DEMOKRASI KERONCONG

Baliho, spanduk, poster, TV, radio, koran, dan majalah marak dengan wajah-wajah para calon legislative berikut propaganda yang tidak sesungguhnya mencerminkan diri sang Caleg. Mematut-patut diri dan menyembunyikan borok persoalan sehingga dianggap bersih tanpa cacat, sebab pada kondisi ini rakyat dianggap akan senang dan memilihnya.

Seiring dengan Pemilu Legislatif, kita juga ditatapkan pada Pemilihan Presiden yang akan diusung oleh partai maupun koalisi partai-partai yang mampu menangguk minimal 20% kursi di DPR. Persiapan yang dilakukan para Calon Presiden pun tidak kalah dahsyat, para pimpinan partai telah juga mematut-patut diri agar rakyat terpikat dan men-contreng-nya di saat pemilihan dilakukan.

Namun, akan demikian terjadi? Sebegitu parahkah kondisi masyarakat Indonesia, sehingga para Caleg, Capres dan Cawapres itu menganggap rakyat pasti akan memilihnya, jika mereka tampak bersih tanpa noda, sementara realitasnya jauh dari yang dipampangkan. Masyarakat diperangkap ke dalam amnesia massa. Menyedihkan.

Pemilu inilah masyarakat Indonesia ditantang untuk mengingat kembali persoalan dan juga sikap para Caleg dan Capres atas persoalan yang melingkupinya. Masyarakat Indonesia harus mulai membuka memory masa lalu, bukan untuk bernostalgia, namun belajar dari masa lalu untuk memperbaiki bangsa dan Negara di masa depan, yang tentu harus dimulai pada saat ini.

Penentuan 5 tahun ke depan arah pembangunan bangsa saat ini ditentukan, sedemikian nasib musik keroncong. Bahwa musik keroncong sebagai warisan budaya bangsa layak mendapat tempat yang pantas, untuk diperkuat melalui keputusan politik. Pembangunan bangsa tidak semata-mata disandarkan pada satu pilar ekonomi semata, namun ada banyak pilar. Dari sekian pilar bangsa, pilar kebudayaan adalah salah satunya, di mana keroncong ada di dalamnya.

Perhatian pemerintah pada persoalan kebudayaan pada saat ini tereduksi. Hal tersebut terartikulasikan pada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, pada sisi ini nampak sekali bahwa kebudayaan cenderung dilihat dari aspek ekonomi. Padahal kebudayaan mencakup keseluruhan hidup manusia, sebab melalui kebudayaan pembentukan karakter bangsa dimulai.

Gema bas bethot menguncang, denting suara cak menyentil kita semua. Kita ditantang untuk secara cerdas dan sadar untuk memilih calon legislative, dan calon presiden dalam pemilu 2009. Fanatisme sempit haruslah dihindari, dan politik uang janganlah sampai membutakan mata dan hati. Maka, mengutip Susana Tamaro, Pergilah ke mana hati mu membawa, sedemikian halnya dalam Pemilu 2009. Memilihlah ke mana hati keroncong membawa. Hati keroncong anti kekerasan, hati keroncong menghargai kesetaraan, hati keroncong menghargai perbedaan, dan hati keroncong menghormati hak asasi manusia. Maka, hati keroncong dalam pemilu 2009 tidak akan memilih siapapun yang pernah terlibat dalam tindak pelanggaran HAM, serta yang tidak memiliki perspektif budaya.

Demokrasi keroncong adalah demokrasi yang dibangun di atas fondasi kebangsaan yang anti kekerasan, menghargai pluralitas, menghargai kesetaraan, terbuka, menghargai kebudayaan, dan tidak pernah terjebak dalam fanatisme sempit yang menjerumuskan. (tjroeng)

Please follow and like us:

One thought on “DEMOKRASI KERONCONG

  • June 10, 2009 at 11:13 pm
    Permalink

    I want to find good pop music. Help me please.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial