Buletin Tjroeng Gelegak Jiwa Nusantara :: Buletin Musik Keroncong

20Aug/100

SUMPAH KERONCONG


Kasihan bangsa, yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak ia panen,
dan meminum susu yang ia tidak memerasnya.

Sepenggal puisi dari Kahlil Gibran mengusik nurani kita. Setidaknya dalam momentum peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda yang jatuh di 28 Oktober 2009. Api yang membara pada jiwa-jiwa muda di tahun 1928 menagih kita semua.  Ada beberapa poin penting yang bisa digali dari Semangat Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928. yakni :

  1. Sudahkah kita Bertumpah Darah Satu, Tanah Indonesia, sementara pulau-pulau tergadaikan dan bahkan tak dirawat sehingga lari ke penguasaan negara lain?
  2. Sudahkah kita Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia manakala kita lebih mengagungkan produksi asing dan kurang mencintai produk-produk lokal kita?
  3. Sudahkah kita Berbahasa Satu, yakni Bahasa Indonesia manakala kita  membiarkan dialog dalam sinetron yang mengajarkan bahasa ketidaksopanan dan kurang menjunjung bahasa kemanusiaan?

Upaya memaknai Ikrar Sumpah Pemuda tidak bisa dilepaskan dengan konteks kekinian di mana perubahan jaman sangat cepat, namun di sisi lain substansi bernegara dan berbangsa juga ikut tergerus. Pada sisi ini melakukan refleksi atas nilai-nilai luhur ikrar kaum muda di tahun 1928 menjadi sangat penting.

Garam import dan senandung keroncong

70% wilayah Indonesia adalah lautan, dan dari lautan-lah garam bersumber. Namun kenyataan yang terjadi, pada saat ini Indonesia malah melakukan kebijakan impor garam yang bernilai sebesar Rp. 900 Miliar setahun. (KOMPAS, 24 Agustus 2009) Akibat dari kebijakan tersebut, puluhan ribu petani garam mulai menganggur. Atas dasar kualitas garam lokal yang kurang bagus, pemerintah memberlakukan import garam, bukannya melakukan peningkatan kapasitas petani garam untuk meningkatkan kualitas produksi garamnya.

Hal ini menjadi sangat ironis. Bangsa yang kaya akan sumber daya laut melakukan kebijakan yang sangat aneh. Mengacu pada petikan puisi Kahlil Gibran di atas, maka dapat dikatakan, ”Kasihan bangsa yang mengkonsumsi garam yang tidak berasal dari lautnya sendiri. Memberi gaji pada luar negeri dan tidak tanggap pada rakyat sendiri

Fenomena kebijakan import garam, secara nyata menunjukkan bahwa secara gamblang pemerintah tidak mampu melihat potensi dan peluang pengembangan potensi lokal untuk dijadikan investasi untuk mensejahterakan warganegaranya. Seperti hanyal musikkeroncong yang lahir dari bumi Indonesia tidak mendapat tempat yang baik di sisi kebijakan nasional, sehingga arus musik dari luar menjadi begitu memenuhi udara Indonesia, sehingga rintihan kaum papa tak lagi terdengar.

Sumpah Keroncong

Dalam upaya menggali musik nasional Indonesia, Keroncong menempati posisi yang sangat krusial, di mana keragaman bangsa dan keragaman budaya menjadi ciri khas keindonesiaan kita, justru terwakili dalam musik keroncong.  Pertemuan lintas budaya memunculkan musik keroncong sebagai musik yang tidak hanya tumbuh dari kesenian satu daerah, namun dalam perjalanan waktu musik daerah memperkaya musik keroncong. Karakter musik keroncong di wilayah Indonesia sangat kental dengan warna lokal, semisal di Lampung, dengan KR 56 musik keroncong yang dibawakan memuat karakter melayu, di Solo musik keroncong kental dengan warna musik langgam, dan di Jakarta dengan corak keroncong yang juga khas Jakarta.

Musik keroncong adalah representasi Indonesia. Pluralitas dan harmonia-nya menyeruak ke penjuru dunia. Momentum sumpah pemuda mengajak kita semua untuk semakin mencintai dan memainkan musik keroncong. Musik keroncong mengajak kita semua untuk kembali memaknai ikrar Sumpah Pemuda, dalam perbedaan selalu dituntut untuk menciptakan harmoni yang seimbang dan padu. Maka kita akan bangga, bahwa sebagai bangsa Indonesia memainkan musik Indonesia, yakni musik keroncong.

Kami, putra dan putri Indonesia bertekad memainkan musik Indonesia, yakni musik keroncong dan berjuang menawarkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan demi perkembangan Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Tagged as: No Comments
6Oct/090

Bayi Raksasa

Tersebutlah kisah kelahiran bayi raksasa, maka hal tersebut memunculkan kegemparan luar biasa. Sebagian orang yang merasa biasa-biasa saja menjadi begitu katakutan, jangan-jangan bayi raksasa tersebut jika sudah besar akan menangkap, mengunyah dan menelan manusia.

Ketakutan pun merebak ke mana-mana ke segala penjuru dunia. Dan respon dunia menjadi begitu hiruk pikuk dan gaduh seolah sedang mendapatkan ancaman terbesar, merasa eksistensinya akan terganggu. Segala daya upayadilakukan dan dicari solusinya untuk menahan agar bayi raksasa tidak menjadi besar dan liar. Segala ilmu, siasat dan teknologi dikembangkan agar bayi raksasa menjadi raksana manis dan berbudi di hadapan dunia. Agar kelak menjadi raksasa yang selalu ramah dan baik hati. Raksasa yang mengabdi pada kepentingan orang lain, dan bukan menjadi dirinya sendiri.

Jika, bayi raksasa itu adalah Bangsa dan Negara  Indonesia, negara yang begitu luas dan kaya raya dan memiliki seluruh potensi untuk menjadi raksasa yang sungguh-sungguh.  Namun pada kenyataannya, ketika beranjak dewasa masih saja menjadi anak manis yang belum atau malah tidak bisa memutuskan apa-apa yang menjadi kebutuhannya agar ia dapat tumbuh semakin besar dan optimal.

Kemampuan diri tidak pernah terasah secara baik, sebagai akibat dari ilmu yang diterimanya tidak pernah sesuai dengan kebutuhannya, sehingga ketika dewasa ia tidak bisa mengerti kenapa kondisi tidak pernah berubah, atau karena kondisi yang buruk dirasakannya sebagaisebuah realitas yang mengasikkan. Masa dewasa sang bayi akan menjadi ancaman bagi banyak kalangan, dan daripada menjadi raksasa yang pintar, dibangunlah sistem yang membelenggu cara berpikirnya. Dan terlebih cekokan ilmu-ilmu dan cara berpikir yang tidak cocok dengan kepentingan bangsa dan negara.

Potensi alam dan kultural yang begitu besar tidak secara optimal dikembangkan untuk mengindetifikasikan diri, malah sumbar daya alam yang kaya ini dihamburkan untuk sekedar membeli ’mainan’ yang mengasikkan, namun menjerumuskan. Di sisi lain, kesenian lokal dan nasional juga tidak dirawat dan dikembangkan sehingga kesenian asing masuk dan mengikis seni-seni dan tradisi sendiri.

Demikian terjadi dengan musik keroncong. Mana kala pecinta keroncong yang menggabungkan diri sebagai komunitas pecinta Keroncong bangkit, janganlah hendaknya dikebiri dan disingkiri dengan tuduhan menghancurkan keroncong. Kecintaan pada musik keroncong yang kontekstual seringkali diinterpretasikan sebagai sebuah pemberontakan, sebagai sebuah penghancuran.

Cara pandang yang mengkerdilkan inilah yang dihadapi sang Bayi.

Untuk merayakan usia Komunitas Keroncong yang k-4, serta menyambut Peringatan Kemerdekaan Indonesia yang ke-64, kutipan dari Anthony de Mello, bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.
Adalah sebutir telur elang dierami oleh seekor ayam. Ketika masanya menetas, sang induk ayam memelihara si elang kecil bersama-sama dengan anak-anak ayam yang lain. Demikian, si elang hidup dan tumbuh layaknya ayam.

Ketika usia menua dan nyaris mati, si elang melihat ke angkasa. Ia lihat seekor burung terbang tinggi dan melayang-layang dengan gagahnya. Bertanyalah ia kepada sang induk ayam,”Bu, apakah itu?”
Jawab si induk ayam,”Oh… itu adalah Elang, si raja angkasa. Tetapi kamu jangan bermimpi terbang seperti dia, karena kamu adalah seekor ayam.” Dan tidak lama matilah si elang, sebagai seekor ayam.1
Sebagai bangsa dan sebagai Negara, kita menolak dan tidak mau terjebak ke dalam cara berpikir yang membelenggu sehingga menghilangkan jati diri kita yang sesungguhnya.

Bayi raksasa tetaplah harus menjadi raksasa. Janganlah sang raksasa dengan otak yang kerdil. Sedemikian janganlah terjadi Sang bayi raksasa bernasib seperti Elang yang mati sebagai seekor ayam.

Komunitas Keroncong Lampung : tua-tua penjaga tradisi

Berkesenian merupakan salah satu upaya manusia merespons lingkungan disamping sebagai bentuk ekspresi itu sendiri yang akan menjadikannya utuh sebagai layaknya manusia. Dan pada sisi lain, berkesenian meningkatkan

“Mas, kapan ada keroncongan di Lampung?’
Begitulah sapaan yang terlontar manakala mendapatkan nomer telpon Igun sang pemain cello dari OK KR 56 Lampung yang selama ini menjadi salah satu contact person Tjroeng di Lampung.

o kontak besok ada keroncongan. Bisa Menapaki jalanan Bandar Lampung yang diguyur hujan
anoaser (at) hotmail (dot) com ======== anoaser or neloleding
florianusaser (at) gmail (dot) com ====== florianusaser

Tagged as: No Comments
4May/091

DEMOKRASI KERONCONG

Baliho, spanduk, poster, TV, radio, koran, dan majalah marak dengan wajah-wajah para calon legislative berikut propaganda yang tidak sesungguhnya mencerminkan diri sang Caleg. Mematut-patut diri dan menyembunyikan borok persoalan sehingga dianggap bersih tanpa cacat, sebab pada kondisi ini rakyat dianggap akan senang dan memilihnya.

Seiring dengan Pemilu Legislatif, kita juga ditatapkan pada Pemilihan Presiden yang akan diusung oleh partai maupun koalisi partai-partai yang mampu menangguk minimal 20% kursi di DPR. Persiapan yang dilakukan para Calon Presiden pun tidak kalah dahsyat, para pimpinan partai telah juga mematut-patut diri agar rakyat terpikat dan men-contreng-nya di saat pemilihan dilakukan.

Namun, akan demikian terjadi? Sebegitu parahkah kondisi masyarakat Indonesia, sehingga para Caleg, Capres dan Cawapres itu menganggap rakyat pasti akan memilihnya, jika mereka tampak bersih tanpa noda, sementara realitasnya jauh dari yang dipampangkan. Masyarakat diperangkap ke dalam amnesia massa. Menyedihkan.

Pemilu inilah masyarakat Indonesia ditantang untuk mengingat kembali persoalan dan juga sikap para Caleg dan Capres atas persoalan yang melingkupinya. Masyarakat Indonesia harus mulai membuka memory masa lalu, bukan untuk bernostalgia, namun belajar dari masa lalu untuk memperbaiki bangsa dan Negara di masa depan, yang tentu harus dimulai pada saat ini.

Penentuan 5 tahun ke depan arah pembangunan bangsa saat ini ditentukan, sedemikian nasib musik keroncong. Bahwa musik keroncong sebagai warisan budaya bangsa layak mendapat tempat yang pantas, untuk diperkuat melalui keputusan politik. Pembangunan bangsa tidak semata-mata disandarkan pada satu pilar ekonomi semata, namun ada banyak pilar. Dari sekian pilar bangsa, pilar kebudayaan adalah salah satunya, di mana keroncong ada di dalamnya.

Perhatian pemerintah pada persoalan kebudayaan pada saat ini tereduksi. Hal tersebut terartikulasikan pada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, pada sisi ini nampak sekali bahwa kebudayaan cenderung dilihat dari aspek ekonomi. Padahal kebudayaan mencakup keseluruhan hidup manusia, sebab melalui kebudayaan pembentukan karakter bangsa dimulai.

Gema bas bethot menguncang, denting suara cak menyentil kita semua. Kita ditantang untuk secara cerdas dan sadar untuk memilih calon legislative, dan calon presiden dalam pemilu 2009. Fanatisme sempit haruslah dihindari, dan politik uang janganlah sampai membutakan mata dan hati. Maka, mengutip Susana Tamaro, “Pergilah ke mana hati mu membawa”, sedemikian halnya dalam Pemilu 2009. “Memilihlah ke mana hati keroncong membawa.” Hati keroncong anti kekerasan, hati keroncong menghargai kesetaraan, hati keroncong menghargai perbedaan, dan hati keroncong menghormati hak asasi manusia. Maka, hati keroncong dalam pemilu 2009 tidak akan memilih siapapun yang pernah terlibat dalam tindak pelanggaran HAM, serta yang tidak memiliki perspektif budaya.

Demokrasi keroncong adalah demokrasi yang dibangun di atas fondasi kebangsaan yang anti kekerasan, menghargai pluralitas, menghargai kesetaraan, terbuka, menghargai kebudayaan, dan tidak pernah terjebak dalam fanatisme sempit yang menjerumuskan. (tjroeng)

Tagged as: 1 Comment
5Feb/090

Keroncong Goes Global

Upaya meng-global-kan musik keroncong, sebagai gagasan merupakan cita-cita agar musik keroncong bisa melampaui batas kewilayahan serta batas kesejarahannya. Dengan demikian, masyarakat dunia tahu bahwa musik keroncong itu ada. Sedemikian pentingnyakah musik keroncong bagi dunia? Sebagai sebuah aliran musik, sebagai karya budaya manusia musik keroncong tentu memiliki raison d’etre, dan layak untuk tetap ada. Memakai pemikiran Rene Descartes, cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, maka insan pegiat keroncong ditantang untuk terus ada dan meng-ada. Ada berarti terus hadir, dan ada juga berarti hidup dengan karya-karya baru dan original, sebab keroncong yang hidup berarti tumbuh dan berkembang serta berbiak.

Keroncong goes global, akan beriringan globalisasi ekonomi yang telah jauh mendahuluinya. Pada sisi ini, musik keroncong akan bertempur dan bersaing dengan musik-musik jenis lain yang juga ingin berkembang dan bahkan dengan musik-musik yang telah lama berkecimpung dalam ranah industri musik.

Gerakan mendorong musik keroncong meng-global membutuhkan daya imajinasi yang kuat, maka setidaknya keroncong membutuhkan komunitas yang akan menghidupi keroncong itu sendiri. Pada konsep imagine community (Ben Anderson, 1983) komunitas keroncong yang selama ini ada, sadar atau tidak tergerak oleh komunitas terbayang ini, yang pada gilirannya embodied dan membesar. Di situasi ini organisasi menjadi penting untuk mengatur dan mencapai maksud dan tujuan.

Keroncong goes global dalam era globalisasi

Globalisasi secara umum mendorong terjadinya kontak masyarakat dunia yang meretas batas wilayah, melampaui imagined community yang ada saat ini. Namun demikian, tantangan terbesar era globalisasi adalah di bidang ekonomi, sebab penguasaan atas asset ekonomi menjadi begitu dikaburkan, sehingga batas-batas, dan mengaburkan nation, bahkan mengaburkan nation yang sedang dibangun melalui komunitas keroncong itu sendiri.

Meng-global-kan keroncong sebagai gagasan untuk menampilkan wajah identitas bangsa, dan pada saat ini nampaknya mengglobalkan keroncong sebagai wacana untuk menggugat identitas diri yang mana hadirnya musik dari luar telah menenggelamkan heritage yang ada. Menguatkan keroncong dalam rangka memugar kesadaran diri yang baru, dan menegosiasi pola relasi baru (dengan "capitalist") berdasar kesadaran diri yang baru itu. Nasionalisme merupakan strategi sosial-budaya-politik yang digunakan sebagai kendaraan untuk melawan imperialisme global. (Robertus Widjanarko, 2006)

Akhirnya kita dihadapkan pada pertanyaan yang menggelisahkan: dengan senjata apakah kita menghadapi kembalinya gelombang kolonialisme yang lebih dahsyat dengan wajah perdagangan (kapitalisme) global, sementara imagined community tiba-tiba menguap seperti asap? Dengan bahasa dan wacana macam apa kita memproduksi dan terus mereproduksi identitas kita, peran kita, pola relasi kita dengan kaum kapitalis global, sehingga kita tidak sekadar mengikuti nada yang diskema kaum kapitalis. Apakah dengan keroncong, kita akan menuliskan narasi kehidupan atau eksistensi kita sebagai "nation"?

Terminologi kolonialisme seperti disampaikan oleh Vandana Shiva adalah bahwa, ,”The Old colonialization only took over land. The new colonialization is taking over life itself” dan neo-kolonialisme menjadikan pasar bebas sebagai ujung tombak. Pasar bebas tanpa batas, namun kita seringkali tidak memiliki kesempatan atau peluang untuk bersaing. Dan hal ini sudah diingatkan oleh Chomsky, "freedom without opportunity is a Devil's gift".

Cita-cita menduniakan keroncong dan mengeroncongkan dunia bagaimanapun juga merupakan gagasan orisinil untuk menjaga nation yang oleh banyak orang dikatakan merapuh itu. Terus Berjuang!!!

Tagged as: No Comments
5Dec/080

SERENDIPITI KERONCONG

MENGOLAH SERENDIPITI KERONCONG INDONESIA

Alkisah di sebuah negeri, karena kecapaian seorang tukang masak ketiduran ber jam-jam setelah membuat adonan roti. Akibatnya adonan roti itu pun mengalami proses fermentasi dan mengembang saat dipanggang. Si koki menjadi cemas saat harus menghidangkan roti yang menggelembung itu kepada majikannya. Namun, alih-alih dimarahi, ia justru dipuji. Roti yang terfermentasi ternyata terasa lebih enak, empuk dan lembut. Sejak saat itu orang mulai menggunakan ragi untuk membuat roti. Negeri tempat terjadinya peristiwa itu bernama Serendipiti. Selain ‘kecelakaan’ si koki, masih banyak kebetulan-kebetulan lain serupa itu yang terjadi di negeri serendipiti, hingga serendipiti menjadi istilah umum untuk setiap peristiwa kebetulan yang berakhir menyenangkan.

Dapat dikatakan bahwa keroncong pun lahir di Indonesia secara kebetulan. Beberapa teori mengenai asal usul keroncong mengatakan bahwa pihak yang memperkenalkan alat-alat musik Barat kepada penduduk setempat sehingga lahir musik keroncong di Nusantara adalah para budak yang dibawa serta Portugis ke daerah jajahannya. Sejarah kelam kolonialisme yang mewarnai kelahiran genre musik berirama damai ini memang terasa ironis. Namun begitulah musik ini merefleksikan karakter masyarakatnya yang adaptatif dan kreatif. Karena kelahirannya tidak direncanakan dapat dikatakan bahwa keroncong adalah serendipiti bangsa Indonesia. Seandainya wilayah Nusantara tak terjamah kaum kolonialis, tidak akan ada orang-orang yang memperkenalkan alat-alat musik Barat ke masyarakat kita, dan seandainya agen yang membawakannya bukanlah kalangan budak yang mampu membaur dengan masyarakat setempat, maka tidak akan muncul jenis musik baru yang merupakan perpaduan antara musik asing dan musik lokal Nusantara. Keroncong adalah kebetulan yang menyenangkan. Dengan lirik-lirik yang menggelorakan semangat para pejuang kemerdekaan, keroncong turus serta dalam mengantarkan kemerdekaan negeri ini.

Sungguh disayangkan, lepas dari penjajahan, rakyat yang terlena dengan ide globalisasi harus mengalami kolonialisme jilid dua. Korporasi multinasional yang kita ijinkan memasuki ranah-ranah publik mengkhianati kita. Kepentingan bisnis yang mereka utamakan terbukti gagal menyelesaikan masalah-masalah utama di dunia: kemiskinan, kerusakan lingkungan, kesehatan yang buruk. Krisis global yang terjadi saat ini adalah akibat dari keserakahan yang dirasionalisasi dan egoisme yang dimandatkan oleh kapitalisme korporat global. Globalisasi menyebabkan kita rentan terinfeksi krisis negara maju. Di tahun ini saja, belum selesai rakyat menata ulang kehidupannya setelah gonjang-ganjing naiknya harga minyak dunia, krisis keuangan yang awalnya hanya terjadi di negara yang berada nun jauh di ujung lain dunia, mulai menampakkan pengaruhnya ke negeri ini. sekali lagi kemampuan rakyat untuk bertahan dalam kesulitan dan kekurangan diuji.

Semua perubahan memang selalu membutuhkan energi tambahan untuk beradaptasi. Sejarah mencatat, beberapa kali rakyat harus terluka saat menghadapi tantangan perubahan. Namun, selagi masih ada harapan, hidup layak diperjuangkan. Bahkan justru dalam situasi yang penuh ketidakpastian tahun ini, banyak hal menggembirakan bagi komunitas pecinta keroncong. Dibanding tahun sebelumnya, aktivitas keroncong yang dilakukan oleh seniman maupun pegiat keroncong terasa lebih semarak dan beragam. Kegiatan yang dilaksanakan tidak melulu pementasan musik, sementara frekuensi, intensitas dan skala event-event yang dilangsungkan pun semakin besar.

Tentu bukan kebetulan apabila semaraknya kegiatan keroncong tahun ini berjalan paralel dengan penerbitan media keroncong Tjroeng sejak Februari tahun 2008 lalu. Kami meyakini bahwa apa yang kita kerjakan dengan tulus akan memantulkan energi positif di bagian lain semesta ini, langsung atau tidak langsung. Untuk itulah edisi ke-6 buletin Tjroeng menyajikan kilas balik kegiatan keroncong dan peristiwa di dunia keroncong selama tahun 2008. Banyak yang menggembirakan, ada pula yang menyedihkan, semoga dapat menjadi bahan renungan untuk memantapkan langkah pegiat keroncong selanjutnya, tidak hanya untuk menghidupkan keroncong, tapi juga memampukan keroncong mengambil peran yang bermakna bagi publik. Perenungan dalam rangka merumuskan langkah yang nyata, bukan sekedar menanti kebetulan.

Tagged as: No Comments
3Nov/080

Keroncong Jalanan dan Suara Jalanan

Edisi ke-5 Tjroeng menyibak belantara keroncong jalanan. Mulai musik keroncong yang manggung di café-café hingga musik keroncong yang hidup dan menggeliat di jalanan.

Dari telusuran yang dilakukan, tidak sedikit, pemusik keroncong yang dengan keterbatasannya bertahan hidup dalam kondisi pas-pasan dan jauh dari hingar-bingar terbongkarnya kasus korupsi anggota DPR-RI yang terhormat, dan jauh dari gemerlap sinar selebritis muda dadakan.

Pada saat ini pun, seniman keroncong jauh juga dari suara-suara yang berteriak-teriak di jalanan demi menuntut turunnya harga BBM yang sebelumnya telah didahului dengan mulai melambungnya harga-harga bahan pokok. Kondisi tersebut menjadikan keroncong nampak jauh dari pusaran kehidupan Indonesia saat ini.

Upaya mendaratkan keroncong agar berpijak kepada situasi realitas sosial yang ada sesungguhnya tidak sulit. Seperti terjadi pada masa perjuangan kemerdekaan, lirik-lirik lagu keroncong banyak mengusung issue perjuangan fisik melawan penjajahan, dan kini seniman keroncong ditantang untuk aktif dan produktif dalam membuat karya-karya baru keroncong yang mendasarkan pada kondisi yang ada.

Titik pijak keroncong yang mengakar pada persoalan bangsa dan mampu mengartikulasikannya akan menjadikan keroncong sebagai kendaraan besar bagi bangsa ini untuk bangkit. Lokalitas keroncong diyakini mampu mengusung issue-issue strategis bagi perlawanan melawan kapitalisme global.

Momentum Seabad Kebangkitan Nasional bisa dijadikan awal dari langkah besar gerakan kaum muda keroncong. Langkah awal yang menjadikan keroncong sebagai nafas kehidupan bangsa, dan diharapkan pada gilirannya bisa menjadikan keroncong sebagai media perlawanan atas kekuatan fundamentalisme pasar yang menghegemoni serta mengkooptasi jati diri bangsa dan Negara. Pada titik ini, gerakan pembaharuan keroncong mutlak dilakukan. Keroncong harus tanggap pada persoalan bangsa yang nyata dan masuk ke dalam realitas sosial, serta menyikapinya. Sebab, hanya dengan ini keroncong bisa mengambil peran lebih, dalam gerakan restorasi nasional. Dan oleh karenanya keroncong akan hidup, benar-benar hidup.

Irama keroncong yang tenang bersahaja dan dalam menyimpan energi kuat. Energi ini sudah saatnya dialirkan menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan rakyat demi perbaikan Negara tercinta. Keroncong dengan lokalitasnya seharusnyalah mampu mendorong bagi gerakan cinta produk dalam negeri.

Bangkit Indonesia!!!

Bangkit Keroncong Indonesia!!!

Tagged as: No Comments
1Jul/080

Kepemimpinan Bangsa dan Keroncong

Tahun 2009, bangsa Indonesia kembali akan menyelenggarakan Pemilu untuk menentukan kepemimpinan bangsa untuk kepemimpinan untuk periode pemerintahan selama 5 tahun ke depan. Proses berdemokrasi ini menjadi tantangan tersendiri, karena secara umum selepas keruntuhan Regim Orde Baru, rakyat Indonesia masih tetap saja terbelenggu pada persoalan krisis kepemimpinan. Selalu saja, rakyat dihadapkan untuk memilih calon pemimpin yang terbaik dari semua pilihan yang buruk itu. Atau dapat dikatakan bahwa Indonesia tidak memiliki sistem regenerasi kepemimpinan.

Tersendatnya aliran keroncong kepada generasi muda juga tidak bisa dilepaskan dari tidak adanya sistem regenerasi tersebut. Namun tentu saja, masyarakat tidak bisa disalahkan begitu saja karena proses pendidikan politik tidak pernah mengajari mereka menjadi manusia yang berani memilih secara bebas, merdeka. Proses berdemokrasi yang didambakan masih sangat jauh dari gagasan ideal semula, banyaknya partai juga tidak serta merta menunjukkan meningkatknay kualitas kondisi demokrasi itu sendiri. Terlalu banyaknya kepentingan untuk menutup ”dosa” masa lalu sangat kental terasa. Pada situasi ini, munculnya banyak partai lebih keputusan politis masing-masing individu menjadi sangat penting. Personal is political.

Akan halnya dengan keroncong, setiap masyarakat Indonesia bisa memilih sendiri musiknya, namun demikian ketika musik keroncong lenyap dari muka bumi maka semua ikut bertanggung jawab atas kepunahan itu. Personel is political juga berlaku. Semua individu berhak memutuskan jenis musik pilihannya, namun jika dikaitkan dengan sikap ke-Indonesia-an, maka keputusan politik adalah menentukan musik keroncong sebagai musik pilihan. Genderang musik dan pasar kaset lagu-lagu asing tetaplah akan masuk, namun jika kita telah memutuskan sendiri pilihan musik keroncong, maka keroncong akan mendapat ruang dan tempat di tanah airnya sendiri.

Serentak dengan momentum peringatan kemerdekaan Indonesia ke-63, membangun kembali semangat nasionalisme menjadi sangat signifikan. Biarlah sang Merah Putih berkibar, seiring dengan berkibarnya seluruh produk dalam negeri yang dinikmati oleh rakyatnya sendiri. Sang Merah Putih, berkibar melalui makanan tradinional hasil jerih payah dan kerja keras pak tani, dan didasarkan atas investasi dalam negeri, bukannya investasi asing. Juga melalui BBM milik nasional, bukannya milik negara asing.

Musik keroncong, hadir sebagai penanda lahirnya nasionalisme baru, atas kesadaran baru dan pilihan politik masyarakatnya.
Selamat memperingati hari Kemerdekaan republik Indonesia ke-63.

Tagged as: No Comments