu bahwa yang meninggalkan pesan adalah anak muda, kuliah memasuki semester kedua. Dari obrolan yang terjadi, Tim Tjroeng mendapat undangan untuk bisa datang pada acara Keroncong Lovers yang disiarkan langsung oleh Sriwijaya TV, pada pukul 21:00 setiap hari Selasa.

Sepanjang 1 (satu) jam, menikmati keroncong secara live di studio Sriwijaya TV, cukup memberikan arti setidaknya bagi kota Palembang dan sekitarnya. Terlebih, dengan tampilnya Bunga (18 tahun) sebagai penyanyi keroncong member suasana tersendiri. Mahasiswi semester 2 di Universitas PGRI Palembang tersebut menunjukkan bahwa, generasi muda di kota Palembang sudah mulai terlibat dalam usaha menghidupkan keroncong. Setidaknya prestasi Bunga, sebagai juara pertama festival lagu keroncong tingkat mahasiswa layak untuk dijadikan tonggak bangkitnya keroncong di Palembang.

Keroncong Antar Daerah

Geliat keroncong di berbagai daerah di Indonesia semakin hari semakin ramai. Dan, keterlibatan dalam keroncong tidak semata urusan pemusik dan penyanyi keroncong semata. Untuk Jakarta, setidaknya Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat pada tanggal 24 s/d 26 Mei 2012 menyelenggarakan Festival Penyanyi Keroncong se Jawa-Bali dan Sumatera bertempat di Balai Latihan Kesenian Jakarta Barat Jalan Rama Raya, Komplek Persada Sayang, Rawa Buaya, Cengkareng. Festival tersebut diselenggarakan untuk kategori Umum dan kategori Siswa SMA/ sederajat. Menurut Lilis, salah satu panitia acara, penyelenggaraan festival ini sebagai langkah untuk menjaring bakat-bakat baru di bidang keroncong.

Disampaikan oleh Tri Sulistyowati, SH,MH yabng akrab dipanggil Lilis selaku Koordinator Acara, Penyelenggaraan festival keroncong untuk Memperingati 104 Tahun Kebangkitan Nasional dan 14 Tahun Reformasi. Setidaknya ada 4 (empat tujuan) dalam penyelenggaraan festival, seperti dilansir oleh Panitia, yakni : 1) Menggelorakan atau memupuk jiwa dan semangat nasionalisme serta cinta tanah air di kalangan generasi muda dan masyarakat pada umumnya dalam rangka membangun karakter bangsa melalui penghayatan lagu-lagu keroncong bertema perjuangan dan cinta tanah air; 2) Menyalurkan potensi/ bakat seni suara bagi pecinta keroncong; 3) Melestarikan lagu-lagu keroncong di khasanah seni musik nasional sebagai salah satu seni budaya Indonesia; dan 4) Mewujudkan partisipasi Universitas Trisakti dalam memajukan kebudayaan Nasional.

Masih di sekitar Jakarta, sekumpulan pegiat keroncong dari berbagai wilayah bertemu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk untuk saling menyaksikan pertunjukan antar insan keroncong. Setidaknya perutusan dari berbagai group keroncong hadir, semisal personel dari Sanggar Kemala Puspita (Bogor), de Temasik (Singapore), Tasikmalaya, Lampung, Bandung dan Jakarta sendiri. Semangat “Keroncong Harus Tetap Abadi Dan Selalu Exist” menjadi dasar bagi para pegiat ini bertemu dan saling belajar.

Di Demak, Jawa Tengah, Komunitas Pecinta Keroncong (KPK) Demak rutin menyelenggarakan Pagelaran Keroncong Akhir Bulanan. Dan pada bulan Mei didukung oleh OK Gita Citra Alam dan Hotel Citra Alam menggelar acara “Keroncongan Bersama” dengan menghadirkan OK Harmoni dari Semarang.

Di Semarang, “Festival Semarang Gayeng Tenan” menampilkan Congrock 17 yang feat Tata Zaneta dan Acha Paramita. Festival itu sendiri merupakan acara rutin Kota Semarang dalam menyemarakkan kegiatan kesenian.

Marco Marnadi, pimpinan Congrock 17 yang sekaligus juga pegiat Dewan Kesenian Semarang mencoba memberikan warna yang lebih hidup bagi geliat keroncong di Indonesia pada umumnya.

Kartini Keroncong dan Kaum Muda Berkeroncong

Secara khusus, pada bulan tanggal 21 April 2011 bersamaan dengan ulang tahun OK ISAKUIKI, Cilacap menyelengarakan “Tjilatjap Kerontjongan Maning” bertempat di Alun-alun Cilacap. Terlibat dalam acara tersebut adalah OK Nadya Dewi (Purbalingga), OK Gema Kencana (Banyumas), OK Cahaya Muda (Cilacap), OK Tunas Wiku (Cilacap), OK Irama Abadi (Kroya) dan OK ISAKUIKI sebagai tuan rumah.

Pementasan OK Nadya Dewi dalam acara tersebut, setidaknya member warna tersendiri. Sebagai group keroncong dengan personel yang seluruhnya perempuan menegaskan tegaknya emansipasi dalam dunia kesenian. Meski dalam hal ini, regenerasi perlu mendapat perhatian.

Dalam konteks regenerasi serta pendidikan keroncong, Radio Lita FM Bandung bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia Bandung dan LAPIS LEGIT Orkes Keroncong UPI Bandung.dengan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Bandung menyelenggarakan “Workshop Berkeroncong Bagi Krontjongers Moeda Bandoeng”. Workshop ini didukung oleh DPP HAMKRI, Krontjong Toegoe Djakarta, OK.Pesona Jiwa Jakarta, OK. Batavia Mood Jakarta, Oxygen Keroncong Entertainer Bandung, KTN Bandung.

Sebagai narasumbar dalam workshop tersebut adalah Ages Dwiharso (OK Batavia Mood) dan Koko Thole (OK Pesona Jiwa). Materi yang dibahas dalam workshop ini adalah bagaimana menghidupkan keroncong pada saat ini. Sehingga salah satu materi yang disampaikan cukup teknis tentang teori music keroncong.

Disamping itu, menyikapi keroncong di era sekarang. “Apa yang mau kita lakukan dengan keroncong, karena keroncong bisa menyelamatkan Indonesia,”seperti disampaikan oleh Partho DJ, selaku Penyelenggara. Peserta yang seluruhnya adalah anak muda, tertantang dengan sapaan tersebut, menjalani workshop hingga usai.

(mboets : diolah dari berbagai sumber)

MUSIK TINGKILAN DAN KERONCONG SEBAGAI WARISAN BUDAYA INDONESIA

Oleh Nueng Ibrahim

 IRAMA BAHARI MUSIK KERONCONG & TINGKILAN

Budaya adalah suatu warisan dari leluhur atau nenek moyang kita yang tidak ternilai harganya. Negara Indonesia disebut Negara maritim karena dikelilingi oleh banyaknya pulau, budaya Indonesia yang sangat beraneka ragam telah membentuk kepribadian bangsa itu sendiri, budaya itulah yang mampu merubah sikap manusia.

SEJARAH MUSIK TINGKILAN

Musik Tingkilan merupakan warisan budaya leluhur Kutai Kartanegara. Kutai kartanegara merupakan kota bersejarah, dimana daerah ini dulunya terdapat peristiwa sejarah kehidupan masyarakat, yaitu adanya sebuah Negara sebelum adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.Daerah ini dipimpin oleh seorang raja Kutai Kartanegara Ing martadipura dan di dalam sejarah bangsa Indonesia, kesultanan Kutai Kartanegara adalah kerajaan Islam tertua di Nusantara.Akibat pengaruh budaya islam ini, maka pada waktu itu ada seseorang yang bernama “ ANDUN ‘ membuat alat petik bentuknya menyerupai Ganon, alat musik padang pasir, kalau di tanah kutai disebut GAMBUS.Dalam kurun waktu tertentu terciptalah sebuah komunitas musik, yang dinamakan musik tingkilan

Musik Tingkilan adalah musik daerah pesisir Mahakam. Lagu tingkilan di gunakan masyarakat zaman dahulu kala sebagai pengantar bahasa atau keinginan seseorang untuk menyampaikan sesuatu baik ilmu maupun nasihat serta pernyataan pribadi atau percintaan dalam bentuk pantun atau sindiran yang disampaikan saling berbalas pantun. Musik tingkilan juga biasa digunakan untuk musik pengiring sebuah tarian yaitu tari JEPEN. Kesenian ini biasa di tampilkan pada acara-acara seremonial baik yang bersifat keagamaan, upacara perkawinan, upacara pemberian nama anak (bayi) maupun acara – acara hiburan lainnya.

ARTI DAN MAKNA TINGKILAN

Tingkilan berasal dari bahasa kutai, di mana terdiri dari 2 (dua) kosakata yaitu TING & KIL, TING artinya suara sebuah senar yang di petik, sedangkan KIL adalah pekerjaan memetik senar gambus dan adanya akhiran an disitu adalah symbol perbuatan orang yang memainkan atau biasa disebut NINGKIL (dalam arti perbuatan). Dalam bahasa hakikat atau pilsafat Kutai Kartanegara, TING itu berarti : cepat atau secepat kilat sedangkan KIL itu berarti: Ketangkasan atau kemampuan. Tingkilan dalam bahasa filsafat kutai kartanegara adalah kemampuan yang lebih atau ketinggian ilmu. Dapat dijabarkan lagi arti kemampuan lebih atau ketinggian ilmu itu adalah ketaatan, santun, rendah hati menuju pada iman dan taqwa.Itulah ciri dari kepribadian bangsa Indonesia. Nah, kalau kita pelajari ungkapan tingkilan itu bermakna ketaatan dan kesantunan dalam berilmu, dalam berbahasa, berbangsa, bernegara, bermasyarakat, serta berkeluarga. Inilahinti suatu ungkapan budaya terhadap kehidupan manusia di muka bumi, agar manusia tidakmeninggalkan budaya bangsanya sendiri. Budaya itu tumbuh di kembangkan oleh para leluhur kita bukan sekedar ciri peradaban namun lebih dari itu terkandung makna yang sangat dalam bagi kehidupan manusia.

ALAT PERKUSI

Alat musik tingkilan yang di gunakan adalah :

  1. Satu buah Gambus.
  2. Dua buah ketipung atau gendang.

1. GAMBUS

Bahan untuk membuat sebuah gambus adalah dari kayu yang tidak terlalu padat daya rekat isi kayu tersebut. Pengrajin biasanya menggunakan kayu nangka untuk membuat sebuah gambus agar mampu menghasilkan getaran suara dinamik sebuah musik gambus dan gambus berdawaikan 4 shap di mana setiap shapnya terdapat 2 buah dawai atau senar dan satu dawai tunggal berfungsi sebagai bass (jatuhnya mat pada sebuah irama).Dengan perkembangan tekhnologi maka sekarang Gambus ada yang berdawai 7 bahkan ada yg berdawai 9. Dahulu orang baharimenggunakan dawai yang terbuat dari bahanswasa, campuran tembaga dengan emas, sebelumsenar nilon di ciptakan. Untuk membuat dawai tersebut menggunakan cara tradisional seperti orang membuat tali logam di tukang emas yang disertai dengan mantra menurut ajaran agama Islam dan melakukan puasa beberapa hari.Maka tak heran jika kita pernah mendengar cerita orang dahulu, bahwa ada wanita maupun pria yang mendengar suara gambus tergila-gila dengan orang yang memetik gambus.Barangkali kalau kita ambil dalam bahasa filsafat tingkilan itu berartitingginya ilmu, karena getaran suara saja mampu membuat orang tergila-gila dengan orang yang mengumandangkan suara gambus.

2. KETIPUNG

Ketipung adalah sebuah gendang kecil, terdiri dari kayu bundar berlubang di tengahnya untuk menumbuhkan suara bulat dan di muaranya di beri kulit sapi atau kambing.Pada mulanya masyarakat kutai membuat gendang ini dengan membentuk 2 sisi tabuh seperti gendang jawa. Tetapi ada juga yang menggunakan satu sisi tabuh dan dimainkan oleh dua orang penabuh yang di namai masyarakat kutai BERUAS.

EVOLUSI DAN REVOLUSI MUSIK TINGKILAN

Musik tingkilan dalam perjalanannyamenemui era tekhnologi dimana musik tingkilan mampu berkaloborasi dengan alat musik keroncong dengan tidak meninggalkan aspek tradisi baik alat musik maupun lirik dan melodynya. Adapun komposisi alat yang di gunakan adalah :

    1. Gambus.

    2. Gitar acustik.

    3. Cello / Selo.

    4. Ukulele.

    5. Tenor (cak).

    6. Contra bass atau Bass gitar elektrik.

    7. Biola.

    8. Flute.

    9. Organ atau keyboard.

    10. Saxophone.

PELESTARIAN SENI MUSIK TINGKILAN

Budaya musik keroncong Tingkilan adalah salah satu bentuk warisan leluhur yang sepatutnya di lestarikan dan di perkenalkan kepada masyarakat dunia.

Musik Tingkilan pada perkembangannya merupakan salah satu musik yang berakar pada budaya bangsa dengan mempunyai sajian yang sangat unik dan tidak ada di daerah lain, karena ada beberapa instrumen dan pola permainan yang tidak dimiliki setiap musik didunia seperti gambus, cello, ukulele, yang dimainkan secara tehnik yang berbeda dari biasanya. Apalagi bentuk dan karakter suaranya yang lain membuat musik tingkilan digemari masyarakat Indonesia.

Hanya permasalahannya yang di hadapi masa kini,adanya musik modern seperti musik rock, dangdut, pop, dan lain-lain.Kecendrungan generasi muda untuk menggali potensi musik daerah ini hampir tidak tersentuh.Yang sangat menyedihkan, musik tingkilan yang di mainkan oleh beberapa kelompok seni di dalam masyarakat kutai kartanegara di kemas asal-asalan atau tidak profesional.Sekarang ini dapat dilihat banyak sekali masyarakat yang tidak menghargai budayanya sendiri, dikarenakan akibat melemahnya minat generasi muda untuk menggali potensi budayanya sendiri.Sedangkan kita tahu hasil pengamatan kita selama ini bahwa musik tingkilan cukup banyak di gemari oleh masyarakat luar daerah, hanya tinggal bagaimana kita mengemas suatu garapan yang lebih harmonis dengan menggabungkan jenis alat musik lainnya, seperti penggabungan antara musik keroncong dengan musik dan lagu tingkilan.

Ansambel Tingkilan

Ansambel Tingkilan sekitar tahun 1950 belum begitu di pengaruhi oleh unsur-unsur musik keroncong, para seniman dan seniwati tingkilan masih menggunakan alat musik yang di anggap tradisional dalam budaya mereka sendiri, misalnya Gambus, Ketipung, Marwas, Rempak.

Biasanya ansambel Tingkilan dengan instrumenasi seperti ini digunakan dalam berbagai acara, terutama sebagai hiburan di kalangan masyarakat dalam lingkup yang sempit (yakni mereka yang berada di tempat pementasan Tingkilan tersebut).

Salah satu contoh ansambel Tingkilan yang belum terpengaruh Keroncong.( yang memainkan adalah seorang tuna netra ).

Ansambel Tingkilan Kontemporer

Ansembel musik tingkilan saat ini telah terpengaruh dengan idiom-idiom musik keroncong baik dari segi instrumenasi pola permainan, maupun dari idiom-idiom musiknya. Instrumen dalam ansembel tingkilan saat ini meliputi, Sello, Cak, Cuk, Gitar akustik, Bass, Biola, Flute, Organ, Saxophone dan lalin lain.

Upaya yang ingin di capai dalam pengembangan musik tingkilan ini adalah :

    1. Terlestarinya seni budaya kutai kartanegara yang lebih bermartabat ke seluruhNusantara dan dunia, khususnya Daerah Kutai Kartanegara.

    2. Memperkenalkan seni budaya Kutai Kartanegara ini kepada generasi penerus melalui sekolah-sekolah dan dapat dijadikan sebagai muatan lokal.

    3. Pembuatan CD dan VCD baik pendokumentasian lagu tingkilan tradisional maupun yang kontemporer serta penjelasan singkat sejarah budaya tingkilan maupun cara memainkan musik tingkilan.

Anak-anak Muda Desa Masa Kini Penggemar Keroncong

Menulis tentang keroncong pasti memakai kata mendayu, mengalun”, demikian komentar seorang teman ketika mengetahui saya sedang mengerjakan tulisan ini. “Mendayu” dan “mengalun” memang tidak bisa dipisahkan dari irama musik keroncong. Tetapi tidak seluruhnya benar. Simaklah Keroncong Adi Luhung, di sela irama mendayu dan mengalun khas musik keroncong, anda akan menemukan hentakan-hentakan irama jazz dengan nada-nada minor sebagai ciri khasnya. Pemainnya sendiri dengan bangga menyebut aliran musiknya adalah “keroncong jazz blues” (aliran apalagi ini…?).

Tidak Biasa Justru Karena Biasa

Kelompok musik ini memang sangat tidak biasa. Muncul dari tempat yang tidak biasa; bukan di lingkungan kota besar dan gudang seniman melainkan di desa yang didominasi oleh selera dangdut dan karawitan jawa. Dilatih bukan oleh pelatih biasa; bukan ahli musik melainkan oleh orang yang tidak pernah belajar musik secara formal, bahkan tidak bisa membaca notasi balok. Oleh pelaku yang tidak biasa; bukan oleh para buaya keroncong atau seniman-seniman intelek kelas menengah, tetapi anak-anak remaja yang kesehariannya juga menikmati musik pop (termasuk Ayu Ting-Ting) serta masih sekolah dan sebagian lainnya bekerja serabutan, bahkan bekerja kasar sebagai kuli bangunan. Dalam dunia musik khususnya keroncong, mereka menjadi fenomena yang tidak biasa karena dilakukan oleh orang biasa di lingkungan yang biasa. Sungguhpun demikian, prestasi mereka cukup luar biasa. Dari pentas keliling pada acara hajatan-hajatan di kampung, mengisi acara warung keroncong yang diselenggarakan Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) Semarang, tampil di beberapa stasiun TV lokal, hingga akhirnya diminta untuk mewakili karesidenan Semarang dalam acara event Lomba Musik Keroncong Remaja tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Jateng dan menyabet juara I mengalahkan kelompok keroncong dari kota besar yang terkenal sebagai gudangnya para buaya keroncong yaitu Solo.

Di tengah riuhnya budaya pop dan instant sekarang ini, ketika organ tunggal mendominasi pementasan-pementasan di berbagai daerah, ketika hampir semua anak muda belajar musik eletrik dan berkiblat pada grup-grup band atau dangdut, para remaja dari kecamatan Limbangan, kabupaten Kendal, Jawa tengah ini menolak menggunakan alat musik eletrik dalam bermusik. Mereka berkumpul setiap malam Sabtu di rumah kosong milik warga untuk berlatih keroncong dari alat-alat musik akustik seperti cuk/kencrung, cak, biola, flute, bass betot, gitar dan cello. “Bermain musik keroncong ternyata mengasyikkan mas, apalagi dengan alat musik asli. Unik dan tidak pasaran”, demikian kata mereka ketika ditanya alasannya. Apa yang anak-anak muda lakukan ini tentu merupakan awal yang sangat baik bagi tumbuhnya tradisi bermusik yang sejati, bermusik sebagai media menyelaraskan diri dengan Semesta sehingga segala perilaku diri kita selalu mendapatkan bimbingan Jiwa Semesta. Dalam tradisi Jawa lama dikenal ungkapan “jumbuhing jagad cilik lan Jagad Gedhe” harmoninya dunia kecil (diri manusia) dengan Dunia Besar (Semesta, Zat Yang Maha Esa dan Kuasa, Sang Khalik/Pencipta). Para leluhur kita di Nusantara mencontohkan bagaimana menggapai harmoni itu salah satunya adalah dengan bermusik. Suasana bermusik yang sangat jauh berbeda dari nuansa entertainment seperti sekarang ini. Dalam bermusik untuk pencapaian harmoni dengan Sang Khalik, yang dijadikan pertimbangan utamanya adalah sejauhmana kegiatan bermusiknya mengantarkan kedamaian, ketentraman dan keutuhan diri pada pemusiknya dan pendengarnya. Maka jangan harap Anda akan menemukan nuansa mesum misalnya, dalam tradisi musik ini. Inilah yang sering kita katakan bahwa seni (musik salah satunya) adalah tuntunan, bukan tontonan.

Bermula pada tahun 2008 ketika tiga kelompok keroncong kampung (tentu saja orang-orang tua) dari dua kecamatan yang bertetanggaan berkumpul berlatih keroncong bersama. Anak-anak muda sekelilingnya yang selama ini sudah biasa berlatih dangdut atau nongkrong-nongkrong di pinggir jalan sambil bergitar, tertarik ikut ngumpul dan berlatih. Hingga pada akhir Agustus 2010 anak-anak muda tersebut memilih berkumpul diantara mereka sendiri untuk berlatih bersama setiap sekali dalam seminggu. Ketika terjadi bencana letusan Merapi, kelompok keroncong anak-anak muda ini menyempatkan diri keliling kampung mengamen untuk menggalang dana bagi korban bencana.

Pada akhir 2010 kelompok anak-anak muda ini mendapat dukungan dari Polsek Kecamatan Limbangan dalam kerangka program Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat. Lembaga mendampingi latihan rutin kelompok ini, termasuk memberikan penyemangat latihan bagi para anak muda yang ikut dalam grup musik ini. Forum ini juga melibatkan tokoh masyarakat lainnya (sekalipun bukan pemain musik) untuk mendukung pengelolaan kelompok musik Adi Luhung. Hingga pada 17 Desember 2010 berdirilah secara resmi Kelompok Keroncong Adi Luhung. Saat ini, personil Adi Luhung berjumlah 11 orang yang terdiri dari 7 pemusik, 2 penyanyi dan 3 pengurus organisasi, dan 1 orang pendamping latihan. Pemusik dan penyanyinya semua berumur dibawah 25 tahun.

Belakangan, Kelompok Adi Luhung juga mengadakan semacam kaderisasi dengan memfasilitasi sekelompok bocah-bocah remaja yang masih duduk dibangku sekolah menengah pertama untuk mulai berkumpul dan berlatih musik keroncong bersama. Kali ini benar-benar mulai dari nol karena sebagian besar anak-anak tersebut bahkan baru pertama kali memainkan alat musiknya. Salut untuk kesabaran dan semangat Adi Luhung, selain berprestasi juga mau membimbing adik-adik yuniornya!

Ketika malam semakin larut di desa Limbangan, bebunga kopi harumnya menyebar ke berbagai penjuru, berbaur dengan harum bunga “preh” dari kuburan umum desa, sambil menikmati sesapan kopi Gentong khas racikan pak Bewok di ujung kampung, terdengar irama yang mendayu dan mengalun musik keroncong, dan hentakan-hentakan aroma jazz-nya… Hidup ini apa lagi…?

(Widi Heriyanto)

CONGROCK 17 SEMARANG & HUT 156 KAB.CILACAP

Uut Permatasari Berkeroncong

Ini cerita lain tentang keroncong. Bila selama ini kebanyakan keroncong dipentaskan dalam ruang tertutup, dengan stigma ditonton kaum sepuh, manggut manggut setengah ngantuk, mendayu syahdu, melodius dan seabreg embel embel lain mengenai musik crang crung crang crung, maka ini keroncong yang tetap menggunakan cak, cuk, cello, plus “ke-edanan” lainnya. Namanya Cong Rock 17, pimpinan Marco Marnadi dari Semarang. 

Pada saat pesta perayaan Hari Jadi ke 156 Kabupaten Cilacap di alun alun kota ini Rabu 21/03 lalu, “keroncong edan” yang diusung CongRock 17, bukan sekadar pelengkap hiburan dihadapan ribuan masyarakat yang berpesta. Keroncong justru menjadi sajian utama hiburannya. Tak mau disebut musik embah embah, apalagi musik ‘jadoel’, CongRock menggamit Uut Permatasari “Si Ratu Goyang” untuk menjadi bintang utamanya.

Dan ‘perkawinan’ Uut Permatasari dengan CongRock menghasilkan kesegaran yang tida tara. lebih dari lima lagu irama joget, dikemas begitu indahnya, tanpa meninggalkan warna keroncong dalam balutan energitas yang tidak melangut-kan. Uut maksimal menyanyikan beragam lagu dangdut, bahkan pop, pula berhasil mengajak penonton bergoyang. Bahkan Bupati dan istrinya pun didaulat Uut untuk menemani nyanyi.

Tak hanya Uut yang menggoyang ribuan penonton. Orkes Keroncong Bocah Asli Cilacap yang tergabung dalam Tunas Wijaya Kusuma, menjadi sajian pembuka dengan ke-PD-an yang luar biasa pula. Kali pertama inilah, mereka tampil di depan ribuan publik terbuka. 

Di awal acara, CongRock 17 Semarang juga memberikan piagam penghargaan kepada Bupati Cilacap atas peran sertanya dalam pelestarian keroncong di daerahnya, dengan berkenan ‘nanggap’ keroncong (BW)