Keroncong Tahu Tempe

Awal tahun 2008, Indonesia diresahkan oleh naiknya harga kedelai. Perajin tahu dan tempe berunjuk rasa ke Istana Merdeka, mereka meminta pemerintah untuk menurunkan harga kedelai.

Alih-alih harga turun, di bulan ini harga sayur mayur menyusul melambung tinggi.
Ketergantungan tinggi pada kedelai telah memunculkan kebijakan pemerintah untuk memberikan subsidi bagi importir kedelai, alhasil harga kedelai bisa terjangkau oleh para perajin tahu dan tempe. Namun, ironisnya para petani lokal yang menanam kedelai malah mengalami nasib yang paling malang dari kebijakan tersebut. Dan sesungguhnya, di saat harga kedelai naik sedemikian kompetitif, di sinilah petani Indonesia diuntungkan. Petani kedelai menangguk keuntungan yang memadai dengan hasil jerih payah dan kucuran keringat mereka. Namun apa lacur, kran impor kedelai semakin lebar dibuka juga kucuran subsidi bagi importir untuk menekan harga kedelai serendah mungkin.

Kedelai lokal tidak menempati posisi yang baik di mata para pebisnis, dan kedelai impor nampak jauh lebih menggiurkan, karena dari sistem perdagangan yang terjadi mampu mendatangkan keuntungan bagi para broker kedelai. Bebasnya bea impor telah membuat para importir menjadi sedemikian kaya raya. Dan lagi-lagi, perputaran uang nasional mengalami capital flight. Rupiah melayang ke negara-negara produsen kedelai. Sementara itu, bangsa kita sangat mencintai tahu dan tempe. Tahu dan tempe merupakan keseharian kita.

Demikian juga dengan keroncong. Keroncong telah diyakini sebagai musik asli Indonesia. Namun, pada posisi lain ia tidak mendapat perhatian yang mencukupi. Keroncong telah kalah dengan musik-musik dari negara lain.

Nasib keroncong dan kedelai adalah sama, yakni nilai-nilai lokalitas yang tidak diperhatikan dan tidak dihargai. Akibatnya, para pegiat musik keroncong dan juga petani kedelai Indonesia melihat bahwa prospek hidupnya tidak cerah, dan bisa dibayangkan mereka akan beralih ke profesi lain.
Akankah kita bangga kelak jikalau hanya mampu menikmati keroncong yang dimainkan oleh grup musik luar negeri? Sedemikian halnya kita merasa bangga dengan makan tempe dan tahu yang bersumber dari kedelai import. Dan ketika harga kedelai melonjak tinggi, produsen tahu dan tempe berhenti berproduksi, kita berteriak-teriak dan merindukan kehadiran tahu dan tempe di meja makan. Sedemikian hal terjadi, ketika musik keroncong diakui sebagai milik negara lain, kita berteriak-teriak marah.

Persoalan sesungguhnya dari krisis Keroncong yang kita hadapi layaknya krisis tahu dan tempe, yakni karena keseharian kita telah dirampas dan ditentukan oleh negara-negara asing. Dan pada posisi ini, semua ditantang untuk terlibat dalam pelestarian sekaligus pengembangan musik keroncong, tentu agar musik keroncong disukai oleh segenap masyarakat, sekaligus mampu menyuarakan ekspresinya secara independen dan tanpa kooptasi dan hegemoni dari negara-negara lain.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial