Gesang : Yang Mengalir Jauh


Musik keroncong rasanya bergolak, manakala diberitakan bahwa Gesang meninggal, di tanggal 20 Mei 2010, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Mendengar berita tersebut, penulis mencoba menghubungi salah satu keluarga dan mendapat jawaban mengiyakan. Dan duka itu sangat terasa kuat. Betapa tidak, Musik keroncong Indonesia kehilangan pilar utama yang mungkin dianggap akan meruntuhkan dan menghancurkan keroncong itu sendiri, sepeninggal Gesang. Hal ini, dikaitkan sedikitnya pilar-pilar keroncong lain yang sebanding dengan Sang Maestro.

Kebesaran Gesang sesungguhnya mencuat karena sikap rendah hati-nya. Pergulatan hidupnya sebagai seniman keroncong sangatlah kuat meski tidak gemerlapan. Kehidupan pribadinya sangat bersahaja, dan hanya tertuang dalam lirik-lirik yang diciptakannya, tanpa terjebak ke dalam romanyang dibuat-buat, atau bahkan dilebih-lebihkan. Gesang mengalir jauh, layaknya aliran Bengawan Solo, lagu ciptaannya.

Totalitas keroncong

Sosok Gesang tak bisa dilepaskan dari music keroncong. Komitmen hidupnya tertumpah dan tuntas dalam music keroncong. Keroncong telah menjadi Jalan Pedang baginya. Menyanyi, mencipta dan mengajak ornag untuk bermusik keroncong, begitulah tiga hal dalam pemenuhan kehidupan. Menyanyikan lagu keroncong di jaman penjajahan Jepang, telah membawa popularitas tersendiri bagi Gesang di negeri Sakura, sementara menciptakan lagu juga telah dilakukan. Cara sosok Gesang merespons situasi tertuangkan dalam lirik, Caping Gunung, Sapu Tangan, Jembatan Merah dan yang lainnya, selalu kontekstual dengan masanya.

Manakala geliat pop menguat, dangdut menyeruak, dan rock menggelegar, suara lirih seorang Gesang mencoba memberikan sentuhan. Sebelum Aku Mati.

Lambaian tanganku, panggilan abadi, semasa hidupku sebelum aku mati, begitu dituliskan Gesang, sebagai wujud nyata ajakan bagi semua orang untuk terlibat dalam melestarikan dan mengembangkan serta mencipta music keroncong.

Momentum

20 Mei, menjadi momentum music keroncong Indonesia. Sebuah gugatan, atau malah sebuah panggilan seperti disampaikan Almarhum Gesang . Panggilan Gesang bagi Indonesia untuk memperhatikan music keroncong semakin terasa melalui kematiannya. Dan tinggal kita saat ini menyikapi momentum ini. Akankah kita akan terus meratapi mendiang Maestro, ataukah kita mampu merasakan semangat Gesang juga hidup dalam diri kita masing-masing.

Akankah juga Gesang hanya akan mendengarkan lagu-lagu keroncongnya sendiri di Surga? Tidakkah terpikir bahwa Gesang akan sangat bangga dengan karya-karya baru yang bisa mendampingi lagu-lagu karyanya. Kepergian Gesang memang bagaikan keruntuhan pilar utama sebuah bangunan, namun janganlah kita lupa bahwa batu-batu kecil yang berserak mampu menjadi batu penjuru yang menopang seluruh bangunan. Komitmen dan kekuatan membangun jaringan menjadi kunci utama bagi perkembangan keroncong masa depan.

Selamat Jalan Gesang, kematianmu tidaklah mematikan semangat kami, tetapi menjadi momentum kebangkitan keroncong. (mboets)


Please follow and like us:

tjroeng

Tjroeng Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial