Buletin Tjroeng Gelegak Jiwa Nusantara :: Buletin Musik Keroncong

5Aug/100

Rochani Adi : Ruang Dalam Keroncong

04. yg mengalir 01
Tenang dan damai.

Begitulah sosok Rochani Adi, seorang pegiat keroncong yang telah malang melintang selama ini. Karya-karya berupa lagu keroncong, Pop Jawa maupun langgam Jawa sudah mencapai 200 lagu. Jumlah yang tidak sedikit karya dalam musikkeroncong yang memang terlalu lambat dalam memunculkan karya-karya baru.
Kemampuan Rochani memnbuat lagu baginya merupakan salah satu karunia yang diberikan Tuhan. Menurutnya, “Sumber ide bisa datang dari mana saja, tetapi yang paling berkesan tentunya berasal dari apa yang kita yakini , dari peristiwa yang kita alami dan rasakan,” sehingga dari sana lah lahir lagu-lagu seperti “Kr. Fajar Indah”. “Magelang Gemilang”, “Prumpung Adiluhung”, “Borobudur Indah”, “Cinta di Borobudur”, “Lgm. Taman Kyai Langgeng” “Prambanan Otera” dan masih banyak yang lainnya. Tema semangat perjuangan diantaranya terdapat dalam lagu “Pahlawan Tak Dikenal”, “Lgm. Kartini, Putri Mayong”, “Kr. Patriot”, “Satria Pertiwi”, lagunya “Kr. Putra Pertiwi”. (1977). Dan satu lagu yang dikirimkan atas nama anaknya, Anang Santjaka, menjadi juara ke-1 dalam Sayembara Penciptaan Lagu Keroncong Tingkat Nasional 1991.

Belajar dari tukang cukur rambut sampai pahlawan tak dikenal

Rochani Adi, selain dikenal sebagai pencipta lagu keroncong, ia juga dikenal sebagai pemain biola yang sangat handal. Kemampuan dalam bermusik, Rochani banyak belajar dari ayahnya yang menjadi seorang tukang cukur di kampungnya.  Kasih Hardjo (ayah dari Rochadi Ani: red) sendiri adalah seorang yang multi talented, di mana selain bekerja sebagai tukang cukur dan pedagang tembakau ternyata ia menjadi pengajar bagi biduan-biduan di kampung  Gatak Santren, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.

“Saya sering nguping dan ngintip ketika ayah saya melatih biduan kampung nyanyi... ayah saya mengajar memakai notasi angka...” papar Rochadi mengenang masa kecilnya di mana ia banyak belajar dari sosok ayahnya. Dari ayahnya inilah darah seni mengalir dalam tubuh Rochani Adi.  Darah seni yang mengalir tersebut tumbuh dengan subur, sehingga sekitar tahun 1950, pada usia 13 tahun, Rochani muda mendirikan “Tunas Remaja”, sebuah organisasi non politik yang bergerak di bidang olahraga dan seni, di rumah Ali Hardjo orang terkaya waktu itu di Krajan, Gunung Pring. Bermula dari kelompok inilah, Rochani mulai  menciptakan lagu pertamanya: “Derita Ibu”. Sejak saat itu mengalirlah karya-karya ciptaannya.
Perjalanan musik Rochani tidak seluruhnya berangkat dari sebuah group keroncong, namun juga didukung oleh institusi di mana ia bekerja. Atas saran Murni, seorang penyanyi keroncong di tahun 1960-an, Rochani mendaftarkan diri untuk menjadi pegawai Urusan Moril (URIL) Angkatan Darat di Magelang dan pada tahun 1961 diterima bekerja di sana sebagai Tenaga Bulanan Honorer (TBH). Dan di tahun 1963 melalui serangkaian test di  Jogja, Solo dan  Semarang (Kodam VII Diponegoro), Rochani direkrut menjadi anggota Orkes Symfoni Angkatan Darat  (OSAD) sebagai pemain biola.  Kemudian tahun 1964, OSAD yang dipimpin Kapten F.A. Warsono tersebut hijrah ke Jakarta untuk menggarap sebuah proyek garapan “Sendra Wira Lumaksana”, yang merupakan kolaborasi unsur-unsur musik ‘Barat’ dengan musik etnik di antaranya karawitan Jawa dan Sunda.

Rochani pun turut hijrah ke Jakarta. Menurutnya, proyek yang idenya berasal dari Letjen A. Yani tersebut rencananya akan dipentaskan di Monas 1965. Namun akibat  terjadi peristiwa berdarah 30 September 1965 yang menelan korban beberapa orang jenderal salah satu diantaranya adalah Letjen A. Yani. Proyek nyaris berantakan, sebelum akhirnya Presiden Soekarno menegaskan “Idenya Yani biar Soekarno yang meneruskan!”

Kenangan pada Jenderal A. Yani sangat kuat dalam sosok Rochani, sehingga ia sering menyempatkan diri untuk tabur bunga di makam Jenderal A. Yani Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dalam ziarah di Kalibata, Rochani menyempatkan berkeliling ke makam-makam lain, dan sempatterpaku pada sebuah batu nisan bertuliskan “Pahlawan tak dikenal”, peristiwa itu membekas dalam hati dan fikiran Rochani, dan lahirlah sebuah lagu “Kr. Pahlawan Tak Dikenal”. ...semoga tenang di sisi Illahi, ...biar tak dikenal engkau tetap pahlawan sejati...

Keheningan Ruang Dalam

Rochani Adi“Saya cuma ingin bertemu dengan pak Gesang, pak Andjar Any, Toto Salmon, dan Warsidi,  bukannya ingin diberi penghargaan,” demikian disampaikan Rochani beberapa waktu lalu saat penyerahan lifetime achievement award di Solo. Tidak ada rasa iri dalam dirinya menyaksikan bebarapa kawan karib-nya menerima penghargaan itu. Karena Rochani Adi sendiri tidak peduli dengan penghargaan. Ia lebih peduli pada bagaimana senantiasa menghidupkan keroncong.

“Saya sudah ‘kenyang’ rekaman, itu sudah alhamdulillah” paparnya dan sewaktu ditanya mengenai honor yang diterimanya, ia berkata: “Saya tidak mementingkan materi, dibayar berapapun tidak pernah protes, alhamdulillah, terimakasih.” Bahkan di tahun 1983, Rochani pernah menerima honor sebesar Rp. 15.000,- untuk permainan biolanya dalam satu album rekaman keroncong.

“Waktu itu saya mengerjakan enam buah album, hitung sendiri berapa honor yang saya terima,” Sangat tidak layak untuk kemampuannya yang luar biasa, tetapi beliau  tetap bersyukur “..Alhamdulillah...! Walaupun tidak dapat apa-apa dan saya tidak mengharapkan apa-apa. Saya sudah dibiayai negara, biar sedikit tapi berkah”.
Perjalanan panjang keroncong dalam sosok Rochani Adi  begitu dalam. Namun, permainan biola Rochani tak lagi bisa sebaik dahulu, akibat penyakit hernia yang dideritanya. Tetapi, ia tidak pernah menyesalinya. Ia menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. “Mungkin itu yang terbaik yang dapat saya lakukan melalui permainan biola saya. Saya masih bisa menulis karya cipta lagu, itupun hal yang patut saya syukuri”. Ada sedikit harapan saat beliau berkata: “Siapa tahu setelah operasi minggu depan, tangan saya sembuh dan bisa main biola lagi... hal yang tidak mungkin, tetapi mungkin saja terjadi jika Allah menghendakinya”.

Jiwa keroncong adalah jiwa yang begitu dalam. Begitu Rochani Adi memaknainya. Dari kedalaman tersebut, nilai luhur dan beradab akan tumbuh subur. Jiwa yang menghargai kehidupan, menghargai setiap berkat dari Tuhan. (Imam Djuhari Kamus)
1May/091

Ngahadi : Dari Wonosobo Mengaliri Nusantara

Begini rasa tuan, pendiriannya penyanyi
Rupa hinaan, selalu kami alami

Ooo, kebanyakan orang, suara bagus di puji puji
Suara buruk terus di caci
Di pandang rendah sekali

Di sana jenuh, Di sini pun mengatakan benci
Pada umum selalu di hina
Begitu nasib penyanyi..

 

Ngahadi

Ngahadi

Lantunan ‘Nasib Penyanyi’ yang kerap kali didendangkan menjadi salah satu lagu inspirasi bagi sosok Ngahadi, lelaki kelahiran Wonosobo, 71 tahun lalu. Menimba ilmu musik keroncong sejak bergabung dengan OK. Purnama dibawah pimpinan Alm. Bpk. Subarjo alias Sipon saat itu. “Saya belajar banyak dari Alm. Pak Sipon itu, Wah beliau gitar melodinya betul-betul hebat itu, padahal matanya sama sekali tidak bisa melihat… alias tuna netra” kenangnya. Berbekal ilmu keroncong yang diberikan, Ngahadi muda menjuarai beberapa ajang lomba vokal keroncong di Wonosobo.

Hingga usia yang tidak muda lagi, Ngahadi masih terlihat mahir dan trampil memainkan seluruh instrument yang ada dalam keroncong, dan salah satu kelebihan yang dimiliki adalah pandai membaca notasi. Teks-teks lagu-lagu partitur keroncong dari tulisan tangannya, menguatkan betapa Ngahadi sangat mumpuni dalam bidang musik, khususnya keroncong. Hal ini ditambah kemampuan menyanyinya manakala lantunan suara merdu beliau terdengar dalam melodius irama keroncong berikut lirik merdunya.

Saat ini di tengah-tengah beliau merenda hari-hari tuanya, Ngahadi tetap menjaga aliran keroncong terus mengalir kedalam jiwanya. Dengan beberapa rekan-rekan lama, ia kerapkali berkumpul untuk berdiskusi sambil bermusik dengan Bpk Sugiono,yang dulunya sempat memimpin OK. Aneka Jaya di Depok Tengah - Jakarta. Kadang pula ia menjadi pengasuh dan datang sesekali di undang ke tempat OK. Melati Putih pimpinan Bpk. Slamet Sudarmo di Jakarta.

Hidup bermusik yang tak pernah lekang

Deretan alat musik yang dijajar rapi, bass kontra, cello, cak dan cuk serta biola dan flute. Oh, itu cuma hobi kok,” jawabnya saat tjroeng bertanya mengani koleksi alat musik yang dimilikinya. “Dulu banyak yang latihan di rumah saya termasuk Hardiman BJ, pemain biola, saudara kandung Budiman BJ,“ lanjutnya mengenang beberapa personel yang pernah bermain besamanya.

Ingatan Ngahadi pada kawan-kawan bermain keroncongnya masih sangat tajam. Kenangan masa-masa dimana beliau bersama rekan-rekannya manggung dari satu anjungan ke anjungan lain di pentas TMII, juga beberapa kali sempat tampil live di RRI Bandung kala itu. “ Wah, kalau ingat Pak Giyono itu pamrihnya bagaimana saya betul-betul salut kepada beliau itu, sebelum berangkat beliau bersusah-susah menyiapkan bekal nasi, kopi dan penganan lain yang disiapkan istrinya” ujarnya . Bersama Sugiyono, berbagai pementasan keroncong dijalani, dan jika mendapat imbalan dibagi meski dengan potongan untuk operasional kelompok. “Yah kalau pada akhirnya dari pihak penyelenggara memberikan imbalan dan di potong langsung oleh pak Giyono yah saya tidak tahu tapi harusnya yah maklum saja, harus paham… toh setelah acara saya tidak ketinggalan dibayar itu” lanjutnya.

Memang tidak mudah mengelola latihan keroncong. Dengan kapasitas ekonomi yang terbatas seringkali membuat Ngahadi merasa berat. namun, hal itu tetap dilakukan karena bermain musik sudah menjadi bagian hidupnya. “ Kalau di tempat latihan judulnya ‘mbayar’ itu saya rasa wajar ya, begini, dulu banyak yang latihan di rumah saya. Lama-lama kok saya yah yang memang pas-pasan ini kelimpungan juga mesti memberikan sangu kepada tiap pemain,” katanya sambil tersenyum dan melanjutkan.

Atas kondisi tersebut Ngahadi mengambilkeputusan untuk mengubah manajemen tim-nya. “ Sampai akhirnya saya pindahkan semua alat saya ke tempat pak Slamet Sudarmo dan saya ikut gabung dalam OK. Melati Putih. Pak Slamet-lah yang mengatur semuanya termasuk menarik pungutan kepada tiap penyanyi yang ramai datang, nah kalau salah-salah orang yang kurang paham ya pasti terjadi keanehan kenapa nyanyi kok mbayar, padahal banyak dari musisi yang rumahnya jauh-jauh, dan pak Slamet sendiri bukan termasuk orang yang mampu mengendalikan semuanya, jadi disiasati seperti itu demi kepentingan bersama, mengganti transportasi dari para musisi, itupun sifatnya sukarela saja… tidak memberi pun tidak apa-apa, begitupun waktu dulu saya latihan di Cipete sana yah sama saja, sekali lagi kembali kepada pemahaman kita,” ujarnya lirih.

Semoga saja hal ikhwal ini tidak panjang berkelanjutan, sebab cuma akan menghambat kemajuan keroncong itu sendiri. Yang dibutuhkan sebetulnya cuma sedikit pemahaman dan pengertian, kira-kira begitu…” katanya sambil memetik cuk ditangannya,

Dari Wonosobo menuju Kompleks Dumptruck

Masa muda Ngahadi selain bergelut dengan keroncong, ternyata juga ia menjadi prajurit TNI. Di kesatuan Dumptruck TNI AD, Ngahadi telah melanglang buana ke wilayah Indonesia. Pekerjaan sebagai tenaga administrasim bahkan kadang juga menjadi sopir truk di kesatuannya menempa Ngahadi semakin kuat. Getaran mesin truck, dan dentingan mesin ketik yang datar-datar saja menjadikan Ngahadi semakin jatuh cinta pada keroncong, yang dinamis dan hidup.

Suara merdu dan piawai memainkan berbagai alat musik, menjadikan Ngahadi diminta untuk melatih anak-anak pejabat di kesatuan dumptruck, dan di sini ia bertemu gadis yang akhirnya menjadi istrinya. Pasangan ini dikaruniai 3 (tiga) orang anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Hidup dan cinta Ngahadi kini berlabuh di Kompleks Dumptruck TNI AD Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Di rumah sederhana yang ditempati bersama istri tercinta, tersedia berbagai alat musik. Dari sinilah ia mengajak beberapa orang untuk bergabung. Dalam proses berlatih inilah lambat laun menemu beberapa generasi muda keroncong.

Regenerasi mungkin tidak pernah ada dalam agendanya, semuanya mengalir laksana air, manakala tidak ada lagi yang datang untuk memainkan alat-alat musiknya Ngahadi lebih memilih untuk meminjamkan beberapa alat musiknya kepada OK. Melati Putih, karena dirasakan lebih bermanfaat. Tapi siapa yang mengira hanya dengan cak dan cuk saja di iringi organ biasa, lagu keroncong tetap saja mengalun di suasana hari minggu, di pelataran rumahnya mengiringi suara merdu beliau menyanyi, dan warga kompleks dumptruck gang mesjid itu seperti sudah terbiasa, kadang malah seperti hiburan rutin membuat mereka berkumpul dan saling bernyanyi dalam suasana kekeluargaan yang hangat, hingga pada akhirnya generasi muda mulai tertarik dan mulai pula menggeluti keroncong tanpa paksaan seperti Sevi, 22 tahun, yang saat ini rutin menyanyi keroncong di kediaman beliau.

Dalam kesederhanaannya, satu hal yang disampaikan oleh Ngahadi, bahwa musik keroncong di masa yang akan datang sebisa mungkin melodinya terus di perdengarkan. Meski dalam membudayakan keroncong itu sendiri menurutnya janganlah ada terkesan ataupun unsur paksaan di dalamnya, karena semua itu kembali kepada ruang gerak cipta daripada manusia itu sendiri asalkan mau tetap eling dan waspada, mengerti darimana kita berasal. Sebagai manusia Indonesia, maka berperilakulah menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia. (clara)

3Feb/091

Musafir Isfanhari : Sang Musafir Keroncong

Saya bersedia dan membuka diri jika generasi muda atau para pelaku musik keroncong ingin belajar teori musik pada saya. Saya akan memberikan pengalaman dan kemampuan saya demi memajukan musik keroncong di tanah air ini. Bukan secara skill, skill musik keroncong harus anda sendiri yang gali sesuai imajinasi anda, pada tataran ini saya hanya memberikan ilmu teori musik. Untuk selanjutnya kreatifitas andalah yang berperan.” (musafir Isfanhari)

Begitulah komitmen seorang Isfanhari dalam hal musik keroncong menjawab gugatan pecinta keroncong atas kondisi musik keroncong yang saat ini masih saja belum mendapat tempat yang memadai, dan musik Keroncong masih kurang diminati oleh masyarakat secara umum.

Musafir Ishfanharu

Musafir Ishfanharu

Cara kita memandang masalah, menentukan cara kita menanggapinya

Ketika Barack Obama menjadi presiden terpilih Amerika Serikat, seketika itu orang Indonesia ikutan menjadi heboh dan ikut merayakan kemenangannya. Wajar saja orang Indonesia ikut merayakannya, karena semasa kecil Barry Soetoro –panggilan Obama semasa kecil- pernah besar dan tinggal di Indonesia –meski hanya 4 tahun-. Dan biasanya kemudian muncul beberapa peristiwa menggelitik di kalangan masyarakat “ jelek-jelek gini, saya dulu teman sekolah Obama lho! ; saya ini istrinya teman sekolah Obama itu.. ; saya ini temannya adiknya mbak yang suaminya teman sekolah Obama tadi.. ; saya ini keponakannya paman saya yang temannya adiknya ibu yang suaminya teman sekolah Obama.. ” ; pasti anda juga pernah mengalami atau mendengar hal semacam itu di masyarakat lingkungan tempat anda tinggal.

Guyonan –lelucon- seperti itu merupakan penggambaran yang pas bagi arti sebuah feodalisme. Di negara tempat kita tinggal ini, banyak terdapat individu yang terkadang menunjukkan ke-aku-annya melalui relasi dan kenalan seperti itu agar dirinya juga dianggap memiliki tingkatan sosial yang sama dengan kenalan atau relasinya tersebut –aku ini anak pejabat, aku ini teman bupati kota Bangkalan, aku ini pamannya lurah Balong Sari begitu seterusnya-. Pola pikir seperti ini berpengaruh terhadap cara pandang individu tersebut terhadap suatu hal.

Gambaran di atas, oleh Isfanhari dilihat sebagai gambaran yang begitu pekat ke-feodal-an masyarakat Indonesia yang pada akhirnya menjadikan cara pandang masyarakat Indonesia tentang sebuah musik sudah terkotak-kotak dan tersekat-sekat, seperti musik Keroncong adalah musiknya orang tua, musik dang dut musik orang kelas bawah, musik jazz musik para mahasiswa yang status ekonominya berkecukupan dan musik orang elite, musik klasik musik para orang yang aristocrat. Pengotakan-pengotakan tersebut yang membuat musik di Indonesia tidak bisa berkembang, tentunya juga bagi musik Keroncong sendiri. Karena sebetulnya ketika musik-musik tersebut tercipta dan diciptakan tidak ada tujuan bahwa musik dang dut adalah musiknya tukang becak, musik jazz adalah musiknya mahasiswa, musik klasik adalah musiknya orang yang aristocrat, jadi siapapun boleh saja menikmati atau menggemari musik apapun. Tukang becak boleh-boleh saja mendendangkan jazz di dudukan becaknya, musik dang dut sah-sah saja didengarkan oleh para mahasiswa dan tak jarang saat ini di mobil-mobil para esmud –eksekutif muda- terdapat cd-cd lagu dang dut yang menjadi teman di waktu berangkat dan pulang kerja mereka, jadi mengapa harus disekat-sekat dan dikotak-kotakkan?

Kisah Piano Berdebu

Pengalaman Isfanhari ketika diminta menjadi pelatih vokal oleh sekelompok anak sekolah untuk menghadapi ujian kesenian di sekolah mereka, tepatnya melatih suatu vokal group sekolah –bukan lomba atau ajang award bergengsi -, setelah beliau sepakat maka beliau mendatangi rumah anak sekolah tersebut.

Gonggongan anjing penjaga yang besar dan galak-galak menyambutnya. Meski8 dalam kandang, gonggongan anjing itu cukup menggetarkan hati. Setelah beliau masuk rumah di ruang tamu langsung disambut dengan sebuah piano kustik yang harganya mencapai 60 jutaan, lantas mencoba memainkannya. Ketika membuka selubung piano itu, tampaklah debu yang sangat tebal melingkupi piano kustik tersebut. Sembari membersihkan piano, Isfanhari bertanya, ” Ini siapa yang biasa memainkan piano?”, dan dijawab, “ Tidak ada pak, tidak ada yang memainkannya”.

Perasaan Isfanhari sebagai seorang guru musik tersintuh, ” Terus kalau tidak ada yang memainkannya mengapa harus dibeli?” lagi-lagi terdengar jawaban,” Wah gak tau papa itu…” jawabnya.

Kisah piano berdebu menyentakkan hati Isfanhari atas kondisi masyarakat yang belum paham betul akan arti pentingnya musik, namun lebih menjadikan jenis alat musik mahal - meski tidak bisa memainkannya – sebagai simbol dan status sosialnya. Pada sisi ini, sang empunya piano berdebu hanyalah sebagian kecil dari perilaku yang sok dianggap beradab melalui musik, namun itu sebuah kehidupan yang artificial, tidak otentik. Isfanhari sendiri menilai jenis irama musik tidak ada yang salah, semua layak berkembang, seperti halnya keroncong pun harus berkembang.

Memang, pengalaman Isfandari dalam mencermati perkembangan musik, khususnya keroncong kalah jauh dibanding musik lain seperti jazz, dangdut, pop, R&B, dll. Jenis musik keroncong yang lembut dianggap kurang menghentakkan jiwa kaum muda, jernih keroncong tak sejernih musik klasik, demikian sering diasumsikan. Sehingga keroncong menjadi musik yang ’nanggung’. ”Pada situasi ini musik keroncong butuh penyegaran, inovasi, dan kreatifitas baru,” papar Isfanhari tegas.

Proses kreatif : kunci tumbuh kembang keroncong

Tahun 2007 Isfanhari membuka pelatihan musik gratis bagi pelaku musik keroncong di Surabaya dengan suka rela dan tanpa dipungut biaya bagi peserta demi memajukan musik Keroncong. Yang dibekalkan oleh Isfanhari adalah ilmu musik, untuk pengembangan skill musik keroncong, para peserta didik diberi kebebasan untuk berkreasi dan mempraktekkan teori musik tersebut pada latihan-latihan di orkes-orkes keroncongnya sendiri. Namun pelatihan tersebut hanya berlangsung selama empat bulan saja, akibat peserta didik yang semakin lama semakin berkurang hingga tandas habis.

Ini merupakan kelemahan dari para musisi Keroncong, yang dalam pikirannya selalu terbersit setiap ‘crong’ itu harus dapat duit. Hal itu tidak salah dan sah-sah saja. Namun, dibanding Group-group yang sudah besar seperti Nidji, Dewa 19, Sheila on 7, Peterpan dan lain sebagainya, setiap kali mereka ‘jrieng’ mereka dapat duit, namun yang harus dilihat bahwa proses dari ‘jrieng’ sampai menjadi dapat duit tersebut, mereka melalui proses yang dinamakan berlatih dan terlebih mempunyai gaya sendiri dalam memainkan musiknya sendiri.

Menemukan gaya dan corak merupakan pilihan sebuah group musik. Sedemikian juga dalam musik keroncong. Bahwa setiap group keroncong pun dituntut untuk secara kreatif dan inovatif menemukan gaya dan coraak setiap group tersebut, meski tetap dalam jalur keroncong. Tujuan awal dari pelatihan yang ingin diberikan pak Isfanhari pada pelaku musik Keroncong adalah memajukan musik keroncong terutama membuka wawasan bermusik para musisinya, jika sudah terbuka silakan anda-anda berkreasi. Karena secara skills musik para pemain keroncong ini sangatlah bagus, namun pengetahuan tentang musik masih kurang. Seperti pada latihan-latihan orang keroncong, sudah menjadi kebiasaan ketika di saat memulai satu lagu, terlontar “main opo? –nada apa?-“ kemudian sang violins menjawab “main satu” –dengan hanya mengacungkan jari telunjuk, yang mengisyaratkan do = G-, kemudian jika dijawab “main dua” –dengan mengacungkan dua jari, yang berarti do = D- untuk nada berikutnya seperti A, Bes, C, F dan seterusnya tidak ada simbolnya. Setelah ditanya “mengapa jika dijawab main satu itu memainkan nada G?, dari mana asalnya?” Karena arti satu bisa ada dua nada, bisa nada G atau juga bisa nada F, jika nada G berarti satu #, kalau satu ? berarti nada F. Contoh kecil seperti itu yang ingin dibuka oleh Musafir Isfanhari pada para musisi Keroncong, pengetahuan tentang ilmu musik khususnya.

Mengambil contoh legenda dangdut Indonesia dan dunia, Rhoma Irama, dulu Rhoma Irama pemain musik rock, namun kemudian dia terjun ke musik dang dut. Dia mencoba meramu musik dang dut dengan musik rock, dalam hal ini dang dut tetap dang dut tetapi dengan kemasan yang baru. Di saat tahun ’70-an musik dang dut itu disepelekan sebagai musik kampungan, musiknya pemabuk dan lainlain yang citranya negatif. Saat itu Rhoma pernah mengarang lagu berjudul musik yang penggalan syairnya ada yang berbunyi “boleh benci tapi jangan mengganggu . . .” saat itu musik dang dut benar-benar dibenci, disepelekan, diremehkan dan dipandang sebelah mata, disini Rhoma ingin mengangkat musik dang dut agar tidak dipandang sebelah mata, ternyata bang Haji ini berhasil mengangkat gengsi musik dang dut. ” Coba sekarang lihat, siapa yang gak suka musik dang dut? Sekarang dang dut jadi sumber uang yang luar biasa. Rock masih kalah, musik rock barang kali penggemarnya banyak, namun frekuensi tampilannya sedikit sekali coba saja lihat di acara Televisi semua acaranya tak terlepas dari musik dang dut. Kunci sukses bang Roma berasal dari ketekunannya menjaga image dang dut jangan sampai jatuh dan semangatnya untuk selalu memperbaharui musik dang dut secara terus menerus”. Musik dang dut saat membikin syair tidak peduli –dalam artian jika musik Jazz, atau musik pop sangat-sangat tersusun rapi- disaat punya inspirasi langsung dikeluarkan secara spontan, seperti SMS, kucing garong, anggur merah, intinya apa yang saat ini terjadi di masyarakat langsung diangkat lewat musik. Saat tahun ‘80an ada sebuah lirik musik dang dut berbunyi “apa arti kamu menangis di depan penghulu, orang lain dapat nangkanya aku dapat getahnya” lirik semacam ini tidak mungkin bisa dibuat oleh pemusik Jazz, coba musik dang dut ya enak saja langsung disenandungkan meski “ngawur” tetapi mereka sangat berani, variatif ditambah dengan pemusiknya banyak sekali anak muda, jadi banyak terjadi pembaharuan-pembaharuan.

Musik Keroncong merindukan ide-ide segar dan pembaharuan seperti pada musik dang dut untuk kemajuan musiknya, segala sesuatu tentulah berproses begitu juga musik keroncong kita saat ini. Jadi Keroncong yang kita main dan dengarkan saat ini adalah hasil evolusi musik dari jaman dulu hingga sampai saat ini yang kita kenal dan kita sebut musik keroncong. Dahulu kala bentukan musik keroncong tentulah tidak sama persis dengan musik keroncong yang saat ini kita dengar, jadi jangan takut untuk berkreasi dan melakukan revolusi musik. Jadi jika pada nantinya setelah berkreasi didalam bermusik keroncong, musik anda dibilang bukan musik keroncong, berarti jenis keroncong anda dengan orang yang berkomentar tadi berbeda. Yang perlu diingat adalah apa yang dimaksud dengan keroncong adalah :

  1. Alat musik seperti gitar tetapi kecil dengan 4 dawai,

  2. Bentuk komposisi musik yang terdiri dari 28 birama ditengah ada interlude, bentuk komposisinya satu model,

  3. Satu group ansambel musik yang terdiri dari bass, cello, gitar, cak, cuk, flute, dan biola,

  4. Keroncong adalah pola permainan –cong crong cong-, jadi meski dengan syair barat namun dengan menggunakan pola permainan demikian, itu sudah bisa dikatakan sebagai musik keroncong,

Keroncong harus mengikuti perkembangan jaman, lebih menampilkan kreatifitas yang segar agar selalu mendapat tempat di generasi muda, khususnya bagi penggemarnya.

-nton-

Rabu, 3 nopember 2008

3Dec/080

Michiel Meijer menghidupkan Keroncong di Belanda

Michiel Miejer

Michiel Miejer

Michiel Meijer”. Mendengar nama tanpa melihat wajah dari pemilik nama itu, pasti akan langsung membayangkan sosok bule, berkulit putih, bermata hijau, dan berambut pirang. Pikiran itu akan langsung berubah 180 derajat ketika bertemu langsung dengan sang empunya nama. Orang dalam hati langsung akan bertanya “Kok rambut dia hitam, kulit coklat ya?”. Ya, meski mempunyai nama Belanda, ternyata Michiel ada keturunan Indonesia. Bahkan ia lahir di Surabaya dan cukup lama tinggal di sana, hingga orang tuanya memboyongnya ke Belanda.

Bercerita tentang Keroncong di Belanda, nampaknya tidak bisa dijauhkan dari nama Michiel Meijer. Kecintaannya kepada keroncong menggiringnya untuk mau terlibat banyak di sela-sela kesibukannya, demi mempromosikan keroncong di Negeri Belanda. Di Negera Kincir Angin ini memang terdapat banyak warga keturunan Indonesia. Apalagi sejarah Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah Belanda, tak heran jika di Belanda keroncong digemari oleh banyak kalangan.

Melalui acara-acara Pasar Malam di Belanda, Michiel ikut ambil bagian dengan menggelar stand untuk mempromosikan seni Budaya Bangsa Indonesia, termasuk Musik Keroncong, beserta pernak-perniknya. Melalui diskusinya yang intens dengan Tjroeng, Michiel bersedia untuk menjadi kontak person Tjroeng di Belanda. Melalui Michiel perkembangan keroncong di Indonesia bisa diterima oleh penggemar keroncong di Belanda lewat media Tjroeng.

“Saya mempromosikan keroncong di Belanda itu bukan untuk kepentingan bisnis, tetapi atas dasar kecintaan saya terhadap keroncong”, demikian Michiel Meijer menjelaskan ketika ditanya mengapa ia sangat gencar mempromosikan keroncong di Belanda. Ungkapan Michiel Meijer ini seolah menjadi pelengkap bagi aktifitas kawan-kawan yang tergabung di Tjroeng. Mereka mau bekerja secara sukarela untuk memajukan keroncong karena atas dasar kecintaan yang luarbiasa. Keroncong memang patut dicinta karena iramanya yang sangat cantik. (ABW)

2Nov/082

We Cen Yu Mengubah Hidup Didi Kempot

“Wah kamu anak Ranto Gudel ya ?”, mendengar pertanyaan itu Didi Kempot remaja yang sedang asyik mengamen tak jauh dari rumahnya, langsung ambil langkah seribu. Didi, di masa remajanya memang dikenal sebagai anak bandel, pemberani, dan nekat. Maka nekat pula ketika ia memutuskan untuk mengamen di sebuah rumah yang hanya berjarak delapan rumah dari tempat tinggalnya. “Saya mulai mengamen ketika masih kelas 3 SMP”, ungkap Didi. “Saya ngamennya sembunyi-sembunyi, takut ketahuan Bapak”, ungkap pria bernama asli Didi Prasetyo ini. “Awalnya mengamen juga hanya sekedar tes mental”, imbuh Didi sambil terkekeh.

Gitar pertama yang Didi miliki merupakan buah kebandelannya. “Ketika kelas 2 SMA, sepeda pemberian Bapak saya jual untuk membeli gitar”, ungkap Didi. Berbekal gitar seharga 4000 rupiah itulah Didi mengembara sebagai pengamen, dan Jakarta menjadi tujuannya. Bagi Didi, seperti juga yang ada dalam benak banyak orang, nampaknya Jakarta masih menjadi primadona untuk mewujudkan mimpi.

Didi Kempot, sebagai anak seorang Ranto Gudel, anggota Group Lawak Srimulat yang saat itu sedang jaya-jayanya, sebenarnya kehidupannya cukup berada. Tetapi keinginan yang besar untuk mandiri, mengalahkan nasehat ayahnya, yang menginkan Didi sukses di sekolah. Berbekal nasehat ayahnya yang berbunyi,”Masa depanmu tergantung kamu sendiri”, berangkatlah Didi ke Jakarta.

Mengamen dan mencipta lagu

Ketika pertamakali Didi menginjakan kaki tanah Jakarta, Mamik Srimulat, yang juga kakak Kandung Didi sudah cukup dikenal sebagai pelawak yang sukses. Namun hal itu tidak membuat Didi mau berenak-enak tinggal bersama kakaknya. Malah ia memilih tinggal bersama kawan-kawannya, dengan mengontrak sebuah rumah yang mepet dengan kandang kambing. “Saya ingin seperti Mas Mamik, yang memulai karir dari nol”, ungkap Didi.

Bakat seni memang mengalir deras di darahnya. Didi pun mulai mahir mencipta lagu. “Lagu-lagu yang saya ciptakan tadinya hanya saya nyanyikan sendiri saat mengamen”, ungkap Didi. Karena lagu-lagu ciptaan Didi sangat indah untuk dinyanyikan, lama kelamaan banyak pengamen jalanan yang sering membawakan lagu-lagu ciptaannya. Dari situ mulai Didi dikenal di banyak orang. Sampai suatu ketika kelompok Lenong Bocah mengajak untuk rekaman di TVRI. “Meski honornya tidak seberapa tetapi bangganya itu lho … luar biasa”, jelas Didi.

“Suatu saat Mas Mamik mengabarkan, saya akan dipertemukan dengan Mas Pompi, musikus yang mantan anggota No Koes. Sebelum berangkat, saya mandi di rumah Mas Mamik dan ganti pakaian. Wah, saya geli sendiri. Meski dipantas-pantaskan dengan baju bagus Mas Mamik, tetap saja saya bertampang pengamen”, ungkap Didi sambil kembali terkekeh. “Kami bertemu Mas Pompi di studionya di kawasan Depok Lama. Saya pun dites dengan menyanyikan lagu-lagu karangan saya sendiri. Ternyata lulus”, imbuhnya. Akhirnya Didi pun diajak rekaman dengan lagu andalan We Cen Yu. “Itu bukan lagu Mandarin, tapi singkatan Kowe Pancen Ayu (kamu memang cantik - Red.)”, ungkap pencipta lagu Sewu Kuta ini. Dan We Cen Yu akhirnya mampu secara perlahan merubah kehidupan Didi.

Ketika menerima bayaran, Didi kaget luar biasa. Saat itu ia total menerima Rp 1,2 juta. “Wah, saya bingung melihat uang sebanyak itu. Maklum biasanya cuma dapat recehan”, ungkap Didi. Uang itu oleh Didi dibawa pulang ke Solo, lalu dibelikan nisan untuk almarhumah neneknya. “Beliaulah yang membesarkan saya sampai remaja”, jelas Didi.

Setiap tahun ke Suriname

Suatu saat, tanpa diduga musisi Is Haryanto menawarinya show ke Suriname. Tanpa berpikir soal honor, tawaran itu langsung ia terima. Pengalaman baru langsung didapat. “Seumur-umur baru saat itu saya naik pesawat”, ungkap Didi. “Yang namanya pakai sabuk pengaman saya tidak bisa, ke toilet juga enggak tahu caranya membuka pintu”, ungkap Didi.

Show pertama Didi sangat sukses. Lagu We Cen Yu sangat digemari masyarakat Suriname. Selanjutnya, hampir tiap tahun Didi show ke Suriname. Waktunya pun cukup panjang. Setiap show makan waktu sekitar 4 bulan. Kesempatan selama di sana juga Didi manfaatkan untuk menciptakan lagu. Didi pun berhasil masuk dapur rekaman di Suriname. “Sampai sekarang sudah 16 album yang saya hasilkan di sana”, ungkap Didi. Sebuah pencapaian yang luar biasa. Saking seringnya lagu-lagunya diputar di Radio Bangsa Jawa, Didi pernah dinobatkan sebagai artis Teladan Pop Jawa. Bahkan, Presiden Suriname juga pernah memberi penghargaan Gold Man untuk Didi. Jalan hidup Didi Kempot seolah hendak mau menyampaikan kepada kita semua, bahwa mimpi bisa diraih melalui perjuangan, keseriusan, dan hanya sedikit keberuntungan.

Didi Kempot tentang Keroncong

Ditengah kesibukan luar biasa, Didi menyempatkan hadir pada “Sarasehan Keroncong 2008”, yang diselenggarakan oleh Tjroeng dan Sundari Soekotjo di Kota Solo awal Agustus 2008 yang lalu. Pada kesempatan itu Didi memberikan komentar tentang ketidak setujuannya bahwa keroncong saat ini tidak berkembang. “Saat ini keroncong masih mengalami perkembangan walaupun perkembangannya kurang menggema”, jelas Didi. Maka perlu dilakukan berbagai upaya supaya keroncong semakin hidup dan terus berkembang, tidak tergerus oleh perjalanan waktu. “Perlu diadakan lomba cipta lagu keroncong yang bekerja sama dengan recording studio”, usul Didi. “Menciptakan lagu-lagu keroncong baru, dengan bit yang berbeda namun dengan nuansa keroncong yang kuat”, imbuh Didi. Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap keroncong, Didi juga sedang berupaya untuk memperkenalkan Rencong Solo (Regae Keroncong Solo). Sebuah upaya yang patut diapresiasi mengingat perkembangan keroncong masih terbatas pada pakem, dan masih sedikit musisi yang berani untuk melakukan perubahan. (abw, dari berbagai sumber)

3Jul/080

ENDANG SETYAWATI, PENYANYI KERONCONG KONDANG DI NEGERI BELANDA

Panasnya sinar matahari tidak menghalangi Tjroeng untuk mewawancarai langsung Endang Setyawati penyanyi yang berasal dari Indonesia namun bermukim di Belanda. Keramahtamahan Endang Setyawati dan keluarganya terlihat ketika menyambut kedatangan Tjroeng di kediamannya, di kawasan Bungurasih Barat Surabaya. Tujuan kedatangan ke Indonesia disamping berlibur, juga dalam rangka pembuatan video klip album ketiganya. Album yang sedang digarapnya ini sengaja mengambil latar belakang keindahan alam Indonesia.

Wanita kelahiran Blitar 19 Agustus 1958 ini sejak kecil sering mengikuti perlombaan menyanyi. Sebelumnya, hampir selama 11 tahun Endang bekerja di Dinas Sosial sebagai pengajar musik untuk anak-anak tuna netra. Pengalaman-pengalaman hidup Endang, diukir dengan sangat bermakna. Karier bernyanyinya dimulai semenjak masih tinggal di Bali. Wanita dengan rambut sebahu ini tidak berhenti meniti karier di Pulau Bali. Tahun 1996 Endang terbang ke Belanda dan mengembangkan profesi bernyanyinya disana. Perlahan namun pasti, Warga Belanda mulai mengenal kiprah Endang sebagai penyanyi. Banyak tawaran menyanyi dengan bahasa Indonesia, terutama membawakan lagu-lagu berirama keroncong. Karena terpukau dengan kepiawaiannya melantunkan lagu-lagu keroncong, di Belanda Endang dijuluki Endang Setyawati Penyanyi Keroncong Surabaya.

Animo warga Belanda terhadap musik dan lagu-lagu keroncong sangat baik. Ini terbukti melalu Pasar Malam Tong-Tong yang rutin digelar, yang selalu menampilkan musik keroncong. Apresiasi anak muda di Belanda terhadap musik keroncong juga cukup baik. Tidak heran jika setiap ada penampilan Endang Setyawati selalu juga dihadiri oleh kalangan anak muda. Seringkali Warga Belanda dapat menikmati penampilan Endang menyanyikan lagu keroncong pada saat ada acara-acara reuni warga Belanda yang dulu pernah tinggal di Indonesia. Kiprah Endang di Belanda juga tidak terlepas dari dukungan Kedutaan Besar Indonesia untuk Belanda, melalui pertemuan-pertemuan rutin yang dilakukan, yang selalu menampilkan musik keroncong. Di Belanda, Lagu-lagu keroncong yang sering diminta untuk dilantunkan diantaranya adalah Bengawan Solo, Bunga Anggrek, Sepasang Mata Bola, dan lain-lain.

Memang tidak mudah untuk mempromosikan musik dan lagu-lagu keroncong di negara lain. ”Perlu dicari cara-cara khusus untuk mempromosikan budaya di negara lain agar secara bertahab dapat diterima dengan lebih luas oleh warga masyarakat” Jelas Endang. Untuk menghilangkan kebosanan, ada kiat khusus yang dilakukan Endang yaitu dengan menyuguhkan lagu-lagu dalam setiap penampilannya secara bervariasi (Pop, Country, Dangdut dan keroncong) tergantung dari permintaan penonton. Pada akhir pertemuan dengan Tjroeng, Endang mengatakan ”Yang paling penting peninggalan budaya leluhur yang adi luhung ini tetap lestari dan terus dicari cara supaya tidak hanya diminati oleh generasi tua namun juga generasi mudanya”. (Koes)

3Apr/080

Tatang Muntari: Berjuang dengan Senapan dan Flute

Tidak ada kata berhenti untuk seorang pejuang. Lahir pada 22 Agustus 1935, Tatang Muntari, Purnawirawan TNI yang terakhir berdinas di Kodam Siliwangi ini, selain turut mengangkat senjata untuk membela negara, juga mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk mempertahankan eksistensi musik keroncong. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi kecintaannya terhadap musik, membuatnya masih tetap aktif bermusik hingga kini. Alat musik yang menjadi spesialisasinya adalah flute. Tatang mengisahkan, saat masih duduk di Bangku SR (Sekolah Rakyat- setingkat SD), dia dan teman-temannya memang diajarkan bermain seruling bambu untuk memainkan lagu-lagu Jepang, yang saat itu menjajah Indonesia. Bahkan sampai sekarang dia masih bisa membawakan lagu-lagu tersebut. Tahun 1957, Tatang muda mulai memiliki Flute sendiri. Dari situ ia mulai mengembangkan bakatnya dengan bergabung pada beberapa grup musik yang ada saat itu. Flute itu menjadi saksi setia didalam kisah hidupnya. Mengikuti setiap langkah dan suka duka dalam hidupnya, flute itu seolah pusaka hingga ia keberatan jika ada orang lain yang menyentuh, apalagi memainkannya. Flute bersejarah yang pertama kali dimiliki tersebut sampai sekarang masih dalam keadaan baik, bahkan selalu ia bawa tatkala harus melatih keroncong ataupun manggung di berbagai event.

Di kalangan pemain keroncong di Bandung, nama Tatang Muntari tidak asing lagi. Selain melatih, dia juga aktif bermain di beberapa grup. Beberapa orkes keroncong yang masih mengandalkan kemahirannya di antaranya Cipta Selaras, Sederhana Bandung, Sederhana Cimahi, Harapan Cimahi, Gema Awangga, Dewi Fortuna dan masih banyak lagi. OK Jempol Jenthik dan OK Unpar adalah dua buah grup yang dia latih dan diarahkan mulai dari nol. Dengan tekun dia memberikan dasar-dasar keroncong sampai pada akhirnya keduanya menjadi grup keroncong yang diakui eksistensinya. Orkes keroncong Palapa yang cukup legendaris juga merupakan grup yang dia rintis bersama tokoh keroncong Suwito Sudarman dan beberapa musisi lainnya.

Sebagai seniman musik, Tatang mewajibkan anak-anaknya bisa bermain musik. Hal ini tidak kemudian membuat dia mengharuskan 5 anaknya tersebut untuk ikut terjun dalam dunia yang digelutinya, meskipun beberapa di antaranya memiliki jiwa seni yang diturunkan oleh bapaknya. Dia tidak menyebutkan alasannya mengarahkan anak-anaknya untuk menggeluti pekerjaan lain.

Seiring berkembangnya musik keroncong, ia berpesan agar para seniman keroncong muda terus berprestasi. Perkembangan aliran-aliran baru keroncong sangat perlu didukung, dengan catatan tidak mengubah pakem musik aslinya, baik dalam intro maupun interludenya. Karena dari situlah penikmat bisa mengetahui jenis keroncong yang sedang dibawakan. Apabila pakem ini ditinggalkan, maka tidak akan ada bedanya lagi apakah musik itu berjenis keroncong, langgam atau stanbul. Yang ada hanyalah musik berirama keroncong. Demikian ia sampaikan berdasarkan pengamatannya, di mana sejumlah pemusik bermaksud menunjukkan kemampuan individunya (dalam bermusik), padahal itu melanggar pakem. (Wied)