DEMOKRASI KERONCONG
Baliho, spanduk, poster, TV, radio, koran, dan majalah marak dengan wajah-wajah para calon legislative berikut propaganda yang tidak sesungguhnya mencerminkan diri sang Caleg. Mematut-patut diri dan menyembunyikan borok persoalan sehingga dianggap bersih tanpa cacat, sebab pada kondisi ini rakyat dianggap akan senang dan memilihnya.
Seiring dengan Pemilu Legislatif, kita juga ditatapkan pada Pemilihan Presiden yang akan diusung oleh partai maupun koalisi partai-partai yang mampu menangguk minimal 20% kursi di DPR. Persiapan yang dilakukan para Calon Presiden pun tidak kalah dahsyat, para pimpinan partai telah juga mematut-patut diri agar rakyat terpikat dan men-contreng-nya di saat pemilihan dilakukan.
Namun, akan demikian terjadi? Sebegitu parahkah kondisi masyarakat Indonesia, sehingga para Caleg, Capres dan Cawapres itu menganggap rakyat pasti akan memilihnya, jika mereka tampak bersih tanpa noda, sementara realitasnya jauh dari yang dipampangkan. Masyarakat diperangkap ke dalam amnesia massa. Menyedihkan.
Pemilu inilah masyarakat Indonesia ditantang untuk mengingat kembali persoalan dan juga sikap para Caleg dan Capres atas persoalan yang melingkupinya. Masyarakat Indonesia harus mulai membuka memory masa lalu, bukan untuk bernostalgia, namun belajar dari masa lalu untuk memperbaiki bangsa dan Negara di masa depan, yang tentu harus dimulai pada saat ini.
Penentuan 5 tahun ke depan arah pembangunan bangsa saat ini ditentukan, sedemikian nasib musik keroncong. Bahwa musik keroncong sebagai warisan budaya bangsa layak mendapat tempat yang pantas, untuk diperkuat melalui keputusan politik. Pembangunan bangsa tidak semata-mata disandarkan pada satu pilar ekonomi semata, namun ada banyak pilar. Dari sekian pilar bangsa, pilar kebudayaan adalah salah satunya, di mana keroncong ada di dalamnya.
Perhatian pemerintah pada persoalan kebudayaan pada saat ini tereduksi. Hal tersebut terartikulasikan pada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, pada sisi ini nampak sekali bahwa kebudayaan cenderung dilihat dari aspek ekonomi. Padahal kebudayaan mencakup keseluruhan hidup manusia, sebab melalui kebudayaan pembentukan karakter bangsa dimulai.
Gema bas bethot menguncang, denting suara cak menyentil kita semua. Kita ditantang untuk secara cerdas dan sadar untuk memilih calon legislative, dan calon presiden dalam pemilu 2009. Fanatisme sempit haruslah dihindari, dan politik uang janganlah sampai membutakan mata dan hati. Maka, mengutip Susana Tamaro, “Pergilah ke mana hati mu membawa”, sedemikian halnya dalam Pemilu 2009. “Memilihlah ke mana hati keroncong membawa.” Hati keroncong anti kekerasan, hati keroncong menghargai kesetaraan, hati keroncong menghargai perbedaan, dan hati keroncong menghormati hak asasi manusia. Maka, hati keroncong dalam pemilu 2009 tidak akan memilih siapapun yang pernah terlibat dalam tindak pelanggaran HAM, serta yang tidak memiliki perspektif budaya.
Demokrasi keroncong adalah demokrasi yang dibangun di atas fondasi kebangsaan yang anti kekerasan, menghargai pluralitas, menghargai kesetaraan, terbuka, menghargai kebudayaan, dan tidak pernah terjebak dalam fanatisme sempit yang menjerumuskan. (tjroeng)
Prasitoresmi : sang penari yang menyanyi keroncong
Prasitoresmi!!! Bukanlah nama yang populer dalam dunia
keroncong Indonesia, apalagi dunia. Tidak banyak yang mengenal nama tersebut. Hal itu akan berubah jika nama Mamiek Marsudi yang disebut, maka segera orang teringat pada sosok perempuan manis dengan suara merdu mendayu.
Berbagai Negara telah dikunjunginya sebagai duta dalam misi kebudayaan, khususnya dalam dua jenis kesenian yang dikuasainya, menari dan menyanyi keroncong.
Perkenalan Mamiek Marsudi dengan musik keroncong belumlah lama, itu pun dimulai dengan ketidak sengajaan. Ketertarikan Mamiek pada musik keroncong dimulai ketika sang suami, Marsudi membawa oleh-oleh kaset keroncong hasil pemberian Manajer Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1983, Anton. Salah satu lagu memikatnya. Keroncong Bunga Sekuntum.
Hafal satu lagu, menjadi bekal yang mendasari Mamiek untuk mengikuti lomba menyanyi se Kelurahan Dukuh, di mana ia tinggal. Suara emas yang belum terasah itu pada akhirnya menjadi Juara I. Lomba 17 Agustus-an Tingkat Kelurahan mebawa Mamiek menapak ke jenjang yang lebih tinggi, karena selepas menjadi pemenang, Mamiek bergabung dengan orkes keroncong pegiring sewaktu lomba. Bakat semakin terasah.
Dari Wajah Baru hingga BRTV
Sososk Mamiek Marsudi dalam dunia keroncong malah lebih banyak di-support oleh sang ibu, melalui jalur organisasi kantor sang ibu yang memiliki group musik keroncong itulah Mamiek semakin bersinar. Mamiek bersama group keroncong di kantor sang itu mengikuti audisi di TVRI, dan akhirnya membawa Mamiek ke layer kaca pertama kali dalam acara Wajah Baru. “Saat itu kalau mau tampil, harus mengisi formulir dulu, dan menunggu teepon sampai dapat jadwal untuk tampil di TVRI. Jadi dulu itu tidak mudah untuk bisa menyanyi di TVRI,” paparnya.
Kemampuan bernyanyi keroncong memang tidak terlepas dari kondisi lingkungannya. Saat masih bergelut dengan dunia tari jawa tradisional, di bawah bimbingan Maestro Tari, Retno Maruti, Mamiek juga mendapat latihan nembangJawa. Cengkok tembang Jawa inilah yang memudahkannya bernyanyi keroncong.
Bermula dari Wajah Baru, suar merdu itu semakin terasah. Latihan keras menjadikan Mamiek Marsudi semakin berkualitas. Support dan arahan dari Budiman BJ sangat membantu Mamiek dalam mengingkatkan kapasitasnya sebagai penyanyi, terlebih meningkatkan self confidance-nya. Jatuh bangun dalam berbagai lomba pun dilaluinya. Sehingga pada lomba Keroncong menyanbut HUT PKBI ke-28 di tahun 1985 se-Jabotabek, ia menggondol Juara II.
Kisah sukses terus berlanjut, manakala dilaksanakan Lomba Bintang Radio dan Televisi (BRTV) tahun 1986. Rasa penasaran yang menggumpal menjadikan Mamiek terus mengiji kemampuan diri. Babak demi babak dilalui, hingga masuk ke 5 besar yang maji ke final BRTV, dan bersaing dengan Tuti Maryati, Wiwiek Sriono, Jenny Arbian dan Christine. Juara III BRTV diraihnya.
Duta Kebudayaan menyanyi di kamar mandi
Dukungan Marsudi (alm) kepada Mamiek sangat besar, khususnya dalam hal tari, bukan dalam musik keroncong. Sehingga di saat menjadi Duta Kebudayaan sebagai penari, support kepada Mamiek sangatlah besar. Sehingga, potensi suara emasnya menjadi sedikit banyak terkubur.
“Kala itu, almarhum suami hanya membolehkan menyanyi keroncong sebagai hobby, tidak sebagai penyanyi. Maka, saya tidak punya jam terbang menyanyi, dan profesi tetap hanya boleh sebagai penari traditional saja yang tidak banyak menyita waktu. Menyanyi tampil di TV saja boleh. Di sisi lain, mungkin juga karena anak-anak masih kecil dan masih sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan seorang ibu, jadi khawatir, kalau saya jadi penyanyi nanti engga sempat atau engga punya waktu mengurus anak,” paparnya sambil mengenang masa lalu.
“Walau tidak diberi kesempatan banyak ikut latihan (keroncong-red) di luar, tapi kalau laop-laop (teriak-teriak-red) sekuat tenaga di rumah sih tidak masalah. Dan untuk melampiaskan keinginan nyanyiku, aku rajin beli kaset-kaset keroncong. Setiap ada kesempatan nyanyi, setel kaset, sambil belajar menghafalkan baik kaset keroncong, kadang tembang-tembang Jawa, engga masalah, yang penting tidak keluar rumah. Dan kalau aku masuk kamar mandi, terus aku menyanyi di kamar mandi, almarhum terus bilang ama anak-anak, wah, alamat lama nih ibu mandinya kalau pakai nyanyi,” lanjutnya hening.
Latihan di kamar mandi inilah yang kemudian menggema di berbagai gedung seni pertunjukan, baik di Istana Negara, hingga ke pelosok benua, Asia, Australia, Amerika dan Eropa.
Pada penampilan di Perancis, sang Manajer gedung itu menyempatkan menemui rombongan dan berkata, bahwa ia sudah sering mendengar lagu Bengawan Solo, namun belum pernah mendengar Bengawan Solo seperti yang barusan dinyanyikan, seraya menunjuk ke arah Mamiek Marsudi sang penyanyi. Menurut penuturan Mamiek, bisa jadi sang manajer panggung belum pernah mendengarkan lagu Bengawan Solo dengan iringan musik keroncong asli.
Menatap masa depan keroncong
”Benar, anak-anak saya tidak ada yang mengikuti jalur musik keroncong, namun saya berharap banyak bahwa perkembangan. Jujur saya tidak terlalu yakin kondisi yang sebenarnya. Karena memang saya tidak terlalu terjun langsung di organisasi keroncong. Lagipula perkembangan di Jakarta dan di daerah sepertinya berbeda. Justru saya malah banyak tahu dari membaca di email komunitas keroncong, internet, juga di buletin Tjroeng, kelihatannya di daerah lebih bagus perkembangannya, juga organisasinya,” ketika Mamiek mencoba memaparkan pandangannya terhadap masa depan keroncong.
Realitas yang dihadapinya dan dijalani seorang Mamiek Marsudi seolah menjelaskan bahwa keroncong masih belum menjadi sajian umum. ”Kalau dari sisi ‘job’, tuk keroncong, saya sangat prihatin, dalam 10 tahun saya sebagai MC Pengantin Adat Jawa. Dalam setiap acara resepsi, hampir tidak ada yang pakai musik group Keroncong, . Dalam 10 tahun menjadi MC, saya hanya menemukan 3 kali yang memakai musik keroncong, itupun salah satunya ketika mbak Tuti (Tuti Maryati) mantu,” jelasnya dengan nada datar.
Dan sebuah gitar yang tergeletak di sofa, menantang untuk dicabik dawai-dawainya. Sehingga dentingnya mampu menembus relung-relung hati. Dentingan melodi gitar dan lincah petikan cello megajak semua untuk bernyanyi keroncong. Rindang pohon di depan rumah Mamiek Marsudi akan menjadi peneduh jiwa-jiwa keroncong yang gersang, dan semoga bisa menjadi penghilang dahaga manakala kehausan. (mboets)
Biodata
|
Nama Lengkap |
: |
Prasitoresmi |
|
Nama Pangilan |
: |
Mamiek Marsudi |
|
Tempat tanggal Lahir |
: |
Yogyakarta, 9 Juli 1956 |
|
Suami |
: |
Marsudi (almarhum) |
|
Anak |
: |
Jonet Sri Untoro (30 thn) Daru Hanurdoyo (27 thn) |
|
Alamat |
: |
Jln. Dukuh III/15. RT.002/005, ,Kramat Jati. Jakarta Timur 13550. |
|
Pekerjaan |
: |
MC Pengantin Adat Jawa Penyanyi Keroncong dan Campursari |
|
Diskografi |
: |
1988 GNP Dari masa ke Masa Vol. 5 (2 lagu) GNP Dari Masa ke Masa Vol. 6 (2 lagu) 1999 Boulevard Album Emas CSGK ( Campur Sari Gunung Kidul ) dengan Manthous : 5 lagu 2007 GNP Parade Bintang Keroncong (2 lagu) Keroncong Jenaka 2009 Smart Lagu Campursari (11 lagu) sedang dalam proses. |
Musik Keroncong: Go International !
Oleh : Victor Ganap
Musik keroncong lahir di Indonesia melalui proses perjalanan sejarahnya yang panjang dan penuh keunikan dilihat dari unsur pembentuknya yang terdiri dari berbagai komponen budaya, etnik, dan bahasa. Apabila kita menarik benang merah tentang asal mula lahirnya musik keroncong di Indonesia, kita akan dihadapkan pada misteri sejarah yang menyangkut sejarah dunia. Sejarah tentang pendudukan Islam di wilayah selatan semenanjung Iberia dari abad kelima hingga abad ketigabelas. Latar belakang sejarah yang menjelaskan mengapa bangsa Eropa pada abad keenambelas begitu gigih mengerahkan segala kemampuan navigasi dan kekuatan militernya untuk memperoleh rempah-rempah dari Timur. Sejarah tentang kedatangan bangsa Portugis dan bangsa Belanda pada abad ketujuhbelas untuk memperebutkan hegemoni di Asia Tenggara melalui monopoli perdagangan di Malaka, Sunda Kelapa, dan kepulauan Maluku. Sejarah tentang perbudakan, dan kehidupan para musisi jalanan selama masa Hindia Belanda. Sejarah pembentukan jatidiri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan memiliki warisan budaya yang tidak terhingga banyaknya termasuk musik keroncong. Beruntunglah bahwa pada akhirnya musik keroncong diterima dan menjadi milik bangsa Indonesia, suatu kenyataan yang telah memperoleh pengakuan dunia internasional.
Saat ini ketika kita berbicara tentang keroncong, kita dihadapkan pada sebuah terminologi yang mengandung pengertian yang luas. Secara etimologis, keroncong berasal dari nama sebuah alat musik sejenis gitar berukuran kecil berdawai empat yang lazimnya terbuat dari nylon, sehingga apabila dimainkan menghasilkan bunyi crong, bukan jreng seperti halnya bunyi dawai logam. Istilah keroncong diyakini berasal dari para perajin waditra di kampung Tugu yang mewarisi keahlian seni kriya waditra gitar. Gitar itu dinamakan keroncong sebagai adaptasi dari gitar cavaquinho yang dibawa oleh para pelaut Portugis berlayar mengelilingi dunia. Ketika tiba di kepulauan Madeira gitar itu dinamakan braguinha, karena berasal dari wilayah Braga di Portugal. Di Brazil penduduk menamakannya machete yang digunakan untuk mengiringi tari-tarian. Di kepulauan Karibia gitar itu dinamakan cuatro, karena berdawai empat. Ketika tiba di Polynesia samudera Pasifik, penduduk pribumi menyebutnya sebagai ukelele, atau jari yang melompat, karena cara memainkannya tidak dipetik melainkan digerus. Menarik untuk disimak bahwa gitar itu memperoleh popularitas sebagai ukulele dengan paten Hawaii, sedangkan sebutan ukulele sebagai keroncong telah diakui sebagai paten Indonesia menurut Salwa El-Shawan Castelo-Branco dalam kamus The Grove’s Dictionary of Music and Musicians, “Portugal” (2002:197).
Dengan demikian ukulele dapat dikatakan menempati posisi kunci dalam setiap permainan musik keroncong, sehingga orkestrasinya harus memiliki warna crong yang berfungsi sebagai rhythmic riff (motif berulang-ulang). Selain itu, ukulele yang tersebar dan digunakan dalam berbagai jenis ensambel memberi petunjuk bahwa warna crong juga turut membahana di manapun ukulele itu dimainkan. Kita di Indonesia juga sepakat bahwa tidak ada musik apapun yang boleh tampil menyandang label keroncong tanpa memiliki keunikan warna crong dari permainan ukulele. Secara universal diyakini bahwa tiada keroncong tanpa crong, dan melalui penyebaran ukulele tidak mustahil musik keroncong dalam berbagai versi juga dapat ditemukan di berbagai pelosok. Saat ini warna crong masih dapat ditemukan antara lain di kepulauan Halmahera dalam ensambel bastidor yang generik, di Malaka dalam ensambel dondang sayang, di Negeri Belanda dalam ensambel toegoenezen, di Hawaii dalam ensambel hawaiian guitar, di Suriname dengan krontjong ensambelnya, selain di Indonesia dalam ensambel orkes keroncong.
Apabila keroncong sebagai waditra telah mendunia, maka keroncong sebagai ensambel musik, keroncong sebagai bentuk lagu, dan keroncong sebagai gaya permainan gitar merupakan ciri khas Indonesia, yang dipengaruhi oleh gagrak gamelan Jawa. Orkestrasi ensambel keroncong lazimnya menampilkan biola atau flute sebagai pembawa alur melodi, gitar sebagai pengiring dan pembawa alur kontra-melodi, ukulele sebagai time-beater, dan cello petik (pizzicato) sebagai rhythm tune-percussion yang terkadang dipertebal dengan bass petik.
Seperti halnya pengendang menjadi pemimpin kelompok gamelan Jawa, maka pemain cello dengan pola gedugannya yang khas menurut Kusbini menjadi conductor dalam orkes keroncong. Gedugan itu memiliki fungsi ganda sebagai bass dan perkusi, yang menyebabkan orkes keroncong tidak membutuhkan dan menghindari penggunaan drum-set dalam orkestrasinya. Dari sini dapat kita saksikan betapa kuatnya dominasi waditra berdawai dalam menampilkan karakter chordophonic sebuah orkes keroncong secara total dari peranannya sebagai pembawa melodi hingga ritme dan harmoni.
Orkestrasi keroncong sebenarnya merupakan iringan tarian Moresco yang terdiri dari gitar dan tambourine perkusi yang berkeping logam sebagai perpaduan musik Arab-Kaukasia. Tambourine juga digunakan dalam orkes keroncong para pemusik Indies di Batavia pada masa Hindia Belanda. Itu sebabnya muncul versi lain tentang istilah keroncong ketika tambourine tersisih dari orkes keroncong akibat pengaruh gamelan Jawa, sehingga warna kerincing logamnya tidak lagi terdengar, dan yang tinggal hanyalah warna keroncong gitarnya. Warna kerincing logam dikembalikan sebagai properti para penari Jawa yang mengenakan gelang pada kaki mereka. Saat ini meski tambourine masih terdengar di kampung Tugu, orkes keroncong di Indonesia tidak lagi menggunakannya.

Orkes keroncong komunitas Indies di Batavia (Ilustrasi: A.Th. Manusama (1919:12a))
Pada masa Hindia Belanda, keroncong tampil sebagai ars nova, seni baru yang bersifat non-tradisi dan non-klasik Barat, seni yang digemari oleh masyarakat perkotaan. Kota-kota besar di Jawa kemudian tumbuh menjadi sentra keroncong, sejak mencapai popularitas melalui Pasar Malam di Gambir, komunitas Krokodilen di Kemajoran, hingga concours Jaar Markt di Surabaya. Keroncong ketika itu menjadi bagian dari budaya massal yang memiliki nilai komersial, sehingga ensambel keroncong bermunculan di mana-mana. Namun setelah masa kemerdekaan, terjadi revolusi musikal di seluruh dunia dengan lahirnya musik berirama rock yang digemari kaum muda. Musik berirama rock dengan cepat menyebar melalui teknologi rekaman dan menjadi musik masa kini yang menggusur popularitas musik berirama konvensional termasuk keroncong.
Secara musikologis, musik konvensional adalah musik dengan irama yang aksentuasinya jatuh pada ketukan pertama, seperti irama tarian walsa dalam tiga hitungan, atau irama marcia dalam empat hitungan. Sebaliknya irama rock memberikan nafas yang segar ketika aksentuasi itu berpindah dari ketukan pertama yang ditandai dengan hentakan stick snare-drum pada ketukan kedua di antara permainan pola ritmik bass-drum dan hi-hat cymbal. Perpindahan aksentuasi itu melahirkan karakter sinkopatik, ketergantungan yang berkelanjutan, sehingga menimbulkan sensasi psikologis dari tanya yang tidak terjawab. Tidak mengherankan apabila irama rock berhasil menarik perhatian generasi muda, dan dengan cepat menguasai kehidupan musikal secara universal.
Tidak dapat disangkal bahwa drum-set menempati posisi kunci dalam irama rock. Saat ini tidak ada musik populer dari jenis apapun yang tidak menggunakan drum-set, mulai dari kelompok band yang sederhana hingga kelompok symphonic band atau light music orchestra yang canggih. Irama rock melalui permainan drum-set telah mendunia dan menjadi basis dari semua jenis musik populer masa kini. Sejalan dengan itu popularitas musik konvensional menjadi terpinggirkan dan dianggap representasi musik masa lalu yang telah usang, yang hanya diminati oleh kaum tua saja.
Dalam hal ini keberadaan musik keroncong menghadapi dilema, karena di satu fihak popularitasnya akan semakin merosot apabila tetap mempertahankan iramanya yang konvensional, sementara di lain fihak penggunaan drum-set dalam orkestrasi keroncong akan membunuh karakteristik musiknya. Waktu dengan cepat berlalu ketika musik keroncong akhirnya beranjak dari budaya massal musik industri yang bernilai komersial memasuki budaya tradisi yang dikelompokkan sebagai musik etnik. Jenis musik seperti ini selalu rentan menghadapi ancaman kepunahan, sehingga konsep tentang pelestarian dan revitalisasi menjadi agenda utama. Beruntung bahwa modal sosial dari keroncong terletak pada dukungan sebagian masyarakat Indonesia yang menjamin bahwa musik yang telah lahir sejak berabad-abad itu tidak akan punah. Namun upaya revitalisasi perlu terus menerus dilakukan untuk tujuan apapun, termasuk tujuan rekonstruksi, tujuan go-international, atau untuk kepentingan eksperimental dan archiving.
Upaya go-international terhadap musik keroncong pernah dilakukan oleh Rudi Pirngadie melalui penampilan orkes keroncong Tetap Segar yang membawakan gagrak Keroncong-beat dalam New York World’s Fair tahun 1964. Keroncong beat merupakan konsep yang mengetengahkan irama keroncong dalam bentuk gedugan cello, rhythmic riff ukulele, dan banyu mili gitar untuk mengiringi semua jenis lagu termasuk lagu Barat. Tidak kurang penyanyi keroncong seperti M. Rivani, Rita Zahara, dan Sayekti berhasil menarik perhatian masyarakat Amerika dalam membawakan lagu Barat seperti I left my heart in San Francisco yang dikeroncongkan. Eksperimentasi Keroncong beat ternyata tidak membawa hasil disebabkan antara lain karena tidak memiliki akar budayanya yang kuat di Indonesia. Tidak mustahil bahwa kegagalan itu juga diakibatkan karakteristik iramanya yang eksotik, tidak berdaya melawan irama rock yang sensasional. Namun betapapun juga, inovasi Pirngadie telah berhasil menunjukkan posisi dan nilai tawar musik keroncong Indonesia dalam kancah internasional.
Upaya go-international lainnya dapat dilakukan melalui penyusunan kemasan orkestra untuk keroncong seperti yang dilakukan oleh RRI melalui Orkes Studio Jakarta pimpinan Isbandi dalam acara Bintang Radio Televisi jenis Keroncong. Demikian pula eksperimentasi Singgih Sanjaya melalui garapan Light Keroncong dalam format orkestra yang tetap mempertahankan pakem keroncongnya. Upaya ini lebih sesuai bagi pelestarian musik keroncong sebagai musik tradisi yang dikemas secara artistik musikal. Upaya ini lebih akademik dan terhormat dalam mengangkat keroncong sebagai repertoar Indonesia di forum internasional, lebih dari sekedar menawarkan iramanya yang generik.
Upaya go-international juga berarti mempromosikan kepada dunia internasional bahwa keroncong adalah musik Indonesia, melalui hak paten atau hak atas kekayaan intelektual yang diikuti dengan berbagai publikasi tentang keroncong dari para peneliti. Sejauh ini peneliti seperti Surya Brata, Paramita Abdurachman, Harmunah, Budiman BJ, dan Suka Hardjana telah banyak berperan, sementara para peneliti asing seperti Bronia Kornhauser dan Ernst Heins turut memberikan kontribusi mereka. Penelitian Philip Yampolsky menghasilkan rekaman penyanyi keroncong generik tahun 1930-an yang berbeda warna suaranya dengan penyanyi keroncong saat ini, selain selama bertahun-tahun Philip telah menaruh perhatian besar terhadap musik-musik etnik Nusantara.
Upaya go-international juga menuntut kita untuk menghargai para maestro yang telah berhasil menumbuhkembangkan musik keroncong sejak masa Hindia Belanda hingga dapat tampil saat ini sebagai salah satu mainstream musik Indonesia, seperti yang telah dirintis oleh komunitas Tugu dalam Krontjong Toegoe, Kusbini dalam Keroncong Asli, Gesang dalam Langgam Keroncong, Andjar Any dalam Langgam Jawa, serta para penyanyi yang telah turut mendukung kehidupan musik keroncong dari generasi ke generasi. Diharapkan semoga dengan semakin pesatnya pendidikan musik di Indonesia, para pemusik akademik generasi muda secara naluriah akan tergugah kepedulian mereka untuk turut menjaga pusaka yang telah diwariskan leluhur bangsa kita.
Dengan demikian upaya go-international yang sejati terhadap musik keroncong semata-mata tidak terletak pada penyebaran dan popularitas musik keroncong secara internasional, atau pada archiving sosok musiknya dalam bentuk partitur, atau berupa pergelaran orkes keroncong yang immanent, akan tetapi lebih tertuju pada sikap yang mencerminkan keinginan para pencipta, pemusik, dan peneliti keroncong Indonesia untuk berperilaku secara musikal.
Pada akhirnya kita berkewajiban secara moral untuk menjaga dan mendukung kepercayaan dunia internasional bahwa keroncong adalah musik Indonesia, seperti halnya fado dikenal sebagai musik Portugis, blues menjadi identitas musik negro Amerika, flamenco dari Spanyol, dan tango sebagai nyanyian rakyat Argentina, musik nasional yang bersifat kerakyatan dengan lagunya yang tidak sekedar dinyanyikan melainkan juga diekspresikan secara coração, atau dari lubuk hati yang paling dalam.
13-02-2009
Save Our Kroncong
Oleh Johanes Siswanto
Pemerhati Keroncong
Membaca beberapa terbitan buletin ”Tjroeng”, nampak geliat semangat komunitas keroncong Indonesia (KKI), baik penggemar, musisi, penyanyi, dan pemerhati keroncong berkeinginan untuk menggali kembali dan melestarikan seni musik keroncong yang dirasa mulai surut pamornya. Secara jumlah KKI mungkin semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia, tetapi secara prosentase mungkin menurun. Dapatkah dikatakan musik keroncong mulai surut pamorya?
Bila dibandingkan dengan keadaan tahun 70an mungkin ada benarnya. Saat itu event kegiatan musik keroncong yang disponsori oleh pemerintah atau negara dapat dikatakan padat. Diantaranya, yang belum hilang dari ingatan adalah selalu diadakan rutin setiap tahun lomba pemilihan bintang radio dari tingkat daerah (provinsi) sampai dengan tingkat nasional. Pemilihan ini disponsori (diadakan) oleh Departemen Penerangan, dan Radio Republik Indonesia (RRI) yang merupakan lembaga dibawah naungan Departemen Penerangan selalu menyiarkan acara lomba pemilihan bintang radio tsb. Pada saat itu yang dilombakan tidak hanya musik keroncong tetapi juga dari jenis seriosa dan “hiburan”, atau lebih dekenal saat ini sebagai jenis pop.
Antusias masyarakat mengikuti penyelenggaraan pemilihan bintang radio sangat besar. Terbukti acara ini yang disiakan oleh RRI sampai larut malam selalu ditunggu oleh para pendenganya. Dan musik keroncong dikalangan masyarakat pada saat itu menduduki posisi lebih tinggi, lebih populer bila dibandingkan dengan jenis musik seriosa dan hiburan. Perkembangan kondisi di masyarakat mempengaruhi pula perkembangan selera masyarakat terhadap musik yang ada. Secara alami terbentuk polarisasi selera dan apresiasi terhadap musik sekaligus mempengaruhi perkembangan musik itu sendiri. Terjadi pergeseran selera, terutama dikalangan anak usia muda (remaja) yang lebih menyenangi musik jenis hiburan atau pop. Banyak bermunculan group musik pop seperti Koes Plus, Favourit Group, D’lloyd, Pambers, Mercys dll. Selain itu, pelan tapi pasti, mulai merangkak naik popularitas musik dangdut yang pada waktu itu lebih dikenal sebagai musik “Melayu”. Bahkan dedengkot musik dangdut seperti Oma Irama pada awal karier musiknya melalui jalur musik pop, dan beberapa single lagunya sempat populer waktu itu. Keadaan sekarang, popularitas kedua jenis musik ini semakin tinggi (penggemarnya semakin banyak) jauh meninggalkan jenis musik kroncong dan seriosa.
Tidak puas dengan wadah yang disediakan oleh pemerintah sebagai ajang lomba, para musisi musik pop menyelenggarakan sendiri pemilihan bintang pop, baik ditingkat daerah maupun tingkat nasional, yang lebih dikenal dengan pemilih “Pop Singer”. Semakin banyak event musik pop diselenggarakan, sementara event untuk musik keroncong semakin sedikit bahkan tidak ada sama sekali.
Perkembangan selanjutnya, dengan dihapuskannya Departemen Penerangan dari jajaran kabinet, otomatis hilang pula kalender kegiatan lomba pemilihan bintang radio yang menyertakan musik keroncong didalamnya. Berarti hilang pula ajang untuk sosialisasi dan mempopulerkan musik keroncong dikalangan masyarakat luas.
Apakah rentetan kejadian ini pada akhirnya menurunkan pamor musik keroncong secara keseluruhan dan mulai ditinggalkan penggemarnya?
Dimata masyarakat Indonesia secara menyeluruh mungkin pamor musik keroncong turun drastis kalau tolok ukurnya adalah jumlah bilangan pengemar atau penikmat musik keroncong. Tetapi dikalangan KKI sendiri popularitas atau pamor musik keroncong tetap ada dan terjaga, hanya jumlahnya mungkin lebih sedikit dibandingkan dengan penggemar musik pop atau dangdut. Penambahan jumlah penggemar juga tidak terlalu signifikan, mungkin menunggu perubahan selera seiring dengan penambahan umur para penggemar musik bukan keroncong. Kenyataannya, komunitas musik keroncong tetap ada, bahkan tidak hanya di Indonesia tetapi merambah ke negara lain dibawa oleh orang-orang Indonesia yang migrasi ke negara lain, seperti Malaysia, Suriname, Belanda dsbnya. Di negara yang disebutkan tadi, komunitas musik keroncong tetap konsisten menyenangi dan memainkan musik keroncong.
Menyenangi atau membeci suatu jenis musik atau lagu-lagu, berkaitan dengan selera, jadi sifatnya sangat subyektif, tidak dapat dipaksakan. Berjalan secara alami menuruti lingkungan dan kebiasaan yang ada. Lagu musik pop yang dibawakan oleh grop musik Peterpan atau oleh group musik Radja di Indonesia sangat digandrungi dikalangan anak remaja atau anak bau gede (ABG), tetapi mungkin lagu-lagu group tadi tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat Suriname. Masyarakat disana boleh jadi lebih mengenal artis Waljinah dengan lagu “Walang Kekeknya”. Kesimpulannya, secara global, mana yang lebih punya pamor atau lebih populer? Musik pop atau musik keroncong? Silahkan pembaca mempersepsikan sendiri untuk menjawab pertanyaan lain yang telah disebutkan diatas.
Permasalahan yang dihadapi komunitas keroncong di Indonesia dan dibelahan dunia lainnya adalah bagaimana menjaga sustainable eksistensi musik keroncong. Hal ini perlu mendapat perhatian mengingat adanya keprihatinan dari beberapa kalangan yang menyangsikan daya tahan musik keroncong terhadap “gempuran” jenis musik lainnya, khususnya musik pop. Sebagaimana berita yang dilansir oleh situs internet antara.co.id, tanggal 19 Oktober 2008, memuat berita tentang harapan besar maestro keroncong Indonesia, ”Gesang”, meminta masyarakat penggemar musik keroncong ikut melestarikan aliran musik asli jawa ini (maksudnya keroncong) agar tetap hidup sepanjang masa. Dibalik harapan beliau menyiratkan adanya kekhawatiran bahwa musik keroncong Indonesia mulai surut pamornya. Lambat laun, jika tidak ada upaya ”nguri-uri” musik keroncong, bukan tidak mungkin nantinya akan punah ditinggalkan penggemarnya. Keadaan ini merupakan tantangan sekaligus peluang seluruh insan komunitas keroncong untuk mengembalikan kemasyhuran musik keroncong agar harapan maestro “Gesang” keroncong dapat diwujudkan.
Bagaimana upaya kita melestarikan budaya seni musik keroncong?
Mengacu ke http://www.wikipedia.org, terdapat beragam jenis keroncong, ada Keroncong Asli, Langgam Keroncong, Stambul Keroncong, ditambah dengan Krontjong Toegoe. Dari masing-masing jenis tadi memiliki ”rumus” atau ”pakem” sendiri-sendiri [mengenai rumus ini telah dimuat di buletin Croeng sebelumnya]. Melihat rumus atau pakemnya, musik keroncong dapat dikatagorikan sebagai musik yang serius, setara dengan musik klasik karena ada kaidah yang harus dipenuhi agar dapat disebut sebagai musik keroncong. Disinilah letak indah dan ”adiluhungnya” musik keroncong! Jadi kalau ada sebagian warga masyarakat mengatakan bahwa musik keroncong adalah ”kampungan” atau ”jadul” itu syah-syah saja karena berbeda persepsinya, tetapi itu keliru besar! Tidak sembarang orang dan tidak banyak yang dapat mencipta dan memainkan musik “pure” keroncong dengan baik dan benar. Hanya orang-orang yang memiliki talenta khusus. Oleh karena itu, musik keroncong yang dimainkan tanpa mentaati kaidah-kaidah, atau menyimpang yang ada dapat dikatakan sebagai musik keroncong kontemporer atau eksperimental. Biasanya dari kalangan anak muda yang senang melakukan eksperimen sehingga lahirlah musik CongDut (keroncong Dangdut), CongRock (paduan keroncong dan rock), CongLan (paduan keroncong dan gamelan), dll. Bagaimana kita menyikapi terhadap lahirnya jenis musik tersebut?
Bersambung ....
KERONCONG GOES TO MALL!!
Lahir, tumbuh dan berkembang di negeri sendiri, tidak menjadikan keroncong sebagai rajanya musik di Indonesia. Meskipun dahulu pernah mengakar dalam kehidupan masyarakat kita, tidak serta merta diikuti oleh generasi muda saat ini. Hal ini pulalah yang menjadi dasar pemikiran Keroncong Cyber (KC) Bandung dengan senang hati menindaklanjuti tawaran dari Bandung Electronic Center (BEC) untuk membuat pementasan keroncong di Mal yang paling ramai dikunjungi di kota Bandung ini, dengan tajuk KERONCONG IS BACK!!
Dengan pertemuan yang intensif, akhirnya pementasan perdana keroncong di area food point BEC terlaksana. Dalam penampilan perdana pada hari senin, 19 Februari 2009, grup lembaga apresiasi keroncong Bandung-Cimahi mampu memberikan suasana lain dari mal yang terkenal sebagai tempat nongkrongnya anak muda ini. Penampilan kedua, pada tanggal 23 Februari 2009 diisi oleh grup nomor wahid di kota Bandung, Blue Moon. Grup yang dikomandoi pak Isman ini benar-benar tampil apik, energik, dan progresif. Didukung oleh penyanyi kota Bandung serta MC yang kocak, membuat suasana sore itu menjadi tambah semarak. Bahkan kesan musik keroncong yang kuno, lambat, dan mendayu seakan sirna dengan penampilan luar biasa dari Blue Moon ini. Bahkan kepala Dinas kebudayaan dan pariwisata Bandung, Bapak M. Askary yang menyempatkan hadir pada saat itu nampak terpukau dan memberi apresiasi yang tinggi.
Puas dengan dua kali penampilan musik keroncong ini membuat pihak manajemen BEC tetap mempertahankan even ini. Pada bulan Maret, juga dilakukan 2 kali pementasan. Tanggal 16 adalah giliran grup Jempol Jenthik yang mengisi acara. Dengan menampilkan penyanyi-penyanyi muda dengan lagu-lagu pop yang dikombinasikan dalam 4 suara (Sopran, Alto, tenor dan Bass) membuat keunikan tersendiri. Dan penampilan terakhir di Bulan Maret adalah grup The Oxygen, pimpinan Bapak Dwi. Grup ini sangat istimewa, selain karena punggawa-punggawanya yang masih sangat muda, grup yang baru berdiri selama 6 bulan ini mampu menampilkan aransemen lagu-lagu hit di tanah air dengan indah.
Selain di BEC, keroncong juga dipentaskan secara rutin di Metro Indah Mall (MIM), dahulu Metro Trade Center (MTC). Penampilan-penampilan di ruang publik seperti di BEC dan MIM ini diharapkan mampu membuat keroncong kembali bergairah, ditengah maraknya genre musik lainnya yang menguasai blantika musik tanah air. Setidaknya mengingatkan kembali kepada generasi muda kita, bahwa kita juga mempunyai musik dengan paduan harmoni yang sangat luar biasa. Luar biasa, karena tidak semua orang bisa memainkannya. Anda tertarik? (Wiwid)
Lomba Nyanyi Keroncong
Tingkat guru SD, SMP dan SMA / SMK se Kodya Surabaya
Dinas Pendidikan Kota Surabaya menyelenggarakan Lomba Nyanyi Keroncong untuk tingkat Guru SD, SMP dan SMA/ SMK. Lomba Nanyi keroncong ini diselenggarakan pada tanggal 27 s/d 28 Maret 2009 dengan mengambil tempat di Taman remaja Surabaya.
“Lomba ini dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Surabaya yang ke 716 pada bulan Mei mendatang,” papar Bapak Miskan, Kasi Kesenian dan Olahraga di Dinas Pendidikan, selaku Ketua Panitia Lomba Nyanyi Keroncong. “Penyelenggaraan acara lomba keroncong guru dilikngkungan Dinas Pendidikan ini baru yang pertama kali, dan sebenarnyalah saya tidak menduga peserta akan sebanyak ini, pada saat saya diperintahkan oleh dinas untuk mengadakan acara ini, saya sempat berpikir paling paling pesertanya 5 sampai 10 orang saja,” lanjutnya.
Lomba Nyanyi Keroncong Tingkat Guru ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Bapak Drs. H. Sahudi M.Pd. dengan tujuan untuk menggugah para Guru untuk kembali mencintai keroncong sebagai bagian dari warisan budaya, serta menyerahkan tongkat estafet warisan budaya ini kepada anak didik di sekolah, bagaimana anak didik kita bisa mencintai dan kemudian mengembangkan keroncong kalau mereka tidak mengenalnya.
Hasil dari Lomba Nyanyi Keroncong dengan Juri yang terdiri atas : 1) Agustina Kencana Mulya (Seniman Musik) ; 2) Bambang Sukmo Pribadi (Pendidik) dan 3) Munifa Priyadi (Komunitas Keroncong Cyber) dengan mengacu pada criteria penilaian a) Vokal ( Olah suara, balance / blending) ; b) Teknik ( Kaidah lagu keroncong, Penguasaan panggung serta microphone) ; c) Pembawaan (Expresi dalam membawakan lagu, penyampaian makna / isi lagu) dan d) Penampilan ( Tata busana, termasuk keserasian dan keselarasan penari latar) memutuskan pemenang sebagai berikut :
|
Tingkat Juara |
Nama Peserta |
Guru Sekolahan |
Nilai |
|
Juara I |
Indra Setyaniwoko |
SDN Sawonggaling II |
889 |
|
Juara II |
Endang Supriati |
SD Mangir |
888 |
|
Juara III |
Puguh Handoko |
SDN Pacar Keling |
880 |
|
Juara harapan I |
Isti Yudijani |
SDN Sawunggaling |
879 |
|
Juara harapan II |
Nafiri Rafi |
SMA Muhammadiyah |
859 |
Para pemenang lomba mendapatkan Tropi, Piagam dan uang pembinaan. (moen)

