Buletin Tjroeng Gelegak Jiwa Nusantara :: Buletin Musik Keroncong

1Aug/100

Bahana Keroncong Negeri – Catatan 2009

Pasang surutnya gelombang pergerakan dan perkembangan musik keroncong di tanah air saat ini begitu menggembirakan. Seolah tengah menunjukkan eksistensinya yang dulu sempat memudar, tim redaksi tjroeng mencatat beberapa kegiatan dan dokumentasi dari berbagai sumber, salah satunya adalah wadah kegiatan komunitas keroncong cyber tjroeng.

Januari 2009

Tepatnya pada tanggal 05 Januari 2009, stasiun TVRI pusat menayangkan kembali program acara Gebyar Keroncong dalam format baru setelah sebelumnya sempat mengalami vacum tayang yang cukup lama. Rasa rindu para penggemar keroncong tanah air akhirnya terobati dengan alunan lagu-lagu keroncong yang dibawakan oleh hamper 90 persen vokal dan musisinya adalah dari kalangan generasi muda berbakat. Tidak cukup dengan hal itu, format Gebyar Keroncong TVRI sendiri menampilkan sesi-sesi jam tayang dengan para penyanyi dan para musisi kereoncong legendaris.

Februari 2009

Iklim perkeroncongan mulai menunjukan arah tujuan yang terarah mengacu kepada pendidikan. Program pengenalan musik keroncong sejak dini sepertinya akan menjadi awal yg bagus menerbitkan regenerasi keroncong. Dengan tujuan tersebut maka pada tanggal 07 Februari 2009, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Santa Maria Surabaya bekerjasama dengan komunitas keroncong Cyber Tjroeng menggelar acara Seminar Sehari Keroncong Masuk Dalam Kurikulum Sekolah. Hal mana yang mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan baik pemerintah, swasta serta pendidik. Sampai dengan hari ini strategi dan seputar masalah teknis masih tetap dibahas agar segera direalisasikan demi tujuan makin berkembangnya musik keroncong.

Bulan kedua ini komunitas keroncong Cyber Tjroeng kembali merealisasikan agenda kegiatan dengan menggelar show pementasan keroncong di dua kawasan perbelanjaan Bandung Electronic Center (BEC) dan Metro Trade center (MTC). Penampilan keroncong pada ruang publik ini diharapkan mampu memberikan nuansa baru ditengah gencarnya aksi panggung musik dari genre musik lainnya. Hal ini mendapat tanggapan yang bagus dari pengunjung mall yang mengharapkan agar pementasan seperti ini dapat terus diadakan.

Dari kampus Universitas Pelita Harapan (UPH), Seminar mengenai perkembangan sejarah dari musik keroncong yang merupakan hasil hibrida dari Budaya Barat dan local Indonesia juga digelar pada tanggal 25 dan 26 Februari 2009, penampil keroncong hadir dari Komunitas Agawe Sentosa.

Maret 2009

Rupanya dukungan pemerintah daerah dari Suku Dinas Pendidikan Kota Surabaya tidak main-main, menyatakan dukungan dan bukti kepedulian dan kecintaan terhadap musik keroncong dengan menggelar acara Lomba Menyanyi Keroncong bagi tingkat guru SD, SMP dan SMA/SMK pada tanggal 27-28 Maret 2009 bertempat di Taman Remaja Surabaya. Dengan harapan yang kian membumbung, maka diangkatlah anggota-anggota kehormatan dua diantaranya : Bpk. Isfanhari (pendidik dan pegiat keroncong) serta Bpk. Dulatif (Ketua PAMKRI). Keberadaan mereka diharapkan mampu mendorong kebijakan yang mengakomodir musik keroncong sebagai salah satu budaya Indonesia.

April 2009

Parade Musik Keroncong Malang Raya, yang digagas Dinas Kota Daerah Malang, mencoba menggeliatkan musik keroncong pada tanggal 09-10 April 2009 bertempat di Malang Olympic Garden (MOG), diluar daripada permasalahan yang ada. Tetap saja hal ini menjadi catatan yang bagus dalam menumbuh kembangkan minat masyarakat pada musik keroncong.

Mei 2009

Seni pertunjukan baru ditampilkan group teater Behind The Actor dengan konsep pertunjukan yang memadukan seni wayang dan keroncong. Di gelar pada tanggal 13 Mei 2009 pada pusat kebudayaan Erasmus Huis-Jakarta. Memperingati 35 tahun wafatnya sastrawan terkenal, Vincent Mahieu yang amat mencintai musik keroncong, drama ini memuat lakon dua babak buah karya sang legenda. Pementasan ini mengingatkan kita pada pergerakan musik keroncong yang sempat menjadi musikalisasi pertunjukan stambul dijamannya. Akankah opera stambul dengan konsep baru akan kembali diminati?

Keberadaan komunitas keroncong Cyber Tjroeng yang semula berakar dari ajang kumpul- kumpul diskusi keroncong pada keroncong@yahoogroups.com, telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Kegiatan demi kegiatan mulai disusun dan sebagian telah direalisasikan. Hal ini membuat sejumlah gagasan yang akhirnya tertuang dalam sebuah ide membentuk sebuah yayasan yang diyakini akan mampu menghadapi berbagai permasalahan secara lebih konkrit dan terarah. Maka pada tanggal 30 Mei 2009, bertempat di Waroeng Keboen Bogor, berdirinya Yayasan Pencinta Keroncong (YPK) Tjroeng diresmikan dengan agenda penandatanganan akta YPK Tjroeng dilakukan bersama para pendiri yayasan yang selama ini peduli dengan perkembangan musik keroncong ditanah air.

JUNI 2009

Menyaksikan performa Krontjong Toegoe yang legendaris, kali ini tampil dalam suasana santai dipendopo Gedung Kesenian Jakarta, 03 Juni 2009, menyambut ulang tahun kota Jakarta, tema yang diusung adalah mengajak hijau kota sekaligus berapresiasi lewat seni dan budaya kota Jakarta, salah satunya Krontjong Toegoe yang notabene sudah tercatat dalam cagar budaya yang akan terus dilestarikan.

Tanggal keramat, begitulah candaan seluruh anggota milis komunitas keroncong Cyber Tjroeng untuk tanggal 11 Juni 2009, perjalanan empat tahun komunitas ini yang digawangi Adi B. Wiratmo sebagai moderador awal pergerakan komunitas telah diarungi. Dari beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya mengadakan acara selamatan dan pemotongan tumpeng hari jadi Komunitas Cyber. Spesial liputan Ulang Tahun KC juga ditayangkan On Air melalui frekuensi 90.9 Kharisma Keroncong, Radio Lita FM-Bandung. Ditanggal ini lahir pula tokoh kartun cerdas lugas dan lucu, yaitu Cak dan Cuk dipersembahkan kepada buletin Tjroeng sebagai bentuk lain dari perkembangan musik keroncong.

Siapa bilang kaum manula tidak dapat beradu kompetisi? Dengan semangat luar biasa mereka terlihat antusias dan senang sekali mengikuti lomba yang digelar Persatuan Ibu-Ibu Kebayoran Jakarta, Lomba yang digelar tanggal 17 Juni 2009 di Gedung Sasana Pakarti Jakarta. Yang muda boleh muncul menggali semangat, yang tua semangatnya justru tak akan mati.

Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) berdiri Sejas tahun 1975, menjadi salah satu pilar penopang perkembangan musik keroncong ditanah air. Dengan tujuan lestari dan tumbuh kembangnya musik keroncong, maka pada tanggal 20-21 Juni 2009, MUNAS ke-1 HAMKRI digelar di Menara Cardi Yakarta. Kepengurusan HAMKRI pun terpilih sah untuk periode 2009-2014. Seyogyanya menciptakan iklim perubahan baru, diharapkan Sian mengatasi pelbagai hambatan-hambatan yang dialami perwakilan DPC daerah. Bravo HAMKRI!!

Kabar duka menyelimuti segenap komunitas keroncong Cyber Tjroeng. Wafatnya redaktur senior, sumber inspirasi dan pengawal dari proses terbentuknya Buletin Tjroeng, Alm. Wawang Wijaya di ranah Malaysia begitu mengejutkan. Beliau yang kami kenal sebagai sosok pribadi yang hangat dan humoris banyak meninggalkan kenangan manis, juga meninggalkan semangat kegigihan yang luar biasa dalam mengembangkan musik keroncong sehingga hal ini menjadikan pemicu semangat komunitas untuk berbuat lebih baik lagi bagi musik keroncong.

Dari belahan bumi lain, pada tanggal 27 Juni 2009 tengah berlangsung Pameran Indonesia Trade Tourism and Investment 2009 di Ahoy Hall-Rotterdam. Paviliun Indonesia dengan bangga memperkenalkan satu-satunya buletin keroncong Tjroeng. Hal ini digagas direktur dari ITTP, Michiel Meijer, yang juga salah satu anggota aktif komunitas keroncong Cyber tjroeng bekerjasama dengan KBRI Den Haag.

JULI 2009

Geliat keroncong masuk kampus disemarakkan pula di Kampus UNJANI Bandung pada tanggal 02 Juli 2009, namun sebelumnya hal ini memang sudah menjadi komitmen kampus untuk lebih melibatkan diri dalam memperkenalkan keroncong dilingkungan kampus UNJANI. Ini diyakini akan terus popular dikalangan mahasiswa apabila kegiatan sosialisasi seperti ini terus menerus diadakan, begitulah dukungan yang disampaikan menurut Hadinegoro yang kapasitasnya sebagai Rektor dikampus UNJANI.

Light Keroncong Orkestra bertajuk Unforgetable Keroncong digelar di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 29 Juli 2009 sebagai bentuk dedikasi pegiat musik kepada jenis musik keroncong. Agenda ini juga diisi dengan kegiatan seminar selain pementasan LKO sendiri. Konser yang mencoba menampilkan komposisi baru untuk instrumentasi yakni ‘clarinet concerto with keroncong music and orchestra’ dibawakan dengan sangat briliant. Selain itu pimpinan LKO, Singgih Sanjaya pun ikut mengusung penyanyi keroncong senior Waldjinah.

AGUSTUS 2009

Kembali lomba keroncong di gelar di Batu kota wisata Malang, Kerjasama dari Kabid Kebudayaan Divisi Pariwisata & Kebudayaan Batu dan Pamori pada tanggal 01-02 Agustus 2009. Tetap dengan agenda regenerasi kedepan serta standarisasi musik keroncong yang akan jadi tolak ukur perkembangannya dimasa yang akan datang.

SEPTEMBER 2009

15 September 2009 di Pendhapa Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta digelar acara Lesehan Keroncong Asli sebagai upaya sillaturrahmi karya antar musisi dengan musisi keroncong, serta sillaturahmi antara musisi dengan masyarakat serta antara masyarakat dengan masyarakat pencinta musik keroncong. Hal ini mendapat respon hangat dari para pencinta keroncong yang memadati pendhapa dengan penuh antusiasnya.

Safari Keroncong 2009 diramaikan pada tanggal 27 September 2009 bertempat di Obyek Wisata Pikatan, Temanggung. Safari sekaligus lomba digelar sampai finalnya dibulan Oktober sekaligus memperingati hari Sumpah Pemuda.

OKTOBER 2009

Perjuangan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan dunia atas batik sebagai warisan budaya asli Indonesia akhirnya didapatkan. United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengukuhkan tradisi batik sebagai salah satu budaya warisan dunia asli Indonesia pada tanggal 02 Oktober 2009. Ke depannya impian bahwa musik keroncong pun akan mendapatkan pengakuan yang sama sebagai warisan budaya asli Indonesia akan juga tercapai, Jadi mari semua insan keroncong, bahu membahu dan wujudkan!

Keroncong sebagai musik terapi? Kenapa tidak. Bulan Oktober, salah satu redaksi Tjroeng mendapati terjadi pementasan rutin di pendopo RS.Darmo-Surabaya, Di mana para pasien terlihat menikmati suguhan musik yang mendayu, yang diyakini sebagai terapi kejiwaan. Pementasan ini mendapatkan tempat pula dihati Dr. Imam Suwono, selaku Direktur RS. Darmo yang juga mencintai musik keroncong. Hal yang tampaknya harus mendapat perhatian lebih dan benar-benar diadakan penelitian akan hal ini. Jika memang ya, maka satu lagi keistimewaan dari musik yang penuh sopan santun irama nadanya.

Kembali dunia musik keroncong mendapat berita duka. Tanggal 17 Oktober 2009 telah berpulang Alm. Kelly Puspito, musisi dan pencipta lagu keroncong terkenal ‘Keroncong Tanah Air’, meninggalkan kembali semangat perjuangan keroncong dalam lirik lagu-lagu indah beliau. (Selengkapnya dapat dibaca artikel kisah hidup Alm. Kelly Puspito dirubrik Tjroeng)

Diikuti oleh 13 Grup Keroncong, dengan mengambil tempat di Gedung Societet Militaire Taman Budaya Yogyakarta, tanggal 29 Oktober 2009 dilangsungkan Lomba Keroncong Antar Perkumpulan se Propinsi DI Yogyakarta. Gelaran acara yang menuai sukses luar biasa.

30-31 Oktober 2009, Malam Final Pemilihan Musisi dan Penyanyi Keroncong Tingkat Nasional digelar di Auditórium Gelanggang Remaja Jakarta Selatan. Para Jawara Miss dan Buaya Keroncong mengadu peruntungan meraih gelar penyanyi terbaik Nasional. Malam finalpun bertabur bintang legenda keroncong hingga membuat penonton menikmati suasana malam final yang menegangkan hingga selesai tuntas. Acara ini dimotori oleh Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta.

NOVEMBER 2009

Orkes 'Sinten Remen' pimpinan Djaduk Ferianto, sukses menggelar konser musik kolaborasi musik keroncong dengan genre musik lainnya. Bukan tanpa sebab konser tanpa karcis alias gratis ini sengaja digelar, tema yang diangkat adalah merupakan bentuk dukungan terhadap KPK dengan judul konsernya ‘Buaya Nggendong Cicak’. Bertempat di Gedung Bentara Budaya Jakarta pada tanggal 05 November 2009. Bentuk perlawanan melalui musik? Tampaknya bukan baru pertama kali.

14 November 2009, Festival Paduan Suara Keroncong Antar SMP Tingkat Nasional bertempat di Auditoriun Santa Maria, Jl. Ry. Darmo 49 Surabaya, akhirnya menuai sukses. Dihadiri lebih dari 400 undangan perwakilan mulai dari tingkat dasar hingga menengah. Harapannya kedepan hal ini akan tetap diagendakan sebagai langkah awal yang bagus mengenalkan anak-anak usia sekolah kepada jenis musik keroncong, diharapkan mereka akan tertarik dan muali mencintai bila diperkenalkan sejak dini.

DESEMBER 2009

03 Desember 2009, Acara Malam Pelestarian Keroncong di Grand Melia diselenggarakan dengan sangat meriahnya. Acara ini terhitung sangat ekslusif dengan penyanyi TTM (Tuti, Teti, Mamik), serta musisi musisi keroncong kenamaan. Tiket sukses terjual habis dikalangan pencinta keroncong yang benar-benar menggemarinya. Penyelenggara tercatat dari Alumni Unair Malang.

Kegiatan tutup tahun komunitas Keroncong Cyber Tjroeng diselenggarakan pada tanggal 05 Desember 2009, bertempat di Bandung Electronic Center (BEC). Masih menggunakan tema yang sama ‘Krontjong Is Back’, kali ini luar biasa menghadirkan penampilan unik dari TK. Santa Ursula, SMP St. Angela dan Kampus STSI dengan kelompok Gerenyem Nilem, Makin memberikan semangat menyambut awal tahun dan tentunya tahun-tahun kedepan, bahwa inilah bukti nyata gema bahana keroncong negeri telah sampai kepada mereka, generasi penerus yang tidak ragu menyuarakan lirik-lirik indah musik keroncong tanah air Indonesia.

Tantangan Keroncong di 2010

Berbekal pengalaman aktivitas yang sangat beragam di tahun 2009, para pegiat keroncong ditantang untuk semakin lebih baik di tahun 2010 dan tahun tahun mendatang. Perkembangan peradaban semakin cepat, dan oleh karenanya seluruh pegiat keroncong harus menatapkan pandang matanya jauh ke masa depan. Sementara sangat disadari bahwa masa depan adalah milik generasi muda. Persis pada sisi ini, melahirkan bakat-bakat muda keroncong menjadi suatu keharusan, di samping bahwa harus menempatkan musik keroncong pada jamannya, sehingga selalu up to date dan sesuai dengan perubahan psikologi manusianya..

PR (pekerjaan rumah) yang belum bisa dikerjakan pada tahun 2009 menuntut untuk dituntaskan, disamping berbagai agenda komunitas dalam rangka penguatan komunitas itu sendiri maupun dalam kaitannya membangun kekuatan lintas jaringan. Dan salah satu rekomendasi seminar keroncong di Surabaya yakni untuk menjadikan keroncong sebagai salah satu materi pendidikan kesenian di sekolah masih jauh api dari pangang sehingga perlu konsolidasi lintas sector dalam upaya merumuskan dan menyusun materi pendidikan yang bisa dipakai di sekolah baik di level SMP maupun SMA.

Selamat memasuki dan menatap wajah keroncong Tahun 2010.

(CR 2009 & mboets2000)

Tagged as: No Comments
4Oct/096

YPK Tjroeng, persembahan KC untuk Keroncong.

Tjroeng, buletin keroncong satu-satunya di dunia adalah buah karya Komunitas Keroncong Cyber (KC) yang paling fenomenal. Melalui iuran swadaya anggota KC dan juga atas sumbangan donatur yang peduli keroncong, tjroeng terbit setiap dua bulan sekali. Buletin ini didistribusikan ke beberapa kota besar di Indonesia, bahkan hingga manca negara seperti Malaysia dan Belanda. Seiring bertambahnya usia tjroeng, lambat laun semakin banyak banyak pula orang yang tertarik untuk berlangganan. Dan nyatanya nama tjroeng pun telah dikenal luas di kalangan pelaku dan penikmat keroncong.

langgam-ypk-tjroeng1

Berkembangnya tjroeng adalah sebuah berita yang baik, namun disisi lain tantangan yang dihadapi pun makin besar. Tjroeng yang pengelolaannya dilakukan oleh sukarelawan, terkadang terpaksa harus terbit tidak tepat waktu karena seringkali para aktifis tjroeng itu dihadapkan pada situasi aktifitas primer mereka begitu padat.

Permasalahan tjroeng di atas dan juga beberapa permasalahan yang seringkali menghambat kegiatan keroncong menjadi titik awal bagi KC berpikir untuk membuat sebuah lembaga legal formal, yang bisa memayungi aktifitas-aktifitasnya. Melalui diskusi yang panjang baik melaui conference Yahoo Messanger maupun didalam mailing list keroncong@yahoogroups.com, tercetuslah ide untuk membuat sebuah yayasan. Yayasan didirikan dimaksudkan untuk memperlancar gerak KC dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat melestarikan dan mengembangkan musik keroncong. Melalui proses yang cukup panjang, terpilihlah nama Yayasan Pecinta Keroncong Tjroeng disingkat YPK Tjroeng.

Meski pendirinya adalah KC namun pendiri haruslah dua orang atau lebih dengan KTP yang jelas, dan tidak mungkin semua pribadi-pribadi KC bisa menjadi pendiri. Maka disepakati, tiga anggota KC diusulkan menjadi relawan pendiri yaitu : Imam Soeseno (KC Bogor), Munifa Prijadi (KC Surabaya), dan Adi B. Wiratmo (KC Bandung). Kemudian, KC merasa perlu ada pendiri dari luar KC, yang kompeten, netral, dan punya keterkaitan dengan keroncong ataupun kebudayaan. Maka dipilihlah Andriyono Kilat Adhi, putra Alm. Andjar Any dan FX. Widaryanto, seorang budayawan dan juga pengajar di STSI Bandung.

Maka, pada hari Sabtu, 30 Mei 2009 berlokasi di Waroeng Keboen Bogor, penandatanganan akta YPK Tjroeng dilakukan. Bersamaan dengan penandatangan akta yayasan, moment itu dimanfaatkan anggota milis keroncong untuk melakukan temu darat. Penikmat keroncong bertemu darat tentu tidak afdol jika tidak ada sajian musik keroncong. Dengan iringan Group Keroncong Cyber Feat Liliek Jascee, alunan musik keroncong pun mengalir menambah semaraknya suasana yang terbungkus dalam sebuah acara bertajuk ”Keroncongan Sak Mlocote”.

Dihadiri tak kurang dari 200 anggota KC dan simpatisan, acara penandatangan Akta YPK Tjroeng menjadi sangat istimewa ketika beberapa “buaya” dan “miss” keroncong berkenan hadir dan menyumbangkan suara merdunya. Tak kurang dari Toto Salmon, Mamik Marsudi, Teti Supangat, Ida Zuraida, Kelana Hermawan, Diki Sodikin berkenan tampil ke depan menyumbang 1-2 lagu. Beberapa anggota KC dan hadirin dari IPB Linkers pun tidak tahan untuk berpartisipasi secara spontanitas. Acara penandatangan akta yayasan ini semakin lengkap dengan hadirnya pengurus Hamkri Pusat dan anggota KC daerah mulai dari Lampung, Jakarta, Bogor, Surabaya, dll.

langgam-ypk-tjroeng2

Visi YPK Tjroeng “Menjadikan keroncong menjadi musik dunia yang memberi kontribusi untuk bangsa” semoga benar bisa terwujud. Sehingga YPK Tjroeng bisa berbuat dan memberi manfaat nyata demi berkembangnya musik keroncong. (Adi Bangun)

Tagged as: 6 Comments
2May/090

Pendidikan Keroncong : Upaya Pelestarian Budaya

Anak saya itu sudah belajar menyanyi dengan berbagai irama, dangdut sudah, pop sudah…, Cuma ketika dia mau belajar menyanyi keroncong itu, kemana saya harus mencari buat anak saya?”

 

Demikian dipaparkan salah seorang peserta Seminar Keroncong masuk kurikulum sekolah yang diselenggarakan oleh SMP Santa Maria Surabaya pada tanggal 7 Februari 2007 lalu. Dari pernyataan dang disampaikan setidaknya termuat beberapa hal, pertama adalah tidak adanya (minimnya) tempat pendidikan keroncong untuk umum, dan kedua adalah secara tidak ada program pengembangan keroncong yang secara sadar dilakukan untuk melestarikan kesenian yang asli Indonesia ini.

Upaya pelestarian dan pengembangan musik keroncong tentu tidak bisa hanya berhenti pada pemberian fasilitas alat-alat musik, tetapi juga harus diiringi dengan berbagai tindakan lain. Seperti dinyatakan oleh Singgih Wijaya, seorang dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam presentasi di Seminar bahwa untuk mengembangkan musik keroncong beberapa pemikiran yang tampaknya membutuhkan perhatian khusus dari kalangan pelaku dan pegiat keroncong yang harus didiskusikan bersama, yakni : 1) bagaimana mengacu kepada kurikulum sekolah itu sendiri dengan gagasan awal; 2) bagaimanakah acuan kurikulumnya (peraturan dan dasar hukumnya); 3) mengapa memilih musik keroncong; bagaimanakah supaya musik keroncong diminati siswa-siswi SMP; 4) bagaimanakah mempersiapkan kurikulumnya, sarana (non pengajar) dan prasarana apa saja yang harus dipersiapkan; dan 5) bagaimanakah mempersiapkan pengajarnya. Kelima pertanyaan tersebut nampaknya harus dipahami dan disadari sepenuhnya ketika harus menjawab kepentingan musik keroncong itu sendiri.

 

Pendidikan Keroncong di Sekolah

Pengenalan musik keroncong di wilayah institusi pendidikan formal sesungguhnya telah dimulai. Namun demikian belum ada data resmi yang menyebutkan dari seluruh sekolah di Indonesia berapa sekolah yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler musik keroncong.

SMP Santa Maria Surabaya merupakan salah satu dari sedikit sekolah yang memberikan ekstrakurikuler keroncong. Di SMP ini, terdapat sekitar 49 siswa dan siswi yang terlibat dalam ekstra kurikuler keroncong. ”Siswa-siswi kami memag pada mulanya banyak yang tidak mengenal musik keroncong, namun kami manyadari bahwa bagaimanapun musik keroncong harus diperkenalkan kepada mereka. Acara gebyar Keroncong menjadi salah satu media bagi peserta didik untuk mengapresiasi musik keroncong, dan ternyata saat ini, mereka sangat berminat,” demikain dijelaskan oleh Sr Windhi OSU, Kepala Sekolah SMP Santa Maria Surabaya.

Menurut penuturan FX Triyas HP, pendamping ekskul keroncong SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta menjelaskan, ”Dua tahun lalu, di sekolah tempat kami mengajar telah terbentuk kegiatan ekskul Orkes Keroncong. Awalnya memang sedikit peminatnya. Tetapi banyaknya tawaran manggung saat pencanangan Solo sebagai kota Keroncong, HUT Ke-90 Gesang, dan peresmian city walk membuat ekskul ini makin banyak diminati”.

Seturut dengan pemikiran tersebut, Waldjinah –si Walangkekek- menyatakan bahwa, sosialisasi memang harus digencarkan agar salah satu musik tradisi bangsa ini tidak hilang. "Bisa lewat apa saja dan dalam bentuk apa pun. Lomba atau menjadi salah satu muatan lokal dalam dunia pendidikan," ujarnya. Dalam perkembangan musik keroncong saat ini, Waljinah merasa skeptis, dan persoalan yang harus segera dipecahkan dalam dunia keroncong Indonesia.

Terlebih, saat ini, keroncong masuk dalam wilayah Dinas Pariwisata dan Budaya, maka keroncong menjadi bagian dari aset pariwisata, atau tradisi, dan budaya. Dan pertanyaannya, apakah keroncong masuk dalam wilayah budaya ataukah seni? Sebelumnya, keroncong masuk dalam wilayah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. "Keroncong sebagai seni saat ini dijadikan tradisi. Ia tidak lagi dipandang sebagai sebuah kesenian, melainkan tradisi," dituturkan Kelly Puspito seorang pencipta lagu keroncong asal Kota Semarang.

"Untuk itu, harus ada perubahan secara pelan mengenai perkembangan keroncong ini. Perubahan ini harus bisa melihat kondisi psikologis pecinta musik keroncong yang sudah menginjak usia senja, dan melihat psikologis jiwa muda saat ini," kata Kelly Puspito.

Dilihat dari sudut tradisi maupun seni, keberadaan keroncong harus dipertahankan. Karena, keroncong menjadi bagian seni juga tradisi yang pernah mengisi peradaban bangsa. "Dan mestinya, keroncong diajarkan di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal. Namun biarkan siswa sendiri yang memilih, bukan guru yang menentukan. Apakah keroncong masa kini atau keroncong jenis masa lalu yang mereka pilih. Itu adalah hak mereka, biarkan mereka yang memilih," Kelly mempertegas.

 

Pendidikan Keroncong di Luar Sekolah

Upaya melestarikan dan mengembangkan musik keroncong tidak bisa hanya disandarkan pada salah satu sektor seperti di Departemen Pendidikan atau Departemen Budaya dan Pariwisata, namun keterlibatan publik juga sangat diharapkan. Karena masyarakatlah pada akhirnya yang akan menjadi penentu kehidupan dan gairah musik keroncong itu sendiri.

Waljinah, salah satu legenda keroncong Indonesia memiliki komitmen untuk terus melsetarikan musik keroncong. Dalam upaya melestarikan musik keroncong, Waljinah sudah membuka kursus olah vocal untuk lagu-lagu keroncong. ”Saya buka kursus di rumah. Yang ikut lumayan banyak, dari anak-anak SD sampai SMA bahkan juga ada yang suidah kuliah,” paparnya. Peminat cukup membayar Rp 10 ribu sekali datang. "Itu untuk membayar pengiringnya."

Langkah seperti yang telah dilakukan oleh Waljinah juga dilakukan oleh Tutik Maryati, di mana di rumahnya juga terbuka bagi anak-anak dan remaja yang mau belajar menyanyi keroncong. Namun demikian seberapa banyak pegiat keroncong yang melakukan kegiatan serupa untuk melestarikan den mengembangkan keroncong?

Kebutuhan, minat masyarakat untuk mengenal, bermain musik serta menyanyi keroncong cukuplah tinggi, namun demikian realitasnya apa yang diharapkan tidak menemu ruang yang pas sehingga supply and demand tidak seimbang. Dari kondisi ini, seharusnya peluang membuka kursus keroncong sangat terbuka, namun logika ekonomi ini juga tidak berjalan. Meski peminat banyak, namun tetap saja tempat pendidikan keroncong di luar sekolah sangat minim, dan itu pun tidak terpublikasikan secara baik. Terlebih, masih merupakan komitmen dari individu pegiat keroncong, belum menjadi gerakan yang sistemik dan terstruktur dari pecinta keroncong pada umumnya.

 

Jalan Panjang Regenerasi Keroncong

Diperlukan semacam daya juang, stamina dan semangat yang tinggi di kalangan ‘orang dalam keroncong’, perjalanan yang memang masih jauh, apapun itu harus dimulai dari sekarang. kalau tidak kapan lagi,” demikian dipaparkan Musafir Isfanhari agar keroncong tetap hidup.

Di sisi lain, memang kita butuh figur kuat yang secara tegas berada dalam pusaran keroncong. Seperti dalam dangdut, ada figur Rhoma Irama, dan di titik ini keroncong belum memiliki figur yang berdiri kokoh tegas. Sosok Rhoma Irama sebagai figur yang tak goyang oleh guncangan manakala diejek dan dicerca oleh pemusik di luar dangdut, bahkan ide-idenya tetap kreatif dan inovatif hingga akhirnya dangdut yaa makin merambah di kalangan atas. Keroncong membutuhkan figur kuat yang tidak semata-mata menyanyikan lagu keroncong repertoir lama tetapi juga menelorkan lagu-lagu keroncong baru yang lebih kontekstual dengan jamannya.

Keadaan lain sperti dituturkan oleh Musafir Isfanhari adalah bahwa keroncong butuh semacam ‘maecenas’ atau dewa pelindung kesenian atau dalam kata lain yang betul-betul memberikan perlindungan baik material maupun moral. Namun, masalah-masalah yang diungkap tersebut kerapkali menjadikan dinding pemisah antara pelaku keroncong dengan realita keroncong yang ada saat ini.

Masa depan keroncong bertumpu pada generasi muda dan sistem yang dibangun untuk melestarikan dan mengembangkan keroncong. Sehingga dengan demikian tuntutan untuk melakukan transfer ilmu dan kemampuan dalam ber-keroncong harus dibangun sejak dini. Pendidikan keroncong secara formal dan informal harus dikembangkan dan didukung dengan berbagai aspek, baik aspek teknis maupun non-teknis yang mengarah pada kejayaan keroncong di masa mendatang. (tjroeng)

 

Tagged as: No Comments
3Feb/090

KERONCONG VIRTUAL PALACE

Keraton Imajiner Keroncong dalam Keraton Kasunanan Surakarta, Solo.

Virtual Palace

Virtual Palace

Keraton Kasunanan, disebut juga sebagai Keraton Surakarta Hadiningrat yang dibangun pada tahun 1745 oleh Raja Paku Buwono ke II. Keraton berarsitektur tradisional Jawa dengan nuansa warna putih biru dengan sedikit sentuhan arsitektur gaya Eropa, arsiteknya sendiri pada zaman itu adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Bangunan keraton terdiri dari Pagelaran Sitihinggil, Kori Brojowolo, Kori Kamandungan, Kori Sri Manganti dan Panggung Sangga Buwana. Bagian keraton lain dan tidak boleh dikunjungi wisatawan, antara lain Sasana Sewaka, Sasana Pustaka dan Maligi. Pendopo Sitihinggil dengan ciri khasnya yang tidak dikelilingi tembok pertahanan kerajaan pada fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan benda - benda tanda kebesaran raja, gamelan kuno dan pusaka keraton.

Sekelumit sejarah keraton yang dikaitkan dengan adanya catatan penting yang terjadi di hari penutupan ajang pagelaran ‘International Keroncong Festival 2008’ yang digelar selama tiga hari berturut – turut di tanggal 4,5 dan 6 Desember, bertempat di pendopo Sitihinggil, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo. Diresmikannya Keraton Sitihinggil Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini sebagai Keraton Imajiner Keroncong (Keroncong Virtual Palace) dengan harapan resmi dan berdirinya Keraton Imajiner Keroncong ini akan menjadi wadah kedepan bagi insan perkeroncongan dunia untuk bersama-sama bertemu, berkreasi dan berinteraksi dengan bahasa dunia yang sama yaitu keroncong, keroncong yang mendunia.

Mengingat garis hubungan suatu hal atau keadaan di masa lalu, masa kini dan masa depan yang kelak menjadi sumber informasi dari generasi ke generasi yang bukan saja nasional tapi international maka penting bagi keroncong untuk menemukan tempatnya sebagai persepsi generasi keroncong melintas dari masa ke masa. Teknologi canggih dan cepatnya peradaban manusia membuat perubahan dari segala sisi termasuk pola pikir si manusia itu sendiri, dari yang tidak mungkin menjadi suatu hal yang memungkinkan. Inipun terjadi dalam dunia perkeroncongan dimana keroncong yang dulu pada lintasan zamannya kerapkali ditampilkan hanya sebatas musik hiburan dalam pesta – pesta kecil, pesta pernikahan ataupun khitanan lalu siapa yang dapat mengiranya kini keroncong menjajak di ajang International…

Tagged as: No Comments
3Feb/090

APA KATA MEREKA SEPUTAR GELARAN IKF 2008

gkr-wandasariMusik keroncong dapat menjadi kekayaan budaya, sama halnya dengan Keraton Surakarta yang masih bertahan sampai usia 263 tahun ini “ sambut Kanjeng Gusti Mung saat mengukuhkan Keraton Sitihinggil Surakarta Hadiningrat sebagai keraton imajiner keroncong (Keroncong Virtual Palace).

pedhet-wijayaSelain untuk memperkuat posisi Solo sebagai Kota Keroncong, sekaligus juga membangkitkan kesadaran bahwa keroncong patut di lestarikan dan meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap musik keroncong,” papar Pedhet Wijaya – Ketua Panitia IKF 2008, Solo - kepada sejumlah media yang hadir meliput pembukaan acara pagelaran tersebut.

gesang"Keroncong adalah musik bangsa yang harus di lestarikan bersama bukan hanya milik Solo saja… Ada banyak kelompok keroncong namun yang terpenting adalah tetap menjaga kerukunan," pesan sang legenda, Gesang,  yang kala itu tengah sakit saat dikunjungi ketua panitia IKF 2008 dan beberapa rekan wartawan di kediamannya.

"Kalau IKF sukses, kami ikut senang. Apapun keadaanya. Hamkri adalah salah satu pilar yang mendirikan dan menegakkan keroncong…. alasan kami mengundurkan diri dari kepanitiaan adalah masalah mengenai pemberian kompensasi transportasi ke Solo bagi peserta dari luar Solo, bukan soal nilainya yang penting, tapi soal penghargaan kepada musisi begitulah…" ujar Waldjinah, Ketua Hamkri Solo, yang baru menuturkan alasan Hamkri mengundurkan diri kepada pers setelah IKF 2008 selesai dilaksanakan.

Selama 34 tahun di umur saya sekarang, baru inilah saya menyanyikan lagu keroncong, saya sangat terkesan… “ Melly, penyanyi pop dan selebritis, menyampaikan kesannya pada penonton usai menyanyikan lagunya ‘Suara Hati Kekasih’ dalam iringan keroncong, bahkan tampak di ujung lagu karyanya itu, Melly menambahkan cengkoknya membuat tampilan lagu seperti keroncong.

"Menjadi peserta festival keroncong merupakan tantangan bagi kami karena ini pertama kali kami memainkan musik China dalam irama keroncong. Walau begitu, kami ingin menampilkan yang terbaik dan memberi warna kebudayaan Indonesia, " ujar Andri Harmony- Harmony Chinese Music , Peserta IKF 2008, seusai pertunjukan.

Kami gembira sekali bisa ikut tampil di ajang IKF 2008 ini, bisa bersilahturahmi dengan seniman musik di Indonesia. Semoga acara IKF 2008 ini dapat di agendakan rutin setahun sekali dan Yayasan Warisan Johor diundang kembali,” papar H. Omar Qaib, pimpinan dari Yayasan Warisan Johor ini.

Saya merasa senang ada pelaksanaan IKF seperti ini di Solo. Bahkan sebisa mungkin harus dilaksanakan tahun depan di sini lagi …” ujar Rizky, salah satu warga Kedunglumbu, Solo yang mengikuti acara pagelaran ini dengan sangat antusias.

Tagged as: No Comments
2Feb/090

IKF : KERONCONG GOES INTERNATIONAL

Bangkitlah Keroncong Dunia!!

Demikian ikrar yang disuarakan bersama oleh segenap insan keroncong pada peristiwa International Keroncong Festival 2008. Sebuah ikrar yang tak akan pernah terselesaikan, karena ikrar adalah janji yang setiap saat harus disadari dan diperjuangkan.

Tak pernah terbayangkan, meski impian, cita-cita dan

Melly dan Solo Orkestra

Melly dan Solo Orkestra

harapan ini selalu dibincangkan para pencinta keroncong. Harapan keroncong menapaki tangga yang jauh, ‘goes International’. Liputan team tjroeng, selama mengikuti prosese International Keroncong Festival (IKF) 2008 yang diselenggarakan pada tanggal 4 s/d 6 Desember 2008 bertempat di Pendopo Pagelaran Sitihinggil Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Surakarta. 16 peserta yang hadir dari berbagai daerah, 15 dari Indonesia dan 1 dari Malaysia setidaknya mencoba menjadi representasi keinternasionalannya. Dan dalam penyelengaraannya penampilan peserta membuktikan bahwa festival ini tidak sembarangan, bahkan menunjukkan keroncong yang bangkit.

Menapak ke gerbang keroncong dunia.

Handartono, Kepala Sudin Pariwisata Seni dan Budaya Kota Solo membuka perhelatan IKF 2008. Dalam pidato pembukaan disampaikan bahwa IKF 2008 diharapkan menjadi momentum bagi kebangkitan keroncong, dan musik keroncong bisa menyebar ke berbagai Negara. Kehadiran Orkes Keroncong Yayasan Warisan Johor (Malaysia) sebagai satu-satunya group dari manca Negara bisa diharapkan juga sebagai salah satu ujung tombak perkembangan musik keroncong di luar negeri.

Menjadikan keroncong goes international sesungguhnya telah dirintis sang maestro keroncong, Gesang, di tengah kepayahan sakitnya tatkala di kunjungi pihak panitia IKF 2008 di kediamannya, sang Maestro berpesan, “ Keroncong adalah musik bangsa yang harus dilestarikan bersama, bukan hanya milik Solo dan kerukunan yang senantiasa diharapkannya tetap terjaga. Maka terlepas lagi dari polemik yang berkepanjangan dalam jagad keroncong, rasa suka atau tidak suka, adanya dukungan atau tidak toh pada akhirnya keroncong akan tetap bangkit,”.

Penampilan 16 group keroncong yang hadir mencoba membuktikan seberapa dahyat kreativitas dan komitmen yang ada untuk melangkah masuk ke keroncong dunia. Hanya kreativitas dan keberanian untuk menelorkan gagasan baru dalam keroncong yang akan sanggup meretas jalan menuju dunia yang lebih besar bagi keroncong itu sendiri.

Kami Bangkit!!!

Begitu yang ingin disampaikan oleh seluruh peserta IKF 2008 melalui lagu-lagu dan aransemen yang ditampilkan. Pementasan OK Irama Bama dan OK Canina dari Surabaya sangat memukau dengan tambahan perkusi yang memberi nilai lebih pada musik keroncong. Personel keduanya sangat memukau penonton dengan lagu-lagunya.

Harmony Chinese Music Grup (HCMC) dari Bandung memberi suasana lain. Musik keroncong dengan menggunakan alat musik tradisional China seperti yangqin (kecapi pukul), guzheng (kecapi), liuqin (chinese ukulele), erhu (alat musik rebab), pipa (chinese flute), sanxian (chinese banjo), danuan (bass), ruan (chinese gitar), dan dizi (suling). Bahkan HCMC berkesempatan mengiringi Gusti Mung yang juga dikenal sebagai GKR Wandansari saat menyanyikan Langgam Jembatan Merah.

Lagu Gerimis Mengundang dibawakan dengan sangat apik oleh Yayasan Warisan Johor dari Malaysia dengan vocalist-nya Wahidah AR. Keikutsertaan Yayasan Warisan Johor dalam IKF 2008 memberi warna tersendiri. Musik keroncong dengan sentuhan musik Melayu menambah khasanah musik keroncong. “ Kami gembira sekali bisa ikut tampil di ajang IKF 2008 ini, bisa bersilahturahmi dengan seniman musik di Indonesia. Semoga acara IKF 2008 ini dapat diagendakan rutin setahun sekali dan Yayasan Warisan Johor diundang kembali,” papar H. Omar Qaib, pimpinan dari Yayasan Warisan Johor ini.

Kebangkitan musik keroncong menjadi semakin kuat dengan penampian OK Tjongrock dari Semarang. Gaya permainan mereka sangat solid, mulai aransemen lagu, baik melodi, perpindahan chord dengan tempo cepat kemudian melambat yang dikemas menarik. Penampilan OK Tjongrock merupakan gambaran sempurna dari segi komposisi aransemen lagu, kualitas dan totalitas pemain serta penyanyinya yang sungguh luar biasa.

Hadirnya Ikhsan Idol, Tia AFI, Haikal AFI dan Melly Goeslaw semakin menyemarakkan

OK Nadya Dewi Putri

OK Nadya Dewi Putri

IKF 2008. tampilnya mereka memberi nuansa lain. Lagu pop yang dikeroncongkan dengan iringan Solo Keroncong Orchestra (SKO). SKO sendiri beranggotakan 40 remaja yang memang secara khusus menggeluti musik keroncong. Tidak ketinggalan, cucu sang maestro Gesang, yakni Asti Dewi ikut menembangkan Bengawan Solo dan Gambang Semarang.

Kemilau IKF 2008 semakin kuat, dengan tampilnya OK Nandya Dewi dari Purbalingga, sebuah group keroncong yang seluruh pemusiknya adalah perempuan. Partisipasi mereka sangat memukau. Puncak penampilan adalah tampilnya Orkes Keroncong Tirta Lawu dari Karanganyar. Aransemen lagu yang mereka tampilkan sangat menghenyakkan, dan kadang menggelitik. Kreativitas dan eksplorasi musik keroncong yang disuguhkan meski dengan kelengkapan alat musik standard keroncong, sangatlah inspiratif. Pada sisi ini, terlihat bahwa kreativitas menjadi kunci utama. Kreativitas menjadi man behind the gun dari keroncong.

Solo Orkestra

Solo Orkestra

Selain group keroncong yang telah disebut, turut memeriahkan IKF 2008 adalah OK Rinonce (Yogyakarta), OK Irama Pakuan (Bogor), OK Bintang Remaja (Pati), OK Penawar Rindu (Batam), OK Minimalis dan OK. Solo Senior (Solo), Orkes KR. 56 (Lampung), OK Merah Putih (Bandung) dan Keroncong Cyber Tjroeng.

Keroncong goes to Mall….

IKF 2008 selain sebagai ajang berkumpul dan beradu kreativitas dalam musik keroncong, juga merupakan ajang sosialisasi untuk mengajak masyarakat khususnya yang muda untuk bisa kenal dan menggemari keroncong. Maka panitia bekerja sama dengan Solo Square dan Solo Grand Mall dalam penyelenggaraan IKF. Bertempat di Food Court kedua mall tersebut, selama ajang IKF 2008 dilaksanakan menjadi lokasi pementasan keroncong.

Respons pengunjung mall sangat positif atas pementasan keroncong di mall.

Tika dan OK Cyber

Tika dan OK Cyber

Tampilnya Tia AFI, Haikal AFI di mall-mall membawakan lagu keroncong menyedot perhatian, terlebih, di saat tampilnya Tika, gadis mungil berusia 5 tahun tampil membawakan Langgam Bengawan Solo. Tika menyanyi diiringi oleh Keroncong Cyber Tjroeng.

Dipilihnya mall sebagai salah satu tujuan sosialisasi musik keroncong sangatlah tepat. Hal ini untuk mendekatkan musik keroncong kepada generasi muda yang saat ini banyak mencari suasana dan hiburan di mall-mall. Namun demikian, kerjasama dengan pihak manajemen mall perlu mendapat perhatian khusus dikarenakan tidak jarang stand dan counter di mall juga memiliki jenis musik tersendiri yang pada akhirnya hanya akan menjadikan suasana hingar bingar dan memekakkan telinga semata.

Keroncong Cyber : dari internet untuk keroncong

Keroncong Cyber Tjroeng, sebuah nama yang menyeruak di IKF 2008. permainan musik yang disuguhkan tergolong sangat bisasa untuk ukuran keroncong, namun yang membuatnnya menjadi istimewa adalah group Keroncong Cyber Tjroeng yang berasal dari berbagai daerah, dan baru sempat berkumpul pagi hari di hari terakhir penyelenggaraan IKF 2008.

Kumpulan pecinta keroncong yang disatukan oleh komitmen untuk menghidupkan keroncong dan megandalkan media internet sebagai ajang komunikasi ternyata bukan menjadi penghalang besar bagi group ini untuk tampil. Bahkan dari 4 lagu yang ditampilkan, salah satunya merupakan karya orisinil komunitas keroncong Tjroeng yang menaungi Orkes Keroncong Cyber Tjroeng.

OK Cyber

OK Cyber

Jarak Bandung, Jakarta, Jogja, Solo, Pekalongan, Klaten, Surabaya, dan Banten bukan menjadi rintangan untuk menyatukan hati bermain keroncong bersama. Bahkan untuk lagu karya komunitas Tjroeng yang dibawakan, yakni Langgam Mata Air Pegunungan baru ada yang kenal di saat latihan. Namun, begitulah keroncong, merupakan jiwa dan hati yang hidup. sehingga teknologi melulu menjadi media untuk menyatukan jiwa-jiwa keroncong yang berserak entah kemana. Ikatan harmoni keroncong mengumpulkan dan mengalun indah.

Sebagai pengikat kebersamaan pecinta keroncong, dalam IKF 2008 juga dideklarasikan tanggal 5 Desember sebagai Hari Kebangkitan Keroncong Dunia dengan semboyan “Bangkitlah Keroncong Dunia!”serta menjadikan Sitihinggil Keraton Kasunanan Surakarta sebagai “Keroncong Virtual Palace” atau Istana Keroncong Imajiner. Pada kesempatan ini seluruh insane keroncong ditantang untuk lebih giat lagi berkarya dan mengisi aktivitas Sitihinggil dengan aktivitas keroncongm, sehingga pada akhirnya Sitihinggil tidak semata menjadi istana keroncong imajiner yang sama sekali absurd. Masyarakat keroncong ditantang uintuk mengisinya.

Selamat atas terselenggaranya IKF 2008. *** (Clara)

Tagged as: No Comments
1Dec/080

Komunitas Keroncong Cyber

“Selamat pagiiii... saya Gigih di Paiton, suka juga dengerin keroncong, mungkin kebiasaan ortu ya...jadi sampai sekarang masih seneng menikmati lagu keroncong dan
rengeng-rengeng cuma sayangnya suaraku gak seberapa bagus he..he..he....
mohon infonya tentang pembagian/ klasifikasi lagu-lagu keroncong, soalnya
aku masih gak mudheng nih...”.

Sepenggal kalimat di atas menjadi titik awal terbentuknya Komunitas Keroncong Cyber (KC). Dari hanya seorang anggota, perlahan namun pasti anggota KC dari hari ke hari semakin bertambah jumlahnya. Satu per satu kegiatan pun dirancang dan dilakukan oleh KC. Munculnya kegiatan-kegiatan tersebut tidak terlepas dari keinginan yang begitu kuat semua anggota untuk kembali mengangkat citra Musik Keroncong yang semakin redup, menjadi musik yang kembali diminati oleh banyak orang dan dari banyak kalangan.

Kegiatan pertama KC adalah membuat kaos yang bertuliskan kata-kata ajakan melestarikan keroncong “Play Music Keroncong, Save Indonesian Heritage”. Kaos ini kemudian menjadi semacam trade mark KC. Di setiap kesempatan, anggota KC yang tersebar di banyak kota selalu mencoba untuk memakai kaos ini, demi mensosialisasikan Musik Keroncong. Hal ini juga dilakukan, ketika KC berkesempatan hadir pada acara Gebyar Keroncong, yang saat itu masih di siarkan secara live oleh TVRI. Sayang, acara itu kini tinggal kenangan.

Kegiatan berikutnya, yang tidak kalah pentingnya adalah ketika KC mampu menerbitkan Buletin Keroncong pertama di Indonesia dan juga di Dunia. Tidak jauh dari tujuan pembuatan Kaos, pembuatan buletin ini juga bertujuan untuk sosialisasi keroncong. Maka target pembacanya pun adalah anak-anak muda dan juga orang tua yang awam terhadap Musik Keroncong. Melalui proses demokrasi yang berakhir manis, nama Tjroeng akhirnya disepakati sebagai nama Buletin ini. Buletin yang disebarkan secara gratis, dan biaya untuk produksinya didapat dari donatur, ternyata diminati oleh banyak kalangan. Meski proses publikasinya dilakukan secara sangat sederhana, “dari mulut ke mulut”, namun Buletin ini sudah di baca oleh penggemar keroncong di luar negeri, seperti di Malaysia dan di Belanda.

Kehadiran Tjroeng menjadi pertanda baik bagi perkembangan keroncong. Melalui keseriusan pegiatnya, perlahan KC pun mulai terlibat pada kegiatan-kegiatan Keroncong di tanah air. Keterlibatan KC di mulai dari pementasan Keroncong di Kota Bogor, Konser Keroncong 2008 di Pura Mangkunegaran yang digagas Sundari Soekotjo, Kegiatan Republik Keroncong di Bandung, Festival Kampung Toegoe di Jakarta Utara, dan Internasional Keroncong Festival di Solo.

KC, melalui Rencana Strategis Komunitas Keroncong, ke depan akan berupaya membuat kegiatan yang bermanfaat, baik untuk keroncong itu sendiri maupun untuk pegiatnya. KC berharap, di masa yang akan datang keroncong bisa menjadi musik yang digemari oleh banyak orang, sehingga seluruh Sistem Musik Keroncong, mulai dari musiknya, penyanyinya, dan pemainnya akan kembali mengalami kejayaan seperti era tahun 60-an.

Tagged as: No Comments