Koko Thole : sang peziarah keroncong
“Terlalu agung kalau keroncong hanya dikelola oleh sebuah organisasi”
Demikian yang selalu disampaikan oleh seorang Joko Priyono, laki-laki kelahiran Magelang, 11 Maret. Tidak asing sosok Joko Priyono bagi pelaku, penikmat dan pemerhati keroncong di tanah air, karena ia adalah seorang yang lebih dikenal sebagai Koko Thole. Bagi seorang Koko Thole, keroncong adalah sebuah mahakarya seni yang akan sangat lambat pergerakannya apabila hanya diurusi oleh sebuah organisasi yang concern terhadap musik ini. Oleh karenanya, Koko berharap akan semakin banyak tumbuh organisasi-organisasi keroncong lain, namun banyaknya organisasi harus mengacu kepada penguatan, bukan kemudian dianggap sebagai sebuah persaingan yang tidak sehat.
Kebulatan tekad Koko Thole untuk terus belajar keroncong tak pelak lagi salah satunya dipicu oleh sebuah SMS yang masuk ke telepon selularnya, “ He Koko, tahu apa kamu tentang keroncong ! “ hal tersebut menjadikannya mau terus menerus belajar, namun dengan situasi ini Koko Thole menyikapinya dengan bijak, “Lha wong cuma mau ikut mengembangkan keroncong aja kok ya dimusuhi. Apalagi kalo bikin sekolah , wah bisa diunek unekke.”
Filosofi Semar : dari keroncong asli hingga congyang
Memasuki ruang studio OK Pesona Jiwa, dimana Koko Thole bergulat dan bersetubuh dengan keroncong terpampang sosok Wayang Semar di dinding. Dalam ruang yang hening, sosok Semar senantiasa mengetuk-ketuk hati seorang Koko Thole untuk terus berkarya dan semakin membuka diri bahwa keroncong seharusnyalah seperti sosok Semar yang menerima dengan luas seluruh pihak, dan memperjuangkan kejernihan hati. Serta tak lupa bahwa keroncong tetap harus mengakar di masyarakat, sedemikian sosok Semar adanya.
Dengan keluasan yang ada dan mau membuka diri menjadikan Koko Thole banyak gagasan yang mengalir dan mencoba mengartikulasikan gagasan melalui irama keroncong. Tantangan jaman semakin memacu Koko Thole untuk bisa semakin mendaratkan keroncong di bumi Indonesia di semua lapisan. Bermula dari gagasan tersebut muncul kemudian istilah CONGYANG, atau Keroncong Goyang Pesona Jiwa yang sempat beberapa kali mengisi gebyar Keroncong di TVRI. Kegelisahan demi kegelisahan menemukan solusi dengan makin banyaknya aransemen baru keroncong dari sosok Koko Thole.
“Saya hanya ingin mencoba lebih mengenalkan keroncong ke kalangan anak muda. Dan ingin menunjukkan bahwa keroncong itu bukan hanya milik orang tua saja. Keroncong tidak klemar klemer bikin ngantuk. Tapi keroncong juga bisa untuk goyang,” demikian Congyang didesain untuk menyentuh segmen generasi muda dalam upaya mengenal keroncong. Seperti pemeo, tak kenal maka tak sayang. Begitulah salah satu upaya yang dilakukan.
AMI Award 2009 : tidak ada kata terlambat
Tahun 2009 merupakan tahun yang sangat menggembirakan bagi seorang Koko Thole. Bertahun-tahun selalu masuk dalam nominasi AMI Award dan baru di tahun 2009 ia menjadi pemenang. 2 buah penghargaan sekaligus.
Sebuah pengakuan yang bisa jadi terlambat dibanding dengan prestasi dan karya yang telah dibuatnya. Bahkan di balik kiprahnya di dunia musik keroncong, AMI 2009 yang diraihnya malah dalampenghargaan karya Produksi Terbaik dalam Album Lagu Berbahasa Daerah, sementara untuk musik keroncong menjadi nominator untuk Album All New Keroncong Indonesia.
Di luar AMI Award penghargaan buat Koko Thole, termasuk dalam hal ini adalah Penghargaan dari Indonesia Books Of Record - Pertama Di Indonesia Menciptakan lagu sesuai tema acara per minggu satu lagu dalam acara Canda Sinden SCTV sejak 24 Agustus 2004 (lebih kurang 70 lagu). Selain itu keterlibatan dalam lomba juga membuahkan hasil dengan menjadi Juara III dan IV Karya Cipta lagu Jawa tingkat Nasional 1993 (Penyanyi Anastasia Astuti & Sundari Sukoco ).
Jalan Pedang: dari Gebyar Keroncong hingga Opera van Java
Bila seorang samurai memilih jalan pedang, maka Koko Thole memilih jalan musik. Karya musiknya terus mengalir bahkan dapat dikatakan untuk musik keroncong Koko Thole bersama OK Pesona Jiwa-nya memberi kontribusi yang sangat besar.
Di rumahnya Koko Thole memiliki studio musik. Dari studio inilah mengalir karya-karya yang yang tak pernah berhenti. Karya yang selalu hadir dalam keseharian bagi pemirsa televisi baik dalam gebyar keroncong yang seminggu sekali hingga Opera van Java yang muncul hampir tiap malam. Dalam Gebyar Keroncong, jingle pembuka dan sela lahir dari ruang studio miliknya. Dengan memilih jalan musik, maka mendengarkan musik dan menghasilkan karya musik merupakan linkaran yang tak pernah terputus, hanya dengan demikian dihasilkan karya original, bukan karya jiplakan.
Totalitas seorang Koko Thole tidak bisa dilepaskan dasri dukungan Reni Farida sang istri yang telah memberinya 3 anak. Dukungan keluarga memberi kekuatan lebih. Canda dari Putri Nabila Chandra Kirana, Paramitha Putri Nirmala dan Anugrah Luhur Pawenang memberi gairah baru. Anak-anak telah menjadi berkat yang mempu mengobarkan nyala api secara terus menerus. Berkarya tiada henti. (wied&mboets2000)
Biodata :
| Nama Lengkap | Joko Priyono | |||
| Nama Artis |
Koko Thole |
|||
|
Tempat/Tgl Lahir |
Magelang,11 Maret |
|||
|
Isteri |
Reni Faridah |
|||
|
Anak |
1.. Putri Nabila Chandra Kirana 2. Paramitha Putri Nirmala 3. Anugrah Luhur Pawenang |
|||
| Alamat |
Pondok Damai No 2 Depok |
|||
|
Pekerjaan |
Pemusik |
|||
|
Hobby |
Mancing dan Makan Ikan |
|||
|
|
|
|||
|
Prestasi |
|
|||
|
Album |
|
|||
|
Jingle |
|
|||
|
Ilustrasi Film |
|
|||
Tuti Maryati
Mengibarkan Bendera Keroncong
Tahun 1974, di Pasukan 8 Paskibraka berjalan tegap Tuti Maryati muda, sebagai pemegang duplikat Bendera Pusaka. Dengan semangat Merah Putih, Tuti Maryati mengibarkan bendera keroncong hingga saat ini.
“Musik Keroncong merupakan kekayaan Bangsa Indonesia yang seharusnya di lestarikan keberadaannya, bukan hanya dimulut dan cita-cita tetapi harus diwujudkan dengan tindakan yang seutuhnya untuk kemajuan keroncong itu sendiri. Saat ini seniman Keroncong dapat dihitung dengan jari, dan yang hanya sedikit ini pun kurang bisa berkomunikasi. Kita sering mendengar bahwa musik keroncong pernah/ sudah diklaim negara tetangga, nnaah...., mulailah kita berteriak bahwa musik Keroncong adalah asli budaya Indonesia.” Papar ibu 7 anak ini melalui surat elektroniknya.

Tuti Maryati
Terlahir di Ujung Pandang , 08 Oktober 1956 Tuti Maryati, masa remajanya dihabiskan di tanah sunda. Sebagai individu yang multi-talent menjadikan Tuti Maryati memiliki banyak aktivitas dan berprestasi. Sebagai salah satu anggota Paskibraka adalah salah satu prestasi yang dicapai, bahkan di tahun 1975, ia terpilih pertukaran pelajar dalam “Indonesia-Canada World Youth Exchange Program”. Dan masih banyak lagi prestasi yang ditorehkan Tuti muda yang berparas manis ini.
Dalam bidang tarik suara, khususnya keroncong prestasi Tuti Maryati bisa dikatakan sangat menonjol, dan membawanya ke berbagai negara. Di level festival dan kejuaraan menyanyi keroncong berbagai gelar diraihnya. Juara Bintang Radio – TV diraihnya pada tahun 1986, setelah sebelumnya sempat juga menyabet gelar Juara I Lomba Keroncong Antar Kotama TNI-AL Se-Jakarta pertama dan kedua pada tahun 1983.
Pesta Perak Keroncong
Kecintaan Tuti muda pada keroncong berlanjut hingga kini, dan tak terasa telah mencapai Tahun Perak-nya. 25 tahun sudah Tuti Maryati bergelut dengan musik keroncong. Hidupnya telah melekat dengan keroncong. Lebih dari 15 album keroncong telah di-release, baik menyanyikan lagu keroncong lama maupun lagu keroncong yang baru.
Selain disibukkan dengan aktivitas ber-keroncong, Tuti Maryati juga bekerja sebagai Master of Ceremony (MC), dan hal ini sangat didukung oleh kemampuannya berolah vocal. Dunia MC dan keroncong tidak bisa dipisahkan dari Tuti Maryati. Pengalaman sebagai penyanyi keroncong Tuti juga sangatlah menarik, manakala diperkenalkan sebagai Juara Keroncong BR-TV, maka pengunjung serentak mengatakan ”huuuuuuu”. ”
”Sebutan juara BRTV (Bintang Radio dan TV) tak jarang yang meneriakkan ”huuuu... Namun saya tidak kecil hati. Karena saya merasa bukan penyanyi keroncong, maka saya buka dengan lagu yang paling Hit disaat itu, hasil nya tepuk tangan meriah bergema dilapangan atau gedung dimana saya menyanyi... lalu di akhir penampilan, saya bawakan mereka lagu Keroncong dan audiens pun memberikan tepuk tangan yang meriah pula.”, katanya ketika ditanya bagaimana supaya bisa tampil prima dan memukau di hadapan penonton.
“Saya jadi heran, mengapa musik ini dianggap kuno, atau membuat pendengarnya ngantuk... Mungkin karena para penyanyinya berkesan statis, lagunya hanya itu-itu saja, atau memang tidak adanya para produser yang mau merekam dan mengiklankannya di TV, sehingga musik ini kurang berkembang”, imbuhnya.
Di pesta perak keroncongnya. Semangat Tuti Maryati terus menyala.
Sanggar Keroncong Tuti Maryati
Kegundahan akan perkembangan musik keroncong yang statis tidak menjadikan Tuti Maryati patah semangat. Bahkan, api semangatnya berkobar-kobar, ini bisa dilihat dari kegiatan Tuti dalam melatih anak-anak muda untuk bernyanyi keroncong di rumahnya. Cukup banyak anak-anak yang datang ke rumahnya untuk belajar menyanyi keroncong, dan dari kegiatan ini Tuti masih memiliki harapan besar bahwa keroncong pasti akan berkembang.
Kesempatan untuk menguji kualitas suara anak didik di Sanggar Keroncong Tuti Maryati, untuk saat ini telah tersedia ruang dan waktu, taitu di Warung Keroncong Gaul (WKG). WKG sendiri didirikan oleh Tuti Maryati sebagai media berkumpulnya insan pecinta keroncong. Disamping itu WKG juga disediakan bagi para penyanyi keroncong muda yang ingin menjajal suaranya dan dinikmati pengunjung yang datang di warung tersebut. Dari sanggar tersebut sudah lahir beberapa penyanyi keroncong muda yang telah pula masuk dapur rekaman, seperti Sriyono, seorang tuna netra bersuara emas. Berangkat dari sanggar keroncong inilah asa masa depan keroncong digantungkan.
“Dengan saling menguatkan dan meyakinkan bahwa dengan memajukan Keroncong sebagai bagian dari budaya Indonesia, maka bangsa ini dapat maju seutuhnya, karena bangsa yang dapat menggahargai budayanya sendiri adalah merupakan bangsa yang bermartabat,” tuturnya berharap kepada segenap pelaku, penikmat dan pecinta keroncong. (wiwied-2009)
Biodata :
Nama Lengkap : Tuti Maryati
Tempat/Tgl Lahir : Ujung Pandang , 08 Oktober 1956
Suami : J. Sarwono
Anak :
-
Bimo Sarwono
-
mira agustin fiorina
-
adjeng sarwono
Alamat : Jl. Bukit Raya Cinere Komp. Bumi Pusaka Cinere no. A11 Cinere 14512 Sawangan, Depok
Pekerjaan : MC
Hobby : ngemong cucu
-
#Keroncong Asli, Parade Bintang Keroncong, (Campuran), 2005;
-
#Keroncong Pilihan Dari Masa Kemasa, Vol.04 (Kompilasi)
#Keroncong Pilihan Dari Masa Kemasa, Vol.3 (Kompilasi);
Prasitoresmi : sang penari yang menyanyi keroncong
Prasitoresmi!!! Bukanlah nama yang populer dalam dunia
keroncong Indonesia, apalagi dunia. Tidak banyak yang mengenal nama tersebut. Hal itu akan berubah jika nama Mamiek Marsudi yang disebut, maka segera orang teringat pada sosok perempuan manis dengan suara merdu mendayu.
Berbagai Negara telah dikunjunginya sebagai duta dalam misi kebudayaan, khususnya dalam dua jenis kesenian yang dikuasainya, menari dan menyanyi keroncong.
Perkenalan Mamiek Marsudi dengan musik keroncong belumlah lama, itu pun dimulai dengan ketidak sengajaan. Ketertarikan Mamiek pada musik keroncong dimulai ketika sang suami, Marsudi membawa oleh-oleh kaset keroncong hasil pemberian Manajer Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1983, Anton. Salah satu lagu memikatnya. Keroncong Bunga Sekuntum.
Hafal satu lagu, menjadi bekal yang mendasari Mamiek untuk mengikuti lomba menyanyi se Kelurahan Dukuh, di mana ia tinggal. Suara emas yang belum terasah itu pada akhirnya menjadi Juara I. Lomba 17 Agustus-an Tingkat Kelurahan mebawa Mamiek menapak ke jenjang yang lebih tinggi, karena selepas menjadi pemenang, Mamiek bergabung dengan orkes keroncong pegiring sewaktu lomba. Bakat semakin terasah.
Dari Wajah Baru hingga BRTV
Sososk Mamiek Marsudi dalam dunia keroncong malah lebih banyak di-support oleh sang ibu, melalui jalur organisasi kantor sang ibu yang memiliki group musik keroncong itulah Mamiek semakin bersinar. Mamiek bersama group keroncong di kantor sang itu mengikuti audisi di TVRI, dan akhirnya membawa Mamiek ke layer kaca pertama kali dalam acara Wajah Baru. “Saat itu kalau mau tampil, harus mengisi formulir dulu, dan menunggu teepon sampai dapat jadwal untuk tampil di TVRI. Jadi dulu itu tidak mudah untuk bisa menyanyi di TVRI,” paparnya.
Kemampuan bernyanyi keroncong memang tidak terlepas dari kondisi lingkungannya. Saat masih bergelut dengan dunia tari jawa tradisional, di bawah bimbingan Maestro Tari, Retno Maruti, Mamiek juga mendapat latihan nembangJawa. Cengkok tembang Jawa inilah yang memudahkannya bernyanyi keroncong.
Bermula dari Wajah Baru, suar merdu itu semakin terasah. Latihan keras menjadikan Mamiek Marsudi semakin berkualitas. Support dan arahan dari Budiman BJ sangat membantu Mamiek dalam mengingkatkan kapasitasnya sebagai penyanyi, terlebih meningkatkan self confidance-nya. Jatuh bangun dalam berbagai lomba pun dilaluinya. Sehingga pada lomba Keroncong menyanbut HUT PKBI ke-28 di tahun 1985 se-Jabotabek, ia menggondol Juara II.
Kisah sukses terus berlanjut, manakala dilaksanakan Lomba Bintang Radio dan Televisi (BRTV) tahun 1986. Rasa penasaran yang menggumpal menjadikan Mamiek terus mengiji kemampuan diri. Babak demi babak dilalui, hingga masuk ke 5 besar yang maji ke final BRTV, dan bersaing dengan Tuti Maryati, Wiwiek Sriono, Jenny Arbian dan Christine. Juara III BRTV diraihnya.
Duta Kebudayaan menyanyi di kamar mandi
Dukungan Marsudi (alm) kepada Mamiek sangat besar, khususnya dalam hal tari, bukan dalam musik keroncong. Sehingga di saat menjadi Duta Kebudayaan sebagai penari, support kepada Mamiek sangatlah besar. Sehingga, potensi suara emasnya menjadi sedikit banyak terkubur.
“Kala itu, almarhum suami hanya membolehkan menyanyi keroncong sebagai hobby, tidak sebagai penyanyi. Maka, saya tidak punya jam terbang menyanyi, dan profesi tetap hanya boleh sebagai penari traditional saja yang tidak banyak menyita waktu. Menyanyi tampil di TV saja boleh. Di sisi lain, mungkin juga karena anak-anak masih kecil dan masih sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan seorang ibu, jadi khawatir, kalau saya jadi penyanyi nanti engga sempat atau engga punya waktu mengurus anak,” paparnya sambil mengenang masa lalu.
“Walau tidak diberi kesempatan banyak ikut latihan (keroncong-red) di luar, tapi kalau laop-laop (teriak-teriak-red) sekuat tenaga di rumah sih tidak masalah. Dan untuk melampiaskan keinginan nyanyiku, aku rajin beli kaset-kaset keroncong. Setiap ada kesempatan nyanyi, setel kaset, sambil belajar menghafalkan baik kaset keroncong, kadang tembang-tembang Jawa, engga masalah, yang penting tidak keluar rumah. Dan kalau aku masuk kamar mandi, terus aku menyanyi di kamar mandi, almarhum terus bilang ama anak-anak, wah, alamat lama nih ibu mandinya kalau pakai nyanyi,” lanjutnya hening.
Latihan di kamar mandi inilah yang kemudian menggema di berbagai gedung seni pertunjukan, baik di Istana Negara, hingga ke pelosok benua, Asia, Australia, Amerika dan Eropa.
Pada penampilan di Perancis, sang Manajer gedung itu menyempatkan menemui rombongan dan berkata, bahwa ia sudah sering mendengar lagu Bengawan Solo, namun belum pernah mendengar Bengawan Solo seperti yang barusan dinyanyikan, seraya menunjuk ke arah Mamiek Marsudi sang penyanyi. Menurut penuturan Mamiek, bisa jadi sang manajer panggung belum pernah mendengarkan lagu Bengawan Solo dengan iringan musik keroncong asli.
Menatap masa depan keroncong
”Benar, anak-anak saya tidak ada yang mengikuti jalur musik keroncong, namun saya berharap banyak bahwa perkembangan. Jujur saya tidak terlalu yakin kondisi yang sebenarnya. Karena memang saya tidak terlalu terjun langsung di organisasi keroncong. Lagipula perkembangan di Jakarta dan di daerah sepertinya berbeda. Justru saya malah banyak tahu dari membaca di email komunitas keroncong, internet, juga di buletin Tjroeng, kelihatannya di daerah lebih bagus perkembangannya, juga organisasinya,” ketika Mamiek mencoba memaparkan pandangannya terhadap masa depan keroncong.
Realitas yang dihadapinya dan dijalani seorang Mamiek Marsudi seolah menjelaskan bahwa keroncong masih belum menjadi sajian umum. ”Kalau dari sisi ‘job’, tuk keroncong, saya sangat prihatin, dalam 10 tahun saya sebagai MC Pengantin Adat Jawa. Dalam setiap acara resepsi, hampir tidak ada yang pakai musik group Keroncong, . Dalam 10 tahun menjadi MC, saya hanya menemukan 3 kali yang memakai musik keroncong, itupun salah satunya ketika mbak Tuti (Tuti Maryati) mantu,” jelasnya dengan nada datar.
Dan sebuah gitar yang tergeletak di sofa, menantang untuk dicabik dawai-dawainya. Sehingga dentingnya mampu menembus relung-relung hati. Dentingan melodi gitar dan lincah petikan cello megajak semua untuk bernyanyi keroncong. Rindang pohon di depan rumah Mamiek Marsudi akan menjadi peneduh jiwa-jiwa keroncong yang gersang, dan semoga bisa menjadi penghilang dahaga manakala kehausan. (mboets)
Biodata
|
Nama Lengkap |
: |
Prasitoresmi |
|
Nama Pangilan |
: |
Mamiek Marsudi |
|
Tempat tanggal Lahir |
: |
Yogyakarta, 9 Juli 1956 |
|
Suami |
: |
Marsudi (almarhum) |
|
Anak |
: |
Jonet Sri Untoro (30 thn) Daru Hanurdoyo (27 thn) |
|
Alamat |
: |
Jln. Dukuh III/15. RT.002/005, ,Kramat Jati. Jakarta Timur 13550. |
|
Pekerjaan |
: |
MC Pengantin Adat Jawa Penyanyi Keroncong dan Campursari |
|
Diskografi |
: |
1988 GNP Dari masa ke Masa Vol. 5 (2 lagu) GNP Dari Masa ke Masa Vol. 6 (2 lagu) 1999 Boulevard Album Emas CSGK ( Campur Sari Gunung Kidul ) dengan Manthous : 5 lagu 2007 GNP Parade Bintang Keroncong (2 lagu) Keroncong Jenaka 2009 Smart Lagu Campursari (11 lagu) sedang dalam proses. |
Toto Salmon
Minggu pagi yang cerah, bertempat di Cempaka Putih Utara, kami dari Tjroeng di sambut dengan ramah sekali oleh Bapak Toto Salmon dan Keluarga. Sebelum memulai wawancara, beliau sempat menanyakan Buletin Tjroeng dan tentu saja kami tidak lupa membawakan edisi kelima tersebut khusus untuk beliau.
Di usianya yang ke-65 tahun di dampingi sang istri tercinta Ibu Tjitjik Sri Sutini, berdua tampak segar dan bersemangat sekali saat kami mulai bertanya tentang debut awal seorang Toto Salmon,
“ Kalau cerita soal karir menyanyi, saya ini mulai dari menyanyikan seriosa, guru yang mengasah kemampuan saya itu adalah Pak WS. Nardi, sekitar tahun 60-an saya yang lulusan sekolah tehnik sudah bernyanyi seriosa dengan teman-teman dulu, pernah tergabung dalam TDC alias Teenager Dance Club yang ‘twist all around’ pada jaman itu, ya ikut pop singer juga, nyanyi di Night Club juga…” katanya dengan ramah, waktu Tjroeng menanyakan apa yang membuat seorang Toto Salmon terjun dari seriosa beralih kepada musik keroncong, kemudian dengan tertawa beliau melanjutkan kisah karirnya,
“ Nah kalau dibilang ‘fight’ saya untuk keroncong, saya ingat sekali umur saya belum dua puluh lima tahun, saya lihat kok tidak ada anak muda yang membawakan lagu keroncong pada saat itu. Di situ saya mulai muncul dengan gaya penampilan yang berbeda, rambut panjang sebahu, dan zaman dulu itu penyanyi bernyanyi tanpa boleh memegang mic suara, saya ya mecahin aturan itu sebagai acting stage saya, ha… ha.. tapi malah juara keroncong terus kesana dan kesananya, “
Perjalanannya dari panggung festival ke panggung festival lain selalu membuahkan prestasi yang bagus memang seperti di tahun 1975 sampai dengan tahun 1982 beliau menempati posisi pertama bertahan selama dekade tersebut sebagai Juara I Bintang Radio dan Televisi se-DKI Jakarta dan Nasional dengan pilihan jenis musik keroncong. Dari arsip Harian Tempo Nomor Edisi 44/ 03 Januari 1976 di artikel Bintang Suara dan Gaya, menarik memaparkan komentar juri penampil Bapak Taufiq Ismail yang meyebutkan seorang Toto Salmon sebagai penyanyi yang muncul dengan tidak membosankan.
Deretan penghargaan yang beliau terima antara lain di th.1998, dari Anugerah Musik Indonesia dalam penghargaan Album Keroncong Tradisional Terbaik, th.2002 penghargaan Penyanyi Keroncong Sepanjang Masa dari Walikota Jakarta Barat, dan th. 2004 Penghargaan Orkes Keroncong Kreatif dari ASPINDO. Tentunya pantaslah seorang Toto Salmon menyandang gelar Maestro of Keroncong Music (http://www.totosalmon.com)
Pembahasan berlanjut kepada cara pandang positif seorang Toto Salmon terhadap musik keroncong yang sudah mulai ditinggalkan adalah bahwa dia tidak setuju dengan pandangan musik keroncong yang berasal dari Portugis, “ Kalau saya cenderung kepada anggapan bahwa pada dasarnya justru nenek moyang bangsa kitalah yang teramat cerdas hingga dapat membuat improvisasi dari alat musik yang ditinggalkan penjajah sehingga menemukan identitas musiknya sendiri dijaman penjajahan yang serba sulit itu, cerdas bukan?” katanya bersemangat,
Toto Salmon, Bapak dari lima putra dan putri ini tidak memaksa putra putrinya harus menekuni bidang seni musik terutama keroncong pada mereka, walaupun dibilangan rumahnya yang asri dan nyaman itupun beliau membuatkan studio khusus musik untuk anak-anaknya. tapi beliau yakin sekali dengan keberadaan keroncong yang kedepannya akan makin terangkat, salah satunya dengan kehadiran Buletin Tjroeng, “ Saya sangat antusias sekali dengan keberadaan bulletin troeng ini, sebagai media yang mengekspose anak-anak muda berkegiatan berkeroncong, tapi hanya saran saja agar pembaca tjroeng nanti tidak hanya dari kalangan komunitas keroncong saja, ya mungkin disisipkan padu padan jenis musik lainnya seperti pop, jazz atau lainnya, itu akan sangat bagus sekali, “ paparnya,
Tidak sia-sia Tjroeng bertandang kerumah seorang Toto Salmon di minggu pagi yang cerah, selain mendapatkan berita menarik, kami malah diajak melihat-lihat studio musik miliknya dan pulang dari sana pun beliau memberikan oleh-oleh CD Album Keroncong Asli sebagai koleksi Tjroeng tentu saja.
Jakarta, 23 November 2008
Kreativitas Bung Djaduk
Nama Djaduk Ferianto langsung mengingatkan pada musik dan kebudayaan. Kreativitasnya dalam dunia musik dan teater tidak diragukan lagi. Kelompok Kua Etnika dan Orkes Keroncong Sinten Remen tidak terlepas dari campur tangannya, dan pada sisi ini eksistensi Djaduk semakin dikukuhkan. Popularitas Djaduk Ferianto (44 tahun) tidak dibatasi oleh grup musik yang ia pimpin, namum jauh melampauinya. Keterlibatan mas Djaduk sebagai salah satu Juri dalam Akademi Fantasi Indonesia (AFI), juga dalam mendesain acara Pasar Rakyat menjadi poin tersendiri.
Ketika dihubungi oleh Tjroeng, Mas Djaduk memberikan beberapa respons yang luar biasa sehubungan dengan perkembangan musik keroncong di Indonesia. “Latar Belakang saya menggeluti keroncong, ya karena Keroncong adalah salah satu aset yang kita punya, saya ingin mencoba mengembalikan keroncong pada publiknya yang terkini. Artinya waktu telah berjalan, masyarakat juga berkembang,kita harus cepat tanggap dan harus kita olah tidak meninggalkan spriritnya . Produk seni bisa hidup karena didukung oleh masyarakatnya,” jelasnya..
Musik keroncong di tangan lelaki berewok yang juga aktif dalam penolakan RUU Pornografi terasa sangat berbeda dengan musik keroncong pada umumnya. Bersama kawan-kawannya di OK Sinten Remen, keroncong menjadi sangat dinamik dan kaya.
”Musik keroncong saya itu kelihatan modern pada saat ini,besok pasti gak modern juga to. Yang modern itu pikirannya bukan fisiknya. Urusan pakem dan tidak pakem itu bukan urusan saya. Karena saya masih manusia punya hak untuk berbuat syukur-syukur bisa mengembangkan. Kan yang bikin nilai-nilai tadi juga manusia to……jadi syah. Haa….ha…ha kan nggak ada UU nya orang bikin musik keroncong harus seperti yang mereka ugemi. Itu yang menjadikan ruang gerak kita sempit,” tegasnya menyikapi nasib keroncong yang miskin akan kreativitas.
Bebaslah berekspresi jangan takut …
Dibandingkan musik-musik lain, seperti Dangdut, Rock dan Pop, musik Keroncong nampaknya tertinggal jauh, terutama sekali bila dilihat dengan kacamata industri musik. Pada sisi ini, langkah yang diambil lelaki yang bertubuh cukup subur ini adalah berbuat semaksimal mungkin, selalu berkarya sebanyak mungkin. ” Berbuat semaksimal mungkin. Indrustri musik itu dikuasai sama pemilik modal, nah kita ini modalnya hanya semangat……ya sudah berjalan terus dan bekerja dengan jujur.”
Pada titik ini nampaknya industri musik jauh, meninggalkan keroncong di belakang. Tuntutan kreativitas dan menyikapi jaman secara lebih spontan nampaknya jauh dalam tema musik keroncong itu sendiri, sehingga nampak jelas bahwa musik keroncong masih terpaku pada musik yang nostalgic dan kurang bisa merespons perubahan jaman secara cepat. Gairah baru dalam dunia keroncong perlu dikembangkan.
Kegundahan hati Djaduk Ferianto terhadap musik keroncong sangat terasa. Dalam hal kehidupan seniman keroncong yang hidup di jalanan lewat ngamen atau pun pentas dari panggung ke panggung, meski hal ini secara riil mampu mengisi perut si seniman, namun hal itu nasibnya keroncong banget.
” Jangan diukur semacam itu, justru penilain semacam itu persis nasibnya keroncong banget. Mati tapi tak mau dibilang mati, sangat PeDe ( percaya diri ). Yang dianggap mati itu kreativitasnya. Tak ada usaha dan perkembangan yang signifikan. Kalaupun masih terdengar di jalanan itu kan masih sebatas memainkan repertoar lama, tidak ada yang baru.”
Hal paling dominan dan determinan yang menyebabkan keroncong tertatih-tatih dalam bersaing dengan musik-musik lain, menurut Djaduk adalah “ Kurang sigap dan cekatan untuk menanggapi perubahan yang sangat dahsyat ini. Maka dibutuhkan Syair dan Thema dah lumayan, tapi ruang gerak anda masih terkungkung dengan format itu sendiri. Bebaslah berekspresi jangan takut mas……jo sopan-sopan, Wong yang kita anggap sopan aja perilakunya gak sopan-sopan amat ha….ha….ha. Kreativitas.” katanya sambil menutup pembicaraan. (mboets)
SRI WIDADI MENGALIR BERSAMA KERONCONG
Seperti udara, keroncong menghidupinya. Layaknya kekasih, ia cintai iramanya sepenuh hati. Jiwanya melebur dalam setiap langgam yang ia nyanyikan. Katanya, keroncong dan anak-anak adalah dua sumber bahagia yang selalu menyediakan oksigen untuk terus bernapas. Membuatnya tak gentar menjalani hidup.
Nama Sri Wida
di lebih lekat dengan keroncong meski ia juga cukup sempat menjejakkan kaki di kancah musik pop. Namanya bersanding dengan nama-nama besar penyanyi era ‘70an seperti Toto Salmon, Dedy Damhudi, Ida Rasyid. Namanya tak juga tenggelam kala nama baru di ranah keroncong seperti Tuti Maryati dan Sundari Sukoco muncul. Karier musiknya mungkin tak melesat seperti meteor, tapi bertahan konstan dan berjalan stabil mengikuti perubahan. Hidup pun ia jalani layaknya menyanyikan sebuah langgam mendayu. Pelan namun pasti.
Debutnya Acara Selamatan Bayi
Keroncong memang nafas hidup wanita kelahiran Solo ini. Sejak kecil, musik ini telah mengakrabi hari-harinya. Ayahnya adalah seorang pemain melodi grup keroncong yang rutin berpentas di acara-acara hajatan di Solo dan sekitarnya. “Saya rajin ikut ayah manggung. Biasanya kami pergi naik sepeda yang dikendarai ayah. Saya anteng duduk di boncengan dan gembira menikmati perjalanan,” kenangnyan. Sri kecil kerap menemani ayahnya berpentas. Ia senang dengan keramaian yang terjadi di sekelilingnya dan tentu saja lantunan lagu keroncong yang dimainkan ayah dan kawan-kawannya.
Kebiasaan itu lantas membuat Sri akrab dan hafal beberapa lagu keroncong. Tapi berbeda dengan anak-anak sekarang yang sengaja ikut berbagai kompetisi untuk jadi penyanyi dengan dandanan heboh, kelahiran 1951 ini justru tidak ‘diplot’ untuk jadi penyanyi. Nyatanya, arus hidup menyeretnya masuk ke kancah musik keroncong. Debut pertamanya adalah acara selamatan Bayi di daerah Delanggu pada 1958. Kala itu, Sri masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar. “Suatu hari saya ikut ayah manggung bersama grupnya yang bermana Keroncong Petir. Kebetulan penyanyinya hanya satu. Lalu ayah menyuruh saya menyanyi. Sejak itu, saya selalu tampil bersama ayah,” kisahnya.
Maka Sri pun mengawali babak baru dalam kegiatan bermusik bersama sang ayah. Ia tak lagi hanya jadi penonton, “Lumayan, honornya bias jadi tambahan uang saku sekolah.” Sri masih dapat mengingat dengan jelas suasana panggung kala itu. “Karena belum ada listrik, listrik untuk pengeras suaranya dihasilkan dari aki dan speakernya besar sekali,” katanya sambil tertawa. Dengan tekun, ia jalani hari-hari menjadi penyanyi ‘hajatan’. Kualitas suara dan kemampuannya berinteraksi di atas panggung makin terasah seiring berjalannya waktu. Karir bernyanyinya terus berjalan ketika ia menikah dengan seorang wartawan dan memiliki tiga orang anak.
Selain tampil di berbagai acara, Sri juga rajin ikut berbagai perlombaan nyanyi yang kala itu marak seperti Lomba Pop Singer serta Bintang Radio dan Televisi. “Saya mulai sering ikut lomba-lomba sejak 1967. Baru pada 1972 saya berhasil merebut juara pertama Pop Singer di Solo. Karirnya makin bersinar. Pada 1973, ia pindah ke Surabaya dan mendapat kontrak sebagai penyanyi di night club LCC milik ayah Hayono Isman. “Dulu, night club jadi tempat bergengsi untuk menjajal kualitas bermusik. Mereka memilih penyanyi dengan sangat selektif dan penyanyi yang bias masuk di night club besar seperti LCC biasanya punya kualitas yang baik. Hampir semua penyanyi tenar kala itu pasti berangkat dari night club. Mungkin kalau sekarang night club itu sama seperti kafe-kafe,” jelasnya.
Dari Hajatan ke Perlombaan
Titik balik karir Sri Widadi terjadi di sini. Selain bernyanyi rutin di LCC, ia juga makin rajin ikut berbagai kompetisi yang membuat namanya makin dikenal. Tak hanya keroncong, ia juga memenangi berbagai kompetisi bergenre pop. Pada 1974, ia memenangi lomba Pop Singer se-kota Surabaya dan kemudian tingkat propinsi Jawa Timur. Ia kemudian ke Jakarta untuk mengikuti lomba final di tingkat nasional dan berhasil merebut juara kelima. Perjalanan hidupnya ternyata ‘mengikat janji’ dengan Jakarta. Sebab langkahnya lantas berbelok ke Ibukota.
Ia pindah ke LCC Jakarta yang terletak di bilangan Monas. “Di LCC saya lebih banyak menyanyi pop. Saya juga punya album lagu pop, lho! Perusaha rekamannya bernama Ramayana,” kenangnya. Ia menyanyikan lagu Layu Sebelum Berkembang dalam bahasa Jawa yang cukup laris manis di pasaran dan cukup meledak di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Suriname. Nama Sri Widadi makin melambung. Pertengahan decade 70an, namanya makin ajeg di kancah musik Indonesia, khususnya keroncong. Ia kerap tampil bersama penyanyi tenar lain seperti Toto Salmon, menyanyikan lagu-lagu Maladi dan Toto Salmon sendiri.
Sri mengaku sempat menikmati masa kejayaan sebagai penyanyi. “Tapi dunia hiburan pada masa itu jauh berbeda dengan dunia hiburan sekarang. Artis hidupnya ya sederhana saja. Beda dengan sekarang. Artis pendatang baru saja sudah jadi selebriti,” katanya sambil tertawa. Hidup, meski manis ia rasakan kadang-kadang juga menyuguhkan kegetiran. Pernikahan dengan suami pertamanya kandas dan ia menjadi orang tua tunggal bagi ketiga anaknya. “Beruntung saya bisa nyanyi. Dari situ saya bias menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak,” katanya. Ia sempat menikah lagi dan mempunyai seorang anak dari pernikahan keduanya. “Tapi ya hubungannya juga tidak terlalu baik. Meski tidak resmi bercerai, kami tidak lagi hidup bersama,” kisah Sri yang tak mau bercerita banyak tentang pernikahan keduanya. Kesetiaanya pada keroncong tak pupus kendati musik ini tak menghadiahinya kehidupan glamor. “Saya mengalami banyak musim dalam hidup. Ada musim pasang juga surut. Hampir semuanya saya lalui bersama keroncong,” ungkap wanita yang berulang tahun pada 8 Agustus ini.
Bergulir Bersama Hidup
Selain sang ayah, Sri menyebut satu nama yang ia anggap sangat berjasa bagi perkembangan musikalitasnya. “Pak Budiman dari Orkes Keroncong(OK) Bintang Jakarta. Kalau tidak dididik dia, mungkin kemampuan menyanyi keroncong saya tidak terasah dengan baik,” katanya. Selain itu, Sri menyebut Toto Salmon sebagai partner yang memperluasa jangkauan musiknya. “Dia yang mengajak saya rekaman album. Kami pernah rekaman di Musica dan Dian,” katanya. Sri mengaku meski namanya cukup terkenal, ia sendiri hidup sederhana. “Ya itu tadi, kalau dulu dunia hiburan tidak seperti sekarang. Bayarannya kecil dan kalau rekaman nilai kontraknya juga tidak terlalu besar,” kisahnya. Sebagai seorang penyanyi yang cukup terkenal, hidupnya tetap bergulir layaknya roda pedati, “Kadang di atas, kadang di bawah dan saya sudah terlatih untuk berdamai dengan hidup.”
Sri bercerita, ada suatu masa dalam karir musiknya, ketika uang bukan masalah baginya. Ia yang orang tua tunggal bias memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik. “Dulu, pejabat-pejabat itu langgangan night club seperti LCC. Mereka datang benar-benar untuk menikmati dan mengapresiasi musik yang mainkan. Ia juga kerap muncul di TVRI dan membuat album bersama penyanyi lain seperti Dedy Damhudi dan Ida Rasyid. Honornya cukup tinggi untuk ukuran kala itu. “Dua ratus ribu itu sangat banyak,” katanya. Tapi waktu terus berjalan. Nama besarnya ia akui tidak berbanding lurus dengan pendapatannya. Terlebih, ketika televisi-televisi swasta mulai bermunculan, berebut pasar dengan mengusung eforia kehebatan generasi MTV, keroncong mulai terpinggirkan, goyah tergerus serbuan modernitas, ia pun ikut mengalami pasang surut. “Jadi meski saya sering tampil di TVRI, ya hidup saya biasa-biasa saja. Kedengarannya klise, tapi begitulah yang terjadi dan mungkin juga dialami penyanyi-penyanyi angkatan saya yang lain,” katanya. Maka hidup yang sesungguhnya pun harus ia jalani. “Tapi karena keahliannya memang menyanyi, saya terus saja menyanyi. Kalau dibilang penyanyi menjual suara untuk menghidupi anak-anaknya, itu tepat sekali menggambarkan saya,” katanya. suatu ketika, sebelum tinggal di rumahnya di Bekasi yang baru beberapa tahun dimiliki, ia dan anak-anaknya sempat berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. “Sempat juga diusir karena terlambat membayar,” kenangnya.
Namun alunan lembut keroncong yang mendayu, selalu bias menyembuhkan keletihannya bergelut dengan hidup. Ia tetap setia berlatih keroncong agar selalu siap saat tawaran untuk menyanyi dating. Terbukti, di usia yang mencapai bilangan 58, suaranya tetap renyah dan nikmat didengar. Seperti saat Sri tampil dalam acara Gebyar Keroncong yang diampu Tuti Maryati di TVRI beberapa waktu silam. Kebaya biru membalut tubuhnya. Sesekali tampak bibirnya menggumamkan doa saat menanti giliran menyanyi tiba. Meski terlihat grogi, ia toh tetap tenang dan mantap ketika berada di atas panggung. Gangguan pada kelenjar tiroid yang sempat menyerangnya pada 2007, tak merubah kualitas bernayinya. Suara Sri masih tetap merdu dan mantap mencapai nada-nada tinggi. Binar wajahnya begitu cemerlang dan tak sedikitpun membiaskan kegelisahan yang mungkin setia menemani hari-harinya. Tak terbersit tanda kalau ia pernah selalu gemetar seperti kedinginan saat gangguan kelenjar tiroid bermukim di tubuhnya. Hidupnya untuk keroncong dan anak-anaknya. Dua hal yang membuatnya tetap bahagia. (Nala Indira)
Beng Gwan : Sang Pendekar Keroncong
Dentingan dawai melodi gitar yang hadir melalui Orkes Keroncong (OK) Dian Irama tidak lepas dari sosok Beng Gwan. Beliau merupakan pemain melodi gitar di OK Dian Irama, dan dari perjalanan panjang OK Dian Irama, pada saat ini sosok Beng Gwan menjadi muara informasi, sebab hanya tinggal Beng Gwan sendiri, sementara yang lain telah berpulang. Kesendirian Beng Gwan menjadi begitu berarti untuk menggali kembali sejarah panjang OK Dian I
rama. Dan untuk itu lah, Tjroeng berkunjung ke kediaman Oom Bang Gwan.
Guratan wajah Oom Bang Gwan sangat jelas, sejelas posisinya di dalam OK Dian Irama. Namun usia yang semakin bertambah membuatnya secara fisik melemah. Namun, ingatan dan komitmen pada keroncong masih sangatlah kuat. Mengagumkan.
”Mulanya mencoba-coba memainkan gitar milik kakak. Saya belajar otodidak memainkan gitar, dan memang keroncong sangat menarik perhatian saya waktu itu. Dari sini saya semakin mendalami melodi gitar irama keroncong,” paparnya jelas. Dengan bekal ini Beng Gwan Muda ke Jakarta pada tahun 1949 dan kemudian bergabung dengan beberapa Orkes Keroncong (OK Dupa Irama, OK Swara Marga dan OK Restu) dengan gaya yang diusung adalah gaya Jakarta-an di mana ukulele tidak dipetik melainkan dikemprung.
Perjumpaan dengan salah satu tokoh keroncong pada masa itu, Bapak Momok Kelana yang mengajaknya main di RRI Jakarta pada akhirnya mempertemukan Beng Gwan Muda ini dengan tokoh-tokoh keroncong lain seperti Bapak Achmad, Jayadi, Benny Waluyo, Manto (Manthous), Budiman BJ dan Tan Eng Lim. Bersama pegiat keroncong ini, bakat musik beng Gwan Muda semakin terasah. Bakat besar yang ada pada diri Beng Gwan ini pula yang akhirnya mempertemukan dengan Bp. Lettu Pol. M. Wiromo di tahun 1952. bersama Bapak Wiromo inilah kemudian lahir OK Dian Irama yang bermarkas di Gedung Panjang, Tanah Pasir, Jakarta Barat, dekat studio rekaman Remaco. Formasi pertama orkes ini adalah Tang Tian Hu (biola), Darmo (flute), Beng Gwan (gitar), Damsyik (cello), Wiromo (ukulele), Ma’ruf Abd (cak) dan Umang (bas). Beberapa tahun kemudian terjadi perubahan formasi di mana masuk Budiman BJ (biola), Nur Marzuki (cello) dan Mulyono (flute).
Pada tahun 1961 OK Dian Irama menjadi pengisi siaran keroncong di TVRI dengan membawa penyanyi Tuty, Julia dan Ram Marzuki. Kemudian pada tahun 1966 menjadi pengirimg dalam Pemilihan Bintang Radio. Orkes ini juga masuk ke dapur rekaman Remaco dan mengeluarkan PH dengan judul Tukang Sado, dan Stb. Jampang dengan penyanyi Masnun Satoto, Utji Sanusi, M. Syah, Itjih Suwarni, Is Marzuki, Ani Hadi, Abd. Hadi, Suhaeri Mukti dan Ma’ruf Abdullah.
Sepanjang perjalanannya OK Dian Irama mempertahankan gaya permainannya yaitu gaya Jakarta-an dan kemudian dalam beberapa lagu divariasikan dengan penambahan instrumen lain seperti tamborin, guiro, farfisa vibraphone dan organ.
”OK Dian Irama berprinsip irama keroncong bukan milik etnis tertentu dan hal ini tercermin juga dengan dimainkannya lagu-lagu daerah dan dalam beberapa lagunya menggunakan bahasa Sunda, bahkan sempat berkolaborasi dengan dengan musik gambang kromong dan membawakan lagu-lagu Betawi,”papar Oom Beng Gwat kepada Tjroeng. Dengan gaya ini, OK Dian Irama bersama Tang Tjeng Bok membuahkan dua (2) album kaset.
Untuk perkembangan musik, sebenarnya pemilik Remaco menawarkan OK Dian Irama untuk mengiringi Waldjinah dan Enny Kusrini, namun gagasan itu ditolek karena akan mengubah permainan OK Dian Irama. Akibat penolakan ini mendorong Budiman BJ untuk menerima tawaran tersebut dengan membentuk OK Bintang Jakarta dan membuahkan PH berjudul Tanti lan Tanto. Meskipun telah memiliki orkes sendiri Budiman BJ masih membantu OK Dian Irama dan mengeluarkan beberapa kaset album keroncong dengan gambar album “Stasion Kota”, “Jl. Hayam Wuruk – Gajah Mada”, “Air Terjun” dan “Karikatur Pemain Biola dan Flute”.
Setelah Budiman BJ berkonsentrasi pada OK Bintang Jakarta, OK Dian Irama sering mengalami bongkar pasang pemain biola dan flute, di antaranya Mardi, Wawi, Benny Waluyo, Giman, E’no, Tang Tian Hu dan Tan Eng Lim. Gaya permainan dari OK Dian Irama ini juga mengakibatkan susahnya mencari pemain pengganti jika anggotanya keluar atau meninggal, apalagi mencari generasi penerusnya.
“ Saya adalah satu-satunya anggota dari OK Dian Irama yang masih hidup, teman-teman dalam OK Dian Irama sudah tidak ada semua,”cerita Oom Beng Gwan dengan sedih.
Darah Seni
“Meski semua anak-anak saya yang berjumlah delapan orang bisa bermain musik, namun saya tidak mengajarkan agar mereka mengikuti jalan hidup saya. Dengan hanya bermain keroncong saja tidakakan bisa hidup,” demikian dinyatakan oleh Oom Beng Gwan kepada Tjroeng. Perkembangan dunia keroncong yang relative biasa-biasa saja seolah membenarkannya.
Komentarnya terhadap perkembangan musik keroncong dinilainya cukup maju, dan ia berharap dengan masuknya aransemen-aransemen moderen sebaiknya juga tetap membuat aransemen lagu dengan pakem-pakem keroncong yang murni sehingga orang masih tetap dapat melihat bagaimana keroncong itu bisa berkembang sampai ke bentuknya sekarang. “ Hanya menurut penilaian saya, permainan musik keroncong sekarang ‘kurang ayu’ jika dibandingkan dengan permainan keroncong tahun 1950 – 1960-an. Misalnya permainan sepakbola, permainan musik keroncong tidak hanya asal cepat saja tetapi harus menjiwai lagunya dan menjaga keharmonisan dengan pemain lain. Keharmonisan yang penuh dengan penjiwaan inilah yang membuat permainan keroncong menjadi ayu,” sembari tersenyum, “Memainkan musik keroncong itu memang sukar tetapi dengan latihan yang disiplin pasti akan membawa hasil yang baik. Jangan takut untuk meniru permainan dari orang lain, sebab dengan menirukan ini akan memperkaya teknik permainan dan gaya permainan kita.” lanjutnya seraya berpesan kepa Tjroeng.
(Isaac)



