Rekaman Indie
Peliknya urusan rekaman oleh perusahaan label, membuat banyak grup musik tak terkecuali grup keroncong lantas kemudian memilih jalur Indie. Disamping biaya yang jauh lebih murah, birokrasinyapun relative gampang, meskipun melalui tahapan yang sama dengan perusahaan label.
Ada 3 tahapan penting : Recording audio, mixing dan mastering. Ketiga tahapan ini merupakan proses utama recording dari awal sampai selesai.
Untuk recording audio sendiri umumnya dilakukan dalam beberapa proses :
- Guiding (bisa gitar saja atau beserta seluruh alat yang diikuti dengan vocal)
- Take Bass
- Alat yang lain mengikuti, bisa gitar dulu, cello, cak, cuk, biola kemudian flute atau bahkan keyboard jika ada. Tapi biasanya isian musik untuk melodi akan dilakukan paling akhir
- Take Vocal
Biaya proses ini sangat tentative, tergantung dari studio rekaman yang kita gunakan. Biaya sewa untuk studio yang sudah cukup baik berkisar antara 250 - 500 ribu per shift (Biasanya 6 jam). Jadi untuk menekan biaya seminimal mungkin, disarankan agar sebelum melakukan rekaman, baik penyanyi maupun pemusik sudah menguasai dengan baik aransemen lagu-lagunya. Itu akan menghemat waktu dan pemakaian studio yang berimbas pada biaya recording. Sedikit catatan, apabila kita menggunakan alat musik yang bukan akustik (keyboard atau bass gitar) harus dilakukan pemilihan sound dengan cermat, agar kualitas blending musiknya bisa padu dan dihasilkan hasil yang baik. Biasanya penggunaan alat elektrik akan membutuhkan waktu setting yang lebih lama dibandingkan dengan alat musik akustik yang lain. Hal teknis lainnya yang patut diwaspadai adalah improvisasi pemain maupun penyanyi. Meskipun pemain sudah hafal aransemen, tapi kadang kemudian muncul ide dan gagasan baru pada saat take record sedang dilakukan, pun dengan penyanyi, cengkok yang digunakan pada saat latihan dengan rekaman kadang berbeda, sehingga butuh waktu lagi untuk menyesuaikan. Hal diatas tidak disalahkan, apalagi dengan tujuan untuk memperkaya lagu dengan improvisasi lain yang akan memperindah lagu tersebut.
Setelah proses recording audio selesai, dilanjutkan dengan tahapan mixing dan mastering. Proses ini juga tak kalah pentingnya, komposisi musik dan suara yang bagus akan ditentukan oleh proses ini. Dan ini tidak bisa dilepaskan oleh kemampuan operator mixing dan mastering yang kita tunjuk. Ada baiknya kita juga ikut dalam proses ini, karena tidak banyak operator studio yang belum cukup memahami musik keroncong. Tidak ada salahnya kita mendampingi mereka untuk memperoleh paduan musik yang seimbang tidak seperti musik pop atau yang lainnya. Biaya mixing dan mastering ini juga relatif, untuk studio yang sudah cuup ternama biaya untuk 5 lagi berkisar antara 300- 500 ribu per lagu. Satu catatan penting yang wajib dilakukan pembuat rekaman indie, agar menyiapkan hardisk atau data storage lain untuk keperluan back up data, sebagai langkah antisipasi rusaknya data di studio rekaman, tidak seperti perusahaan rekaman label yang cukup baik dalam pengelolaan rekamannya. Selamat membuat album…
Musik Keroncong: Go International !
Oleh : Victor Ganap
Musik keroncong lahir di Indonesia melalui proses perjalanan sejarahnya yang panjang dan penuh keunikan dilihat dari unsur pembentuknya yang terdiri dari berbagai komponen budaya, etnik, dan bahasa. Apabila kita menarik benang merah tentang asal mula lahirnya musik keroncong di Indonesia, kita akan dihadapkan pada misteri sejarah yang menyangkut sejarah dunia. Sejarah tentang pendudukan Islam di wilayah selatan semenanjung Iberia dari abad kelima hingga abad ketigabelas. Latar belakang sejarah yang menjelaskan mengapa bangsa Eropa pada abad keenambelas begitu gigih mengerahkan segala kemampuan navigasi dan kekuatan militernya untuk memperoleh rempah-rempah dari Timur. Sejarah tentang kedatangan bangsa Portugis dan bangsa Belanda pada abad ketujuhbelas untuk memperebutkan hegemoni di Asia Tenggara melalui monopoli perdagangan di Malaka, Sunda Kelapa, dan kepulauan Maluku. Sejarah tentang perbudakan, dan kehidupan para musisi jalanan selama masa Hindia Belanda. Sejarah pembentukan jatidiri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan memiliki warisan budaya yang tidak terhingga banyaknya termasuk musik keroncong. Beruntunglah bahwa pada akhirnya musik keroncong diterima dan menjadi milik bangsa Indonesia, suatu kenyataan yang telah memperoleh pengakuan dunia internasional.
Saat ini ketika kita berbicara tentang keroncong, kita dihadapkan pada sebuah terminologi yang mengandung pengertian yang luas. Secara etimologis, keroncong berasal dari nama sebuah alat musik sejenis gitar berukuran kecil berdawai empat yang lazimnya terbuat dari nylon, sehingga apabila dimainkan menghasilkan bunyi crong, bukan jreng seperti halnya bunyi dawai logam. Istilah keroncong diyakini berasal dari para perajin waditra di kampung Tugu yang mewarisi keahlian seni kriya waditra gitar. Gitar itu dinamakan keroncong sebagai adaptasi dari gitar cavaquinho yang dibawa oleh para pelaut Portugis berlayar mengelilingi dunia. Ketika tiba di kepulauan Madeira gitar itu dinamakan braguinha, karena berasal dari wilayah Braga di Portugal. Di Brazil penduduk menamakannya machete yang digunakan untuk mengiringi tari-tarian. Di kepulauan Karibia gitar itu dinamakan cuatro, karena berdawai empat. Ketika tiba di Polynesia samudera Pasifik, penduduk pribumi menyebutnya sebagai ukelele, atau jari yang melompat, karena cara memainkannya tidak dipetik melainkan digerus. Menarik untuk disimak bahwa gitar itu memperoleh popularitas sebagai ukulele dengan paten Hawaii, sedangkan sebutan ukulele sebagai keroncong telah diakui sebagai paten Indonesia menurut Salwa El-Shawan Castelo-Branco dalam kamus The Grove’s Dictionary of Music and Musicians, “Portugal” (2002:197).
Dengan demikian ukulele dapat dikatakan menempati posisi kunci dalam setiap permainan musik keroncong, sehingga orkestrasinya harus memiliki warna crong yang berfungsi sebagai rhythmic riff (motif berulang-ulang). Selain itu, ukulele yang tersebar dan digunakan dalam berbagai jenis ensambel memberi petunjuk bahwa warna crong juga turut membahana di manapun ukulele itu dimainkan. Kita di Indonesia juga sepakat bahwa tidak ada musik apapun yang boleh tampil menyandang label keroncong tanpa memiliki keunikan warna crong dari permainan ukulele. Secara universal diyakini bahwa tiada keroncong tanpa crong, dan melalui penyebaran ukulele tidak mustahil musik keroncong dalam berbagai versi juga dapat ditemukan di berbagai pelosok. Saat ini warna crong masih dapat ditemukan antara lain di kepulauan Halmahera dalam ensambel bastidor yang generik, di Malaka dalam ensambel dondang sayang, di Negeri Belanda dalam ensambel toegoenezen, di Hawaii dalam ensambel hawaiian guitar, di Suriname dengan krontjong ensambelnya, selain di Indonesia dalam ensambel orkes keroncong.
Apabila keroncong sebagai waditra telah mendunia, maka keroncong sebagai ensambel musik, keroncong sebagai bentuk lagu, dan keroncong sebagai gaya permainan gitar merupakan ciri khas Indonesia, yang dipengaruhi oleh gagrak gamelan Jawa. Orkestrasi ensambel keroncong lazimnya menampilkan biola atau flute sebagai pembawa alur melodi, gitar sebagai pengiring dan pembawa alur kontra-melodi, ukulele sebagai time-beater, dan cello petik (pizzicato) sebagai rhythm tune-percussion yang terkadang dipertebal dengan bass petik.
Seperti halnya pengendang menjadi pemimpin kelompok gamelan Jawa, maka pemain cello dengan pola gedugannya yang khas menurut Kusbini menjadi conductor dalam orkes keroncong. Gedugan itu memiliki fungsi ganda sebagai bass dan perkusi, yang menyebabkan orkes keroncong tidak membutuhkan dan menghindari penggunaan drum-set dalam orkestrasinya. Dari sini dapat kita saksikan betapa kuatnya dominasi waditra berdawai dalam menampilkan karakter chordophonic sebuah orkes keroncong secara total dari peranannya sebagai pembawa melodi hingga ritme dan harmoni.
Orkestrasi keroncong sebenarnya merupakan iringan tarian Moresco yang terdiri dari gitar dan tambourine perkusi yang berkeping logam sebagai perpaduan musik Arab-Kaukasia. Tambourine juga digunakan dalam orkes keroncong para pemusik Indies di Batavia pada masa Hindia Belanda. Itu sebabnya muncul versi lain tentang istilah keroncong ketika tambourine tersisih dari orkes keroncong akibat pengaruh gamelan Jawa, sehingga warna kerincing logamnya tidak lagi terdengar, dan yang tinggal hanyalah warna keroncong gitarnya. Warna kerincing logam dikembalikan sebagai properti para penari Jawa yang mengenakan gelang pada kaki mereka. Saat ini meski tambourine masih terdengar di kampung Tugu, orkes keroncong di Indonesia tidak lagi menggunakannya.

Orkes keroncong komunitas Indies di Batavia (Ilustrasi: A.Th. Manusama (1919:12a))
Pada masa Hindia Belanda, keroncong tampil sebagai ars nova, seni baru yang bersifat non-tradisi dan non-klasik Barat, seni yang digemari oleh masyarakat perkotaan. Kota-kota besar di Jawa kemudian tumbuh menjadi sentra keroncong, sejak mencapai popularitas melalui Pasar Malam di Gambir, komunitas Krokodilen di Kemajoran, hingga concours Jaar Markt di Surabaya. Keroncong ketika itu menjadi bagian dari budaya massal yang memiliki nilai komersial, sehingga ensambel keroncong bermunculan di mana-mana. Namun setelah masa kemerdekaan, terjadi revolusi musikal di seluruh dunia dengan lahirnya musik berirama rock yang digemari kaum muda. Musik berirama rock dengan cepat menyebar melalui teknologi rekaman dan menjadi musik masa kini yang menggusur popularitas musik berirama konvensional termasuk keroncong.
Secara musikologis, musik konvensional adalah musik dengan irama yang aksentuasinya jatuh pada ketukan pertama, seperti irama tarian walsa dalam tiga hitungan, atau irama marcia dalam empat hitungan. Sebaliknya irama rock memberikan nafas yang segar ketika aksentuasi itu berpindah dari ketukan pertama yang ditandai dengan hentakan stick snare-drum pada ketukan kedua di antara permainan pola ritmik bass-drum dan hi-hat cymbal. Perpindahan aksentuasi itu melahirkan karakter sinkopatik, ketergantungan yang berkelanjutan, sehingga menimbulkan sensasi psikologis dari tanya yang tidak terjawab. Tidak mengherankan apabila irama rock berhasil menarik perhatian generasi muda, dan dengan cepat menguasai kehidupan musikal secara universal.
Tidak dapat disangkal bahwa drum-set menempati posisi kunci dalam irama rock. Saat ini tidak ada musik populer dari jenis apapun yang tidak menggunakan drum-set, mulai dari kelompok band yang sederhana hingga kelompok symphonic band atau light music orchestra yang canggih. Irama rock melalui permainan drum-set telah mendunia dan menjadi basis dari semua jenis musik populer masa kini. Sejalan dengan itu popularitas musik konvensional menjadi terpinggirkan dan dianggap representasi musik masa lalu yang telah usang, yang hanya diminati oleh kaum tua saja.
Dalam hal ini keberadaan musik keroncong menghadapi dilema, karena di satu fihak popularitasnya akan semakin merosot apabila tetap mempertahankan iramanya yang konvensional, sementara di lain fihak penggunaan drum-set dalam orkestrasi keroncong akan membunuh karakteristik musiknya. Waktu dengan cepat berlalu ketika musik keroncong akhirnya beranjak dari budaya massal musik industri yang bernilai komersial memasuki budaya tradisi yang dikelompokkan sebagai musik etnik. Jenis musik seperti ini selalu rentan menghadapi ancaman kepunahan, sehingga konsep tentang pelestarian dan revitalisasi menjadi agenda utama. Beruntung bahwa modal sosial dari keroncong terletak pada dukungan sebagian masyarakat Indonesia yang menjamin bahwa musik yang telah lahir sejak berabad-abad itu tidak akan punah. Namun upaya revitalisasi perlu terus menerus dilakukan untuk tujuan apapun, termasuk tujuan rekonstruksi, tujuan go-international, atau untuk kepentingan eksperimental dan archiving.
Upaya go-international terhadap musik keroncong pernah dilakukan oleh Rudi Pirngadie melalui penampilan orkes keroncong Tetap Segar yang membawakan gagrak Keroncong-beat dalam New York World’s Fair tahun 1964. Keroncong beat merupakan konsep yang mengetengahkan irama keroncong dalam bentuk gedugan cello, rhythmic riff ukulele, dan banyu mili gitar untuk mengiringi semua jenis lagu termasuk lagu Barat. Tidak kurang penyanyi keroncong seperti M. Rivani, Rita Zahara, dan Sayekti berhasil menarik perhatian masyarakat Amerika dalam membawakan lagu Barat seperti I left my heart in San Francisco yang dikeroncongkan. Eksperimentasi Keroncong beat ternyata tidak membawa hasil disebabkan antara lain karena tidak memiliki akar budayanya yang kuat di Indonesia. Tidak mustahil bahwa kegagalan itu juga diakibatkan karakteristik iramanya yang eksotik, tidak berdaya melawan irama rock yang sensasional. Namun betapapun juga, inovasi Pirngadie telah berhasil menunjukkan posisi dan nilai tawar musik keroncong Indonesia dalam kancah internasional.
Upaya go-international lainnya dapat dilakukan melalui penyusunan kemasan orkestra untuk keroncong seperti yang dilakukan oleh RRI melalui Orkes Studio Jakarta pimpinan Isbandi dalam acara Bintang Radio Televisi jenis Keroncong. Demikian pula eksperimentasi Singgih Sanjaya melalui garapan Light Keroncong dalam format orkestra yang tetap mempertahankan pakem keroncongnya. Upaya ini lebih sesuai bagi pelestarian musik keroncong sebagai musik tradisi yang dikemas secara artistik musikal. Upaya ini lebih akademik dan terhormat dalam mengangkat keroncong sebagai repertoar Indonesia di forum internasional, lebih dari sekedar menawarkan iramanya yang generik.
Upaya go-international juga berarti mempromosikan kepada dunia internasional bahwa keroncong adalah musik Indonesia, melalui hak paten atau hak atas kekayaan intelektual yang diikuti dengan berbagai publikasi tentang keroncong dari para peneliti. Sejauh ini peneliti seperti Surya Brata, Paramita Abdurachman, Harmunah, Budiman BJ, dan Suka Hardjana telah banyak berperan, sementara para peneliti asing seperti Bronia Kornhauser dan Ernst Heins turut memberikan kontribusi mereka. Penelitian Philip Yampolsky menghasilkan rekaman penyanyi keroncong generik tahun 1930-an yang berbeda warna suaranya dengan penyanyi keroncong saat ini, selain selama bertahun-tahun Philip telah menaruh perhatian besar terhadap musik-musik etnik Nusantara.
Upaya go-international juga menuntut kita untuk menghargai para maestro yang telah berhasil menumbuhkembangkan musik keroncong sejak masa Hindia Belanda hingga dapat tampil saat ini sebagai salah satu mainstream musik Indonesia, seperti yang telah dirintis oleh komunitas Tugu dalam Krontjong Toegoe, Kusbini dalam Keroncong Asli, Gesang dalam Langgam Keroncong, Andjar Any dalam Langgam Jawa, serta para penyanyi yang telah turut mendukung kehidupan musik keroncong dari generasi ke generasi. Diharapkan semoga dengan semakin pesatnya pendidikan musik di Indonesia, para pemusik akademik generasi muda secara naluriah akan tergugah kepedulian mereka untuk turut menjaga pusaka yang telah diwariskan leluhur bangsa kita.
Dengan demikian upaya go-international yang sejati terhadap musik keroncong semata-mata tidak terletak pada penyebaran dan popularitas musik keroncong secara internasional, atau pada archiving sosok musiknya dalam bentuk partitur, atau berupa pergelaran orkes keroncong yang immanent, akan tetapi lebih tertuju pada sikap yang mencerminkan keinginan para pencipta, pemusik, dan peneliti keroncong Indonesia untuk berperilaku secara musikal.
Pada akhirnya kita berkewajiban secara moral untuk menjaga dan mendukung kepercayaan dunia internasional bahwa keroncong adalah musik Indonesia, seperti halnya fado dikenal sebagai musik Portugis, blues menjadi identitas musik negro Amerika, flamenco dari Spanyol, dan tango sebagai nyanyian rakyat Argentina, musik nasional yang bersifat kerakyatan dengan lagunya yang tidak sekedar dinyanyikan melainkan juga diekspresikan secara coração, atau dari lubuk hati yang paling dalam.
13-02-2009
Save Our Kroncong
Oleh Johanes Siswanto
Pemerhati Keroncong
Membaca beberapa terbitan buletin ”Tjroeng”, nampak geliat semangat komunitas keroncong Indonesia (KKI), baik penggemar, musisi, penyanyi, dan pemerhati keroncong berkeinginan untuk menggali kembali dan melestarikan seni musik keroncong yang dirasa mulai surut pamornya. Secara jumlah KKI mungkin semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia, tetapi secara prosentase mungkin menurun. Dapatkah dikatakan musik keroncong mulai surut pamorya?
Bila dibandingkan dengan keadaan tahun 70an mungkin ada benarnya. Saat itu event kegiatan musik keroncong yang disponsori oleh pemerintah atau negara dapat dikatakan padat. Diantaranya, yang belum hilang dari ingatan adalah selalu diadakan rutin setiap tahun lomba pemilihan bintang radio dari tingkat daerah (provinsi) sampai dengan tingkat nasional. Pemilihan ini disponsori (diadakan) oleh Departemen Penerangan, dan Radio Republik Indonesia (RRI) yang merupakan lembaga dibawah naungan Departemen Penerangan selalu menyiarkan acara lomba pemilihan bintang radio tsb. Pada saat itu yang dilombakan tidak hanya musik keroncong tetapi juga dari jenis seriosa dan “hiburan”, atau lebih dekenal saat ini sebagai jenis pop.
Antusias masyarakat mengikuti penyelenggaraan pemilihan bintang radio sangat besar. Terbukti acara ini yang disiakan oleh RRI sampai larut malam selalu ditunggu oleh para pendenganya. Dan musik keroncong dikalangan masyarakat pada saat itu menduduki posisi lebih tinggi, lebih populer bila dibandingkan dengan jenis musik seriosa dan hiburan. Perkembangan kondisi di masyarakat mempengaruhi pula perkembangan selera masyarakat terhadap musik yang ada. Secara alami terbentuk polarisasi selera dan apresiasi terhadap musik sekaligus mempengaruhi perkembangan musik itu sendiri. Terjadi pergeseran selera, terutama dikalangan anak usia muda (remaja) yang lebih menyenangi musik jenis hiburan atau pop. Banyak bermunculan group musik pop seperti Koes Plus, Favourit Group, D’lloyd, Pambers, Mercys dll. Selain itu, pelan tapi pasti, mulai merangkak naik popularitas musik dangdut yang pada waktu itu lebih dikenal sebagai musik “Melayu”. Bahkan dedengkot musik dangdut seperti Oma Irama pada awal karier musiknya melalui jalur musik pop, dan beberapa single lagunya sempat populer waktu itu. Keadaan sekarang, popularitas kedua jenis musik ini semakin tinggi (penggemarnya semakin banyak) jauh meninggalkan jenis musik kroncong dan seriosa.
Tidak puas dengan wadah yang disediakan oleh pemerintah sebagai ajang lomba, para musisi musik pop menyelenggarakan sendiri pemilihan bintang pop, baik ditingkat daerah maupun tingkat nasional, yang lebih dikenal dengan pemilih “Pop Singer”. Semakin banyak event musik pop diselenggarakan, sementara event untuk musik keroncong semakin sedikit bahkan tidak ada sama sekali.
Perkembangan selanjutnya, dengan dihapuskannya Departemen Penerangan dari jajaran kabinet, otomatis hilang pula kalender kegiatan lomba pemilihan bintang radio yang menyertakan musik keroncong didalamnya. Berarti hilang pula ajang untuk sosialisasi dan mempopulerkan musik keroncong dikalangan masyarakat luas.
Apakah rentetan kejadian ini pada akhirnya menurunkan pamor musik keroncong secara keseluruhan dan mulai ditinggalkan penggemarnya?
Dimata masyarakat Indonesia secara menyeluruh mungkin pamor musik keroncong turun drastis kalau tolok ukurnya adalah jumlah bilangan pengemar atau penikmat musik keroncong. Tetapi dikalangan KKI sendiri popularitas atau pamor musik keroncong tetap ada dan terjaga, hanya jumlahnya mungkin lebih sedikit dibandingkan dengan penggemar musik pop atau dangdut. Penambahan jumlah penggemar juga tidak terlalu signifikan, mungkin menunggu perubahan selera seiring dengan penambahan umur para penggemar musik bukan keroncong. Kenyataannya, komunitas musik keroncong tetap ada, bahkan tidak hanya di Indonesia tetapi merambah ke negara lain dibawa oleh orang-orang Indonesia yang migrasi ke negara lain, seperti Malaysia, Suriname, Belanda dsbnya. Di negara yang disebutkan tadi, komunitas musik keroncong tetap konsisten menyenangi dan memainkan musik keroncong.
Menyenangi atau membeci suatu jenis musik atau lagu-lagu, berkaitan dengan selera, jadi sifatnya sangat subyektif, tidak dapat dipaksakan. Berjalan secara alami menuruti lingkungan dan kebiasaan yang ada. Lagu musik pop yang dibawakan oleh grop musik Peterpan atau oleh group musik Radja di Indonesia sangat digandrungi dikalangan anak remaja atau anak bau gede (ABG), tetapi mungkin lagu-lagu group tadi tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat Suriname. Masyarakat disana boleh jadi lebih mengenal artis Waljinah dengan lagu “Walang Kekeknya”. Kesimpulannya, secara global, mana yang lebih punya pamor atau lebih populer? Musik pop atau musik keroncong? Silahkan pembaca mempersepsikan sendiri untuk menjawab pertanyaan lain yang telah disebutkan diatas.
Permasalahan yang dihadapi komunitas keroncong di Indonesia dan dibelahan dunia lainnya adalah bagaimana menjaga sustainable eksistensi musik keroncong. Hal ini perlu mendapat perhatian mengingat adanya keprihatinan dari beberapa kalangan yang menyangsikan daya tahan musik keroncong terhadap “gempuran” jenis musik lainnya, khususnya musik pop. Sebagaimana berita yang dilansir oleh situs internet antara.co.id, tanggal 19 Oktober 2008, memuat berita tentang harapan besar maestro keroncong Indonesia, ”Gesang”, meminta masyarakat penggemar musik keroncong ikut melestarikan aliran musik asli jawa ini (maksudnya keroncong) agar tetap hidup sepanjang masa. Dibalik harapan beliau menyiratkan adanya kekhawatiran bahwa musik keroncong Indonesia mulai surut pamornya. Lambat laun, jika tidak ada upaya ”nguri-uri” musik keroncong, bukan tidak mungkin nantinya akan punah ditinggalkan penggemarnya. Keadaan ini merupakan tantangan sekaligus peluang seluruh insan komunitas keroncong untuk mengembalikan kemasyhuran musik keroncong agar harapan maestro “Gesang” keroncong dapat diwujudkan.
Bagaimana upaya kita melestarikan budaya seni musik keroncong?
Mengacu ke http://www.wikipedia.org, terdapat beragam jenis keroncong, ada Keroncong Asli, Langgam Keroncong, Stambul Keroncong, ditambah dengan Krontjong Toegoe. Dari masing-masing jenis tadi memiliki ”rumus” atau ”pakem” sendiri-sendiri [mengenai rumus ini telah dimuat di buletin Croeng sebelumnya]. Melihat rumus atau pakemnya, musik keroncong dapat dikatagorikan sebagai musik yang serius, setara dengan musik klasik karena ada kaidah yang harus dipenuhi agar dapat disebut sebagai musik keroncong. Disinilah letak indah dan ”adiluhungnya” musik keroncong! Jadi kalau ada sebagian warga masyarakat mengatakan bahwa musik keroncong adalah ”kampungan” atau ”jadul” itu syah-syah saja karena berbeda persepsinya, tetapi itu keliru besar! Tidak sembarang orang dan tidak banyak yang dapat mencipta dan memainkan musik “pure” keroncong dengan baik dan benar. Hanya orang-orang yang memiliki talenta khusus. Oleh karena itu, musik keroncong yang dimainkan tanpa mentaati kaidah-kaidah, atau menyimpang yang ada dapat dikatakan sebagai musik keroncong kontemporer atau eksperimental. Biasanya dari kalangan anak muda yang senang melakukan eksperimen sehingga lahirlah musik CongDut (keroncong Dangdut), CongRock (paduan keroncong dan rock), CongLan (paduan keroncong dan gamelan), dll. Bagaimana kita menyikapi terhadap lahirnya jenis musik tersebut?
Bersambung ....
Gurah, Bengkel Penyanyi Menjernihkan Suaranya
Pernahkah pembaca mengenal pengobatan yang disebut Gurah ? apa kasiatnya dan bagaimana cara pengobatannya ?
Berikut pengalaman penulis mengantar seorang kawan untuk pengobatan gurah, yang katanya telah beberapa kali dia dilakukan.
Kraton, sebuah daerah disebelah barat Krian, kurang lebih 30 km dari Surabaya kearah Mojokerto, pk. 08.15 disebuah rumah berpekarangan luas dan teduh kami berhenti.
Bahrul Ulum, sebut saja tabib gurah menyambut kami dengan wajah damai dan senyum yang lembut. Setelah mempersilahkan kami dan menanyakan keperluan kami beliau menjelaskan secara singkat maksud pengobatan :
Gurah adalah pengobatan tradisional yang amat dikenal sejak dahulu oleh kalangan pesinden, untuk menjernihkan suaranya. Sampai sekarang Gurah dikenal dikalangan penceramah, penyanyi untuk menjernihkan dan menyaringkan suaranya.
Sebenarnyalah gurah bermanfaat bagi gangguan yang berhubungan dengan tenggorokan dan pernafasan seperti Asma, sinusitis, batuk kering dan sebagainya juga gejala kepala sering pusing akibat polusi udara, serta perokok.
Bahrul Ulum kemudian menjelaskan proses pengobatan dan apa yang harus dilakukan si pasien, pengobatan dimulai setelah pasien mengetahui benar (terutama untuk pasien yang baru pertama kali gurah) apa yang harus dilakukan.
Pasien diminta tidur telentang, melalui hidung di teteskan ramuan obat gurah (yang dibuat dari pohon Sirgunggu, yang konon tumbuh di daerah imogiri Yogya) setelah di minta menggeleng gelengkan kapalanya selama kurang lebih 3 detik, pasien disuruh tengkurap.
Gurah itu intinya adalah proses pengobatan mengeluarkan slem / dahak atau lendir yang ada di rongga hidung dan tenggorokan. Oleh karena nya bed tempat pasien di mana tindakan pengobatan dilakukan di desain secara khusus, ada lubang yang berhadapan langsung dengan mata, hidung dan mulut. Yang akan mengeluarkan airmata dan lendir selama pengobatan berlangsung. Disebelah bawah bed ditempatkan baskom plastik untuk menampung lendir yang keluar.
Pengobatan ini berlangsung antara 1 sampai 3 jam tergantung kondisi pasien, biasanya pasien yang baru pertama kali gurah akan cukup lama, karena banyaknya lendir yang dikeluarkan.
Sang Tabib selama setengah jam pertama, memijit kepala dan tengkuk pasien dengan lembut untuk melancarkan aliran lendir, pasien diminta membantu mendorong lendir dengan jalan melakukan seperti mengeluarkan ingus (sisi – bhs jawa) dengan pelan pelan.
Rasanya hanya pengar seperti kalau hidung kemasukan air waktu berenang, dan pada saat ini, bernafas harus melalui mulut karena hidung benar benar tersumbat oleh lendir yang kental, lendir yang keluar dari hidung tidak boleh diputus (maaf : lendir yang keluar demikian pekat sehingga tergantung diluar hidung sampai 15 - 20 cm ) kalau diputus akan mulai proses awal lagi dengan menggantungnya lendir yang diluar ini menarik yang ada didalam kepala … demikian paparan sang Tabib.
Kami datang memang masih cukup pagi, sehingga baru kami pasien yang di tangani Pada tahap ini tidak ada yang dikerjakan oleh tabib, sehingga kami bisa berbincang bincang panjang lebar
Pengobatan ini turun temurun dari kakek dan ayah saya, keluarga kami sudah manjalankan praktek ini lama sekali, ayah saya dulu memulai pekerjaan ini dengan menjajakan keliling di th 1945, beliau meninggal pada umur 98 th
Biasanya Hari Sabtu sore dan Minggu pasien paling banyak, dan datang secara rombongan, pernah ada rombongan yang berjumlah sampai 40 orang.
Pasien terbanyak adalah penyanyi untuk membenahi atau mempertahankan suaranya, kalau dikalangan santri para Qori’ / Qori’ah agar bening dan nyaring dalam membaca Al-Qur’an. Daya tampung pengobatan yang ada ini bisa 12 orang sekaligus, bila yang datang rombongan besar ya harus antri.
Percakapan kami terputus karena kedatangan tamu, yang datang dengan maksud serupa, salah seorang yang tidak ikut gurah kami ketahui adalah seorang penyanyi elektone yang biasa mengiringi hajatan dan mengisi lagu lagu pada sebuah rumah makan.
Saya melakukan gurah ini rutin pak, 3-4 bulan sekali. Kali ini saya mengantarkan kawan (sambil menunujuk pasien yang sedang diobati) saya merasakan sekali manfaatnya, setelah gurah tenggorokan ini rasanya plong. Saya perlukan ini karena saya cari uang lewat suara … ( sambil tersenyum )
Lho mbak ini penyanyi ? penyanyi apa dan dimana ?
Saya penyanyi elektone pak, di sebuah restoran (menyebut nama restoran masakan china) dan juga melayani tanggapan kalau ada hajatan.
Menyanyi apa mbak ? keroncong juga ?
Menyanyi apa saja, dan memang dituntut demikian karena kalau tidak kan … hm jadi kalah bersaing dan nggak laku. Keroncong dan campursari juga ini biasanya kalau di hajatan. Kalau di rumah makan jarang yang minta lagu keroncong .. ( senyum lagi )
Terus yang paling senang nyanyi apa mbak ?
Jujur saja saya paling senang nyanyi lagu China, atau tepatnya senang kalau di minta membawakan lagu China ….. karena hm … tip dari pengunjung rumah makan yang meminta lagu lumayan .. bahkan kadang melebihi honor tetap .. ( senyum lagi .. )
Sewaktu penulis mengatakan mungkin obrolan kita ini akan saya kirimkan ke sebuah buletin keroncong dia kipa kipa ( meminta dengan sangat ) jangan menyebutkan namanya dan rumah makan tempat bekerja.
Jangan pak .. benar ya jangan tulis nama saya dan kawan saya serta rumah makan tempat saya bekerja, apalagi ditulis sedang Gurah disini … ini rahasia dapur kami Pak, terus terang saya nggak mau pesaing kami melakukan hal serupa disini ( kali ini agak cemberut ) dan jangan difoto ya pak, saya berikan alamat group saya saja barangkali bapak memerlukan hiburan elektone untuk keperluan hajatan ….
Sayapun berjanji tidak menyebutkan dalam tulisan ini, karena yang dikatakan Erni ( bukan nama sebenarnya ) adalah urusan perut, dialam persaingan yang ketat barangkali.
Hal yang menjadi tanda tanya, benarkah Gurah sedemikian ampuhnya untuk menjaga agar suara tetap jernih dan bagus hingga rahasia bengkel pita suaranyapun dirahasiakan.
Barangkali dari pembaca ada yang minat mencoba, tak ada salahnya toh ? minimal urusan tenggorokan dan saluran pernapasan kita plong dan bebas gangguan.
Rekan kami selesai proses dengan tanda tanda hidung tidak buntu lagi dan sudah tidak ada cairan yang keluar, perjalanan jarum panjang di arloji saya berputar dua setengah kali yang artinya proses gurah teman saya memerlukan waktu 2.5 jam … wow.
Setelah proses pengobatan selesai pasien duduk untuk menghilangkan pusing, kemudian dipersilahkan untuk cuci muka, dengan sedikit sempoyongan kawan saya menuju kamar kecil untuk membasuh muka membersihkan hidung dan mulut.
Sempoyongan, sedikit sembab pada mata dan pusing adalah hal biasa setelah pengobatan ini. Hal ini disebabkan karena tengkurap yang lama, pandangan mata kebawah terus, bukan karena obat, dalam 2-3 hari ini biasanya masih ada sisa lendir yang keluar, setelah itu baru terasa manfaat gurah - demikian tutur pak Tabib.
Tidak ada pantangan dalam pengobatan ini, hanya dihimbau dalam 3 hari setelah gurah disarankan tidak makan makanan pedas dan minum es, dalam waktu seminggu setelah guran disarankan tidak makan ikan laut dan makanan cepat saji.
Ongkos Gurah serela hati, namun biasanya pasien memberikan imbalan kisaran Rp. 50.000,- per orang, yang di terima dengan senang hati di iringi doa semoga pengobatan ini bermanfaat bagi pesien.
Pak Moen, Surabaya, 8 Nepember 2008
Pengamen dan Wajah Sosial Jakarta
Oleh M. Roy Taniago
Rasanya, kehidupan di Jakarta, juga kota-kota laina di Indonesia tak pernah lepas dari kejaran untuk bertahan hidup. Tiap warga, terlebih mereka yang kecil, serasa dipaksa untuk melakukan apapun untuk menyambung hidup.
Kota Jakarta, sebuah kota angkuh yang katanya tak pernah tidur, menampilkan dirinya dalam berbagai wajah. Salah satu wajahnya adalah kehidupan jalanannya yang sesekali hangar-bingar, sesekali sunyi senyap. Wajah yang penuh gejolak. Wajah yang penuh ketegangan, juga sendu penuh romansa.
Pada wajah ini, sesekali kita menyaksikan kehidupan jalanan yang diperankan para sopir dan kenek angkot; preman-preman; pengasong rokok, makanan, minuman, pemulung dan pekerja serabutan; hingga pengemis dan pengamen. Dan yang terakhir disebut ini amat fenomenal. Kehadirannya yang sesekali mengganggu, meresahkan, sekaligus menghibur dan dibutuhkan.
Pengamen sudah menghiasi sudut-sudut jalanan ibukota sejak lama. Mereka bak cendawan yang tumbuh subur musim penghujan. Tanpa dirawat pun mereka bertumbuh dan berdiri sendiri. Kalau cendawan ada karena kondisi yang lembab, pengamen ada karena kondisi masyarakat yang sembab. Kehadiran mereka seakan mewakili para warga yang dimarjinalkan tadi, memerankan lakon kegetiran anak manusia yang berjuang hidup di ibu kota.
Pengamen: Sebuah citra yang tak menyenangkan
Pengamen, yang selalu dapat kita jumpai tiap hari di jalanan, di bis kota, di rumah makan, di terminal, di peron, maupun di rumah-rumah warga, menempati posisi yang tak menguntungkan pada kelas sosial masyarakat. Dengan segala perjuangannya mereka dengan tegas menolak label yang diberikan masyarakat pada mereka. Bagi mereka, pekerjaan mengamen sama mulianya dengan profesi lainnya. Dan oknumlah yang melahirkan konotasi negatif dari profesi ini Sama seperti konotasi negatif bagi polisi, pejabat, pengusaha, seniman, dokter, guru yang diimbaskan oknum.
Namun bagi masyarakat yang tak mau tahu dengan pembelaan tersebut, profesi pengamen tetaplah bernada miring, fals. Masyarakat tak mau tahu dengan pencitraan pengamen yang diciptakan oknum. Yang mereka tahu, pengamen adalah kumpulan manusia kalah yang malas, pemaksa, dan amat mengganggu.
Memang, banyak pengamen yang hanya menjual jasa dengan amat ala kadarnya. Ada yang hanya bertepuk tangan sambil mengeluarkan suara yang sumbang, ada yang membawa imitasi tamborin yang terbuat dari botol plastik bekas yang diisi pasir atau beras, atau pengamen yang membawa gitar yang senarnya tak pernah lengkap dan penalaannya tidak tertata. Belum lagi ada sekelompok pengamen yang membawakan lagu yang tak selesai kemudian disusul dengan tindakan memaksa yang setengah mengancam untuk diberikan uang.
Hal-hal macam di ataslah yang membuat citra pengamen tak lebih dari semacam pengemis atau penodong. Cuma wajah dan caranya yang beda, lebih halus, lebih kreatif. Akhirnya, para pengamen menjadi bagian dari warga kota yang termarjinalkan. Bagian dari masyarakat bawah tanah yang diciptakan oleh sistem sosial bangsa yang karut-marut ini. Mereka ada, tapi sengaja dikeluarkan dari lingkaran sosial masyarakat umum. Sebuah pertaruhan akan kebudayaan!
Melawan persepsi
Para pengamen yang sadar akan persepsi masyarakat yang keliru menggeneralisir citra mereka, berusaha melawannya. Mereka menantang persepsi tersebut dengan menampilkan citra diri mereka sesungguhnya. Dengan susah payah mereka mendobrak konotasi negatif tentang mereka. Sebagian dari mereka bahkan mengumpulkan diri dalam macammacam komunitas pengamen. Salah satunya adalah Kelompok Pengamen Jakarta (KPJ). Dalam komunitas ini mereka berusaha menyatukan suara dan sikap terhadap keberadaan mereka. Semacam deklarasi pendek atau proklamasi singkat mengenai kemerdekaan para pengamen sesungguhnya.
Di komunitas inilah rupanya mereka melakukan perlawanan persepsi masyarakat dengan menyeragamkan sikap. Dari menyeragamkan prilaku ketika membawakan lagu, ketika meminta biaya jasa, sampai mengarang lagu yang mewakili keberadaan mereka. Tak jarang lirik yang dinyanyikan berisi sindiran kepada penumpang bis atau pejabat pemerintahan.
Pengamen, Sebuah Dilema
Kehadiran pengamen yang berjalan seiring dengan kehidupan kota Jakarta memang sangat fenomal. Kehadiran mereka yang terus bertambah seakan ingin menyadarkan masyarakat bahwa kelahiran mereka dibidani oleh sikap skeptis masyarakat pula. Seperti ingin menunjukkan ketidakmampuan masyarakat dalam mengakomodir warga yang termarjinalkan. Dalam hal ekonomi sudah jelas posisi pemerintah dan pemegang sektor modal yang dipertanyakan. Dalam hal kebudayaan, kalau profesi mengamen dapat dipelihara dengan baik oleh kelembagaaan, dapat memperkaya khazanah budaya bangsa Indonesia. Bahkan di negara maju sekalipun seperti Jerman dan Austria, pengamen selalu hadir dalam kehidupan masyarakatnya sebagai bagian dari budaya.
Keroncong Busung Lapar
Keroncong Busung Lapar
Berjalan menyusur setapak
Lengan-lengan lontar melambai tertiup angin
Smerbak aroma sopi murni
Laksana air mata dewa bahagia
Sirih pinang menghias bibir
Derap kuda dan lenguh sapi di sabana
Bukan gelora sejahtera
Derita tak berkata sribu bahasa
Reff :
Rintih anak tak berdaya
Cecap kantung asi yang hampa
Busung lapar melanda
Rintih pedih nusa bangsa
Lautan luas membentang
Ladang gersang dihijaukan bukan dihancurkan
Smangat berjuang putra puteri
Untuk nusantara sejati
Lyric : Haris Shantanu
Depok, 13 Oktober 2008

