Pemahaman Dasar Musik Keroncong
Apa itu keroncong?
Mengenai istilah ‘keroncong’ itu sendiri beberapa musikolog mempunyai pendapat yang berbeda mengenai asal-usul istilah keroncong. Penulis dan beberapa peneliti sepaham bahwa kata keroncong berasal dari bunyi instrumen ukulele yang dimainkan secara rasguardo, atau di’slah’ yang menghasilkan bunyi ‘crong’, kemudian kata tersebut berkembang menjadi keroncong.
Apakah yang dimaksud dengan orkes keroncong?
Istilah ini terdiri dari dua kata orkes dan keroncong. Arti kata orkes pada konteks ini adalah sebuah kelompok musik. Maka orkes keroncong berarti sebuah kelompok musik keroncong, seperti misalnya: Orkes Keroncong Bintang Jakarta (pimp. Alm. Budiman BJ), Orkes Bintang Surakarta (pimp. Waldjinah) atau Orkes Keroncong SMP Santa Maria Surabaya (pimp. Sr. Windhy). Pengertian istilah ‘orkes keroncong’ yang lebih spesifik adalah sebuah group musik yang mempunyai beberapa spesifikasi, yaitu: gaya pembawaan (vocal, biola, flute), instrumentasi, pola irama dari rhytem section/seksi ritme (cak,cuk, cello, gitar, bass), format jenis lagu yaitu keroncong asli, langgam keroncong, stambul dan lagu ekstra.
Gaya pembawaan adalah merupakan roh atau jiwa pada musik keroncong. Lantas bagaimanakah gaya pembawaan pada vokal, biola dan flute?
Pada vokal ada beberapa pakem pembawaan dalam menyanyikan sebuah lagu keroncong, khususnya ‘keroncong asli’ yaitu: nggandul, cengkok, gregel dan luk. Maka jika seseorang menyanyikan sebuah lagu keroncong tanpa ciri-ciri tersebut sering dikatakan tidak ‘ngroncongi’, tidak ada roh keroncongnya.
Nggandul adalah menyanyi dengan ketukan lebih lambat dari ketukan dasarnya atau ketukan yang tertulis dinotasi.
Cengkok, merupakan rangkaian nada hiasan yang dinyanyikan sebelum nada pokok (dalam musik diatonis barat semacam mordent). Teknik cengkok adakalanya digunakan juga pada jenis lagu langgam.
Luk atau portamento, adalah cara menyanyi yang dimulai dengan beberapa hetz (ukuran tinggi rendah suara) dibawah nada pokok, secara teratur menuju ke nada pokok.
Untuk instrument biola pada dasarnya memainkan intro (dalam lagu keroncong asli disebut ‘voorspel’), senggaan (4 birama melodi lagu, dari delapan birama terakhir, ini khusus untuk lagu keroncong asli), dan filers atau isian-isian yang bersifat improvisasi. Gaya permainan biola pada dasarnya sama dengan gaya pembawaan pada vokal yaitu: nggandul, cengkok, gregel dan portamento.
Instrument flute sedikit berbeda dengan instrument biola. Perbedaan yang paling esensi adalah, bahwa flute tidak bisa bermain dengan teknik portamento, karena secara organologi jarak nada ‘kromatis’ dibedakan dengan system ‘klep’, dengan katup-katup yang membuat perbedaan nada dengan jarak setengah. Sedangkan instrument biola, perbedaan nada berdasarkan jari yang memijat snar diatas papan yang tidak ada penyekat nadanya (fret) speerti instrument gitar. Untuk pembawaan nggandul, cengkok, dan gregel pada prinsipnya sama. Ciri permainan instrument flute dalam musik keroncong yang cukup spesifik adalah pada tempat-tempat tertentu perpindahan dari satu nada ke nada berikutnya (biasanya diakhir frase) dimainkan dengan teknik kromatis. Misalnya dari nada ‘la’ turun menuju nada ‘mi’ tidak langsung, tetapi melewati nada-nada kromatisnya: la-sel-sol-fi-fa-mi.
Dengan perkembangan sejarahnya yang cukup panjang, akhirnya keroncong mempunyai susunan instrument musik seperti saat ini. Susunan tersebut adalah ketujuh instrument terdiri dari : biola, flute, cak, cuk, cello, gitar dan bas serta vokal. Susunan demikian dalam masyarakat keroncong dikenal dengan istilah ‘susunan keroncong asli’. Ketujuh instrument tersebut adalah instrument akustik, namun tampaknya saat ini pun penggunaan instrument yang digunakan sudah sangat bervariasi namun fenomena yang ada bahwa mayoritas group-group keroncong yang ada berdiri dengan susunan ‘asli’ dan sampai sekarang susunan tersebut tetap diminati seolah-olah menjadi suatu format yang ‘pakem’.
Sumber tulisan dan photo :
Singgih Sanjaya,”Keroncong Masuk Kurikulum Sekolah, SMP Santa Maria Surabaya, 07 februari 2009” , sebuah makalah seminar.
Pemahaman Dasar Musik Keroncong
Apa itu keroncong?
Mengenai istilah ‘keroncong’ itu sendiri beberapa musikolog mempunyai pendapat yang berbeda mengenai asal-usul istilah keroncong. Penulis dan beberapa peneliti sepaham bahwa kata keroncong berasal dari bunyi instrumen ukulele yang dimainkan secara rasguardo, atau di’slah’ yang menghasilkan bunyi ‘crong’, kemudian kata tersebut berkembang menjadi keroncong.
Apakah yang dimaksud dengan orkes keroncong?
Istilah ini terdiri dari dua kata orkes dan keroncong. Arti kata orkes pada konteks ini adalah sebuah kelompok musik. Maka orkes keroncong berarti sebuah kelompok musik keroncong, seperti misalnya: Orkes Keroncong Bintang Jakarta (pimp. Alm. Budiman BJ), Orkes Bintang Surakarta (pimp. Waldjinah) atau Orkes Keroncong SMP Santa Maria Surabaya (pimp. Sr. Windhy). Pengertian istilah ‘orkes keroncong’ yang lebih spesifik adalah sebuah group musik yang mempunyai beberapa spesifikasi, yaitu: gaya pembawaan (vocal, biola, flute), instrumentasi, pola irama dari rhytem section/seksi ritme (cak,cuk, cello, gitar, bass), format jenis lagu yaitu keroncong asli, langgam keroncong, stambul dan lagu ekstra.
Gaya pembawaan adalah merupakan roh atau jiwa pada musik keroncong. Lantas bagaimanakah gaya pembawaan pada vokal, biola dan flute?
Pada vokal ada beberapa pakem pembawaan dalam menyanyikan sebuah lagu keroncong, khususnya ‘keroncong asli’ yaitu: nggandul, cengkok, gregel dan luk. Maka jika seseorang menyanyikan sebuah lagu keroncong tanpa ciri-ciri tersebut sering dikatakan tidak ‘ngroncongi’, tidak ada roh keroncongnya.
Nggandul adalah menyanyi dengan ketukan lebih lambat dari ketukan dasarnya atau ketukan yang tertulis dinotasi.
Cengkok, merupakan rangkaian nada hiasan yang dinyanyikan sebelum nada pokok (dalam musik diatonis barat semacam mordent). Teknik cengkok adakalanya digunakan juga pada jenis lagu langgam.
Luk atau portamento, adalah cara menyanyi yang dimulai dengan beberapa hetz (ukuran tinggi rendah suara) dibawah nada pokok, secara teratur menuju ke nada pokok.
Untuk instrument biola pada dasarnya memainkan intro (dalam lagu keroncong asli disebut ‘voorspel’), senggaan (4 birama melodi lagu, dari delapan birama terakhir, ini khusus untuk lagu keroncong asli), dan filers atau isian-isian yang bersifat improvisasi. Gaya permainan biola pada dasarnya sama dengan gaya pembawaan pada vokal yaitu: nggandul, cengkok, gregel dan portamento.
Instrument flute sedikit berbeda dengan instrument biola. Perbedaan yang paling esensi adalah, bahwa flute tidak bisa bermain dengan teknik portamento, karena secara organologi jarak nada ‘kromatis’ dibedakan dengan system ‘klep’, dengan katup-katup yang membuat perbedaan nada dengan jarak setengah. Sedangkan instrument biola, perbedaan nada berdasarkan jari yang memijat snar diatas papan yang tidak ada penyekat nadanya (fret) speerti instrument gitar. Untuk pembawaan nggandul, cengkok, dan gregel pada prinsipnya sama. Ciri permainan instrument flute dalam musik keroncong yang cukup spesifik adalah pada tempat-tempat tertentu perpindahan dari satu nada ke nada berikutnya (biasanya diakhir frase) dimainkan dengan teknik kromatis. Misalnya dari nada ‘la’ turun menuju nada ‘mi’ tidak langsung, tetapi melewati nada-nada kromatisnya: la-sel-sol-fi-fa-mi.
Dengan perkembangan sejarahnya yang cukup panjang, akhirnya keroncong mempunyai susunan instrument musik seperti saat ini. Susunan tersebut adalah ketujuh instrument terdiri dari : biola, flute, cak, cuk, cello, gitar dan bas serta vokal. Susunan demikian dalam masyarakat keroncong dikenal dengan istilah ‘susunan keroncong asli’. Ketujuh instrument tersebut adalah instrument akustik, namun tampaknya saat ini pun penggunaan instrument yang digunakan sudah sangat bervariasi namun fenomena yang ada bahwa mayoritas group-group keroncong yang ada berdiri dengan susunan ‘asli’ dan sampai sekarang susunan tersebut tetap diminati seolah-olah menjadi suatu format yang ‘pakem’.
Pemahaman Musik Keroncong <!-- @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } -->
Sumber tulisan :
Singgih Sanjaya,”Keroncong Masuk Kurikulum Sekolah, SMP Santa Maria Surabaya, 07 februari 2009” , sebuah makalah seminar.
Artikulasi Keroncong
Edisi Lalu :
Pasca Kemerdekaan perkembangan keroncong tertunda karena terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia, misalnya DI/TII, RMS Maluku, dll. Akhirnya keroncong hanya berkembang di Jawa
Memasuki Tahun 1965, musik keroncong dilarang oleh pemerintah. Jenderal Hugeng dan Jenderal Pringadi dilarang bermain keroncong. Dengan alasan lagu dapat disalahgunakan untuk kepentingan politis.
Sesudah Tahun 1965, Orde Baru berstrategi ekonomi politik yang berbeda dengan sebelumnya. “Biarkan bunga mekar bersemi akan timbul bunga yang indah”. Ketika itu ada usaha untuk memperkuat jiwa patriotisme, nasionalisme. Kita ini sedang dalam tahap “nation building”, kata Bung Karno. Itu berarti kekayaan budaya harus menjadi aset yang dikelola oleh rakyat, karena rakyat pemilik budaya secara langsung.
Namun yang kini terjadi ? Ketika orang asing masuk dan membutuhkan hiburan, itu tak cukup hanya dengan gamelan, ataupun hanya dengan tarian Bali saja. Ada kepentingan pemberintah membuka komoditas setor turis.. Tetapi justri dengan turis, musik dikorbankan. Musik daerah, keroncong, lagu-lagu daerah menjadi korban agar orang-orang dapat berdansa. Musik dipaksakan menjadi aliran pop.
Lagu keroncong klasik kita popkan juga ? Yang pada akhirnya menurunkan kualitas keroncong yang memiliki nilai-nilai luhur yang tinggi, nasionalisme. Kini keroncong sudah jadi musik yang dipaksakan menjadi pop.
Di Eropa wajar-wajar saja kalau mau berjoget/berpop ria, apalagi di Amerika. Pemilihan bintang keroncong/bintang radio hampir-2 punah. Kita terjebak menghasilkan keroncong yang rendahan. Maka marilah menyanyi keroncong dengan kualitas yang tinggi. Keroncong yang sebenarnya adalah tinggi dengan fundamen kuat untuk naik ke jenjang lebih tinggi sulit kita dapatkan lagi. Padahal dengan musik keroncong dapat meningkatkan kualitas musik Indonesia seperti layaknya klasik eropa. Eropa klasik saja tercipta di akhir abad 16 menginjak abad 17, sejalan dengan Revolusi Borjuis di Perancis yang menuntut kebebasan. Itu artinya mereka mengalami kemajuan di bidanb musik karena pertahanan nilai-nilai klasik yang tinggi itu.
Lalu bagaimana dengan keroncong kita sekarang ? Kebutuhan bermusik di Jakarta dengan struktur masyarakat Jakarta yang heterogen, yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Mayoritas Jawa, Sunda, dan luar seperti Cina Musik tradisional yang ada belum mampu menyatukan bangsa kita. Namun masyarakat di Jakarta mencari jalan dengan arus baru yaitu membawa musik portugis. Ternyata orang di Jakarta dapat menyambutnya dengan baik. Akulturasi walau tidak mudah prosesnya, harus dengan jalan panjang. Mengapa akulturasi tersebut berada di jalan yang panjang ? Ada beberapa alasan, diantaranya :
-
Periode pertama, yaitu adanya proses pengenalan dengan kenyataan terbatas pada penamaan musik portugis, belum pada penguasaan teknis dan dalam menyanyikan Fado.
-
Penamaan keroncong berlangsung dari abad 16-19 di Batavia : Keroncong Portugis menjadi Keroncong Betawi Asli.
-
Armada Portugis sebelum abad 19 diusir Belanda. Orang-orang Malaka, Afrika, dan India tidak kembali ke tempa asal kelahirannya akibatnya :
-
Banyak anak Indo Portugis/bekas budak Portugis yang sudah dimerdekakan yang disebut Mardijkers. Ada yang tinggal di Jakarta dan banyak dari mereka dari Afrika, India, dan Malaka tidak aneh disebut Black Portuguesa. Termasuk orang-orang Ambon yang berakulturasi dengan Portugis. Anak cucu mereka memberikan kebanggaan tetap melestarikan dan memainkan musik keroncong hingga sekarang, yang nota bene musik keroncong tersebut menjadi penyatu ciri khas bangsa indonesia.
Yang terpenting dari semua pernyataan di atas bahwa keroncong tumbuh menjadi musik yang menjadi ciri khas bangsa dapat diterima dan membangkitkan nasionalisme Indonesia yang tinggi hingga mencapai kemerdekaan Indonesia, sebagai modal dasar guna melangsungkan pembangunan.
Maka nilai-nilai luhur keroncong harus semakin diperhatikan agar mutunya senantiasa tinggi. Adapun hal yang harus diperhatikan adalah :
-
Dari segi isi harus memberikan makna yang membangun negeri ini;
-
Lirik yang dihadirkan hendaknya menghindarkan kesan rendahan dengan diksi (pilihan kata) yang tepat;
-
Menghindarkan pesan moral yang kasar dan cengeng. Ini berarti bahwa para pencipta lagu/pemusik harus semakin mengasah kepekaan dengan kadar nilai seni yang tinggi. Tidak semata-mata asal jadi atau asal dibayar.
Rasa kecintaan terhadap negeri ini harus diungkapkan dengan bernilai/berkelas, berarti perlu adanya jiwa kepenyairan yang tinggi tidak asal jadi, tidak demi asal dapat uang. Menempatkan idealisme dan profesionalisme dengan proporsional. Dan musik keroncong seyogyanya harus semakin tinggi nilainya. Seperti pengungkapan pantun dengan nilai sastra yang tinggi.
Dengan demikian berarti kita menghargai proses dari perjalanan panjang proses akulturasi yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia bagi kehidupan sekarang dan masa depan. Semoga. TAMAT.
Kampung Tugu, 15 Juni 2008
Centre of History, Art & Culture Studies
Keroncong : Dari Akulturasi hingga Nasionalisme demi Kejayaan Bangsa dan Negara
Oleh : Johan Sopaheluwakan
Edisi Lalu :
“Di akhir abad 19 karena Belanda memerlukan musik dalam permainan tonil/sandiwara maka dipakailah musik keroncong. Awalnya dengan nama Kroncong Betawi lalu Kroncong Jakarta” …
Di Jakarta saat itu membutuhkan musik yang netral yang dapat diterima semua suku bangsa yang menetap di Jakarta. Permasalahannya adalah semua suku bangsa memiliki musik daerah masing-masing. Orang Ambon misalnya sulit menerima musik Jawa. Demikian pula orang Aceh tidak mau menerima musik Ambon, demikian pula sebaliknya. Maka satu-satunya musik yang dapat diterima saat itu yang mewakili semua suku bangsa yang ada di Jakarta adalah musik keroncong.
Para seniman sandiwara/tonil dibawa ke seluruh Jawa, lalu terjadi proses penyempurnaan dengan standar yang tetap. Gitar dan Mandolin tetap ada. Ritme juga tetap. Di Jawa meskipun sudah memiliki gamelan, tetapi gamelan bersifat elit karena tidak semua rakyat mampu memainkannya. Rakyat ingin yang lebih bebas dan akhirnya menggunakan keroncong sebagai musik yang merakyat. Pada akhirnya pemain musik mempengaruhi dan menyempurnakan keroncong sesuai selera Jawa, maka jadilah langgam.
Dalam perkembangannya orang Jawa lebih konsisten. Musik gamelan memang sudah lebih dulu ada tetapi musik jawa/gamelam telah selesai secara sistemnya sehingga musik dari luar sulit mempengaruhinya. Tetapi karena mereka ingin lebih bebas mengembangkan musik maka berkreasilah generasi-generasi baru yang pada akhirnya dituangkan dalam bentuk musik keroncong.
Pada awal abad 20 di Nusantara timbul pergerakan-pergerakan nasional yang pada gilirannya melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tokoh-tokoh politikus di Nusantara terdiri atas politikus yang peduli budaya dan ada yang kurang peduli budaya. Politikus yang peduli budaya memikirkan konsep ciri bangsa Indonesia yang menjadi jati diri bangsa. Bahasa sudah ada, kesatuan wilayah ada, hanya dari sisi budayalah khususnya di bidang musik yang belum dimiliki, yang dalam kerangka berbangsa dan bernegara nantinya dapat merangkum dan bernafaskan nasionalisme : Indonesia.
Ada usulan bahwa musik itu yang beraliran Hindia Belanda di parlemen (volksaard) : Dr Douwes Dekker ditolak oleh Belanda, juga ada usulan beraliran Jawa namun juga ditolak. Namun ada satu pengusul yang tidak memunculkan budaya Jawa. Diungkapkan bahwa hasil budaya-budaya daerah yang memiliki nilai tinggi seyogyanya dijadikan modal untuk budaya nasional. Penggagasnya adalah Ki Hajar Dewantara, namun ditolak oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan Mohammad Yamin. Mengapa ? Ternyata saat itupun masih kental unsur kedaerahannya, kesukuan waktu itu demikian kuatnya.
Lalu ada seorang tokoh yang mengusulkan keroncong, tokoh itu adalah Armijn Pane. Dia seorang penyair (bukan pemusik) orang sunda (bukan sumatera). Armijn Pane mempertahankan keroncong menjadi musik bangsa. Alasan yang disampaikan akhirnya dipahami oleh tokoh-tokoh pergerakan waktu itu. Karena memang pada akhirnya fakta membuktikan bahwa tatkala “dikejar” Belanda orang-orang pergerakan dapat mengalihkan perhatian dengan memainkan keroncong. Berlindung dibalik keroncong. Lambat laun lahirlah lagu-lagu keroncong dan juga lahir pemusik-pemusik dan penyair dengan lagu-lagu yang berkualitas tinggi dan membangkitkan nasionalisme, seperti lagu Bandung Selatan karya Ismail Marzuki. Musikus dan penyair bersatu, memberikan dampak positip bagi pergerakan nasional. Pasca Kemerdekaan perkembangan keroncong tertunda karena terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia, misalnya DI/TII, RMS Maluku, dll. Akhirnya keroncong hanya berkembang di Jawa.
Bersambung ….
Keroncong: Dari Akulturasi Hingga Nasionalisme demi Kejayaan Bangsa dan Negara
Sebenarnya orang Malaysia mengakui bahwa kroncong berasal dari Indonesia. Orang-orang Jawa yang mencari pekerjaan ke Malaysia memwbawa budaya Indonesia seperti : Reog, Ketoprak, Gambang termasuk Kroncong. Hingga mengapa pernyataan controversial bahwa kroncong berasal dari Malaysia membuat sebagian masyarakat Indonesia dan Permerintah RI kebakaran jenggot. Bangsa kita sering menyikapi permasalah setelah timbul “kekisruhan”.
Pernyataan mereka memang perlu kita sikapi karena bagaimanapun juga kroncong adalah sarana paling ampuh dalam menemani perjalanan perjuangananak bangsa negeri ini segingga melahirkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Orang Malasia meniru musik kroncong dengan selera Malaysia. Bahkan di Negara Jerman dan negeri Belanda juga ada kroncong tetapi sesuai dengan selera mereka. Kalaupun di Belanda terdapat kroncong itu karena generasi dari tugu yang berimigrasi membawa musik kroncong dan dikembangkan disana sebagai suatu nostalgia akan kenangan masa lalu akan tempat kelahiran mereka : kampong tugu (sebelah tenggara Tanjung Priok. Tugu berasal dari kata portuguesa).
Portugis saat membawa musik (fado) ke Jakarta membawabudak-budak dari Afrika, India dan Malaka. Ketika Malaka ditahklukka Portugis, Raja Malaka melarikan diri. Meski dibantu Pati Unus, Raja Palembang, dan Raja Aceh tetapi kalah. Aceh saat itu membawa meriam made in Turki tapi kualitasnya rendah dan pecah saat ditembakkan, sehingga sulit mengalahkan Portugis.
Portugis lalu mampir ke Maluku dan Tidore disambut Sultan Tidore dengan perlawanan. Terjadi pembantaian dan Sultan Tidore terbunuh. Portugis lalu membuat benteng-benteng pertahanan lalu ke Ambon karena disana banyak terdapat pala yang bagus kualitasnya.
Lalu menyusuri Sunda Kecil, Makasar, Goa (Maksar). Dari sana lalu ke banten dan ternyata di Jawa pergolakan telah reda. Sultan Banten mengizinkan kedatangan Portugis tetapi boleh merapat di Jakarta. Di Banten kala itu banyak terdapat pelarian-pelarian dari Malaka, juga para pedagang. Agar tak terjadi pergolakan, laluditempatkanlah mereka di Tugu, yang kala itu sepi tidak ada manusia, berawa, banyak nyamuk malaria yang ganas, sedangkan masyarakat Jakarta lainnya di pasar ikan dan Kemayoran.
Ketika Portugis membuat perkampungan (Tugu), mereka bermain musik di sela-sela kehidupan mereka seharri-hari usai bertani, berkebun, berburu dan menangkap ikan. Mereka berkumpul bersama-sama untuk mengusir kesepian. Di Portugis permainan gitar tersebut disebut Fado, sedangkan di Tugu disebut dengan Musica de Tugu. Orang Tugu bermain musik sambil berpantin-pantin dalam keriangan, dibawah sinar rembulan malam. Sambol berbiduk-biduk dengan perahi di kali Tugu/Cakung kala itu. Sehingga mengapa Gedung Gereja Tugu kini masih kokoh berdiri arahnya menghadap kali/sungai, karena di kali itu merupakan sarana transportasi mereka ketika menuju kota atau Marunda, Cilincing. Kali/sungai sangat memegang peranan penting sebagai sarana transportasi mereka ketika menuju Kota atau Marunda, Cilinginc. Air kali/sungai kala itu dipakai juga untuk kebutuhan cuci, mandi dan berbagai keperluan sehari-hari.
Saat keturunan portugis itu ada di Kampung Tugu, belum terjadi komposisi kroncong seperti yang terlihat sekarang ini. Fado dimainkan dan ada beberapa juga yang bukan jenis Fado. Salah satu lagu yang mirip Fado adalah lagu suling bambu.
Melihat syair dan jenis melodi lagu suling Bambu tersebut penulis/komponis lagu itu (era 50an) etrpengaruh oleh melodi fado. Ada kemiripan lagu suling bamboo itu dengan lagu dalam musik Fado. Namun tentu saja telah mengalami perkembangan. Sayangnya sukar dilacak karena zaman tersebut belum ada rekaman. Di Eropa walau kini telah ada rekaman dalam bentuk tulisan, namun di portugis saat imu masih belum maju. Apakah Fado itu? Fado adalah lagu rakyat Portugis. Yang diciptakan rakyat Portugis saat dibawah kekuasaan Islam. Turki memanfaatkan orang Albania dan Mohr (Sebelah barat Aljazair) yang kini jadi Vandal. Tatkala Vandal tidak suka direbut kekuasaannyua, mereka meminta Aljazair maka jadilah Mauratania. Vandal bersikap membabi buta dalam sikap dan ucapan yang berupa sinisme. Sama halnya ketika Belanda mengatakan Indonesia primitive dan pemberontak.
Banyak orang-orang yang ditahan diselatan Portugal lalu mereka disuruh membangun Masjid-Masjid. Portugal dijadikan budak. Fado menggambarkan ungkapan dalam penderitaan dan kesengsaraan. Cinta adalah kesedihan dengan keluarga. Warna Fado melankolis, mendayu-dayu (beda dengan Spanyol yang mendapat pengaruh bangsa Arab/Suku Barbar yang membawa budaya ke Spanyol dan lahirlah Flamenco tetapi dengan warna keriangan). Kroncong juga alami perubahan mula-mula dua gitar biasa dan mandolin. Di Akhir dan awal abad 19 dan 20 jadilah ukulele yang lebih popular berasal dari Hawai. Orang di Jakarta sendiri tidak tahu musik itu.
Kebiasaan orang Indonesia apa yang didengar dan apa yang dilihat itulah yang disebut korng krong. Di satu sisi, kelompok yang lain mengatakan crong crong. Setelah melewati perjalanan dari tahun ke tahun terpadilan menjadi kroncong yang popular hingga kini. Namun nama itu tidak segera diikuti, hanya didengar, proses perkenalan terjadi dan terjalinlah komunikasi Kroncong Portugis hingga abad 19. Di akhir abad 19 karena Belanda memerlukan musik dalam permainan tonil/sandiwara maka dipakailah musik kroncong. Awalnya dengan nama Kroncong Betawi lalu Kroncong Jakarta.
Di Jakarta saat itu membutuhkan musik yang netral yang dapat diterima suku bangsa yang menetap di Jakarta saat itu. Permasalahannya adalah semua suku bangsa memiliki musik masing-masing. Tetapi orang Ambon misalnya, tidak mungkin menerima musik Jawa. Demikian pula orang Aceh tidak mungkin menerima musik Jawa dan sebaliknya. Maka satu-satunya yang dapat diterima saat itu yang mewakili semua suku bangsa yang ada di Jakarta adalah kroncong (Bersambung …)
Musik Keroncong …. Siapa Punya ….?
Masih sering kita mendengar pendapat yang menyatakan bahwa musik keroncong adalah jenis musik yang berasal dari Portugis. Pendapat itu terlontar karena banyak sebagian dari mereka yang hanya ikut-ikutan untuk menyatakan pendapat tersebut tanpa mau tahu atau berusaha untuk mengetahui sejarah musik keroncong itu sendiri.
Berbicara mengenai musik keroncong memang tidak bisa meninggalkan pengaruh bangsa Portugis karena yang memperkenallkan musik diatonis pada bangsa Indonesia itu kemungkinan besar adalah bangsa Portugis,dimulai dari kedatangan bangsa Portugis dikepulauan Indonesia sebelum abad XVI untuk mengadakan perdagangan,terutama di kepulauan Maluku yang merupakan pusat rempah-rempah. Bangsa Portugis juga mengikutsertakan bangsa dari benua asia lain diantaranya bangsa India,bangsa Melayu dan Ceylon yang dijadikan sebagai budak-budak mereka,yang dikemudian hari ada yang membentuk keluarga dengan orang-orang Portugis itu sendiri dan yang pada akhirnya keturunan dari mereka disebut Indo Portugis atau Portugis Hitam yang nantinya mereka sebut dengan istilah Mardykers,yang mana mereka sering memainkan pertunjukan musik untuk mengisi waktu-waktu luang mereka. Dengan alat-alat yang mereka bawa ataupun mereka bikin sendiri dikampung mereka,seperti Rebana,Mandolin,Gitar,Ukulele dan juga alat-alat perkusi semacam tamborin,,triangle dll.
Asal-muasal nama “keroncong” sendiri sampai saat ini memang tidak begitu jelas. Ada beragam pendapat mengenai sebutan atau istilah ‘keroncong’.meskipun pada kenyataannya sampai saat ini masih sangat kabur dikarenakan memang sangat sulit untuk menemukan tulisan-tulisan mengenai literature yang membahas masalah musik keroncong.
Ada yang berpendapat bahwa nama “keroncong” itu dari nama alat musik semacam gitar kecil /ukulele dari Polynesia yang disebut “Crouco”.Ada juga yang berpendapat nama keroncong itu dari bunyi suara gelang kaki penari ngremo dari Madura. Sedangkan kalau penulis sendiri lebih setuju pada pendapat yang menyatakan bahwa nama “keroncong” itu adalah diambil dari terjemahan bunyi Ukulele yang dimainkan secara rasgueado atau dengan cara digaruk sehingga menimbulkan bunyi crong…crong..ken crong..karena ini seperti kebiasaan orang Indonesia yang menamakan sesuatu sering dikaitkan dengan bunyi yang dihasilkan dari medium tersebut,sama seperti halnya musik dangdut yang diambil dari bunyi gendangnya.
Dengan adanya pengaruh dari bangsa Portugis seperti yang terurai diatas apakah kita lantas menerima begitu saja kleim yang menyatakan bahwa musik keroncong yang indah yang kita nikmati sampai saat ini adalah musik yang berasal dari Portugis..? ataukah kita sependapat dengan pandangan para pendahulu kita yang tampaknya bangga dengan mengaku musik keroncong berasal dari Portugis….
Adalah suatu kerugian kekayaan intelektual kalau kita tidak sesegera mungkin untuk mengakui bahwa musik keroncong itu adalah asli musik Indonesia yang bisa menjadi salah satu asset kekayaan budaya bangsa. Akan tetapi kita pun tidak bisa hanya dengan asal-asalan untuk menyatakan bahwa musik keroncong adalah musik yang lahir di bumi Indonesia , tanpa disertai bukti-bukti kuat yang dapat dipercaya dan mampu membuktikannya. Salah satunya kita harus mau menelusuri sejarah perkembangan musik keroncong itu sendiri dan mampu menganalisa baik secara bentuk lagu dan ciri-cirinya serta memperbandingkannya dengan musik tradisional terutama tradisional Jawa dimana musik keroncong berkembang pesat.
Beberapa hal yang harus kita ketahui untuk menyadarkan bahwa musik keroncong itu adalah musik Indonesia asli adalah seperti berikut :
· Sebagai bangsa penjajah,bangsa Portugis tidak meninggalkan musik/lagu yang sejenis dengan musik/irama keroncong pada bangsa lain (kecuali yang ada orang Indonesianya).
· Di Portugal tidak ada grup musik yang memainkan alat musik seperti yang dimainkan oleh pemusik keroncong di Indonesia ,ataupun yang mirip dengan irama yang dimainkan para musisi keroncong.
· Di Portugis tidak ada pemusik yang mampu memainkan irama keroncong,dan kalaupun ada itu pasti pernah belajar pada orang Indonesia .
Paparan diatas sedikit banyak membuka wawasandan pengetahua kita untuk membuktikan tentang permasalahan yang selama ini masih menimbulkan keragu-raguan pada masyarakat awam. Akan tetapi alangkah lebih baik kita juga mampu meninjau dari kaidah-kaidah musik barat maupun musik tradisi sebagai perbandingan yang akan menunjukkan bahwa musik keroncong itu adalah “Genius Product” atau kekayaan intelektual dari nenek moyang bangsa Indonesia . Untuk itu dibawah ini ada beberapa uraian tentang musik keroncong yang perlu diketahui terutama bagi para pecinta musik keroncong sendiri.
1. Musik Keroncong
Musik keroncong adalah suatu jenis musik atau aliran musik yang lahir di Indonesia yang dipengaruhi oleh musik barat (diatonis) sehingga bukan termasuk sebagai musik tradisional melainkan salah satu jenis musik diatonis (world musik) yang banyak berkembang pada saat ini. Adapun pada perkembangan selanjutnya akan berkolaborasi dengan jenis musik tradisional.
2. Orkes Keroncong
Yang dimaksud dengan orkes keroncong adalah susunan pemain ataupun instrumentnya.Seperti kita ketahui bahwa susunan yang baku (Bezetting) dalam musik keroncong sejak tahun 1930 adalah 7 orang yaitu : Biola, Flute, Cak (banjo),Cuk (Ukulele),Gitar,Cello,dan Bas. Susunan instrument seperti ini adalah berkat jasa M.Sagi seorang Violinist keroncong yang amat terkenal sekitar tahun 1930. Meskipun penyebutan kata orkes sendiri kalau di kaitkan dengan kaidah musik barat memang kurang tepat mengingat instrument yang dipakai tidak semuanya mewakili musik yang dimainkan untuk suatu orkestra.
3. Lagu-lagu keroncong
Lagu keroncong yang baku adalah yang disebut dengan Keroncong Asli, Langgam keroncong, Stambul,Lagu Ekstra dan Langgam Jawa
· Keroncong Asli
Keroncong asli adalah bentuk lagu tiga bagian yaitu A-B-C dengan harmoni atau pergerakan akornya mempunyai susunan yang sudah baku (pakem) serta jumlah birama yang baku yaitu 28 birama ,meskipun pada perkembangannya saat ini banyak yang memvariasikan progresi akornya namun tidak dengan jumlah biramanya:
Progresi Keroncong Asli adalah sebagai berikut:
I - - - I - - - V - - -V - - -II7 - - -II7 - - -V - - -V- - -( angkatan/permulaan)
V - - -V - - -(miden spel,semacam bridge yang hanya berisi musik)
IV - - -IV - - -IV - - -IV - V - I - - -I - - - -(Ole-ole, atau yang sering juga
V - - -V - - -I - - -IV -V – disebut reff )
I- - - -IV - V - I - - -I - - -( senggaan yang biasanya dipakai sebagai intro)
V - - -V - - -I - - -I (IV- V -) (apabila dimainkan dua kali)
· Langgam Keroncong
Lagu langgam adalah lagu bentuk tiga bagian ,Dalam lagu langgam keroncong jumlah birama yang baku adalah 32 birama,dengan ketentuan syair adalah A-A’-B-A’.
Progresi Langgam Keroncong adalah sebagai berikut:
I - - -IV-V- I - - - I - - -V - - -V - - -I - - -I - - -( syair/bait I)
I - - -IV-V- I - - - I - - -V - - -V - - -I - - -I - - -( syair/bait II)
IV - - -IV - - -I - - -I - - -II7 - - -II7 - - - V - - - V - - -(Reff)
I - - -IV-V- I - - - I - - -V - - -V - - -I - - -I - - -(pengulangan lagu bait II)
Lagu langgam dipelopori oleh Gesang pada tahun 1940 dengan langgamnya yang berjudul ‘Bengawan Solo’ yang kalau kita analisa struktur lagunya menggunakan Amerika song Form,karena begitu besarnya pengaruh lagu-lagu barat saat itu.
· Stambul
Ada yang mengatakan bahwa nama stambul ini diambil dari sebutan komedi (sandiwara) yang sangat marak pada sekitar tahun 1920. Bentuk musik stambul ini muncul dikarenakan pada waktu itu musik keroncong seakan tersisih dengan musik Jazband yang mengusung lagu-lagu barat. Untuk bentuk stambul ini ada dua macam penyebutannya yaitu Stambul I (lagu bentuk Satu bagian,A-A’terdiri dari 16 birama) dan Stambul II (lagu bentuk tiga bagian A-B-A-B,terdiri dari 32 birama).
Progresi Stambul I
IV - - -IV - - -I - - -I - - -V - - -V - - - I - - -I - - - ( lagu bagian pertama)
IV - - -IV - - -I - - -I - - -V - - -V - - - I - - -I - - - (pengulangan )
Biasanya dalam lagu stambul I ini liriknya berupa pantun,contohnya pada lagu “Si Jampang”.
Progresi Stambul II
(I - - -I - - -)IV - - -IV - - -IV - - -IV -V- I - - - IV -V- (lagu bag.pertama )
I - - -I - - -V - - -V - - -V - - -V - - - I - - - IV –V - (lagu bag. kedua )
I - - -I - - -IV - - -IV - - -IV - - -IV -V- I - - - IV -V- (pengulangan pertama)
I - - -I - - -V - - -V - - -V - - -V - - - I - - - I (IV -V-) (pengulangan kedua)
Secara ilmu bentuk analisa dalam aturan musik barat,Stambul II merupakan lagu bentuk tiga bagian (A-B-A’-B’). Lagu jenis stambul ini berkembang di Jawa Timur dengan adanya theater rakyat komedi stambul dengan menggunakan lagu-lagu keroncong di atas panggung pertunjukan sebagai musik selingan maupun bagian dari drama itu sendiri.
· Lagu Ekstra
Yang dimaksud dengan lagu ekstra adalah lagu-lagu yang bentuknya diluar dari lagu keroncong asli,langgam maupun stambul. Susunan akornya dan jumlah biramanya tidak dibatasi dan bervariasi.Lagu-lagu ekstra ini biasanya adalah pengaruh dari lagu-lagu tradisional,yang mempunyai sifat pembawaan merayu,riang dan jenaka,contohnya pada lagu “Gundul-gundul pacul”,”Padang Bulan” dan sebagainya.
· Langgam Jawa
Atas instruksi presiden pada sekitar tahun 1958 yang melarang lagu-lagu barat,maka bermunculan lagu-lagu daerah yang dikemas dalam irama popular. Hal ini menjadikan tantangan para musisi keroncong pada waktu itu untuk berkreasi ,maka munculah irama langgam Jawa. Bentuk lagu dari Langgam Jawa ini ada yang mendekati langgam keroncong dan ada pula yang mirip dengan bentuk lagu ekstra.
Yang perlu diperhatikan dalam langgam jawa terdapat sifat ke-paralel-an dari alat musik /instrumen musik barat terhadap instrument musik jawa(gamelan).Perhatikan ke-paralel-an tersebut:
Biola ………Rebab
Flute ………Suling
Gitar …….....Celempung,gambang
Cuk ………..Kethuk,Bonang,Kromong
Cak ………..Kecapi
Cello ………Kendhang ciblon/batangan
Bas ………..Gong
4. Irama Keroncong
Irama yang dimaksud disini adalah seperti halnya musik-musik barat yang mempunyai rhythm Pattern atau biasa disebut dengan pola ritme.Dalam musik keroncong ada beberapa rhythm pattern/pola ritme yang biasa dimainkan yaitu:
· Irama engkel (diperagakan)
· Irama dobelan (diperagakan)
· Klasik/petikan (diperagakan)
· Kentrungan (diperagakan)
Berbicara irama keroncong tentunya tidak bisa lepas dari gaya permainan. Dalam musik keroncong ada beberapa gaya permainan yang sangat menonjol
· Gaya lama
Pada permainan gaya lama (diperkirakan sebelum tahun 1930-an),alat-alat yang digunakan banyak perbedaannya apabila dibandingkan dengan besetting alat yang ada sekarang ini,seperti penggunaan ukulele besar dan kecil dengan 4 atau 5 tali,yang cara permainannya dengan cara di garuk. Penggunaan Gitar yang lebih dari satu,adanya mandolin untuk memainkan nada-nada tinggi pengganti gitar. Pada permainan gaya lama,Rebana berfungsi seperti cello pada saat ini. Bas belum dipakai,sebagai gantinya dipakailah gitar. Sedangkan Biola dan Flute belum digunakan pada permainan gaya lama.
· Gaya Jakarta
Pada permainan gaya Jakarta alat musik cuk dimainkan dengan cara menggarut keempat talinya secara bersamaan. Pada irama engkel digarut 4 kali sedangkan untuk irama dobelan digarut 8 kali (dalam satu birama 4/4).Sedangkan cak (banjo) justru dimainkan seperti ukulele ( gaya Solo). Pola permainan gitar gaya Jakarta sangat tenang meskipun dibeberapa birama tertentu dia akan memainkan irama dobel. Dan yang lebih utama bahwa gitar ini berfungsi sebagai komando yang memberi tanda untuk masuk irama dobelan. Cello gaya Jakarta sangat lincah dan menghentak-hentak dan sering menggunakan nada ke enam pada tonika,sehingga menimbulkan suasana yang riang. Fungsi Bas pada gaya Jakarta ini hampir sama dengan gaya lama ataupun gaya Solo yang memainkan chord dan contranya saja. Permainan Biola dan Flute sangat lincah dan saling mengisi satu sama lain termasuk juga mengisi kekosongan pada vocal.
· Gaya Solo
Pada mulanya permainan gaya Solo hampir mirip dengan gaya Jakarta . Namun ada satu kejadian yang pada akhirnya berpengaruh besar pada pola permainan keroncong gaya Solo yaitu pada tahun 1958 ada seorang pemain cuk Radio Orkes surakarta,yang bernama Abdul Razak (alm),ketika sedang memainkan ukulele dengan digaruk tiba-tiba salah satu dawai stemnya turun .Untuk menghindari dawai yang tidak tuning (fals) tersebut maka dia tidak memainkan dengan digaruk melainkan di petik (seperti permainan Cuk sekarang ini).Gaya ini akhirnya banyak ditiru orang,sebagai gaya permainan Abdul Razak. Untuk mempermudah permainan dengan cara dipetik (bahkan kadang diselingi trill) maka cuk hanya menggunakan tiga tali dengan stem E ( E,B,G). Cak dimainkan dengan cara digarut sesuai akor lengkap dan dimainkan disela-sela cuk,demikian pula untuk irama dobel ,antara cak dan cuk serasa saling berkejar-kejaran tanpa berbenturan. Permainan Gitar gaya Solo mengalir tenang bagai pukulan gambang pada kerawitan jawa,yang berfungsi pula sebagai penjaga tempo apalagi waktu memainkan irama dobelan. Sesuai dengan kaidahnya dalam musik kerawitan ,Cello disini benar-benar mengadaptasi suara kendang yang berfungsi sebagai pengatur irama dari engkel ke dobel ataupun sebaliknya. Bas hanya menggunakan tiga tali ( G,D dan A).permainannya pada dasarnya sama meskipun lebih bervariasi bila dibandingkan gaya Jakarta ,terutama sebelum masuk bagian ole-ole (Reff). Seperti layaknya Rebab,Biola hanya sebagai pengantar penyanyi untuk intro lagu dan selanjutnya hanya berfungsi sebagai background saja.Demikian pula halnya dengan Flute kurang lebih fungsinya sama dengan Biola.
Pada perkembangan selanjutnya keroncong sempat mengalami masa
‘turun-naik’. Pada sekitar tahun 1979 tokoh musik keroncong yang sangat berpengaruh yaitu Budiman BJ seorang violinist asal semarang mampu menampilkan ciri baru dalam penyajian musik keroncong dengan orkes Panorama dan Bintang Jakarta yang sampai saat ini pun masih banyak dijadikan acuan bagi grup-grup keroncong terutama gaya permainan biolanya. Disamping Budiman BJ masih ada tokoh –tokoh keroncong yang sempat membawa pengaruh bagi perkembangan musik keroncong,antara lain jendral Pirngadi yang tentunnya dibantu oleh para musisi keroncong membentuk keroncong beat,dengan menggunakan gitar elektrik dan drum. Maraknya langgam jawa menginspirasi untuk memasukan unsur gamelan dalam musik keroncong sehingga lahirlah apa yang disebut campursari,dan Manthous lah tokoh yang berpengaruh sekitar tahun 1990-an dalam musik campursari ini.
Dengan uraian diatas,masih adakah keraguan untuk mengakui bahwa musik keroncong adalah musik Indonesia Asli,yang lahir di bumi Nusantara dan merupakan salah satu ‘Genius Product’ bangsa Indonesia .
Dengan mengetahui bentuk lagu dan ciri-cirinya yang khas dari musik keroncong,tentu kita bisa membandingkan dengan jenis musik apapun didunia ini termasuk lagu-lagu bangsa Portugis,adakah kesamaan atau kemiripannya..? karena salah satu ciri yang paling utama terutama dalam lagu bentuk keroncong asli adalah adanya batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar,dan pembuatan pakem-pakem ini tentulah seniman yang memiliki kedekatan dengan seni musik yang menggunakan aturan-aturan yang mengikat,yang jarang di temukan di musik barat.
“If at visit of song form that exists at java as dandanggulo,Sinom and Pangkur,there are many found order which really tie-up e.g. guru lagu,guru wilangan, etcetera. So thus gets we conclude that pakem's creator in that keroncong's music of course is not person from outside, (including portuguese),but of course person it so close to Pangkur,sinom pariyata and dandanggulo,which is our own forbear,Indonesian Nation.”
“I devote to make amorists,agent,and keroncong's Music beneficiary where just ……..”
ZAMAN PRA KERONCONG II
Asuhan : Wawang Wijaya
Pada pertengahan abad ke 19 di Eropa berkembang musik-musik yang bercorak romantis. Oleh karena itu masa itu disebut juga sebagai Zaman Romantisme. Pada zaman tersebut lahirlah genre musik kamar (Chamber Music) yang merupakan gabungan dari beberapa instrument gesek misalnya violin, viola , cello serta double bass, kadang-kadang ada penambahan piano serta flute. Chamber Music ini bisa terdiri dari dua instrument (Duet) sampai dengan sepuluh instrument (Decet). Banyak grup-grup Chamber Music terbentuk untuk menghibur kalangan bangsawan pada masa itu.
Angin pengaruh aliran musik romantis tersebut juga akhirnya melanda koloni-koloni bangsa Eropa. Salah satu di antaranya adalah Hindia Belanda (Indonesia) yang merupakan jajahan Belanda. Banyak kaum hartawan dari Belanda yang membawa pemain musik kamar ini berikut alat-alat musiknya. Para pemain musik ini kemudian diminta bermain musik untuk mengiringi acara dansa mau pesta-pesta yang diselenggarakan oleh “tuan-tuannya”. Selain kalangan istana, mereka juga mengundang orang-orang kaya non Belanda dalam acara-acara itu. Hal tersebut kemudian ditiru oleh bangsawan-bangsawan istana dan orang-orang non Belanda, khususnya orang-orang Tionghoa yang kemudian membentuk grup Chamber Musik sesuai dengan cita rasa mereka. Grup-grup yang bermunculan ini bermain pada “jamuan balasan” atas undangan dari para pembesar Belanda tersebut. Untuk tujuan itu dari pihak Belanda “totok” memasukkan peranan double bass serta cello kedalam folk music orang-orang keturunan Portugis (lihat keterangan dibuletin perdana) dan menjadikannya sejajar dengan Chamber Music, atau dapat dianggap sebagai musik kamar dengan ciri tersendiri. Dengan demikian musik yang tadinya digolongkan sebagai “street music” telah dinaikkan ‘kelas’nya menjadi musik kamar dengan versi “Krontjong Orkest”
Di lain pihak, selain “Krontjong Orkest” yang sudah timbul pada saat itu, kalangan orang-orang Tionghoa, juga membuka ‘jalan’ bagi satu jenis musik tertentu yang telah berasimilasi dengan kebudayaan Jawa yang akhirnya berkembang menjadi musik Gambang Keromong . Selama tahun 1870-an, lagu-lagu yang biasa dimainkan adalah lagu-lagu klasik dan lagu-lagu Portugis yang telah diberi aksen bahasa Melayu, yang pada perkembangannya mendominasi musik-musik setempat (urban music). Sekitar tahun 1891, atas prakarsa Auguste Mahieu (seniman) dan dibantu oleh Jap Goan Thay (pengusaha) diikuti oleh A Th Manusama (pengarang) dan Otto Knapp (pengatur keuangan), didirikanlah sebuah panggung sandiwara/komedi dengan cerita-cerita yang diambil dari opera-opera Barat juga kisah Seribu Satu Malam, dengan memakai pengantar bahasa Melayu karena penggemar sandiwara komedi ini adalah orang-orang non Belanda yang lebih memahami bahasa Melayu serta menggunakan lagu-lagu setempat (urban music) yang lebih mengena di hati para penonton dari pada lagu-lagu Belanda, lagu-lagu klasik atau lagu-lagu Portugis. Adapun musiknya diambil dari jenis Moresco yang bernama Prounga (Solo) yang bersifat mendayu-dayu dan melankolis, sementara kata-katanya diambil dari pantun-pantun, syair-syair serta gurindam yang biasanya dinyanyikan secara bergantian antara penyanyi solo laki-laki dan perempuan (yang disebut dengan istilah ’jual beli pantun’) tergantung pada sudut pandang dan gaya cerita yang dibawakan, apakah skenarionya sedih, gembira dan sebagainya. Karena sandiwara komedi ini berasal dari Istambul, dan memakai bahasa Portugis yang kian lama kurang dimengerti oleh rakyat setempat, maka Komedi Istambul dengan dialek setempat lahir di persada musik dan sandiwara di wilayah Hindia Belanda pada akhir abad ke 19 dan lagu-lagu yang dibawakannya disebut sebagai Lagu Stambul Komedi.
Kalau kita lihat secara kronologis, di mana pada tahun 1870-an beragam musik berkembang pesat di Batavia tanpa “mengenal lelah” dengan banyaknya grup-grup Chamber Music terbentuk yang memiliki ciri khas ras-ras yang terlibat didalamnya, dan dilain pihak, terjadinya asimilasi antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, musik-musik inilah yang sesungguhnya “memperkaya” kebudayaan Indonesia tanpa melupakan sisi positif maupun negatifnya. Timbulnya icon baru yang dinamakan “BOEAJA KRONTJONG” yang kalau ditimbang lebih berkonotasi ‘ill negative” – daripada positif. Untuk membahas mengenai hal ini, saya akan mengupasnya di kolom yang lain. Begitu juga dengan Gambang Kromong, karena kolom ini hanya membahas mengenai sejarah perkembangan keroncong saja.

