SUMPAH PEMUDA
( Mardjo Kahar )
Menjadi k’wajiban pemuda
Pada masa sekarang
Mengabdi untuk Nusa dan Bangsa
Memenuhi sumpahnya
Karena suasana baru
Menggembleng semangatmu
Agar selalu bersiap maju
Serta teguh bersatu
Reff.: Wahai pemuda
Apa artinya hidupmu ini
Jika kamu tak berjasa
Kepada Ibu Pertiwi
Pemuda diatas pundakmu
Letak nasib Negerimu
Hindarkan itu dari musuhmu
Bela dengan jiwamu
SUMPAH PEMUDA
Kalau harapan tertumpah pada pemuda
Mengapa teks proklamasi dan UUD 1945 berbahasa Indonesia? Jawabannya adalah karena saat itu kita sudah mempunyai bahasa persatuan : Bahasa Indonesia. Kalau saat itu kita belum mempunyai bahasa persatuan, teks proklamasi dan UUD 1945 mungkin akan ditulis dengan bahasa Belanda, Jepang, Inggris, Melayu atau Jawa.
Mengapa saat itu kita sudah mempunyai bahasa persatuan? Nah, inilah kehebatan dari para pendahulu kita, yang jauh sebelum merdeka, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928 mereka sudah menyepakati –atau istilahnnya— bersumpah. Bertanah air satu : Tanah air Indonesia, berbangsa satu : Bangsa Indonesia, berbahasa persatuan : Bahasa Indonesia.
Kalau belum ada kesepakatan bahasa persatuan, mungkin kita akan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan, seperti negara eks penjajahan yang kebanyakan menggunakan bahasa penjajahnya sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional.
Kemerdekaan Indonesia bukanlah kemerdekaan pemberian, warisan dari penjajah atau kesepakatan di antara para pemimpin daerah. Kemerdekaan Indonesia ditebus dengan pengorbanan yang sangat besar. Dijajah selama 350 tahun oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang. Oleh kedua negara penjajah tersebut, bangsa kita ditindas penduduknya, dikuras harta bendanya. Dipermainkan, perbodoh dan diperbudak. Betapa banyak penderitaan, betapa besar kesengsaraan dan betapa banyak nyawa yang melayang.
Di masa perjuangan, khsusunya perjuangan merebut kemerdekaan, banyak pahlawan gugur di medan laga, dari Cut Nya Din dan Tuanku Imam Bonjol di Sumatra, Dewi Sartika dan Pangeran Diponegoro di Jawa, Antasari di Kalimantan, Sultan Hasannudin di Sulawesi, sampai Patimura di Maluku dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Di tahun 1945-an banyak pula pahlawan yang gugur berjuang melawan Belanda maupun Jepang. Dalam masa perjuangan merebut kemerdekaan, tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan ikut berjuang, berkorban dengan tenada, harta benda, raga, bahkan nyawa.
Dalam setiap kesempatan, baik untuk memperoleh, mempertahankan maupun mengisi kemerrdekaan, pemudalah yang sesungguhnya mempunyai andil yang besar. Merekalah yang berada di barisan paling depan.
Lagu Sumpah Pemuda ini merupakan bakti seniman dalam membangkitkan, mendorong, menggelorakan semangat kepada para pemuda untuk tetap selalu bersiap siaga memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia dengan segala konsekuensinya. Lagu ini juga mengajak para pemuda untuk berlomba-lomba menunjukkan baktinya kepada ibu pertiwi, negeri terinta ini.
Masih relevankah lagu ini dengan situasi saat ini? Masihkah pemuda perlu bersumpah, berjanji untuk kemajuan ibu pertiwi? Jawabannya : Ya. Sebab sebagai negara merdeka, Indonesia tidak lepas dari gangguan, ancaman dan rongrongan baik dari dalam negri maupun luar negeri. Selain itu cita-cita kemerdekaan, belum tercapai.
Di jaman modern ini, rongrongan terhadap keamanan, kesatuan bangsa masih saja terjadi.
Tantangan juga semakin banyak, dari ledakan jumlah penduduk, kerusakan dan kemerosotan hutan dan sumberdaya alam lainnya, cengkeraman negara besar dalam bidang politik, ekonomi dan budaya, serta masih banyak pekerjaan rumah lainnya. Cita-cita luhur pendahulu kita untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang adil dan makmur, saat ini masih belum terwujud.
Di sisi lain, Indonesia menyimpan kekayaan yang sangat besar, dari kekayaan laut, kekayaan dari dalam bumi, kekayaan flora dan fauna, kekayaan budaya serta kekayaan intelektual dan kreatifitas yang sangat tinggi yang semuanya sangat menjanjikan untuk kemakmuran bangsa ini, jika dikelola dengan baik. Kalau sudah demikian, maka pemudalah harapan semua orang, harapan bangsa. Pemuda sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan dan penerus kehidupan yang lebih baik. Di pundak pemudalah masa depan Indonesia.
Ibarat sebuah bangunan yang terdiri dari ratusan bagian, maka tiap bagian sekecil apapun, seperti paku dan sekrup harus terpasang dengan baik, harus berperan dengan nyata. Paku dan sekrup yang tidak berfungsi dengan baik, akan berakibat bangunan tidak akan kokoh, indah dan nyaman dipakai. Demikian pula dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan bangsa, peran setiap pemuda sangatlah diaharapkan dan diandalkan bagi bangsa, untuk negara, kepada ibu pertiwi. Setiap pemuda harus mempunyai andil, harus menjalankan peran dan harus mengukir jasa sesuai dengan bidang dan kemampuannya. Kalau tidak, kata orang :” Apa kata dunia?”
Wahai pemuda, apa artinya hidupmu ini, jika kamu tak berjasa, kepada Ibu Pertiwi. Pemuda, di atas pundakmu letak nasib Negerimu .....
Telomoyo , Kalau syair lagu diserahkan ke penyanyi
Bermula dari sebuah pertanyaan, mengapa lagu Kr. Telomoyo syairnya ada dua macam, sebut saja syair pertama dan syair kedua. Syair pertama yang mengandung kata Telomoyo dan syair kedua bahkan tanpa kata Telomoyo (lihat kedua syair di bawah).
Pertanyaan berikutnya, dari kedua syair itu mana yang benar? Hal lain yang aneh dari lagu Kr. Telomoyo ini, sama sekali tidak menceritakan apa Telomoyo itu. Ini berbeda dengan lagu Bengawan Solo yang bercerita tentang bengawan tersebut, atau Kr. Bandar Jakarta yang memang menceritakan situasi pelabuhan yang terletak di Jakarta itu.
Pada lagu Telomoyo tidak ada cerita tentang Telomoyo yang sebenarnya nama gunung di Jawa Tengah. Bahkan pada syair kedua sama sekali tidak ada kata Telomoyo.
Mungkin pembaca mengalami hal yang sama, mempunyai pertanyaan yang sama, menemukan kebingungan dan penasaran yang sama.
Mencari jawaban atas pertanyaan ini kemudian membawa ke suatu kenyataan bahwa ternyata banyak lagu yang seperti ini, banyak lagu yang judul lagu sama sekali tidak mencerminkan isi lagunya. Isi lagu sama sekali ’tidak nyambung’ dengan judulnya, dengan bahasa gurau boleh dikata judul lagunya ’judul-judulan’. Contoh beberapa lagu yang isi syairnya tidak sesuai dengan judulnya, Jali-jali, Dayung Sampan, Kicir-kicir, Sapu lidi, Kr. Kemayoran.
Jawaban kemudian ditemukan. Lagu-lagu tersebut diciptakan pada tahun 20-an. Pada masa itu syair yang paling populer adalah pantun. Maka kebanyakan lagu mempunyai syair berupa pantun. Seperti kita ketahui pantun terdiri dari dua bagian, bagian pertama berupa sampiran dan bagian kedua merupakan isi. Sampiran merupakan kalimat yang indah dan boleh dikata tidak ada artinya, contoh : ”Ribu-ribu tuan anak menjangan”. Isi pantun berupa kalimat yang mengandung arti dan pada akhir kalimat mempunyai vokal yang sama dengan sampiran. Dalam contoh ini, ’isi’ pantun adalah : ” Biar seribu melarang jangan” atau di pantun lain ” Biar seribu dibilang jangan ”. Sampiran dan isi mempunyai ’bunyi’ suku kata terakhir yang sama, dalam hal ini ”an”.
Karena syair lagu berupa pantun dan pantun itu mudah untuk membuatnya, maka syair yang berupa pantun bisa dibuat oleh siapa saja termasuk penyanyinya. Syair lagu dibuat sesuai keperluan, sesuai situasi saat itu. Misalnya kalau anak muda (bujangan) yang menyanyikan, maka syair bisa berbunyi :” Paling enak si mangga udang, pohonnya tinggi buahnya jarang. Paling enak si orang bujang, pergi ke mana tiada yang melarang”.
Kadang pantun yang sangat disenangi waktu itu akan ’muncul’ di berbagai lagu, misalnya : ” Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau ada umurku panjang boleh kita bertemu lagi”.
Pada waktu penulis masih kecil, tahun 65-an. Penulis ingat waktu itu ada suatu pentas musik yang dihadiri oleh berbagai cabang suatu partai. Tiap cabang menyanyikan satu bait lagu yang berisi pantun yang memuji cabangnya, atau malah isinya gurauan. Maka lagu tersebut bisa diulang-ulang, dinyanyikan berbagai cabang partai tersebut dan tentunya pantunnya berbeda-beda. Alhasil suasana menjadi semarak, karena tiap wakil cabang berusaha membuat pantun sebaik mungkin.
Proses penciptaan lagu Telomoyo demikian pula. Karena syair lagu berupa pantun yang bebas dibuat oleh si penyanyi, maka kemudian nama pengarang lagu entah sengaja atau tidak, tidak dicantumkan. Suatu hal yang justru membuat kita kehilangan jejak tentang siapa pengarang lagu-lagu yang sangat indah dan abadi tersebut.
Dengan temuan jawaban seperti ini, maka kita tidak perlu lagi menanyakan mana syair Telomoyo yang asli bukan ?
Hm, kalau syair lagu diserahkan ke penyanyi.
(Widarto)
|
Telomoyo (Syair versi-1)
Hasrat hati ingin berlagu Membawa Telomoyo nama lagunya
Reff : Oh oh inilah keroncong asli sejak jaman dulu kala Untuk menghibur hati pendengar semua.
Keroncong Telomoyo tetap kan bergema. Hati yang sedih tuan, kembali gembira
|
Telomoyo (Syair versi-2)
Bagian I. Ribu ribu anak menjangan Jiwa manis indung sayang anak menjangan
Reff : Hai, jiwa manis indung sayang anak menjangan Turun kesawah tuan hai memakan padi
Rama-rama nona manis dipinggirlah kali Yang baju merah taun manislah sekali
Bagian II. Biar seribu melarang jangan Jiwa manis indung sayang melarang jangan
Reff : Hai, jiwa manis indung sayang melarang jangan Kalaulah cinta tuan, pastilah terjadi
Dari Malang nona manis ke Surabaya Kalaulah pulang nona bersamalah saya
|
Baktimu Kartini, Terkenang sampai kini
Bulan April merupakan bulan kelahirannya, bulan April diperingati sebagai hari Kartini, hari emansipasi wanita Indonesia.
Kartini yang lahir sebagai anak bupati, yang berjuang justru bukan dengan pedang atau ilmu silat, atau ilmu kanuragan. Dia justru berjuang dengan cara lain, berjuang membangkitkan kekuatan wanita, bukan membangkitan kemampuan olah senjata, namun dengan membangkitkan olah pikir, yang kelak terbukti bahwa ’senjata olah pikir’ ini justru menjadi senjata yang sangat ampuh dan berkembang dari hari ke hari. Wanita Indonesia berusaha untuk sekolah, menuntut ilmu, menjadi cerdik pandai. Betapa banyak wanita Indonesia yang saat ini sedang atau pernah menempati posisi sangat penting di segala bidang di negri ini, dari petani, pedagang, pegawai, wakil rakyat, direktur perusahaan sampai mentri dan presiden.
Kartini adalah tokoh atau yang ditokohkan sebagai tokoh perjuangan wanita, tokoh emansipasi wanita Indonesia. Kartini merupakan simbol yang ’menjadi panutan’, menjadi referensi bagi wanita untuk maju. Wanita seakan menjadi malu jika tidak pintar, jika tidak maju, tidak berperan dalam hidup berkeluarga, berbangsa dan bernegara. Wanita seakan ’diawasi’ oleh Kartini segala tindak tanduknya, kepandaiannya, perannya, sumbangsihnya bagi negara dan bangsa. Dari skala yang kecil, menengah sampai besar. Dari ukuran rumah tangga, rukun tangga, sampai cakupan senegara.
Sejauh wanita melangkah, sehebat perempuan berprestasi, setinggi kaum ibu menapaki tangga, Kartini tetap merupakan tonggak, titik tolak kemajuan wanita Indonesia.
Kartini telah tiada, namun namanya tetap harum dan abadi. Jasanya tetap dikenang sepanjang masa. S. Darmodjo mengenang jasa Kartini dengan keroncong Baktimu Kartini, yang sangat pas antara kata-kata dan lagunya. Melankolis dan seakan sebagai lagu pengantar Kartini menuju alam kelanggengan, menemui Sang Maha Pencipta, serta melambaikan tangan menyemangati wanita Indonesia untuk maju, bahu membahu dengan kaum lelaki.
Kr. Baktimu Kartini
Cipt. S. Darmodjo
Dengan senyum di bibirmu
kau tinggalkan dunia ini
namamu yang harum
akan tetap abadi
Jasamu selalu terukir dalam
jiwa semua bangsamuindah berhias nama
terpancang di pusaramuOh Kartini bunga bangsa
kan kuteruskan bhaktimu
panggilan namamu suci
pembela ibu pertiwi
Semanggi Suroboyo
Mengajak wisata kuliner di kota pahlawan
Oleh Widarto
Lagu keroncong yang bercerita tentang tempat-tempat wisata atau tempat-tempat yang layak dikunjungi banyak jumlahnya, misalnya Telaga Sarangan, Tirtonadi, Waduk Gajah Mungkur, Di Tepi Sungai Serayu, Bandung Selatan, Sela Bintana sampai Bandar Jakarta, dan tentunya masih banyak lagi. Mendengar lagu-lagu itu, serasa kita pengin sekali berkunjung ke tempat itu. Atau dengan kata lain dengan lagu kita bisa juga mempromosikan tempat wisata, atau setidaknya memperkenalkan suatu tempat yang layak untuk dikungjungi, minimal diingat namanya.
Lagu keroncong yang bercerita tentang makanan atau kuliner --yang saat ini sedang marak di acara-acara televisi-- masih kurang dan mungkin baru ada beberapa saja. Salah satunya adalah Semanggi Suroboyo, yang mengajak pendengarnya untuk berkunjung ke Surabaya dan menikmati makanan khas Surabaya, atau bahasa populernya, mengajak wisata kuliner ke Surabaya.
Lagu ini sederhana, namun selain enak dinikmati juga pesannya sangat jelas, yaitu memamerkan dan menjelaskan makanan yang bernama ‘semanggi suroboyo’, sedangkan makanan bernama ‘lontong balap wonokromo’ hanya sebagai pelengkap agar syair indah dibaca.
Semanggi Suroboyo seperti diceritakan di lagu itu terdiri dari sayuran semanggi, krupuk puli, cukulan, tempe dan tentunya bumbunya yang semacan bumbu pecel. Mungkin masih ada lagi komponen makanan semanggi ini, hanya tentunya tidak bisa dimuat dalam syair lagu ini.
Yang menarik dari syair lagu ini, bahwa unsur makanan semanggi ini terasa aneh di telinga yang mendengar, misalnya ‘daun semanggi’ mungkin di tempat lain tidak ada yang memakannya (sekalipun katanya sangat bermanfaat bagi kesehatan), kemudian krupuk puli yang terbuat dari nasi dan ‘garam bleng’, ‘cukulan’ atau kecambah, tempe dan bumbu yang terbuat dari kacang dan ubi jalar. Aneh bukan?
Dengan kekhasan makanan bernama ‘semanggi suroboyo’ ini, kalau digalakkan lagi melalui berbagai media dan lagu, mungkin makanan ini akan populer kembali. Tentunya kalau makanan ini populer, orang akan mencari lagu ‘semanggi suroboyo’. Antara lagu dan makanan akan saling mengisi, saling memberi, saling bersinergi.
Kalau di atas disampaikan bahwa lagu tentang tempat wisata akan mengajak pendengarnya mengunjungi tempat wisata tersebut, maka lagu tentang kuliner juga akan membawa penikmatnya untuk mencoba kuliner dari lagu yang dinyanyikan, yang kemudian bisa saja menyenangi makanan tersebut dan menjadikannya sebagai makanan langganan yang sering dinikmati, bersama teman, bersama keluarga. Kalau hal ini sukses, maka wisata kuliner yang sedang digalakkan untuk menggerakkan roda ekonomi khususnya ekonomi rakyat bisa berhasil.
Semakin banyak lagu tentang kuliner akan semakin baik, ini sekaligus sebagai partisipasi dalam mempopulerkan makanan, baik makanan khas suatu daerah, khas bahannya, maupun makanan lain khas Indonesia, dan tentunya sebagaimana keroncong sebagai musik khas Indonesia, maka kita tidak perlu mempopulerkan makanan yang dari negara lain.
‘Semanggi suroboyo’, sederhana lagunya namun enak didengar, mudah diingat dan memberi kesan tersendiri bagi pendengarnya, serta mengajak orang untuk ‘penasaran’ dengan makanan bernama ‘Semanggi Suroboyo’ tersebut.
‘Semanggi suroboyo’ mengingatkan kita untuk mempopulerkan makanan melalui lagu, atau mempopulerkan lagu melalui makanan. Mempopulerkan makanan melalui lagu adalah membuat lagu tentang makanan, tentang kuliner dari suatu kampun, kota, pulau, provinsi atau malah dari senatero negara. Lagu yang asyik, yang mendorong orang untuk menggemari makanan itu dan atau mengunjungi tempat dari mana masakan tersebut berasal.
Sebaliknya mempopulerkan lagu melalui makanan maksudnya kita bisa membuat lagu tentang suatu makanan yang populer, agar sang lagu mudah dikenal, disenangi dan akhirnya akan mendapatkan popularitas lagu tersebut.
Mana pilihan kita diantara kedua hal di atas? Semua benar.
Hal yang perlu segera dilakukan adalah merealisasikannya. Membuat lagu tentang makanan, dengan niat memepopulerkan makanan melalui lagu maupun mempopulerkan lagu melalui makanan. Monggo.
Semanggi Suroboyo
Ciptaan : S. PadiminSemanggi Suroboyo lontong balap Wonokromo
Dimakan enak sekali sayur semanggi krupuk puli bung semanggiHarganya sungguh murah, sayur semanggi Suroboyo
Dijual serta didukung masuk kampung keluar kampung bung mariReff :
Sedap benarlah bumbunya dan enak rasanya
Sayur semanggi, cukulan dicampurnya dan tak lupa tempenyaMari Bung coba beli sepincuk hanya setali
Tentu memuaskan hati sayur smanggi Surabaya bung mari
Catatan :
-
Tanaman semanggi adalah tanaman air dengan helai daun berjumlah 4 untuk tiap tangkai daun. Jembatan Semanggi di Jakarta yang terinspirasi dari daun semanggi, kalau dilihat dari atas berbentuk seperti daun semanggi.
-
‘Pincuk’ = tempat makan terbuat dari daun pisang
-
Setali = nilai uang sebesar seperempat rupiah.
Mata Air Pegunungan
Kalau air harus dibeli . . . . .
Jaman saya kecil, saya sering mendapat cerita bahwa di negara-negara tertentu air bersih sangatlah sulit didapat, bahkan pernah mendatangkan bongkahan es besar yang diambil dari dari kutub selatan yang di-‘bungkus’ dengan plastik kemudian ditarik dengan kapal besar ke negara tersebut. Terbayang betapa sulit dan mahal ongkosnya. Oleh karena itu harga air di negara tersebut lebih mahal dari harga bensin . . . . .
Di Indonesia yang terkenal subur makmur ini, air bersih tinggal mengambil di sumur-sumur sekitar rumah, atau di sumber mata air yang terdapat di lereng gunung dan di banyak tempat di sekitar kita. Luar biasa !
Memang Indonesia sangat subur, sehingga tumbuh apa yang serba ditanam dan murah apa yang selalu di beli, dan sudah pasti air merupakan barang gratis. Tentunya kecuali di daerah-daerah yang curah hujannya sangat sedikit dan di pulau-pulau kecil yang tanahnya tidak bisa dan cukup untuk menyimpan air yang datangnya dari langit, air hujan.
Air dari pegunungan itu, yang muncul dari balik pepohonan, menjelma menjadi sumber air nan jernih dan biru, kemudian mengalir ke tanah yang lebih rendah, melalui sungai, mengairi sawah penghasil padi dan syuran, membasahi ladang yang memberikan palawija (singkong, jagung, kedelai, dll), bunga-bungaan, serta tanaman lainnya. Tentunya air yang mengalir dari pegunungan ini juga akan mengisi sumur-sumur yang ada di seantero desa yang dilalui.
Fenomena baru kemudian muncul. Air dari sumber yang besar di pegunungan ‘diambil’ oleh perusahaan air minum, yang akan mengalirkannya ke kota-kota melalui pipa-pipa besar yang menembus desa-desa. Alhasil pengairan sawah ladang menjadi berkurang. Yang dulu sawah, yang memerlukan banyak air untuk menghidupinya dan menghasilkan padi nan enak, kini tidak kuasa lagi, sawah telah berubah menjadi ladang yang hanya menghasilkan singkong dan jagung.
Yang dulu ladang penghasil jagung, kini menjadi kebun tanaman keras, karena air juga tidak jukup untuk menumbuhkannya.
Karena air mengalir melalui pipa, tidak melalui sungai dan kampung, maka selain petani kekurangan air, berkurang pula pasokan air di sumur-sumur penduduk kampung.
Pendatang baru yang mengambil air dari sumber di pegunungan bertambah lagi, yaitu dengan menjamurnya ‘pabrik air minum’ yang menjual air dalam botol-botol di kota dan desa. ‘Pabrik air minum’ ini mengambil air dari pegunungan dalam jumlah banyak dan mengangkutnya ke pabrik menggunakan mobil tangki – mobil tangki. Maka kalau dulu dari pegunungan air mengalir melalui sungai nan jernih dan biru, sekarang banyak air mengalir melalui jalanan, melalui mobil tangki. Sepanjang jalan, sepanjang waktu, sepanjang hari.
Di Indonesia yang subur makmur ini, kemudian muncul tontonan aneh, yang tidak terbayang jama saya kecil. Kini air bersih tidak –semua-- gratis lagi. Air perlu dibeli. Sekarang air putih harganya bisa lebih mahal dari harga bensin. Air mahal bukan hanya cerita dari negara manca . . . . .
Bagi rakyat kecil, membeli air artinya semakin membebani yang pendapatanya memang sudah kecil itu.
Lagu Mata Air Pegunungan mencoba memotret fenomena ini . . . . .
Selamat merenungi
(Wd)
Mata Air Pegunungan
Jernih mengalir
Dari balik pepohonan
Air memancar
Memenuhi aliran kali
Sawah membentang
Sbagai tanda kehidupan
Jiwa bergetar
Memeluk ibu pertiwi
Kini,
air mengalir
melewati jalanan
bertangki-tangki
tiada henti
Duhai manis-ku
Dengarkanlah jejeritan
Orang kehausan
Karna air harus dibeli
Lyrics : Haris Shantanu
30 April 2008
BAHANA PANCA SILA
Membahanakan Panca Sila
Sebelum Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, diadakanlah persiapan-persiapan kemerdekaan, diantaranya adalah menyiapkan lambang negara dan dasar negara. Lambang negara akhirnya dipilih burung garuda, sementara dasar negara diputuskan bernama Panca Sila, panca berarti lima dan sila berarti dasar. Keputusan menetapkan Panca Sila sebagai dasar negara terjadi tanggal 1 Juni 1945, maka kemudian tanggal 1 Juni 1945 dianggap sebagai hari lahirnya Panca Sila.
Panca Sila sebagai dasar negara sangatlah bagus, sangat hebat, sangat mulia. Oleh karena itu ada orang Jepang yang berkata bahwa kalau dasar negara Jepang adalah Panca Sila, maka pastilah jauh lebih makmur dari yang dicapai saat ini.
Sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa. Nah, dengan sila ini seharusnya di Indonesia ini tidak ada penyelewengan, kejahatan, kerusakan, sebab semua orang Indonesia merasa tindak tanduknya selalu diawasi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, seumpama seseorang lepas dari jerat hukum negara, hukum Tuhan masih menunggu . . . . .
Selain itu semua orang juga akan semangat memelihara alam ini, negara ini, sesuai perintah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sila kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradab. Jelas sila ini mengungkit sisi kemanusiaan dari kita semua. Jadi kalau semua orang menjalankan sila ini, tidak akan ada pemerasan, ketidak adilan, penistaan, pelecehan. Semua akan hidup harmonis, tenteram dan adil.
Sila ketiga : Persatuan Indonesia, ini juga jelas sekalipun kita berbeda ras, agama, suku dan golongan, semua tetap satu sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Sila keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Ini juga mengajak semua untuk memilih wakil rakyat. Nah, setelah wakil rakyat terpilih kita serahkan aspirasi kita kepada mereka. Jadi tidak perlu pada demo, sebab ’kepentingan’ semua orang sudah diwakili. Tentunya kalau wakilnya bisa menjaga amanah dengan baik.
Sila kelima : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini juga mengajarkan kepada semua warga negara untuk selalu berbuat adil, memberikan kepada orang sesuai porsinya, sesuai kontribusinya. Yang banyak berbuat baik perlu dihargai lebih, yang lebih ’nakal’ ya hukumannya harus ’lebih berat’, begitu seterusnya.
Sungguh, Panca Sila merupakan dasar negara yang sangat-sangat agung dan hebat. Kalau semua orang bisa mengamalkan dengan baik, maka percayalah Indonesia akan segera makmur aman sejahtera.
Oleh karena itu Panca Sila perlu disebarluaskan, perlu disosialisasikan, perlu ditanamkan ke lubuk hati setiap orang Indonesia, terutama generasi muda, sehingga kelak mereka akan menjadi pengamal Panca Sila yang baik, yang konsekuen dan konsisten.
Budiman BJ mengajak mengamalkan Panca Sila tersebut dengan gayanya, dengan kemampuannya, dengan lagunya, ’Bahana Panca Sila’. Lagu ini selain mengajak kita semua terutama generasi muda untuk meresapi, menghayati dan mengamalkan Panca Sila secara dini (selagi masih muda belia), serta mengukirnya di setiap dada, juga mengajak kita semua untuk mengamankannya dari rong-rongan ideologi lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.
Selain syairnya indah dan penuh makna, lagu ini juga termasuk indah untuk didengar dan ’sulit’ dinyanyikan. Tidak heran sekalipun lagunya enak didengar, juga jarang terdengar . . . .
Dan tahun 80-an lagu ini sering sekali dipilih menjadi lagu wajib dalam lomba keroncong. Anda tentu setuju dengan saya bahwa lagu ini memang ’enak’, bukan ?!
Bahana Panca Sila
Oleh : Budiman BJ
Gagah laksana wajah perwira
Membahana di seluruh nusantara
Mengemban tugas suci
Lambang negriku jiwa bangsaku bangsa Indonesia
Reff : Bermukim di setiap dada
Bersatu padu jiwa dan raga selaras kata bhineka tunggal ika
Amalkan Panca Sila sedini
Wahai kau putra pertiwi
Resap hayati makna sejati
Teguh kukuh amankan selalu
Panca Sila dasar negaraku
Serta pribadi bangsaku
---ooo000ooo---
KALAU BIDADARI TURUN DARI KAYANGAN
Tahun 60-an atau jauh sebelum itu sarana komunikasi masih sulit, arus informasi masih sangat lambat. Media komunikasi terbatas pada koran yang belum banyak, baik jenis maupun jumlahnya dan radio itupun hanya RRI. Buku juga masih mahal dan terbatas. Alhasil penyebaran informasi lebih banyak dari mulut ke mulut.
Seni budaya banyak menyebar lewat radio yang hanya dimiliki oleh ’orang kaya’ dan sumbernya juga hanya dari RRI. Di sisi lain, panggung pertunjukan justru lebih banyak muncul, baik itu kelas kampung yang sangat sederhana maupun kelas kota yang lebih profesional.
Dengan keterbatasan informasi ini, maka penyebaran informasi dari mulut ke mulut lebih mendominasi, entah itu berita dari pemerintah, kabar perdagangan, cerita wayang, sejarah, sampai cerita rakyat.
Cerita-cerita rakyat memang lebih banyak disebarkan dari mulut ke mulut, dari kakek-nenek ke bapak-ibu lalu menurun ke anak-cucu. Tiap malam bulan purnama, di kampung yang belum berlistrik, jika tidak hujan, di sana orang menggelar tikar di halaman rumah, kemudian orang tua bercerita ’cerita-rakyat’ dan anak-anak mendengar dengan hikmat. Cerita itu –karena tidak ada lainnya— yang dibawakan dengan sangat baik, penuh ekspresi, membawa pendengarnya ke alam kisah, hanyut terbawa cerita, membekas di hati, bahkan sebagian anak-anak –dan orang tua malah-- hampir meyakini bahwa kejadian di cerita itu benar-benar ada, nyata di sekitar kita.
Salah satu cerita rakyat yang sangat terkenal adalah cerita tentang bidadari dari kayangan –tempat para dewa-- yang turun ke bumi. Ada banyak versi tentang bidadari ini, tiap daerah mempunyai kisah sendiri. Berbeda di Jawa, lain Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, sampai Papua. Kadang para bidadari ini turun ke bumi dengan meniti pelangi.
Kisah Jaka Tarub dan tujuh bidadari –yang salah satunya bernama Nawang Wulan--, kisah Baru Klinting, sampai Nyi Rara Kidul merunut ke sana.
Cerita paling umum alias populer adalah turunnya para bidadari ke sebuah telaga yang airnya jernih membiru, terletak di tengah hutan belantara, jauh dari mana-mana. Di sana para bidadari bersuka ria, bersendaru gurau dan mandi bersama.
Di riwayat lain, para bidadari itu turun untuk menggoda para pertapa di tengah hutan. Maka kalau ada pelangi –atau kadang disebut juga dengan teja--, orang tua mengatakan ada pertapa yang sudah berhasil dalam pertapaannya.
Pada masa tahun 60-an atau sebelum itu banyak pula lagu yang diciptakan terinspirasi dengan cerita bidadari yang turun ke bumi itu. Dua contoh lagu yang berkisah tentang turunnya para bidadari ini adalah lagu Dewi Murni dan Lagu Telaga Biru. Coba simak saja dua lagu tersebut. Tentunya sebelum itu, silahkan membayangkan ada sebuah telaga atau danau di tengah hutan, airnya sangat jernih dan membiru warnanya. Di tepian telaga pohon-pohon besar mengelilingi, dan diatas pohon burung-burung berkicau dan bersarang di sana. Di sekitar telaga tumbuh bunga berwarna-warni dengan baunya yang harum menggoda. Pada pagi yang cerah itu tiba-tiba dari balik awan muncul tujuh bidadari terbang dengan selendang sutra sebagai sayapnya dan meluncur turun melalui lingkaran pelangi menuju ke telaga nan biru. Dan malamnya ketika bulan purnama, para bidadari bernyanyi bersuka ria, dengan suaranay yang merdu merayu . . . . .
Sudah membayangkan? Kalau sudah silahkan simak –atau dengarlah-- lagu-lagu ini.
Dewi Murni
Cipt : Lagu : Sariwono Lirik : Utjin N
Dewi Murni berkembenkan sutra ungu *)
Melambai meriak rasa
Semerbak memenuhi
Angkasa beralih biru.
Reff :
Di baliknya awan
Membayang pelangi beraneka warna
Menantikan sang Dewi Murni
Turun bermandi di telaga dewa
Kuntum bunga semua
Serentak mekar menyebar wangi
Untuk menyambut Dewi Murni
Bertiti pelangi turun mandi
Catatan :
*) Kemben = kain panjang yang dipakai wanita sampai dada
Telaga Biru
Cipt : NN
Waktu bulan mulai bercahaya
Pancarkan sinarnya
Berkilauan air di telaga
Telaga biru maya
Di tengahnya bambu sejuta
Menghijau warnanya
Gemilang sinarnya di telaga
Telaga biru maya
Reff : Di waktu malam bulan purnama
Terdengar nyanyian surga
Bidadari yang bersuka ria
Menghibur hati di telaga
Di tengahnya rimba nan sunyi
Telaga bidadari
Bunga surga yang mengharumi
Telaga biru suci
Wd
