Pendidikan dan Kebangkitan Keroncong

Cak Cuk edisi 13

Cara kita memandang, menentukan cara kita menanggapinya. Demikian dinyatakan oleh seorang bijak dalam bukunya.

Sudut pandang kita terhadap Negara, sudut pandang kita terhadap masyarakat akan menentukan sikap-sikap kita selanjutnya terhadap persoalan yang muncul. Ketika Negara dipandang sebagai asset ekonomi, maka pengelola Negara akan menjadikan seluruh potensi yang ada sebagai asset ekonomi semata-mata yang sifatnya sesaat. Ketika Masyarakat dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan, maka pengelola Negara akan menjadikan masyarakat atau warganegaranya sebagai bagian dari mesin industry yang jika tidak berfungsi bisa segera dibuang.

Berbicara tentang Negara dan Bangsa tidak bisa dilepaskan dari upaya membangun sudut pandang tersebut. Seperti dinyatakan oleh Menteri Pendidikan, bahwa “Anak Bangsa ini Harus Diisi Mental Kebangsaan” menyikapi menurunnya sikap nasionalisme yang terjadi di Indonesia sebagai gejala lemahnya pemahaman prinsip-prinsip dasar bernegara. Namun demikian, sebagai bangsa dan sebagai Negara kita tidak boleh larut dalam kondisi terpuruk dan terdegradasi.

Momentum kebangkitan 20 Mei seharusnya menjadi titik tolak bagi kebangkitan baru Indonesia.

Pendidikan : akar kebangkitan keroncong

Setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Demikian halnya dengan pendidikan. Pendidikan yang baik tentunya akan menghasilkan lulusan atau manusia yang baik, dan pendidikan yang buruk tidak akan menghasilkan manusia yang baik.

Bagaimana dengan keroncong? Banyak orang menyesalkan mengapa keroncong tidak pernah bangkit dan cenderung berhenti jalan di tempat. Namun, bisa kita lihat, berapa jumlah pelatihan music yeng mengajarkan keroncong? berapa sekolah yang menjadikan keroncong sebagai salah satu materi pelajarannya? Dan berapa orang pegiat keroncong yang mau berbagi ilmunya berkeroncong?

Pertanyaan demi pertanyaan gugatan akan terus mengalir.

Di saat gugatan tiada terjawab, setahun lalu Indonesia disentakkan dengan meninggalnya sang maestro keroncong, Gesang. Tepat di hari Kebangkitan Nasional. Momentum Kebangkitan Nasional seolah dijadikan oleh Gesang sebagai gugatannya bagi pegiat keroncong nasional. Bahwa, Gesang butuh kawan, Gesang butuh karya-karya baru yang bisa menemani lagu-lagu ciptaannya.

Sepeninggal Andjar Any, Kelly Puspito dan Gesang, lagu-lagu keroncong baru praktis terhenti. Dan situasi ini akan berlanjut jika tidak ada penyikapan baru, tidak ada sudut pandang baru terhadap music keroncong.

Generasi muda dengan basis music keroncong telah dirintis, entah melalui Klanthink sang juara Indonesia Mencari Bakat 2010, Liwet (keduanya dari Surabaya), lalu ada Iblis daro Solo, Rinonce (Jogjakarta), Batavia Mood dan Mardijkers Junior (Jakarta), dan mungkin masih banyak lagi kelompok music keroncong yang ada namun tidak terpublikasikan.

Gairah Baru Keroncong

Geliat music keroncong melalui generasi muda saat ini sudah dimulai. Hal ini dimulai dari persoalan yang sama yakni generasi muda bermain keroncong membutuhkan suasana, membutuhkan komunitas yang bisa saling meneguhkan. Dan pada titik tertentu music keroncong bisa menjadi vocation yang akan menuntun pada kebangkitan baru. Kebangkitan Keroncong dan juga Kebangkitan Indonesia.

Ages Dwi Harso : si anak gesek


Kita harus konsekuen, konsisten, intens, militant dalam mengembangkan keroncong sesuai bidang kita masing-masing

Begitu disampaikan oleh seorang Ages Dwi Harso, pentholan Orkes Keroncong Batavia Mood, orkes keroncong yang belum genap berusia 3 tahun yang beranggotakan anak-anak muda. Dengan anak muda proses kreatif Ages tampak menyala-nyala, sebab pada anak mudalah Ages menaruhkan asa keroncong di masa depan. “ Batavia Mood adalah bentuk lain dari komitmen terhadap keinginan mempertahankan keroncong dengan gaya kekinian, pelibatan anak muda itu cara yang smart, karena orang muda penuh dengan semangat, tenaga, fresh, dan mudah dibentuk”, paparnya mengenai keterlibatannya dalam mendorong mudik keroncong kepada generasi muda.

Mengawal adik mengawal keroncong

Pakdhe Atmo, itulah sosok yang pertama kali memperkenalkan Ages muda kepada music keroncong. Sebuah perjumpaan yang tak terduga, “Sebagai kakak laki-laki yang baik, saya harus mengawal adik saya waktu itu yang katanya berpacaran dengan salah satu pemain keroncong,” kenangnya. Perkenalan dengan music keroncong terus berlanjut. Dan sosok Petrus Ngadino, kawan se gereja di Nanggulan, Kulonprogo mengajarinya bermain music keroncong. Pertautan antara Ages dengan Petrus Ngadino dalam berkeroncong terus berlanjut. Perjumpaan mereka kembali di Jakarta, memunculkan Batavia Mood di Taman Surapati.

Dalam keheningannya, Ages menemukan bahwa melalui keroncong terjadi peraduan dari alat alat yg bermacam macam dan membentuk suatu irama dengan karakteristik yang sangat kuat seolah-olah saling tergantung satu sama lain, dan hal itu punya makna yang dalam bagi kehidupan sosial masyarakat untuk selalu kompak, saling butuh, saling bertaut dalam sebuah harmoni masyarakat.

Olah music keroncong Ages, terlihat sangat dinamis. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari latar belakang hidupnya yang secara otodidak belajar music. Kreativitas dan energy bermain music dalam diri Ages terasa mendidih dan bergejolak, dan hal itu tertuang dalam seluruh aransemen keroncongnya yang bisa disebut berbeda, nakal, jenaka dan berangkat dari persoalan keseharian tanpa kehilangan semangat selalu belajar.

Setelah sekian puluh tahun bergulat dengan music, khususnya keroncong, menjadikan Ages lebih realistis dalam hidup. Betapa tidak mudah bergumul untuk mengembangkan music keroncong. “Kendala terberat untuk memajukan musik keroncong adalah ketika insan keroncong punya kebiasaan geng-gengan, dan orang merasa banyak tahu mengenai kroncong, serta tidak mau menerima ketika orang lain membuat perubahan. Musik keroncong kekurangan Militansi, dan miskin Arogansi sehingga lambat dalam persaingan dengan genre lain,” jelasnya.

Keroncong Toegoe : salah satu pelabuhan hidup

Pada saat ini, selain aktif di Taman Surapati Chambers dan OK Batavia Mood, Ages Dwi Harso merupakan salah satu personel dari Keroncong Toegoe yang legendaris. Dimulai pada tahun 1993, di saat Keroncong Toegoe terjadi kekosongan violist, dan Ages mengajukan diri. Semangat awal masuk ke Keroncong Toegoe adalah situasi di tahun itu Keroncong Toegoe dipandang sebelah mata dan cenderung dikucilkan oleh banyak pegiat keroncong.

Masuknya Ages ke Keroncong Toegoe dimanfaatkan oleh Ages untuk belajar dan bereksperimen serta melakukan dinamisasi sehingga Keroncong Toegoe berhasil meng-exclusive-kan diri sebagai bentuk protes mereka kepada masyarakat keroncong. Perjalanan berkeroncong bersama Keroncong Toegoe menghasilkan perubahan, setidaknya dalam bagian penggalan perjalanan Keroncong Toegoe, mereka diundang oleh Pemerintah Belanda untuk pentas di Pasar Malam Tong-Tong.

Pada kesempatan bermain di Pasar Malam Tong-Tong, kami juga melakukan workshop keroncong. Kami tidak mau sekadar bermain music keroncong di sana, tetapi juga ingin membagi pengalaman dan pengetahuan tentang keroncong kepada masyarakat Belanda,” ujar Ages bersemangat.

Semangat dan disiplin yang ada di keroncong Toegoe menjadikan Ages bisa bertahan hingga saat ini. ‘Aku bisa bertahan di Keroncong Toegoe karena suka dengan kedisiplinannya. Dan itu modal terhebat Keroncong Toegoe.”

Keroncong Bangkit

Pada Mei 2011, genap setahun meninggalnya sang maestro keroncong, Gesang. Di mata Ages, Mbah Gesang adalah tokoh yang sangat hebat. Namun demikian ia melihat bahwa banyak orang di Indonesia terpaku pada kehebatan Mbah Gesang semata, dan terbutakan bahwa selain Mbah Gesang juga banyak orang lain yang juga hebat, yang unikdan tidak dimiliki oleh Mbah Gesang. “Almarhum Mbah Gesang pasti bahagia bila masyarakat keroncong memiliki banyak referensi dan kemajuan. Beliau juga pasti akan lebih bahagia lagi, jika karya-karyanya didampingi karya-karya baru yang lebih dahsyat. Betapa sedihnya Mbah Gesang, jika karyanya hanya sendirian di dunia ini. Karya-karya mbah Gesang butuh karya-karya lain untuk menemaninya,” tegasnya.

Dengan karya-karya baru ini, Ages berkomitmen untuk mengembangkan keroncong. 2 (dua) album keroncong tengah digarap dengan gaya Jakarta dan Jawa. Album Encang-Encing serta Album Sentul-Kenyut sedang dalam proses produksi. Ini wujud komitmen Ages si anak gesek terhadap music keroncong. Berangkat dari karya baru, Ages mencoba membangkitkan keroncong.

Kebangkitan yang dibawa oleh seorang Ages Dwi Harso, setidaknya telah ditunjukkan melalui keberaniannya membangun Komunitas Taman Surapati, dan menjadikan Taman Surapati sebagai lokasi berlatih music yang serius. Kondisi ini menunjukkan leadership yang kuat dari sosok Ages. Keberanian mengambil keputusan dan menjaga komitmen serta konsisten atas keputusan yang diambil sangat nyata ada pada Ages. Dan untuk itu, Ages mendapatkan undangan dan beasiswa dari Pemerintah Amerika untuk International Visitor Leadership Program (IVLP), sebuah program yang diselenggarakan oleh Pemerintah Amerika di Washinton, sebagai program khusus graduate school.

Kebangkitan keroncong diawali dari keluarga. Dan pada situasi ini Ages mendapat support yang sangat luar biasa, Yasminka Subekti sang istri senantiasa setia menemani proses kreatifnya, dan anak-anaknya pun terlibat dalam bermusik bersama. (mboets2000)

KERONCONG BANGKIT

Bulan Mei, seiring dengan peringatan Kebangkitan Indonesia, kita semua ditantang untuk bisa membangkitkan keroncong. Namun kondisi ini menuntut berbagai prasyarat. Kita tidak bisa berpangku tangan atau hanya sekedar menunggu agar orang lain melakukannya, tetapi sungguh setiap insan pecinta keroncong diharapkan partisipasinya. Disamping partisipasi untuk membangkitkan keroncong, juga diperlukan sudut pandang baru dalam melihat keroncong sehingga tidak terjebak pada mimesis, keroncong asli dan tidak asli, pakem dan tidak pakem dan seterusnya.

Masa Depan Keroncong Dari Toegoe

Keroncong mulai tumbuh di Indonesia kira-kira pada pertengahan abad ke-17 di Kampung Toegoe Jakarta Utara. Dari Kampung ini pula masa depan keroncong kini akan nampak bersinar terang. The Mardijkers Junior, nama group keroncong yang terdiri dari anak-anak dibentuk oleh Seniornya. Munculnya The Mardijkers Jr. Membawa harapan dan angin segar, sekaligus menepis dugaan orang bahwa keroncong kelak hanya akan dinikmati di museum.

The Mardijkers Jr lahir pada Tanggal 5 Oktober 2008. Meski belum genap 3 tahun namun kiprah dalam ikut melestarikan dan menghidupkan keroncong di tanah air sungguh nyata. Sudah tak terhitung berapa kali The Mardijkers tampil, baik di acara keluarga, keagamaan, acara pemerintahan, hingga tampil di depan Presiden RI di kediamannya.

Dari Surabaya Keroncong Masuk Kurikulum Sekolah

Kabar lebih menggembirakan muncul di Surabaya melalui SMP Santa Maria. Sekolah Santa Maria memasukan keroncong ke dalam kurikulum sekolah.Tak hanya itu, untuk meningkatkan pemahaman dan wawasan pelajarnya, SMP Santa Maria melakukan banyak gebrakan dengan membuat konser keroncong, seminar keroncong, lomba keroncong, yang juga dihadiri oleh para buaya keroncong.

Kusdinarto, guru SMP Santa Maria, mengatakan bahwa satu-satunya cara sekolah menyelamatkan musik keroncong adalah memasukkan keroncong ke dalam kurikulum sekolah sejak 2008. Ini agar para siswa terbiasa mendengarkan dan memainkan musik keroncong. Dus, anak muda punya alternatif musik selain industri pop yang terus menggelontor musik pop, dangdut, rock, disco, R&B, dan sebagainya.

“Selama ini musik keroncong hanya dinikmati oleh orang tua,” kata Pak Kus.

Menurut dia, SMP Santa Maria sangat serius mempelajari musik keroncong yang disebut-sebut sebagai salah satu aset budaya bangsa Indonesia. Siswa-siswa dibimbing oleh guru seni musik. “Kami juga mendatangkan ahli-ahli keroncong,” kata Pak Kus.

Persoalannya memang tidak sederhana. Kenapa? Di Surabaya ini ada ratusan, bahkan ribuan, guru musik klasik–apalagi pop dan dangdut yang tidak perlu guru–sementara guru keroncong sangat-sangat sedikit. Padahal, orkes keroncong itu harus ada sedikitnya tujuh macam alat musik seperti flute, biola, cak, cuk, cello, gitar, bas.
Teknik vokal keroncong yang pakai cengkok khas–dan ini lebih mudah dikuasai orang Jawa ketimbang luar Jawa seperti Flores atau Batak–pun tidak mudah diajarkan.  Tapi  pada bulan Januari tahun ini Santa Maria berani mengadakan lomba paduan suara keroncong tingkat nasional untuk siswa SMP. Tidak hanya itu, pada hari yang sama, lomba paduan suara keroncong tingkat SD se-Jawa Timur pun sukses digelar. Keberanian melakukan terobosan dalam upaya edukasi budaya, utamanya musik keroncong, dengan mengabaikan batas-batas geografis dan melibatkan anak-anak sejak usia yang sangat belia seperti yang dilakukan oleh Santa Maria ini sangat layak diapresiasi. Geliat keroncong yang demikian besar di SMP Santa Maria Surabaya tak dapat dilepaskan dari kepedulian Sr Windhi yang begitu mendalam, sebagai Kepala Sekolahnya.

Lampung Membawa Harapan Baru

Keroncong Goes To Lampung beberapa waktu yang lalu juga memberikan kabar gembira. Seorang gadis siswa SMP bernama Tri Wahyu mampu memberikan penampilan dan suara yang mempesona. Meski hanya baru kali pertama ia belajar bermain keroncong penonton dibuat kagum mendengarkan alunan merdu Tri Wahyu. Tampaknya insan keroncong Lampung yang menjadi peserta coaching (diberikan sebelum acara pementasan musik) melihatnya sebagai perwujudan harapan keberlangsungan siklus hidup keroncong. Sebagaimana Confusius menyatakan A journey of a thousand miles starts with a single step. Langkah pertama keroncong di Lampung telah dimulai.

Belajar Keroncong di Bentara Budaya Jakarta

“Sekarang saya mau Tanya, Bengawan Solo itu lagu apa?”

Pertanyaan yang dilontarkan Ages Dwiharso yang saat itu memandu acara  Tjroengperiment di Bentara Budaya Jakarta awal Mei lalu disambut penonton dengan berbagai jawaban. Pancingan Ages rupanya dilakukan untuk menguji kedalaman  pemahaman publik tentang musik keroncong. Hasil proses testing the water tersebut dapat dianggap mewakili potret pemahaman publik secara umum mengenai genre musik keroncong. Tidak banyak yang tahu bahwa Bengawan Solo adalah lagu berirama keroncong jenis langgam. Cukup beralasan  kalau Yayasan Pecinta Keroncong Tjroeng (YPKT) yang bekerja sama dengan Bentara Budaya Jakarta merancang acara pementasan keroncong  dalam format pementasan edukatif.

Menyadari bahwa publik secara umum tidak begitu memahami keroncong, Ages DH pimpinan OK Batavia Mood memaparkan dengan bahasa yang mudah dipahami hal-hal terkait keroncong seperti jenis-jenis lagu dalam genre musik keroncong, alat-alat musik keroncong, sedikit mengenai sejarah keroncong sekaligus meluruskan berbagai hal yang selama ini salah kaprah di masyarakat. Terbukti paparan tersebut dapat memandu penonton untuk mengapresiasi dan lebih menikmati pertunjukkan.

Ternyata ungkapan tak kenal maka tak sayang, meski klise terbukti benar adanya. Pelaku seni musik keroncong banyak yang melupakan upaya pendidikan publik. Padahal keberlangsungan musik ini ditentukan oleh publik yang masih mau menikmatinya. Layaknya lahan yang tidak dirawat dan dipupuk, pasar keroncong kering dan gersang karena tidak ada upaya untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap seni musik ini. Apa yang didapat dari pementasan Tjroengperiment selayaknya jadi titik pijak penguatan upaya edukasi publik untuk keroncong.

Pendidikan : Jalan Terjal Kebangkitan

Pendidikan diyakini sebagai wahana paling baik dalam proses transfer ilmu dan ketrampilan. Melalui pendidikan diharapkan ilmu bisa semakin berkembang. Momentum Hari Pendidikan pada tanggal 2 Mei menjadi titik pijak yang kokoh terkait upaya membangkitkan keroncong. Namun demikian, institusi pendidikan yang ada sampai saat ini praktis tidak memberi ruang bagi pengembangan bakat seni, khususnya seni musik keroncong.

Nasib musik keroncong pada saat ini sedang pada tahap dasar, di mana ia harus menempuh perjalanan panjang dan terjal untuk mencapai kebangkitan sejati. Kebangkitan keroncong sekaligus menemukan kebangkitan nasional yang hakiki. Kreativitas pelaku seni dan penggiat keroncong adalah hal yang niscaya dilakukan. Insan keroncong harus dengan besar hati mengakui bahwa meskipun di masa lalu keroncong memberikan kontribusi riil mulai dari hal yang sangat pragmatis (di bidang ekonomi) sampai ke hal yang bersifat spiritual yaitu saat keroncong mengiringi perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan, namun saat ini keroncong yang ditempatkan sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan masih menjadi beban bagi negara. Belajar dari sejarah, ada banyak hal yang mestinya dapat ditawarkan keroncong untuk negeri ini. Ada begitu banyak potensi dalam genre musik keroncong yang unik ini untuk dieksplorasi, dielaborasi, dikolaborasikan dengan hal-hal lain di antaranya namun tak terbatas pada genre musik lain. Kreativitas! Inilah kata kunci bagi kebangkitan keroncong di masa kini. Dengan kreativitas potensi keroncong dapat digali dan dikembangkan, memperkaya budaya dan kepribadian kita, menguatkan Indonesia. (Tim Tjroeng)

OLEH OLEH DARI PESTA KERONCONG JOHOR 2011

Pesta Keroncong Johor 2011

Perhelatan keroncong di Johor tanggal 26-29 Mei 2011 ini memang benar-benar `pesta’ keroncong. Bayangkan ada sekitar 18 perkumpulan keroncong dari berbagai kota dan negara, ada sekitar 200 insan keroncong mengikuti ‘pesta’ ini. Penyelenggara acara ini adalah Yayasan Warisan Johor, sebuah yayasan milik kerajaan Johor.

Dari Indonesia hadir Tirto Lawu dari Karanganyar Solo, Congrock 17 dari Semarang dan Grup Harmony Chinese Music (Harmoni) dari Bandung .

Saya tidak tahu apakah semua peserta ditempatkan di hotel, yang jelas Congrock 17, Tirtolawu, Harmoni dan beberapa kelompok keroncong tuan rumah di hotel yang sama, yaitu New York .

Saya, Mas Parto dan Pak Edi Kuntoro (yang mengundang kita) berada di hotel yang sama, dengan kamar yang lumayan luas dan lega.

Tiap perkumpulan keroncong disediakan seorang `penghubung’ atau Liason Officer (LO) dari Yayasan Warisan Johor yang selalu membantu dan menemani perkumpulan keroncong yang menjadi tanggung jawabnya. Pengangkutan ke tempat pentas dan hotel disediakan mini bus dan bus besar yang lumayan bagus, ada yang dari Universitas, ada yang dari Yayasan Warisan Johor, ada pula dari Dinas Pemadam Kebakaran & Keselamatan (Resque), serta bus lainnya.

Makanan juga relatif  bagus dan lebih sering makan prasmanan dibanding makan nasi dus. Pada malam Minggu 28 Mei 2011, saya mengikuti Congrock 17 manggung di area parkir Mall Angsana yang lumayan jauh dari hotel (hari sebelumnya saya naik taksi ke sana dan membayar 13 RM atau sekitar 35 ribu rupiah).

Di area parkir ini dipasang tenda besar dan tinggi yang bisa menampung lebih dari 100 orang dan di dalamnya dipasang banyak meja bundar yang masing-masing bisa ditempati sekitar 8 orang, di luar tenda besar juga masih banyak dipasang meja-meja bundar lainnya. Meja-meja ini disiapkan untuk para pejabat di sana , media, kelompok penggemar  motor dan penonton lainnya. Sebelum dan selama manggung, di acara yang juga dihadiri oleh Menteri Besar (Gubernur) Johor ini, disediakan makan malam gratis untuk semua pengunjung! Tentunya  dengan berbagai menu sepesial, seperti kambing guling, nasi beryani (nasi kuning) dengan lauk berbagai masakan ayam dan kambing, ada pula sate ayam, sapi dan kambing dengan nasi dan lontong, tak ketinggalan pecel juga ada, sementara minuman disediakan kopi & teh panas, serta teh dan berbagai sirup dingin. Mohon maaf, saya sengaja bercerita soal makanan ini supaya anda yakin dengan pernyataan saya, bahwa ini memang benar-benar `pesta’!

Pesta ini digelar di 6 tempat berbeda yang jaraknya lumayan jauh (tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki) dan jauh sekali, plus satu tempat istimewa di Stadium Majlis Bandaraya Johor Bahru pada acara puncak (gala). Enam tempat tersebut adalah  IOI Mall Kulai Jaya, Muzium Tokoh, Angsana Mall, JB Nite Bazzar, Legaran  Segget (JB = sebutan untuk Johor Bahru) dan Kompleks Pasir Gudang.

Di JB Nite Bazzar, Legaran  Segget, kadang ada 2 panggung dengan jarak 100 meter, ini yang mengganggu kami karena bingung mau menonton yang mana, termasuk saat Congrock 17 manggung di panggung B, saat itu Keroncong Harmoni manggung di panggung A. Jadilah saya hanya menonton Harmoni dan kebagian 1 lagu saja, karena sebelumnya menonton Congrock 17 yang juga tampil prima dan memukau.

Sabtu sore ada beberapa panggung dan saya memilih ke Kompleks Pasir Gudang. Nah, Kompleks Pasir Gudang ini ada di kota lain, ibaratnya kalau dari Bandung ya Purwakarta begitu, lumayan jauh dan saya ke sana dari hotel dengan taksi (karena ketinggalan bus), serta membayar ongkos 40 RM atau sekitar Rp 110.000,-

Hari Sabtu malam, ada 3 panggung sekaligus, di JB Nite Bazzar, Legaran  Segget (Tirto Lawu dan beberapa kumpulan manggung di sana ), Angsana Mall (Congrock 17 di sana , show sendirian) dan di Muzium Tokoh (Harmoni dan beberapa kumpulan manggung di sana ). Saya sendiri sampai bingung mau ke mana? Akhirnya memilih mengikuti Congrock 17 ke Mall Angsana, tapi pulangnya masih bisa mampir ke JB Nite Bazzar menyaksikan dua perkumpulan keroncong dari Malaysia, sebelum akhirnya pulang, karena memang sudah capek dan mengantuk, saat itu sudah sekitar jam 12 malam. Padahal masih ada yang mau tampil di panggung ini. Penampilan Harmoni di Muzium Tokoh tidak bisa saya tengok.

Dengan penampilan di berbagai tempat ini, tidak mengurangi kualitas sound system. Ini yang sungguh saya kagumi, sound system begitu bagus di semua tempat. Apalagi yang di Stadium Majlis Bandaraya Johor Bahru, benar-benar canggih dengan beberapa mixer digital kualitas prima, sehingga penampilan para peserta, suara alat musik dan penyanyi bisa `lebih baik dari warna aslinya’, tak heran Mas Andry dari Harmoni Bandung yang hadir di sana berkomentar soal sound system ini :”Uedan tenann ….”.

Pertunjukan GALA yang merupakan puncak acara diselenggarakan di Stadium Majlis Bandaraya Johor Bahru. Di situ beberapa OK terbaik manggung bergantian, antara lain Tirto Lawu, Congrock 17 dan Harmoni dari Indonesia, Temasek dari Singapura dan Warisan Johor dari Malaysia yang mengiringi artis papan atas Malaysia. Sementara gabungan perkumpulan keroncong dari Malaysia menyajikan `jam session’ yang menurut saya luar biasa, sebab pada penampilan ini ada 5 bass dibetot bersama, dan tentunya ada sekelompok celo, cak, cuk, gitar, flute, keyboard dan biola dibunyikan berbarengan. Sungguh performance yang luar biasa. Saya di milis pernah melontarkan konsep ini dan belum mendapat tanggapan serius, eh ternyata Johor sudah mendahului mempraktekannya.

Pesta yang megah, elok dan berkualitas seperti ini, saya yakin memakan biaya yang besar. Kalau Solo Keroncong Festival (SKF) tahun 2007 yang juga megah itu menelan biaya sebesar 1 M, saya yakin pesta ini biayanya jauh lebih besar. Mampukah kita menyelenggarakan yang lebih baik? Pertanyaan yang tidak mudah menjawabnya, tapi alangkah indahnya kalau kita bisa menjawabnya, tentunya dengan jawaban yang positip.

Alat Musik, Gaya Permainan dan Gaya Pertunjukan

Seperti kita ketahui, alat musik keroncong standar terdiri dari 7 alat, yaitu cak, cuk, gitar, celo, bas, flute dan biola. Dalam perhelatan keroncong di Johor ini, banyak yang tidak standar, baik kekurangan alat atau malah sebaliknya kelebihan alat, tentunya dibanding alat standar yang 7 buah itu.

Ada beberapa grup yang menggunakan keyboard, ada yang sebagai pengganti flute (biola sudah ada), pengganti biola (flute sudah ada) atau pengganti keduanya (tidak ada pemain flute dan biola). Betapapun terlihat bahwa kekurangan pemain biola atau flute bukan menjadi penghalang bermain keroncong.

Ada pula grup-grup yang menggunakan instrument tambahan, seperti keyboard, saxophone, terompet, marakas sampai drum. Khusus untuk Grup Harmony Chinese Music dari Bandung banyak menggunakan instrument khas dari Cina.

Dalam memainkan alat musik, ada yang `standar’ saja, ada pula yang dengan aransemen yang rumit. Keyboard ada yang dimainkan terus menerus (sehingga agak terkesan berlebihan), ada pula yang hanya sebagai melodi atau pengisi `ruang kosong’ di lagu.

Sebagian grup dari Malaysia masih bermain standar dan penyanyinyapun masih `malu-malu’, sehingga penampilan belum maksimal. Namun, beberapa grup tampil dengan aransemen yang rumit, dengan instrumen yang lebih dari sekedar 7 alat standar, serta penyanyi papan atas di sana yang tampil dengan power, teknik dan gaya  menyanyi yang bagus dan tampil sangat memukau. Kolaborasi beberapa perkumpulan dengan memainkan secara bersamaan beberapa : bas, celo, gitar, cak, cuk, flute, biola dan alat-alat lainnya, memberikan sensasi yang luar biasa.

Satu perkumpulan dari Singapura yang saya amati Grup Temasek, membawa alat berupa cuk (pemain cak dan biola belum datang), gitar, flute, celo, bas dan keyboard yang difungsikan sebagai piano dan kadang marimba. Sekalipun kekurangan pemain, mereka bermain dengan sangat rapi dan cantik. Suara piano kadang mengisi lagu dan kadang menjadi melodi saat interlude. Acapkali  aransemen mereka terasa `ngejes’ dengan variasi bunyi flute dan piano, sangat enak dinikmati.

Pemainnya juga unik, karena ada yang muda dan ada pula yang tua, bahkan pemain celo sudah berumur 85 tahun! Hebatnya pemain cuk dan flute (usia 65 tahun) posisinya berdiri dan sambil bernyanyi, baik sebagai solois, duet  maupun bertrio dengan penyanyi. Sungguh penampilan yang sangat elok !

Penampilan Tirto Lawu dari Karanganyar Jawa Tengah, menampilkan aransemen yang `rancak’, penuh dengan break-break, `chord miring’, perpindahan irama dan tempo, serta didukung oleh penyanyi yang bersuara dan paduan suara bagus, sehingga menjadikan penampilannya sangat dinamis dan menawan.

Harmoni Bandung membawa alat musik khas Cina yang terdiri dari yangqin (semacam kecapi dengan senar besar dan memainkannya dengan cara dipukul dengan pemukul sebesar lidi), ershu (semacam rebab sebagai pengganti biola), guzheng (semacam kecapi), daruan (semacam gitar besar, pengganti bas), zhongruan (seperti gitar agak besar), liuqin (semacam gitar kecil, besarnya antara gitar biasa dengan cak), sedangkan alat khas keroncong terdiri dari flute, cak, cuk dan  gitar.

Dengan instrumen seperti ini, maka kelompok ini sangat menarik simpati pengunjung, karena dibarengi dengan permainan yang kompak dan apik. Apalagi mereka menampilkan lagu-lagu berbahasa Indonesia , Belanda, Inggris dan tentunya bahasa Cina, sehingga nampak lengkap sajiannya.

Kelompok Cong Rock 17 dari Semarang, mengusung alat berupa gitar, celo, bas elektrik (untuk kepraktisan di pengangkutan), cak, cuk, biola, saxophone, terompet, marakas, electric drum (bentuknya kotak seperti nampan besar saja), serta keyboard yang difungsikan untuk berbagai bunyi. Dengan komposisi instrumen seperti ini, jelas mereka bisa tampil `menggelegar’, khususnya adanya kombinasi sax, terompet, keyboard, electric bas dan electric drum. Maka tepatlah orang menyebut mereka sebagai Cong Rock, sebutan yang kemudian diterima oleh kelompok yang berumur 28 tahun ini sebagai nama kelompoknya.

Perkumpulan ini selain memainkan aransemen yang menggebrak, banyak break dan perpindahan achord, perpindahan irama (misalnya dari rock, jazz, dangdut, langgam Jawa, dsb), juga menampilkan 4 penyanyi (3 pria dan 1 wanita) dengan suara bagus, teknik prima, power besar, serta paduan suara yang sangat baik. Apalagi lagu dan irama yang ditampilkan sangat bervariasi, dari lagu Batak, Minang, Melayu, Dangdut, pop Indonesia dan pop barat, sampai langgam Jawa dengan style sangat `nJawani’. Tak heran penampilan mereka sangat memukau penonton, di berbagai panggung. Selain itu para penyanyi saling bertukar-tukar posisi, bergantian menyanyi, berduet, bertrio dan berkwartet, berjoget dan mengajak penonton menyanyi, sehingga selain memukau, juga sangat tidak membosankan.

Wd – Mei 2011

PAMORI : Paguyuban Artis Musik Keroncong Indonesia

Organisasi keroncong di Indonesia selama ini sering diidentikkan dengan HAMKRI atau Himpunan Artis Musik Keroncong Republik Indonesia. Dan ternyata, terdapat organisasi keroncong lain selain HAMKRI, yakni PAMORI. Adanya PAMORI dan HAMKRI menegaskan bahwa tidak terjadi adanya monopoli organisasi atau kelompok yang komitmen terhadap nasib music keroncong. Kondisi ini pula seiring dengan membangun budaya demokrastis melalui organisasi keroncong.

PAMORi sendiri terbentuk di tahun 2003, sebagau wujud kepedulian para artis music keroncong di Jawa Timur di saat music keroncong dirasakan berada pada ambang kemunduran. Oleh karenanya PAMORI berupaya untuk pelestarian music keroncong, dan untuk menjaga music keroncong, para artis music keroncong yang tergabung dalam PAMORI merasakan harus terbebas dari sekat-sekat politik, agama, rasa tau pun golongan, bahkan politik.

Visi dan Misi PAMORI

Bermula dari persoalan yang dialami dan mimpi untuk melestarikan dan mengembangkan music keroncong, maka para pegiat, dan penikmat music keroncong yang tergabung dalam proses pendirian PAMORI mengedepankan visi : Keroncong lestari dan digemari oleh masyarakat luas dari berbagai segmen dan berbagai generasi.

Untuk mencapai visi tersebut, beberapa misi menjadi acuan bagi PAMORI yakni : 1) Mengoptimalkan kegiatan / gerakan regenerasi musisi dan penyanyi; 2) Meningkatkan kwalitas Sumber Daya Manusia insan Keroncong; 3) Meningkatkan kwalitas seni Keroncong menjadi seni yang inovatif, sesuai perkembangan jaman namun tidak mengabaikan pakem, sehingga memiliki nilai jual; 4) Meningkatkan jumlah penggemar dan simpatisan Keroncong dari berbagai kalangan dan generasi; 5) Mengoptimalkan koordinasi dan sinergi dengan lembaga pemerintah maupun swasta dalam rangka peningkatan peran lembaga pada pembangunan dan pelestarian Keroncong; dan 6) Memaksimalkan penggalian dana dengan mengutamakan kemandirian dalam rangka pembiayaan organisasi.

Visi dan misi yang dibangun PAMORI dengan harapan dapat mencapai tujuan : 1) Menggalang persatuan dan kesatuan antar anggotanya, agar memiliki suatu kekuatan untuk mencapai tujuan; 2) Kaderisasi generasi muda, sebagai tulang punggung pewaris dan pelestari musik/irama Keroncong; 3) Menggalakkan Promosi, agar masyarakat mengenal dan mencintai seni budaya bangsa sendiri, khususnya Keroncong; 4) Meningkatkan mutu atau kwalitas Keroncong agar dapat beradaptasi dengan perkembangan khasanah musik masa kini dan mendatang; dan 5) Meningkatkan kesejahteraan anggota.

Agenda Kerja PAMORI

Wujud kegiatan yang diselenggarakan oleh PAMORI mencakup kegiatan Parade Keroncong se Jawa Timur yang diselenggarakan setiap tahun sekali. Parade Keroncong sendiri terakhir diselenggarakan di Desember 2010, dan merupakan Parade yang ke-14, dan merupakan capaian yang luar biasa.

Pada parade Keroncong tersebut ditampilkan juga dari generasi muda keroncong sebagai ruang untuk regenerasi. Banyak musisi-musisi dan vocalis-vocalis remaja bermunculan, seolah mereka dihadapkan dengan kompetitor-kompetitor yang lain, sehingga tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas penampilan seolah menjadi bagian utama dari  grup-grup tersebut.

Untuk Tahun 2010, Parade Keroncong diselenggarakan di Bondowoso. Peserta parade mencapai 24 grup keroncong, dan dari 24 peserta, para juri memilih 10 grup penampil terbaik anggota PAMORI di Jawa Timur, yaitu : 1) OK Cakra Buana (Malang); 2) OK Fama (Jember); 3) OK Sahabat Lama (Batu); 4) OK Setia Kawan (Jember); 5) OK Melati Sekar Jaya (Bondowoso); 6) OK Melati Jaya (Lumajang); 7) OK Malang Utara (Malang); 8) OK Lembayung (Jember); 9) OK Gema Irama Nusantara (Malang dan 10) OK Kusuma Abadi (Bondowoso).

Parade Keroncong yang diselenggarakan PAMORI menjadi salah satu metode pencairan bakat-bakat baru serta ajang melakukan kompetisi dalam rangka memacu daya kreativitas demi memajukan keroncong. Masa depan keroncong bertumpu pada generasi muda dan sistem yang dibangun untuk melestarikan dan mengembangkan Keroncong, dengan demikian tuntutan untuk melakukan transfer knowledge dan kemampuan dalam ber-Keroncong harus dibangun sejak dini. (Yos Setiyoso – Jember, 2010)

OK LARAS SWARA

Berawal dari alasan yang sederhana…

Jika kebetulan Anda berada di sekitar Ciledug, Tangerang Selatan, pada Jumat malam dan ingin mengobati kerinduan terhadap irama keroncong, silahkan saja mampir ke Perumahan Mahkota Simprug Blok C14-15, Paninggilan, Ciledug. Di tempat itu, Anda akan segera disambut dengan alunan melodius irama keroncong secara live, yang dibawakan oleh OK Laras Swara, dengan pimpinan Puji Heru atau akrab disapa Mas PH.

OK Laras Swara didirikan pada tanggal 5 September 2009, dengan alasan yang sangat sederhana, yakni memberikan wadah bagi siapa saja yang ingin menyalurkan hobi keroncong, baik sebagai pemain musik maupun penyanyi. “Kami berangkat dari hobi, bukan sebagai pemain profesional,” jelas Mas PH. “Tujuannya? Wah, tujuannya juga sederhana banget kok. Ingin ikut melestarikan dan mengembangkan kesenian keroncong yang asli musik negeri sendiri. Itu saja,” imbuh Mas PH sembari mesem-mesem ketika ditanya tentang tujuan didirikannya OK Laras Swara.

Namun, biarpun alasan dan tujuannya sederhana, semangat OK Laras Swara untuk mencapai tujuannya ternyata sangat tinggi. Para anggota grup orkes keroncong ini terdiri dari para pehobi keroncong yang berlatar belakang bermacam-macam. Ada yang karyawan, guru, juga wirausahawan. Tidak ada yang benar-benar pemain musik keroncong profesional. Rupanya, hobi dan semangat mengeroncong menjadi landasan yang kuat untuk berkumpul dan berlatih bersama.

Walaupun memang berbasis irama kerocong asli, namun OK Laras Swara tidak mau ketinggalan untuk tetap berusaha mengembangkan diri. Baik dari segi kualitas aransemen musik, maupun mencoba untuk melakukan regenerasi. Hal itu dapat terlihat dari terlibatnya pemain saxophone di dalam grup ini, juga dari usia kebanyakan anggotanya yang masih di bawah 50 tahun. Paling tidak, berbagai upaya terus diusahakan oleh grup ini untuk meneruskan semangat mengeroncong kepada generasi muda.

Di samping OK Laras Swara, ternyata di alamat yang sama juga terdapat OK Talentera. Namun, tujuan dari Talentera sedikit berbeda. ”Walaupun anggotanya sedikit banyak sama, tapi semangat Talentera adalah lebih kepada semangat pelayanan untuk acara-acara Gereja, dengan nuansa keroncong,” tukas Mas PH menjelaskan.

Pengalaman pentas OK Laras Swara ternyata dimulai dari hal-hal yang sederhana pula. Mulai dari permintaan pengisi hiburan saat pernikahan dan hajatan lainnya, lalu mulai mengisi acara untuk seminar di hotel-hotel, sampai mengisi acara di RRI Jakarta dan TV One. ”Kami percaya keroncong akan tetap hidup kalau kita selalu berniat dan bersemangat untuk mengenalkan musik ini kepada masyarakat,” tambah Pracoyo, bendahara sekaligus pemain cuk dalam grup ini. Pementasan paling anyar OK Laras Swara adalah pada acara Pengenalan Keroncong Yayasan Pecinta Keroncong Tjroeng di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (12/5) yang lalu. OK Laras Swara ketika itu tampil satu panggung bersama OK Batavia Mood pimpinan Ages Dwiharso, dengan semangat terus melestarikan keroncong dan membawa keroncong terbang kemana saja, ke seluruh pelosok dunia.

Saat ditanya apakah boleh bergabung untuk ikut berlatih keroncong ketika waktunya memungkinkan, Mas PH segera menyahut dengan bersemangat, ”Karena keroncong terbuka bagi siapa saja, maka begitu juga Laras Swara. Siapapun boleh datang dan ikut bergabung dengan kami untuk sama-sama mengeroncong. Silahkan hadir untuk sama-sama melestarikan kesenian kita.”

Nah, Anda berminat untuk menyalurkan hobi keroncong? Jangan sungkan-sungkan untuk datang ke alamat di atas. Atau, kontak dulu Mas PH di alamat e-mail: pujiheru (at) yahoo (dot) com. (Totot)

Susunan Pengurus dan Anggota OK Laras Swara

  • Penasehat : Purbo Waskito
  • Ketua : Puji Heru W.
  • Bendahara : Pracoyo Widiatmoko

Pemusik:

  1. Biola : Sucipto
  2. Flute : Yohanes Agung N.
  3. Sax  : Franciscus Hary Mulyono
  4. Cuk : Pracoyo Widiatmoko
  5. Cak : St. Winaryo / Yosafat Andhy Hantoro/ Kuntadi
  6. Gitar : Wimpi
  7. Cello : Puji Heru W.
  8. Bass : Daniel Bagyo

Penyanyi:

  1. Nuniek Roes
  2. Titik Sangadi
  3. Titik Idris
  4. Widodo “Dodoy” Tantra Gautama
  5. Clara Renette
  6. Diana Erna
  7. Toto Rudi Handoko
  8. Yosafat Andhy Hantoro
  9. Nasir


THE SPIRIT OF INDONESIA : PERGELARAN SENI BUDAYA INDONESIA

Sepanggung MUS MULYADI, DEWI YULL & TTM
Gedung Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta, Jumat 29 April 2011


Keroncong Tak Pernah Mati! Jika bersepakat dengan kalimat tadi, setidaknya pajangan seratusan foto pada album ini menjadi bukti-nya. Betapa Mus Mulyadi di masa tuanya masih mampu memukau penggemarnya dengan gaya khas Suroboyo-anya. Tak hanya itu, ia pula masih prima melantunkan lebih dari tiga lagu sekaligus dan mendapat sambutan sangat sangat meriah dari penonton.

Belum lagi penjiwaan total yang membuat terpana penikmat music, ketika Dewi Yull mengemas apik lagu andalannya “Jangan Ada Dusta Diantara Kita” dan, “Dealova” yang menurutnya terlalu agung untuk menjadi sebuah ilustrasi film ‘percintaan dua insan manusia’. Dewi Yull artis kelahiran Cirebon itu berpendapat, lagu itu seharusnya penggambaran kecintaan ummat manusia kepada Tuhan-nya.

Pula yang punya gawe, TTM (Tuty Maryati, Tety Supangat & Mamiek Prasitoresmi), mampu membuat benang merah sebuah regenerasi dunia tarik suara jalur music keroncong. Dari pergelaran kerja bareng dengan Persatuan Kaum Ibu Kebayoran (PEKIK) itu, seakan menjadi penanda bahwa di Jakarta estafet perkeroncongan tengah berlangsung kepada generasi yang lebih muda. Tak hanya keroncong asli, beragam lagu daerah nusantara, lagu kekinian juga dipajang untuk proses legitimasi itu.

Kursi penonton memang tidak seratus persen terisi. Tapi bila melihat tingkat kepuasan penonton, pasti sudah tergambarkan sejak awal. Penonton diajak berkeliling nusantara dengan medium lagu demi lagu. Bali, Melayu, Deli, Jawa dll. Sebuah upaya yang pantas diacungi jempol.

Bila pergelaran dalam rangka HUT ke 60 PEKIK itu disepakati sebagai sebuah proses pembelajaran bagi pegiat keroncong, jangan pernah berhenti untuk membuat pergelaran demi pergelaran sebagai tolok ukur “tidak pernah keroncong mati”. Tak hanya memajang keroncong, menyandingkannya dengan peragaan batik, tenun atau apapun yang menjadi warna Indonesia, adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan. Tari tarian, juga tidak haram dipertontonkan. Besar kecilnya pertunjukan, tidak menjadi sebuah patokan. Yang utama adalah, tak pernah henti keroncong berkibar.

“The Spirit Of Indonesia”, sudah sepantasnya diwujudkan oleh keroncong tanpa henti, apalagi bila mendapat perhatian media. Agar masyarakat ‘diluar’ gedung pertunjukan mengetahui bahwa keroncong memang milik Indonesia!

[partho BW]