Pendidikan Keroncong : Upaya Pelestarian Budaya

Anak saya itu sudah belajar menyanyi dengan berbagai irama, dangdut sudah, pop sudah, Cuma ketika dia mau belajar menyanyi keroncong itu, kemana saya harus mencari buat anak saya?

Demikian dipaparkan salah seorang peserta Seminar Keroncong masuk kurikulum sekolah yang diselenggarakan oleh SMP Santa Maria Surabaya pada tanggal 7 Februari 2007 lalu. Dari pernyataan dang disampaikan setidaknya termuat beberapa hal, pertama adalah tidak adanya (minimnya) tempat pendidikan keroncong untuk umum, dan kedua adalah secara tidak ada program pengembangan keroncong yang secara sadar dilakukan untuk melestarikan kesenian yang asli Indonesia ini.

Upaya pelestarian dan pengembangan musik keroncong tentu tidak bisa hanya berhenti pada pemberian fasilitas alat-alat musik, tetapi juga harus diiringi dengan berbagai tindakan lain. Seperti dinyatakan oleh Singgih Wijaya, seorang dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam presentasi di Seminar bahwa untuk mengembangkan musik keroncong beberapa pemikiran yang tampaknya membutuhkan perhatian khusus dari kalangan pelaku dan pegiat keroncong yang harus didiskusikan bersama, yakni : 1) bagaimana mengacu kepada kurikulum sekolah itu sendiri dengan gagasan awal; 2) bagaimanakah acuan kurikulumnya (peraturan dan dasar hukumnya); 3) mengapa memilih musik keroncong; bagaimanakah supaya musik keroncong diminati siswa-siswi SMP; 4) bagaimanakah mempersiapkan kurikulumnya, sarana (non pengajar) dan prasarana apa saja yang harus dipersiapkan; dan 5) bagaimanakah mempersiapkan pengajarnya. Kelima pertanyaan tersebut nampaknya harus dipahami dan disadari sepenuhnya ketika harus menjawab kepentingan musik keroncong itu sendiri.

Pendidikan Keroncong di Sekolah

Pengenalan musik keroncong di wilayah institusi pendidikan formal sesungguhnya telah dimulai. Namun demikian belum ada data resmi yang menyebutkan dari seluruh sekolah di Indonesia berapa sekolah yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler musik keroncong.

SMP Santa Maria Surabaya merupakan salah satu dari sedikit sekolah yang memberikan ekstrakurikuler keroncong. Di SMP ini, terdapat sekitar 49 siswa dan siswi yang terlibat dalam ekstra kurikuler keroncong. Siswa-siswi kami memag pada mulanya banyak yang tidak mengenal musik keroncong, namun kami manyadari bahwa bagaimanapun musik keroncong harus diperkenalkan kepada mereka. Acara gebyar Keroncong menjadi salah satu media bagi peserta didik untuk mengapresiasi musik keroncong, dan ternyata saat ini, mereka sangat berminat, demikain dijelaskan oleh Sr Windhi OSU, Kepala Sekolah SMP Santa Maria Surabaya.

Menurut penuturan FX Triyas HP, pendamping ekskul keroncong SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta menjelaskan, Dua tahun lalu, di sekolah tempat kami mengajar telah terbentuk kegiatan ekskul Orkes Keroncong. Awalnya memang sedikit peminatnya. Tetapi banyaknya tawaran manggung saat pencanangan Solo sebagai kota Keroncong, HUT Ke-90 Gesang, dan peresmian city walk membuat ekskul ini makin banyak diminati.

Seturut dengan pemikiran tersebut, Waldjinah si Walangkekek- menyatakan bahwa, sosialisasi memang harus digencarkan agar salah satu musik tradisi bangsa ini tidak hilang. “Bisa lewat apa saja dan dalam bentuk apa pun. Lomba atau menjadi salah satu muatan lokal dalam dunia pendidikan,” ujarnya. Dalam perkembangan musik keroncong saat ini, Waljinah merasa skeptis, dan persoalan yang harus segera dipecahkan dalam dunia keroncong Indonesia.

Terlebih, saat ini, keroncong masuk dalam wilayah Dinas Pariwisata dan Budaya, maka keroncong menjadi bagian dari aset pariwisata, atau tradisi, dan budaya. Dan pertanyaannya, apakah keroncong masuk dalam wilayah budaya ataukah seni? Sebelumnya, keroncong masuk dalam wilayah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. “Keroncong sebagai seni saat ini dijadikan tradisi. Ia tidak lagi dipandang sebagai sebuah kesenian, melainkan tradisi,” dituturkan Kelly Puspito seorang pencipta lagu keroncong asal Kota Semarang.

Untuk itu, harus ada perubahan secara pelan mengenai perkembangan keroncong ini. Perubahan ini harus bisa melihat kondisi psikologis pecinta musik keroncong yang sudah menginjak usia senja, dan melihat psikologis jiwa muda saat ini,” kata Kelly Puspito.

Dilihat dari sudut tradisi maupun seni, keberadaan keroncong harus dipertahankan. Karena, keroncong menjadi bagian seni juga tradisi yang pernah mengisi peradaban bangsa. Dan mestinya, keroncong diajarkan di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal. Namun biarkan siswa sendiri yang memilih, bukan guru yang menentukan. Apakah keroncong masa kini atau keroncong jenis masa lalu yang mereka pilih. Itu adalah hak mereka, biarkan mereka yang memilih,” Kelly mempertegas.

Pendidikan Keroncong di Luar Sekolah

Upaya melestarikan dan mengembangkan musik keroncong tidak bisa hanya disandarkan pada salah satu sektor seperti di Departemen Pendidikan atau Departemen Budaya dan Pariwisata, namun keterlibatan publik juga sangat diharapkan. Karena masyarakatlah pada akhirnya yang akan menjadi penentu kehidupan dan gairah musik keroncong itu sendiri.

Waljinah, salah satu legenda keroncong Indonesia memiliki komitmen untuk terus melsetarikan musik keroncong. Dalam upaya melestarikan musik keroncong, Waljinah sudah membuka kursus olah vocal untuk lagu-lagu keroncong. Saya buka kursus di rumah. Yang ikut lumayan banyak, dari anak-anak SD sampai SMA bahkan juga ada yang suidah kuliah, paparnya. Peminat cukup membayar Rp 10 ribu sekali datang. “Itu untuk membayar pengiringnya.”

Langkah seperti yang telah dilakukan oleh Waljinah juga dilakukan oleh Tutik Maryati, di mana di rumahnya juga terbuka bagi anak-anak dan remaja yang mau belajar menyanyi keroncong. Namun demikian seberapa banyak pegiat keroncong yang melakukan kegiatan serupa untuk melestarikan den mengembangkan keroncong?

Kebutuhan, minat masyarakat untuk mengenal, bermain musik serta menyanyi keroncong cukuplah tinggi, namun demikian realitasnya apa yang diharapkan tidak menemu ruang yang pas sehingga supply and demand tidak seimbang. Dari kondisi ini, seharusnya peluang membuka kursus keroncong sangat terbuka, namun logika ekonomi ini juga tidak berjalan. Meski peminat banyak, namun tetap saja tempat pendidikan keroncong di luar sekolah sangat minim, dan itu pun tidak terpublikasikan secara baik. Terlebih, masih merupakan komitmen dari individu pegiat keroncong, belum menjadi gerakan yang sistemik dan terstruktur dari pecinta keroncong pada umumnya.

Jalan Panjang Regenerasi Keroncong

Diperlukan semacam daya juang, stamina dan semangat yang tinggi di kalangan orang dalam keroncong, perjalanan yang memang masih jauh, apapun itu harus dimulai dari sekarang. kalau tidak kapan lagi, demikian dipaparkan Musafir Isfanhari agar keroncong tetap hidup.

Di sisi lain, memang kita butuh figur kuat yang secara tegas berada dalam pusaran keroncong. Seperti dalam dangdut, ada figur Rhoma Irama, dan di titik ini keroncong belum memiliki figur yang berdiri kokoh tegas. Sosok Rhoma Irama sebagai figur yang tak goyang oleh guncangan manakala diejek dan dicerca oleh pemusik di luar dangdut, bahkan ide-idenya tetap kreatif dan inovatif hingga akhirnya dangdut yaa makin merambah di kalangan atas. Keroncong membutuhkan figur kuat yang tidak semata-mata menyanyikan lagu keroncong repertoir lama tetapi juga menelorkan lagu-lagu keroncong baru yang lebih kontekstual dengan jamannya.

Keadaan lain sperti dituturkan oleh Musafir Isfanhari adalah bahwa keroncong butuh semacam maecenas atau dewa pelindung kesenian atau dalam kata lain yang betul-betul memberikan perlindungan baik material maupun moral. Namun, masalah-masalah yang diungkap tersebut kerapkali menjadikan dinding pemisah antara pelaku keroncong dengan realita keroncong yang ada saat ini.

Masa depan keroncong bertumpu pada generasi muda dan sistem yang dibangun untuk melestarikan dan mengembangkan keroncong. Sehingga dengan demikian tuntutan untuk melakukan transfer ilmu dan kemampuan dalam ber-keroncong harus dibangun sejak dini. Pendidikan keroncong secara formal dan informal harus dikembangkan dan didukung dengan berbagai aspek, baik aspek teknis maupun non-teknis yang mengarah pada kejayaan keroncong di masa mendatang. (tjroeng)

Please follow and like us:

One thought on “Pendidikan Keroncong : Upaya Pelestarian Budaya

  • March 23, 2011 at 2:17 pm
    Permalink

    salam kenal.
    saya dan teman2 sudah usia kepala empat, akhir2 ini sepakat ingin belajar mainkan alat musik keroncong. Ada dimana ya kalau mau belajar memainkan alat musik keroncong disekitar Bogor? Matur nuwun. Nusanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial