Kepemimpinan Bangsa dan Keroncong

Tahun 2009, bangsa Indonesia kembali akan menyelenggarakan Pemilu untuk menentukan kepemimpinan bangsa untuk kepemimpinan untuk periode pemerintahan selama 5 tahun ke depan. Proses berdemokrasi ini menjadi tantangan tersendiri, karena secara umum selepas keruntuhan Regim Orde Baru, rakyat Indonesia masih tetap saja terbelenggu pada persoalan krisis kepemimpinan. Selalu saja, rakyat dihadapkan untuk memilih calon pemimpin yang terbaik dari semua pilihan yang buruk itu. Atau dapat dikatakan bahwa Indonesia tidak memiliki sistem regenerasi kepemimpinan.

Tersendatnya aliran keroncong kepada generasi muda juga tidak bisa dilepaskan dari tidak adanya sistem regenerasi tersebut. Namun tentu saja, masyarakat tidak bisa disalahkan begitu saja karena proses pendidikan politik tidak pernah mengajari mereka menjadi manusia yang berani memilih secara bebas, merdeka. Proses berdemokrasi yang didambakan masih sangat jauh dari gagasan ideal semula, banyaknya partai juga tidak serta merta menunjukkan meningkatknay kualitas kondisi demokrasi itu sendiri. Terlalu banyaknya kepentingan untuk menutup dosa masa lalu sangat kental terasa. Pada situasi ini, munculnya banyak partai lebih keputusan politis masing-masing individu menjadi sangat penting. Personal is political.

Akan halnya dengan keroncong, setiap masyarakat Indonesia bisa memilih sendiri musiknya, namun demikian ketika musik keroncong lenyap dari muka bumi maka semua ikut bertanggung jawab atas kepunahan itu. Personel is political juga berlaku. Semua individu berhak memutuskan jenis musik pilihannya, namun jika dikaitkan dengan sikap ke-Indonesia-an, maka keputusan politik adalah menentukan musik keroncong sebagai musik pilihan. Genderang musik dan pasar kaset lagu-lagu asing tetaplah akan masuk, namun jika kita telah memutuskan sendiri pilihan musik keroncong, maka keroncong akan mendapat ruang dan tempat di tanah airnya sendiri.

Serentak dengan momentum peringatan kemerdekaan Indonesia ke-63, membangun kembali semangat nasionalisme menjadi sangat signifikan. Biarlah sang Merah Putih berkibar, seiring dengan berkibarnya seluruh produk dalam negeri yang dinikmati oleh rakyatnya sendiri. Sang Merah Putih, berkibar melalui makanan tradinional hasil jerih payah dan kerja keras pak tani, dan didasarkan atas investasi dalam negeri, bukannya investasi asing. Juga melalui BBM milik nasional, bukannya milik negara asing.

Musik keroncong, hadir sebagai penanda lahirnya nasionalisme baru, atas kesadaran baru dan pilihan politik masyarakatnya.
Selamat memperingati hari Kemerdekaan republik Indonesia ke-63.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial