KERONCONG DI TAMAN BUDAYA SURAKARTA

Keroncong sebagai bagian dari seni tradisi tidak boleh dipisahkan dari keseharian rakyat yang melahirkannya. Meski saat ini industri hiburan menawarkan rupiah yang menggiurkan, beberapa elemen masyarakat peduli keroncong yang ada di Solo tidak tertarik untuk mengeksploitasi keroncong demi mendapatkan keuntungan material. Secara bergantian dan teratur mereka mengadakan pementasan keroncong yang dapat dinikmati masyarakat umum secara gratis. Salah satunya adalah pementasan yang diadakan setiap Selasa malam minggu ketiga di Taman Budaya Surakarta (TBS).

Menurut koordinator musik dari TBS, Suparman, S.Kar. (Sarjana karawitan yang cinta musik keroncong), pentas keroncong TBS awalnya diadakan secara sederhana. Namun pelan tapi pasti kemasannya diperbaiki dan dikembangkan sehingga lebih memuaskan publik. Terbukti, pementasan yang dilakukan belakangan ini memang lebih apik dari pementasan-pementasan yang sudah lewat. Sekarang pentas digelar di Pendapa TBS yang megah dan didukung dengan sound system yang lumayan, ditambah kamera shooting untuk merekam pertunjukkan tersebut dalam keping DVD yang nantinya akan diserahkan kepada grup pengisi acara tersebut.

Uang pengganti biaya transportasi (orkes keroncong ) kami akui memang masih kurang, tapi bagaimana lagi, alokasi dananya memang hanya segitu, tandas Suparman, S.Kar. Makanya sebagai kompensasi kami berikan rekaman DVD kepada grup pengisi acara, biar jadi kenang-kenangan, imbuhnya. Sementara menurut grup-grup pengisi acara yang dihubungi penulis menyatakan, meskipun mereka bersyukur bila nanti uang transpornya ditambah, namun yang diterima saat ini pun sudah cukup, buktinya banyak grup yang meminta pentas ulang.

Dengan cara yang bersahaja, aktivitas pegiat keroncong ini juga memberikan berkah tersembunyi bagi berbagai kalangan masyarakat. Pentas yang dikemas dalam format lesehan, di mana penonton duduk di lantai menghadap ke pusat pendapa (kecuali penonton yang ada di luar) mendatangkan rejeki bagi banyak penjual minuman dan makanan khas Solo (wedang jahe, ronde, jadah bakar, dll) yang ada di sekitar pendapa. Mereka siap mengantar sajian khas itu ke tempat duduk penonton yang memesan.

Kasihan juga bakul-bakul (penjual) kalau tak ada penontonnya, tukas Pamuji salah seorang kru penyelenggara. Maka kami buat undangan kepada penonton yang disebarkan ke kampung-kampung dan grup-grup sekitar Surakarta, tidak apa ada pekerjaan ekstra. Tidak sia-sia upaya ini, penonton pun berdatangan dari berbagai penjuru.

Seiring dengan makin banyaknya pengunjung makin banyak pula penjual makanan. Pendapa TBS yang notabene terletak agak pinggir timur kota Solo seperti pasar malam hingga tukang parkir pun ikut sibuk.

Kami heran penontonnya begini banyak, kata Nandang Wijaya Pimpinan Orkes Keroncong Nadia Dewi Purbalingga.

Mengingat beragamnya penonton yang datang, grup yang akan tampil harus cukup hati-hati dalam penampilannya, baik dari musiknya, penyanyinya maupun busana yang dikenakan agar tidak dipermalukan di hadapan penonton. Mayoritas grup di Solo sudah menampilkan garapan/aransemen mereka sendiri. Agar tidak membosankan, di setiap pementasan terdapat dua pengisi acara, satu diambil dari kota Solo dan satu lagi grup dari kota/kabupaten di seluruh Jawa tengah, Jawa Tengah, Slawi, Purbalingga, Wonosobo, Kebumen, Pati, dll. Pada bulan Februari 2008 (yang pementasannya jatuh pada tanggal 19 Februari 2008) ditampilkan orkes keroncong dari kota Solo OK PALOMA (Paguyupan Longgar Manah) Pimpinan Panggih Raharjo, untuk luar kota OK Karanganyar Pimpinan Sutaryo.Acara ini diselenggarakan mulai pukul 19.30 s.d. 22.00. Satu pementasan pada Medio November 2007 perlu mendapat apresiasi. Pada bulan itu diadakan pentas 3 group dari 3 generasi antara usia 20an, 30-40an, dan golongan tua, sungguh luar biasa.

Akhirnya Bravo untuk rekan-rekan di TBS! Selamat berjuang, semoga keroncong langgeng tidak hanya di pentas Pendapa TBS namun juga di bumi tercinta Nusantara.

(Wartono, Wakil Ketua III HAMKRI, Korwil Surakarta)

Please follow and like us:

One thought on “KERONCONG DI TAMAN BUDAYA SURAKARTA

  • January 24, 2010 at 4:17 am
    Permalink

    Artikelnya bagus saya suka sekali dengan tulisan anda. Saya akan menjadi follower anda dan menjadi pembaca setia 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial