<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buletin Tjroeng</title>
	<atom:link href="http://www.tjroeng.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tjroeng.com</link>
	<description>Gelegak Jiwa Nusantara :: Buletin Musik Keroncong</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 12:16:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
		<item>
		<title>SUMPAH KERONCONG</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=417</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=417#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 17:20:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Tjroeng 3x]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Kasihan bangsa, yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen, dan meminum susu yang ia tidak memerasnya. Sepenggal puisi dari Kahlil Gibran mengusik nurani kita. Setidaknya dalam momentum peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda yang jatuh di 28 Oktober 2009. Api yang membara pada jiwa-jiwa muda di tahun 1928 menagih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><strong><br />
</strong></span></p>
<blockquote><p><span style="color: #000000;"><span><em>Kasihan bangsa, yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya,<br />
memakan roti dari gandum yang tidak ia panen,<br />
dan meminum susu yang ia tidak memerasnya. </em></span></span></p></blockquote>
<p><span style="color: #000000;"><span>Sepenggal puisi dari Kahlil Gibran mengusik nurani kita. Setidaknya dalam momentum peringatan 81 tahun </span></span><span style="color: #000000;"><span>Sumpah Pemuda</span></span><span style="color: #000000;"><span> yang jatuh di 28 Oktober 2009. Api yang membara pada jiwa-jiwa muda di tahun 1928 menagih kita semua.  Ada beberapa poin penting yang bisa digali dari Semangat Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928. yakni :</span></span></p>
<ol>
<li><span style="color: #000000;"><span>Sudahkah kita Bertumpah Darah Satu, Tanah Indonesia, sementara pulau-pulau tergadaikan dan bahkan tak dirawat sehingga lari ke penguasaan negara lain?</span></span></li>
<li><span style="color: #000000;"><span>Sudahkah kita Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia manakala kita lebih mengagungkan produksi asing dan kurang mencintai produk-produk lokal kita?</span></span></li>
<li><span style="color: #000000;"><span>Sudahkah kita Berbahasa Satu, yakni </span></span><span style="color: #000000;"><span>Bahasa Indonesia</span></span><span style="color: #000000;"><span> manakala kita  membiarkan dialog dalam sinetron yang mengajarkan bahasa ketidaksopanan dan kurang menjunjung bahasa kemanusiaan?</span></span></li>
</ol>
<p lang="fi-FI"><span style="color: #000000;"><span>Upaya memaknai Ikrar Sumpah Pemuda tidak bisa dilepaskan dengan konteks kekinian di mana perubahan jaman sangat cepat, namun di sisi lain substansi bernegara dan berbangsa juga ikut tergerus. Pada sisi ini melakukan refleksi atas nilai-nilai luhur ikrar kaum muda di tahun 1928 menjadi sangat penting.</span></span></p>
<p lang="fi-FI"><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p lang="it-IT"><span style="color: #000000;"><span><strong>Garam import dan senandung keroncong </strong></span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span>70% wilayah Indonesia adalah lautan, dan dari lautan-lah garam bersumber. Namun kenyataan yang terjadi, pada saat ini Indonesia malah melakukan kebijakan impor garam yang bernilai sebesar Rp. 900 Miliar setahun. (</span></span><span style="color: #000000;"><span><em>KOMPAS, 24 Agustus 2009</em></span></span><span style="color: #000000;"><span>) Akibat dari kebijakan tersebut, puluhan ribu petani garam mulai menganggur. Atas dasar kualitas garam lokal yang kurang bagus, pemerintah memberlakukan import garam, bukannya melakukan peningkatan kapasitas petani garam untuk meningkatkan kualitas produksi garamnya. </span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span>Hal ini menjadi sangat ironis. Bangsa yang kaya akan sumber daya laut melakukan kebijakan yang sangat aneh. Mengacu pada petikan puisi Kahlil Gibran di atas, maka dapat dikatakan, ”</span></span><span style="color: #000000;"><span><em>Kasihan bangsa yang mengkonsumsi garam yang tidak berasal dari lautnya sendiri. Memberi gaji pada </em></span></span><span style="color: #000000;"><span><em>luar negeri</em></span></span><span style="color: #000000;"><span><em> dan tidak tanggap pada rakyat sendiri</em></span></span><span style="color: #000000;"><span>”</span></span></p>
<p lang="it-IT"><span style="color: #000000;"><span>Fenomena kebijakan import garam, secara nyata menunjukkan bahwa secara gamblang pemerintah tidak mampu melihat potensi dan peluang pengembangan potensi lokal untuk dijadikan investasi untuk mensejahterakan warganegaranya. Seperti hanyal musikkeroncong yang lahir dari bumi Indonesia tidak mendapat tempat yang baik di sisi kebijakan nasional, sehingga arus musik dari luar menjadi begitu memenuhi udara Indonesia, sehingga rintihan kaum papa tak lagi terdengar.</span></span></p>
<p lang="it-IT"><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p lang="it-IT"><span style="color: #000000;"><span><strong>Sumpah Keroncong</strong></span></span></p>
<p lang="it-IT"><span style="color: #000000;"><span>Dalam upaya menggali musik nasional Indonesia, Keroncong menempati posisi yang sangat krusial, di mana keragaman bangsa dan keragaman budaya menjadi ciri khas keindonesiaan kita, justru terwakili dalam musik keroncong.  Pertemuan lintas budaya memunculkan musik keroncong sebagai musik yang tidak hanya tumbuh dari kesenian satu daerah, namun dalam perjalanan waktu musik daerah memperkaya musik keroncong. Karakter musik keroncong di wilayah Indonesia sangat kental dengan warna lokal, semisal di Lampung, dengan KR 56 musik keroncong yang dibawakan memuat karakter melayu, di Solo musik keroncong kental dengan warna musik langgam, dan di Jakarta dengan corak keroncong yang juga khas Jakarta.</span></span></p>
<p lang="it-IT"><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span>Musik keroncong adalah representasi Indonesia. Pluralitas dan harmonia-nya menyeruak ke penjuru dunia. Momentum sumpah pemuda mengajak kita semua untuk semakin mencintai dan memainkan musik keroncong. Musik keroncong mengajak kita semua untuk kembali memaknai ikrar Sumpah Pemuda, dalam perbedaan selalu dituntut untuk menciptakan harmoni yang seimbang dan padu. Maka kita akan bangga, bahwa sebagai bangsa Indonesia memainkan </span></span><span style="color: #000000;"><span>musik Indonesia</span></span><span style="color: #000000;"><span>, yakni musik keroncong.</span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span>Kami, putra dan putri Indonesia bertekad memainkan </span></span><span style="color: #000000;"><span>musik Indonesia</span></span><span style="color: #000000;"><span>, yakni musik keroncong dan berjuang menawarkan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan demi perkembangan Indonesia yang lebih baik di masa depan.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=417</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koko Thole : sang peziarah keroncong</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=446</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=446#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 18:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Bas Bethot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[“Terlalu agung kalau keroncong hanya dikelola oleh sebuah organisasi” Demikian yang selalu disampaikan oleh seorang Joko Priyono, laki-laki kelahiran Magelang, 11 Maret. Tidak asing sosok Joko Priyono bagi pelaku, penikmat dan pemerhati keroncong di tanah air, karena ia adalah seorang yang lebih dikenal sebagai Koko Thole. Bagi seorang Koko Thole, keroncong adalah sebuah mahakarya seni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>“<span><em>Terlalu agung kalau keroncong hanya dikelola oleh sebuah organisasi”</em></span></p></blockquote>
<p><span><em><br />
</em></span></p>
<p><span>Demikian yang selalu disampaikan oleh seorang Joko Priyono, </span><span>laki-laki kelahiran Magelang, 11 Maret. Tidak asing sosok Joko Priyono bagi pelaku, penikmat dan pemerhati keroncong di tanah air, karena ia adalah seorang yang lebih dikenal sebagai Koko Thole. Bagi seorang Koko Thole, keroncong adalah sebuah mahakarya seni yang akan sangat lambat pergerakannya apabila hanya diurusi oleh sebuah organisasi yang </span><span><em>concern</em></span><span> terhadap musik ini. </span><span>O</span><span>leh karenanya, Koko berharap akan semakin banyak tumbuh organisasi-organisasi keroncong lain, namun banyaknya organisasi harus mengacu kepada penguatan, bukan kemudian dianggap sebagai sebuah persaingan yang tidak sehat.</span></p>
<p><span>Kebulatan tekad Koko Thole untuk terus belajar keroncong tak pelak lagi salah satu</span><span>nya</span><span> dipicu oleh sebuah SMS yang masuk ke telepon selularnya, “ </span><span><em><strong>He Koko</strong></em></span><span><em><strong>,</strong></em></span><span><em><strong> tahu apa kamu tentang keroncong !</strong></em></span><span> </span><span>“ hal tersebut menjadikannya mau terus menerus belajar, namun dengan situasi ini Koko Thole menyikapinya dengan bijak, “</span><em>Lha wong cuma mau ikut mengembangkan keroncong aja kok ya dimusuhi</em><em>. Apa</em><em>lagi </em><em>kalo </em><em>bikin sekolah , wah bisa diunek unekke</em><em>.</em>”</p>
<p lang="id-ID">
<p><span><strong>Filosofi Semar : </strong></span><span><em>dari keroncong asli hingga congyang</em></span></p>
<p><span>Memasuki ruang studio OK Pesona Jiwa, dimana K</span><span>oko Thole bergulat dan bersetubuh dengan keroncong terpampang sosok Wayang Semar di dinding. Dalam ruang yang hening, sosok Semar senantiasa mengetuk-ketuk hati seorang Koko Thole untuk terus berkarya dan semakin membuka diri bahwa keroncong seharusnyalah seperti sosok </span><span>S</span><span>emar yang menerima dengan luas seluruh pihak, dan memperjuangkan kejernihan hati. Serta tak lupa bahwa keroncong tetap harus mengakar di masyarakat, sedemikian sosok Semar adanya.</span></p>
<p><span>Dengan keluasan yang ada dan mau membuka diri menjadikan Koko Thole banyak gagasan yang mengalir dan mencoba mengartikulasikan gagasan melalui irama keroncong. </span><span>Tantangan jaman semakin memacu Koko Thole untuk bisa semakin mendaratkan keroncong di bumi Indonesia di semua lapisan. Bermula dari gagasan</span><span> </span><span>tersebut muncul kemudian istilah CONGYANG, atau Keroncong Goyang Pesona Jiwa yang sempat beberapa kali mengisi gebyar Keroncong di TVRI. Kegelisahan demi kegelisahan menemukan solusi dengan makin banyaknya aransemen baru keroncong dari sosok Koko Thole.</span></p>
<p>“<span><em>Saya hanya ingin mencoba lebih mengenalkan keroncong ke kalangan anak muda. Dan ingin menunjukkan bahwa keroncong itu bukan hanya milik orang tua saja. Keroncong tidak klemar klemer bikin ngantuk. Tapi k</em></span><span><em>e</em></span><span><em>roncong juga bisa untuk goyang</em></span><span><em>,</em></span><span>” demikian </span><span>Congyang didesain untuk menyentuh segmen generasi muda dalam upaya mengenal keroncong. Seperti pemeo, tak kenal maka tak sayang. Begitulah salah  satu upaya yang dilakukan.</span></p>
<p lang="sv-SE">
<p><span><strong>AMI Award 2009 : </strong></span><span><em>tidak ada kata terlambat</em></span></p>
<p><span>Tahun 2009 merupakan tahun yang sangat menggembirakan bagi seorang Koko Thole. </span><span>Bertahun-tahun selalu masuk dalam nominasi AMI Award dan baru di tahun 2009 ia menjadi pemenang. 2 buah penghargaan sekaligus.</span></p>
<p><span>Sebuah pengakuan yang bisa jadi terlambat dibanding dengan prestasi dan karya yang telah dibuatnya. Bahkan di balik kiprahnya di dunia musik keroncong, AMI 2009 yang diraihnya malah dalampenghargaan karya Produksi Terbaik dalam Album Lagu Berbahasa Daerah, sementara untuk  musik keroncong menjadi nominator untuk Album All New Keroncong I</span><span>ndonesia.</span></p>
<p><span>Di luar AMI Award penghargaan buat Koko Thole, termasuk dalam hal ini adalah </span><span>Penghargaan dari Indonesia Books Of Record - Pertama Di Indonesia Menciptakan lagu sesuai tema acara per minggu  satu lagu dalam acara  Canda Sinden SCTV sejak 24 Agustus 2004 (</span><span><em>lebih kurang 70 lagu</em></span><span>). Selain itu keterlibatan dalam lomba juga membuahkan hasil dengan menjadi Juara III dan IV Karya Cipta lagu Jawa tingkat Nasional 1993 (</span><span><em>Penyanyi Anastasia Astuti &amp; Sundari Sukoco</em></span><span> ).</span></p>
<p lang="sv-SE">
<p><span><strong>Jalan Pedang</strong></span><span>: </span><span><em>dari Gebyar Keroncong hingga Opera van Java</em></span><span> </span></p>
<p><span>Bila seorang samurai memilih jalan pedang, maka Koko Thole memilih jalan musik. </span><span>Karya musiknya terus mengalir bahkan dapat dikatakan untuk musik keroncong Koko Thole bersama OK Pesona Jiwa-nya memberi kontribusi yang sangat besar. </span></p>
<p><span>Di rumahnya </span><span>Koko Thole memiliki studio musik. Dari studio inilah mengalir karya-karya yang yang tak pernah berhenti. Karya yang selalu hadir dalam keseharian bagi pemirsa televisi baik dalam gebyar keroncong yang seminggu sekali hingga Opera van Java yang muncul hampir tiap malam. Dalam Gebyar Keroncong, jingle pembuka dan sela lahir dari ruang studio miliknya. Dengan memilih jalan musik, maka mendengarkan musik dan menghasilkan karya musik merupakan linkaran yang tak pernah terputus,  hanya dengan demikian dihasilkan karya original, bukan karya jiplakan. </span></p>
<p><span>Totalitas seorang Koko Thole tidak bisa dilepaskan dasri dukungan Reni Farida sang istri yang telah memberinya 3 anak. Dukungan keluarga memberi kekuatan lebih. </span><span>Canda dari Putri Nabila Chandra Kirana, Paramitha Putri Nirmala dan  Anugrah Luhur Pawenang memberi gairah baru. Anak-anak telah menjadi berkat yang mempu mengobarkan nyala api secara terus menerus. Berkarya tiada henti. (</span><span><em>wied&amp;mboets2000</em></span><span>)</span></p>
<p lang="fi-FI">
<p><span><strong>Biodata :</strong></span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="7" width="590">
<col width="89"></col>
<col width="2"></col>
<col width="18"></col>
<col width="2"></col>
<col width="409"></col>
<tbody>
<tr valign="TOP">
<td colspan="3" width="137"><span>Nama Lengkap </span></td>
<td width="2"></td>
<td width="409"><span>Joko Priyono</span></td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td colspan="3" width="137"><span>Nama Artis </span></td>
<td width="2"></td>
<td width="409">
<p lang="sv-SE"><span>Koko 			Thole</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td colspan="3" width="137">
<p lang="sv-SE"><span>Tempat/Tgl 			Lahir </span></p>
</td>
<td width="2"></td>
<td width="409">
<p lang="sv-SE"><span>Magelang,11 			Maret</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td colspan="3" width="137">
<p lang="sv-SE"><span>Isteri</span></p>
</td>
<td width="2"></td>
<td width="409">
<p lang="sv-SE"><span>Reni 			Faridah</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td colspan="3" width="137">
<p lang="sv-SE"><span>Anak</span></p>
</td>
<td width="2"></td>
<td width="409">
<p lang="it-IT"><span>1.. 			Putri Nabila Chandra Kirana </span></p>
<p lang="it-IT"><span>2. 			Paramitha Putri Nirmala </span></p>
<p lang="it-IT"><span>3. 			Anugrah Luhur Pawenang</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td colspan="3" width="137"><span>Alamat </span></td>
<td width="2"></td>
<td width="409">
<p lang="it-IT"><span>Pondok 			Damai No 2 Depok</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td colspan="3" width="137">
<p lang="fi-FI"><span>Pekerjaan</span></p>
</td>
<td width="2"></td>
<td width="409">
<p lang="it-IT"><span>Pemusik</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td colspan="3" width="137">
<p lang="sv-SE"><span>Hobby</span></p>
</td>
<td width="2"></td>
<td width="409">
<p lang="sv-SE"><span>Mancing 			dan Makan Ikan</span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td colspan="3" width="137">
<p lang="sv-SE">
</td>
<td width="2"></td>
<td width="409">
<p lang="sv-SE">
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="89">
<p lang="sv-SE"><span><strong>Prestasi </strong></span></p>
</td>
<td width="2"></td>
<td colspan="3" width="457">
<ol>
<li>
<p lang="es-ES"><span>Nominasi 				Pemeran Pembantu Utama FSI Dalam Sinetron Apel dan Asmara ;</span></p>
</li>
<li><span>Nominasi 				Pemeran Pembantu Utama FSI Dalam Sinetron Gandrung;</span></li>
<li>
<p lang="es-ES"><span>Juara 				III dan IV Karya Cipta lagu Jawa tingkat Nasional 1993 ( Penyanyi 				Anastasia Astuti $ Sundari Sukoco );</span></p>
</li>
<li>
<p lang="es-ES"><span>Nominasi 				Penyutradaraan Terbaik Anugrah Dangdut TPi 1998 Dalam lagu Bulan 				Andung Andung , Penyanyi Nini Carlina</span></p>
</li>
<li>
<p lang="es-ES"><span>Penghargaan 				dari Indonesia Books Of Record ( Pertama Di Indonesia Menciptakan 				lagu sesuai tema acara per minggu  satu lagu dalam acara  				Canda Sinden SCTV sejak 24 Agustus 2004 ( lebih kurang 70 lagu )</span></p>
</li>
<li><span>Penghargaan 				dari Indonesia Books Of Record ( Pertama Indonesia melakukan 				pekerjaan sebagai 1 Pemeran Utama 2 , Pencipta Theme Song 3 . 				Penyanyi  yang membawakan lagu tersebut dalam sebuah sinetron ( 				Th . 2006 );</span></li>
<li><span>Nominasi 				Anugrah Musik Indonesia  dalam lagu Murwakala</span></li>
<li><span>Nominasi 				Anugrah Musik Indonesia  dalam lagu Satrio Piningit</span></li>
<li><span>Nominasi 				Anugrah Musik Indonesia  dalam lagu Jaran Goyang</span></li>
<li><span>Nominasi 				Anugrah Musik Indonesia  dalam lagu Wonogiri</span></li>
<li><span>Nominasi 				Anugrah Musik Indonesia  dalam lagu Prasetyaku</span></li>
<li><span>Nominasi 				Anugrah Musik Indonesia  dalam lagu  Topeng Topeng</span></li>
<li><span>Nominasi 				Anugrah Musik Indonesia  dalam lagu  Rebutan Warisan</span></li>
<li><span>Nominasi 				Anugrah Musik Indonesia  dalam lagu Kaliurang</span></li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Nominasi 				SCTV Music Award kategori album Etnik th 2006 2007</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Nominasi 				Anugrah Musik Indonesia  dam Album Keroncong All New 				Keroncong Indonesia ( Penyanyi Toto salmon &amp; Kelana Hermawan 				) ( Th 2009 )</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Peraih 				penghargaan Karya Produksi terbaik dalam album lagu berbahasa 				daerah dalam ajang ANUGRAH MUSIK INDONESIA  TH 2009</span></p>
</li>
</ol>
<p lang="sv-SE">
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="89">
<p lang="sv-SE"><span><strong>Album</strong></span></p>
</td>
<td width="2"></td>
<td colspan="3" width="457">
<ol>
<li><span>Jakarta</span></li>
<li><span>Jaman 				Edan</span></li>
<li><span>Jaran 				Goyang</span></li>
<li><span>Rebutan 				Warisan</span></li>
<li><span>Satrio 				Piningit</span></li>
<li><span>Bingung</span></li>
<li><span>Murwakala</span></li>
<li><span>Yen</span></li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Rujuk 				( Album duet dengan Sunyahni )</span></p>
</li>
<li><span>Campursari 				Karya Emas Rinto Harahap</span></li>
<li><span>Geb</span><span>yar 				Campursari ( Bersama Sundari Sukoco, Tuty maryati, Etty Tania )</span></li>
<li>
<p lang="it-IT"><span>Campursari 				Poco Poco ( Duet dengan Yurita )</span></p>
</li>
<li>
<p lang="it-IT"><span>Kesengsem</span></p>
</li>
<li>
<p lang="de-DE"><span>Cah 				Bagus ( Bersama Nur Afni Octavia }</span></p>
</li>
<li><span>Sabar 				Ono Watese ( Bersama Iis Sugiyanto )</span></li>
<li><span>16 				.The Best Campursari Koko Thole</span></li>
<li><span>All 				New Keroncong Indonesia ( Bersama Toto salmon, Tuty Maryati,Oky 				Octaviani,Ervina,Novita Indri,Kelana Hermawan,Waryoto 177 )</span></li>
<li><span>All 				New Keroncong Indonesia II ( Bersama Sundari Sukoco, Waryoto 177 				)</span></li>
<li><span>Nyanyian 				Sehat ( Karya Prof. Hembing )</span></li>
<li><span>The 				Best Manthous ( Amrih Basuki &amp; Ety Tania )</span></li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="89">
<p lang="sv-SE"><span><strong>Jingle</strong></span></p>
</td>
<td width="2"></td>
<td colspan="3" width="457">
<ol>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Melahirkan 				terlalu muda jangan ( BKKBN)</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Nissin 				Krispi ( Versi Campursari )</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Memberi 				Kepastian Profesi dan Masa Depan ( Jingle Iklan 30 ' YAI UPI )</span></p>
</li>
<li>
<p lang="it-IT"><span>Harian 				Suara Merdeka Semarang ( Versi Campursari )</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Opening 				Gebyar Keroncong TVRI</span></p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
<tr valign="TOP">
<td width="89">
<p lang="sv-SE"><span><strong>Ilustrasi 			Film</strong></span></p>
</td>
<td width="2"></td>
<td colspan="3" width="457">
<ol>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Serial 				Gandrung TVRI</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Serial 				Kedasih TPI</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Serial 				Inten TPI</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>4, 				Serial Canting RCTI</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Serial 				Balada Kehidupan ANTV</span></p>
</li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Serial 				Damarwulan SCTV</span></p>
</li>
<li><span>Serial 				Suster Melati SCTV </span></li>
<li><span>Serial 				Pelangi TVRI</span><span> </span></li>
<li>
<p lang="sv-SE"><span>Dan masih 				banyak lagi sinetron cerita lepas tidak kurang dari 500( sebagai 				ilustrator music ) Di antaranya sinetron Sayap Patah Karya Aditya 				Gumay yang dibintangi Jefry Al Buchori Modal ( Ustadz Jefri ) 				Produksi tahun sembilan puluhan.</span></p>
</li>
</ol>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p lang="sv-SE">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=446</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemahaman Dasar Musik Keroncong</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=430</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=430#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 17:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Sapu Lidi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu keroncong? Mengenai istilah ‘keroncong’ itu sendiri beberapa musikolog mempunyai pendapat yang berbeda mengenai asal-usul istilah keroncong. Penulis dan beberapa peneliti sepaham bahwa kata keroncong berasal dari bunyi instrumen ukulele yang dimainkan secara rasguardo, atau di’slah’ yang menghasilkan bunyi ‘crong’, kemudian kata tersebut berkembang menjadi keroncong. Apakah yang dimaksud dengan orkes keroncong? Istilah ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Apa itu keroncong?</em></p>
<p>Mengenai istilah ‘keroncong’ itu sendiri beberapa musikolog mempunyai pendapat yang berbeda mengenai asal-usul istilah keroncong. Penulis dan beberapa peneliti sepaham bahwa kata keroncong berasal dari bunyi instrumen ukulele yang dimainkan secara <em>rasguardo</em>, atau di<em>’slah’ </em>yang menghasilkan bunyi <em>‘crong’</em>, kemudian kata tersebut berkembang menjadi keroncong.</p>
<p><em><strong>Apakah yang dimaksud dengan orkes keroncong?</strong></em></p>
<p>Istilah ini terdiri dari dua kata orkes dan keroncong. Arti kata orkes pada konteks ini adalah sebuah kelompok musik. Maka orkes keroncong berarti sebuah kelompok musik keroncong, seperti misalnya: Orkes Keroncong Bintang Jakarta (pimp. Alm. Budiman BJ), Orkes Bintang Surakarta (pimp. Waldjinah) atau Orkes Keroncong SMP Santa Maria Surabaya (pimp. Sr. Windhy). Pengertian istilah ‘orkes keroncong’ yang lebih spesifik adalah sebuah group musik yang mempunyai beberapa spesifikasi, yaitu: gaya pembawaan (vocal, biola, flute), instrumentasi, pola irama dari rhytem section/seksi ritme (cak,cuk, cello, gitar, bass), format jenis lagu yaitu keroncong asli, langgam keroncong, stambul dan lagu ekstra.</p>
<p><em><strong>Gaya pembawaan adalah merupakan roh atau jiwa pada musik keroncong. Lantas bagaimanakah gaya pembawaan pada vokal, biola dan flute?</strong></em></p>
<p>Pada vokal ada beberapa pakem pembawaan dalam menyanyikan sebuah lagu keroncong, khususnya <em>‘keroncong asli’</em> yaitu: <em>nggandul, cengkok, gregel dan luk</em>. Maka jika seseorang menyanyikan sebuah lagu keroncong tanpa ciri-ciri tersebut sering dikatakan tidak <em>‘ngroncongi’</em>, tidak ada roh keroncongnya.</p>
<p><em><strong>Nggandul </strong></em>adalah menyanyi dengan ketukan lebih lambat dari ketukan dasarnya atau ketukan yang tertulis dinotasi.</p>
<p><em><strong>Cengkok,</strong></em> merupakan rangkaian nada hiasan yang dinyanyikan sebelum nada pokok (dalam musik diatonis barat semacam mordent). Teknik cengkok adakalanya digunakan juga pada jenis lagu langgam.</p>
<p><em><strong>Luk </strong></em>atau <em><strong>portamento</strong></em>, adalah cara menyanyi yang dimulai dengan beberapa hetz (ukuran tinggi rendah suara) dibawah nada pokok, secara teratur menuju ke nada pokok.</p>
<p>Untuk instrument biola pada dasarnya memainkan intro (dalam lagu keroncong asli disebut <em>‘voorspel’</em>), <em>senggaan</em> (4 birama melodi lagu, dari delapan birama terakhir, ini khusus untuk lagu keroncong asli), dan <em>filers </em>atau isian-isian yang bersifat improvisasi. Gaya permainan biola pada dasarnya sama dengan gaya pembawaan pada vokal yaitu: nggandul, cengkok, gregel dan portamento.</p>
<p>Instrument flute sedikit berbeda dengan instrument biola. Perbedaan yang paling esensi adalah, bahwa flute tidak bisa bermain dengan teknik portamento, karena secara organologi jarak nada <em>‘kromatis’</em> dibedakan dengan system <em>‘klep’</em>, dengan katup-katup yang membuat perbedaan nada dengan jarak setengah. Sedangkan instrument biola, perbedaan nada berdasarkan jari yang memijat snar diatas papan yang tidak ada penyekat nadanya (fret) speerti instrument gitar. Untuk pembawaan nggandul, cengkok, dan gregel pada prinsipnya sama. Ciri permainan instrument flute dalam musik keroncong yang cukup spesifik adalah pada tempat-tempat tertentu perpindahan dari satu nada ke nada berikutnya (biasanya diakhir frase) dimainkan dengan teknik kromatis. Misalnya dari nada ‘la’ turun menuju nada ‘mi’ tidak langsung, tetapi melewati nada-nada kromatisnya: la-sel-sol-fi-fa-mi.</p>
<p lang="fr-FR">
<p>Dengan perkembangan sejarahnya yang cukup panjang,  akhirnya keroncong mempunyai susunan instrument musik seperti saat ini. Susunan tersebut adalah ketujuh instrument terdiri dari : biola, flute, cak, cuk, cello, gitar dan bas serta vokal. Susunan demikian dalam masyarakat keroncong dikenal dengan istilah ‘susunan keroncong asli’. Ketujuh instrument tersebut adalah instrument akustik, namun tampaknya saat ini pun penggunaan instrument yang digunakan sudah sangat bervariasi namun fenomena yang ada bahwa mayoritas group-group keroncong yang ada berdiri dengan susunan ‘asli’ dan sampai sekarang susunan tersebut tetap diminati seolah-olah menjadi suatu format yang ‘pakem’.</p>
<p>Sumber tulisan dan photo :</p>
<p><em>Singgih Sanjaya,”Keroncong Masuk Kurikulum Sekolah, SMP Santa Maria Surabaya,  07 februari 2009” , sebuah makalah seminar.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=430</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rochani Adi : Ruang Dalam Keroncong</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=421</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=421#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 17:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Yang Mengalir Sampai Jauh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[Tenang dan damai. Begitulah sosok Rochani Adi, seorang pegiat keroncong yang telah malang melintang selama ini. Karya-karya berupa lagu keroncong, Pop Jawa maupun langgam Jawa sudah mencapai 200 lagu. Jumlah yang tidak sedikit karya dalam musikkeroncong yang memang terlalu lambat dalam memunculkan karya-karya baru. Kemampuan Rochani memnbuat lagu baginya merupakan salah satu karunia yang diberikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><strong>Tenang dan damai.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<p></p>
<div>Begitulah sosok Rochani Adi, seorang pegiat keroncong yang telah malang melintang selama ini. Karya-karya berupa lagu keroncong, Pop Jawa maupun langgam Jawa sudah mencapai 200 lagu. Jumlah yang tidak sedikit karya dalam musikkeroncong yang memang terlalu lambat dalam memunculkan karya-karya baru.</div>
<div id="_mcePaste">Kemampuan Rochani memnbuat lagu baginya merupakan salah satu karunia yang diberikan Tuhan. Menurutnya, “Sumber ide bisa datang dari mana saja, tetapi yang paling berkesan tentunya berasal dari apa yang kita yakini , dari peristiwa yang kita alami dan rasakan,” sehingga dari sana lah lahir lagu-lagu seperti “Kr. Fajar Indah”. “Magelang Gemilang”, “Prumpung Adiluhung”, “Borobudur Indah”, “Cinta di Borobudur”, “Lgm. Taman Kyai Langgeng” “Prambanan Otera” dan masih banyak yang lainnya. Tema semangat perjuangan diantaranya terdapat dalam lagu “Pahlawan Tak Dikenal”, “Lgm. Kartini, Putri Mayong”, “Kr. Patriot”, “Satria Pertiwi”, lagunya “Kr. Putra Pertiwi”. (1977). Dan satu lagu yang dikirimkan atas nama anaknya, Anang Santjaka, menjadi juara ke-1 dalam Sayembara Penciptaan Lagu Keroncong Tingkat Nasional 1991.</div>
<p></p>
<div><strong>Belajar dari tukang cukur rambut sampai pahlawan tak dikenal</strong></div>
<p></p>
<div>Rochani Adi, selain dikenal sebagai pencipta lagu keroncong, ia juga dikenal sebagai pemain biola yang sangat handal. Kemampuan dalam bermusik, Rochani banyak belajar dari ayahnya yang menjadi seorang tukang cukur di kampungnya.  Kasih Hardjo (ayah dari Rochadi Ani: red) sendiri adalah seorang yang multi talented, di mana selain bekerja sebagai tukang cukur dan pedagang tembakau ternyata ia menjadi pengajar bagi biduan-biduan di kampung  Gatak Santren, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.</div>
<p></p>
<div>“Saya sering nguping dan ngintip ketika ayah saya melatih biduan kampung nyanyi... ayah saya mengajar memakai notasi angka...” papar Rochadi mengenang masa kecilnya di mana ia banyak belajar dari sosok ayahnya. Dari ayahnya inilah darah seni mengalir dalam tubuh Rochani Adi.  Darah seni yang mengalir tersebut tumbuh dengan subur, sehingga sekitar tahun 1950, pada usia 13 tahun, Rochani muda mendirikan “Tunas Remaja”, sebuah organisasi non politik yang bergerak di bidang olahraga dan seni, di rumah Ali Hardjo orang terkaya waktu itu di Krajan, Gunung Pring. Bermula dari kelompok inilah, Rochani mulai  menciptakan lagu pertamanya: “Derita Ibu”. Sejak saat itu mengalirlah karya-karya ciptaannya.</div>
<div>Perjalanan musik Rochani tidak seluruhnya berangkat dari sebuah group keroncong, namun juga didukung oleh institusi di mana ia bekerja. Atas saran Murni, seorang penyanyi keroncong di tahun 1960-an, Rochani mendaftarkan diri untuk menjadi pegawai Urusan Moril (URIL) Angkatan Darat di Magelang dan pada tahun 1961 diterima bekerja di sana sebagai Tenaga Bulanan Honorer (TBH). Dan di tahun 1963 melalui serangkaian test di  Jogja, Solo dan  Semarang (Kodam VII Diponegoro), Rochani direkrut menjadi anggota Orkes Symfoni Angkatan Darat  (OSAD) sebagai pemain biola.  Kemudian tahun 1964, OSAD yang dipimpin Kapten F.A. Warsono tersebut hijrah ke Jakarta untuk menggarap sebuah proyek garapan “Sendra Wira Lumaksana”, yang merupakan kolaborasi unsur-unsur musik ‘Barat’ dengan musik etnik di antaranya karawitan Jawa dan Sunda.</div>
<p></p>
<div>Rochani pun turut hijrah ke Jakarta. Menurutnya, proyek yang idenya berasal dari Letjen A. Yani tersebut rencananya akan dipentaskan di Monas 1965. Namun akibat  terjadi peristiwa berdarah 30 September 1965 yang menelan korban beberapa orang jenderal salah satu diantaranya adalah Letjen A. Yani. Proyek nyaris berantakan, sebelum akhirnya Presiden Soekarno menegaskan “Idenya Yani biar Soekarno yang meneruskan!”</div>
<p></p>
<div>Kenangan pada Jenderal A. Yani sangat kuat dalam sosok Rochani, sehingga ia sering menyempatkan diri untuk tabur bunga di makam Jenderal A. Yani Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dalam ziarah di Kalibata, Rochani menyempatkan berkeliling ke makam-makam lain, dan sempatterpaku pada sebuah batu nisan bertuliskan “Pahlawan tak dikenal”, peristiwa itu membekas dalam hati dan fikiran Rochani, dan lahirlah sebuah lagu “Kr. Pahlawan Tak Dikenal”. ...semoga tenang di sisi Illahi, ...biar tak dikenal engkau tetap pahlawan sejati...</div>
<p></p>
<div><strong>Keheningan Ruang Dalam</strong></div>
<p></p>
<div><a href="http://www.tjroeng.com/wp-content/uploads/2010/08/04.-yg-mengalir-02.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-425" title="Rochani Adi" src="http://www.tjroeng.com/wp-content/uploads/2010/08/04.-yg-mengalir-02-150x150.jpg" alt="Rochani Adi" width="150" height="150" /></a>“Saya cuma ingin bertemu dengan pak Gesang, pak Andjar Any, Toto Salmon, dan Warsidi,  bukannya ingin diberi penghargaan,” demikian disampaikan Rochani beberapa waktu lalu saat penyerahan lifetime achievement award di Solo. Tidak ada rasa iri dalam dirinya menyaksikan bebarapa kawan karib-nya menerima penghargaan itu. Karena Rochani Adi sendiri tidak peduli dengan penghargaan. Ia lebih peduli pada bagaimana senantiasa menghidupkan keroncong.</div>
<p></p>
<div>“Saya sudah ‘kenyang’ rekaman, itu sudah alhamdulillah” paparnya dan sewaktu ditanya mengenai honor yang diterimanya, ia berkata: “Saya tidak mementingkan materi, dibayar berapapun tidak pernah protes, alhamdulillah, terimakasih.” Bahkan di tahun 1983, Rochani pernah menerima honor sebesar Rp. 15.000,- untuk permainan biolanya dalam satu album rekaman keroncong.</div>
<p></p>
<div>“Waktu itu saya mengerjakan enam buah album, hitung sendiri berapa honor yang saya terima,” Sangat tidak layak untuk kemampuannya yang luar biasa, tetapi beliau  tetap bersyukur “..Alhamdulillah...! Walaupun tidak dapat apa-apa dan saya tidak mengharapkan apa-apa. Saya sudah dibiayai negara, biar sedikit tapi berkah”.</div>
<div>Perjalanan panjang keroncong dalam sosok Rochani Adi  begitu dalam. Namun, permainan biola Rochani tak lagi bisa sebaik dahulu, akibat penyakit hernia yang dideritanya. Tetapi, ia tidak pernah menyesalinya. Ia menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. “Mungkin itu yang terbaik yang dapat saya lakukan melalui permainan biola saya. Saya masih bisa menulis karya cipta lagu, itupun hal yang patut saya syukuri”. Ada sedikit harapan saat beliau berkata: “Siapa tahu setelah operasi minggu depan, tangan saya sembuh dan bisa main biola lagi... hal yang tidak mungkin, tetapi mungkin saja terjadi jika Allah menghendakinya”.</div>
<p></p>
<div id="_mcePaste">Jiwa keroncong adalah jiwa yang begitu dalam. Begitu Rochani Adi memaknainya. Dari kedalaman tersebut, nilai luhur dan beradab akan tumbuh subur. Jiwa yang menghargai kehidupan, menghargai setiap berkat dari Tuhan. (<em><strong>Imam Djuhari Kamus</strong></em>)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=421</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelly Puspito : Keroncong Tanah Air</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=454</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=454#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 18:59:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Obiturari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[mendalam lembah curam, di sela gunung meninggi suatu pemandangan tanah airku Indonesia elok adi sungai sungai mengalir berliku melalui lembah yang menghijau Begitulah keelokan alam Indonesia dalam gambaran seorang Kelly Puspito. Namun, mendung secara tiba-tiba menggayut dalam layar monitor, menatap berita yang dimuat oleh kawan-kawan pegiat keroncong yang mengabarkan bahwa Kelly Puspito meninggal dunia pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p><span style="font-size: small;"><em>mendalam lembah cura</em></span><span style="font-size: small;"><em>m, di sela gunung meninggi</em></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><em>suatu pemandangan tanah airku Indonesia elok adi</em></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><em>sungai sungai mengalir berliku melalui lembah yang  menghijau </em></span></p>
<p lang="pt-BR">
</blockquote>
<p><span style="font-size: small;">B</span><span style="font-size: small;">egitulah keelokan alam Indonesia dalam gambaran seorang Kelly Puspito. Namun, mendung secara tiba-tiba menggayut dalam layar monitor, menatap berita yang dimuat oleh kawan-kawan pegiat keroncong yang mengabarkan bahwa Kelly Puspito meninggal dunia pada Sabtu, 17 Oktober 2009 di Semarang akibat penyakit kanker prostat, gula, dan asam urat yang dideritanya. Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaik dalam musik keroncong. </span></p>
<p lang="pt-BR">
<p lang="pt-BR"><span style="font-size: small;">Raden Pratiknyo Kelly Puspito dilahirkan tanggal 27 Agustus1930 di Pati, Jawa Tengah. Ayahnya seoarang PNS yang tergolong sebagai kelas menengah dan kurang menyukai musik, namun mereka sering mendengarkan musik yang baik. Kelly Puspito kecil tertarik dengan musik dan mencoba memainkannya. Jenis irama musik hawaii-an yang nge-trend waktu itu merupakan dasya pikat tersendiri, namun pada akhirnya Kelly Puspito menentukan pilihan musiknya. Keroncong.</span></p>
<p lang="pt-BR">
<p lang="pt-BR"><span style="font-size: small;"><strong>Bermusik di kantor pos</strong></span></p>
<p><span style="font-size: small;">Dunia musik pada tahun 1950 belum menjadi pilihan hidup, karena memang tidak mudah menggantungkan hidup dari bekerja sebagai pemusik. Maka di tahun 1961, Kelly Puspito menerima tawaran pekerjaan di Kantor Pos, sembari tetap beraktivitas dalam musik. </span><span style="font-size: small;">Dari bekerja di Kantor Pos inilah karya-karya Kelly muda tumbuh.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Atas prestasi tersebut, Kelly kemudian diminta untuk memimpin Orkes Keroncong KODAM IV Diponegoro di tahun 1961. Dalam orkes inilah ia </span><span style="font-size: small;">semakin bisa menempa kemampuan musikalitasnya dengan selalu mencoba menerapkan berbagai gagasan musik untuk membuat agar musik keroncong selalu disukai oleh masyarakat. </span></p>
<p><span style="font-size: small;">Dalam mencipta lagu-pun Kelly memiliki mimpi dan harapan besar</span><span style="font-size: small;"> terhadap negeri yang dicintainya. Keroncong Tanah Airku menjadi salah satu tonggak karyanya yang abadi. Rasa cintanya kepada tanah air ingin ia sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Dan bekerja di Kantor Pos seolah-olah menjadi pertanda bahwa seluruh lagu-lagunya hendak ia kirimkan ke seluruh penjuru Indonesia. </span></p>
<p lang="sv-SE">
<p lang="sv-SE"><span style="font-size: small;"><strong>Gaya Semarangan dan Nasionalisme</strong></span></p>
<p>“<span style="font-size: small;"><em>Musik keroncong perkembangannya dari yang asli atau asli Indonesia berawal dari keroncong tugu, musik ini terus masuk dan berkembang di Semarang. Ciri khas musik keroncong gaya Semarang ini dapat terdengar dari permainan cellonya, gaya ini berbeda dengan gaya di Solo, Yogyakarta, atau Surabaya</em></span><span style="font-size: small;">” demikian pernah dipaparkan oleh Kelly Puspito.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Keroncong gaya Semarangan, pengaruh Kelly Puspito sangat besar dalam perkembangannya. Bahkan atas jasa-jasanya dalam mengembangkan keroncong di Semarang, Marco Marnadi dalam peringatan ulang tahun ke-26 Congrock dan Waroeng Keroncong mendedikasikan acaranya buat Kelly Puspito dengan tajuk </span><span style="font-size: small;">”Tembang Tanah Air, Tribute to Kelly Puspito”.</span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-size: small;">Ikatan bathin antara Kelly Puspito dengan Congrock 17 sangatlah kuat. Kelahiran Congrock tidak terlepas dari sosok Kelly yang memang memiliki harapan agar keroncong bisa terus hadir, sesuai dengan jamannya.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Dan dalam skala nasional, ”</span><span style="font-size: small;"><em>Kelly Puspito punya peran yang cukup penting dalam perkembangan musik keroncong di Tanah Air. Karyanya selalu menjadi lagu wajib lomba keroncong</em></span><span style="font-size: small;">,” kata Marco Marnadi pentholan Congrock 17 yang sekaligus menjadi Dewan Kesenian Semarang.</span></p>
<p lang="sv-SE">
<p lang="sv-SE"><span style="font-size: small;"><strong>Kelly Puspito, ’ngeli’ bersama keroncong</strong></span></p>
<p>’<span style="font-size: small;">Ngeli’ (bhs J</span><span style="font-size: small;">awa) memiliki arti menghanyut. Begitulah sosok Kelly Puspito, ia memilih jalan pedang keroncong. Maka, ia ikut menghanyutkan diri dalam arus hidup keroncong. Karya-karyanya telah memberi warna tersendiri dalam sejarah musik keroncong Indonesia. Lebih dari 50 tahun Kelly hidup bersama keroncong, dan saat ini Kelly telah berpulang.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Keroncong Tanah Air, salah satu karya Kelly Puspito menggema. </span><span style="font-size: small;">Seiring dengan itu tanah dan air Indonesia membuka diri untuk menerima kembali Kelly Puspito masuk ke dalam pangkuan abadi.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"><strong>Selamat Jalan Kelly Puspito!!!</strong></span></p>
<p><span style="font-size: small;">(mboets : </span><span style="font-size: small;"><em>diolah dari berbagai sumber</em></span><span style="font-size: small;">)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=454</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUSIK KERONCONG&#8230; BRAVO!!!:</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=452</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=452#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 18:55:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Sampul Surat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[KOMUNITAS SUBKULTUR DAN PLURALISME DALAM MUSIK POPULER DI INDONESIA Musik keroncong dapat dipandang sebagai salah satu kekayaan musik tertua di Indonesia yang pernah memperoleh masa kejayaannya pada 1960-an. Sayangnya, saat ini genre musik ini kurang mendapat perhatian dari industri musik (rekaman dan hiburan) di Indonesia. Media teknologi, seperti televisi dan radio swasta nasional, sangat jarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KOMUNITAS SUBKULTUR DAN PLURALISME DALAM MUSIK POPULER DI INDONESIA</strong></p>
<p><span><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span><span>Musik keroncong dapat dipandang sebagai salah satu kekayaan musik tertua di Indonesia yang pernah memperoleh masa kejayaannya pada 1960-an. Sayangnya, saat ini genre musik ini kurang mendapat perhatian dari industri musik (rekaman dan hiburan) di Indonesia. Media teknologi, seperti televisi dan radio swasta nasional, sangat jarang bahkan tidak pernah memberikan ruang khusus untuk genre musik ini. Bahkan Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai salah satu media pemerintah, yang seharusnya mendukung kelestarian musik keroncong sebagai salah satu kekayaan kesenian asli Indonesia, hanya memberikan satu acara khusus untuk musik keroncong, yaitu </span></span><span><span><em>Gebyar Keroncong</em></span></span><span><span>, yang hanya disiarkan satu kali dalam seminggu. </span></span></p>
<p><span><span>Upaya mempertahankan musik keroncong dalam masyarakat juga tetap dilakukan oleh komunitas pendukungnya. Adanya beberapa album rekaman penyanyi keroncong, misalnya Sundari Sukotjo yang didukung oleh perusahaan rekaman PT. Gema Nada Pertiwi, merupakan salah satu fakta bahwa masih ada usaha dari pihak industri musik rekaman untuk tetap mendukung keberadaan musik keroncong di Indonesia. Sayangnya, apabila kita perhatikan di toko-toko kaset/CD/VCD/DVD, album-album rekaman tersebut seringkali diletakkan di tempat yang kurang menarik perhatian pengunjung, berbeda dari penempatan album-album rekaman musik pop yang merupakan arus utama (</span></span><span><span><em>mainstream</em></span></span><span><span>) dalam musik populer. Kurangnya dukungan industri musik di Indonesia semakin jelas terlihat dalam daftar calon penerima penghargaan AMI Awards ke-11 </span></span><span><span>(Kompas, 15 April 2008), misalnya, di mana tidak ada satu pun</span></span><span><span> lagu atau nama penyanyi keroncong yang tercantum di dalamnya. Berdasarkan kenyataan ini maka timbul pertanyaan: apakah lagu atau penyanyi keroncong memang tidak layak menerima penghargaan seperti itu? mengapa musik atau lagu keroncong dimarjinalkan oleh industri musik di Indonesia? apakah musik keroncong dapat memperoleh apresiasi masyarakat seperti halnya musik pop yang saat ini menjadi arus utama (</span></span><span><span><em>mainstream</em></span></span><span><span>) dalam musik populer?</span></span></p>
<p><span><span>Ketiga pertanyaan di atas membutuhkan suatu pemahaman mendalam bahwa musik, sebagai salah satu aspek kebudayaan, memiliki keterkaitan yang erat dengan teknologi, ekonomi, sosial budaya, dan juga kekuatan politik atau ideologis (Kaemmer, 1993). Simon Frith dalam bukunya </span></span><span><span><em>The Sociology of Rock</em></span></span><span><span> (1978) pernah mengutip pernyataan Manfred Mann bahwa kekuasaan musik populer berasal dari popularitasnya. Musik menjadi suatu budaya massa dengan memasuki suatu kesadaran massa, dengan didengar secara simultan melalui radio dan media teknologi, atau di </span></span><span><span><em>pub</em></span></span><span><span> dan </span></span><span><span><em>café</em></span></span><span><span>. Musik massa adalah musik yang direkam. Rekaman musik yang tidak dijual mengakibatkan rekaman tersebut tidak populer sehingga tidak dapat memasuki kesadaran massa (</span></span><span><span><em>mass consciousness</em></span></span><span><span>), apa pun bentuk artistik, otentisitas dan daya tarik khusus musik tersebut. Kritikus budaya massa menegaskan bahwa pihak yang mengawasi pasar juga akan mengawasi makna. Mereka juga mengargumentasikan bahwa konsumen pendengar tidak berperan dalam kreasi kultural, bahkan pilihan-pilihan mereka pun dimanipulasi dan dibatasi. </span></span></p>
<p><span><span>Pernyataan di atas secara jelas memperlihatkan adanya hegemoni pihak elit kekuasaan politik-ekonomi yang mendominasi industri musik dalam mempengaruhi dan mengawasi selera masyarakat terhadap musik </span></span><span><span>(Lockard, 1998; Shuker, 2006). Aspek terpenting dari hegemoni adalah bahwa hegemoni menyembunyikan relasi-relasi kekuasaan dan tatanan sosial yang ada (Shuker, 2006). Gagasan-gagasan dan aturan-aturan</span></span><span style="color: #ff0000;"><span><span> </span></span></span><span><span>tertentu dikonstruksi sebagai sesuatu yang dapat diterima secara alami dan universal. Salah satu pihak elit kekuasaan adalah pihak kapitalis yang menguasai industri musik (rekaman maupun hiburan) dan media cetak. Usaha yang dilakukan pihak kapitalis adalah membentuk selera ’pasar’ </span></span><span><span>atau mengeksploitasi selera publik, misalnya ‘apa yang dikonsumsi publik akan menentukan apa yang diproduksi’ dalam </span></span><span><span>tujuan untuk memperoleh keuntungan maksimal</span></span><span><span> (Frith, 1981; Middleton dalam Coates, 2005)</span></span><span><span>. </span></span><span><span>Oleh karena itu, tidaklah heran apabila </span></span><span><span>Bourdieu dalam bukunya </span></span><span><span><em>Distinction</em></span></span><span><span> (1984) mengemukakan bahwa terdapat kecenderungan pada beberapa ilmuwan sosial yang berpikir bahwa musik sangat tepat dikaji sebagai suatu karakter ’selera’ dan ’konsumsi budaya’ karena musik melibatkan pilihan atas penggunaan waktu dan sumber. </span></span></p>
<p lang="sv-SE">
<p><span><span>Keterkaitan musik dengan kekuatan politik atau ideologis tampak pada usaha p</span></span><span><span>ihak kapitalis </span></span><span><span>untuk </span></span><span><span>mendominasi masyarakat secara terus-menerus, mengelaborasi, dan memasukkan ideologi mereka atas musik populer ke dalam praktik dan perspektif masyarakat sehari-hari melalui media elektronik dan media massa</span></span><span><span> dengan tujuan memperoleh keuntungan maksimal</span></span><span><span>. Dengan kata lain, untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya</span></span><span><span>,</span></span><span><span> pihak kapitalis berusaha untuk memaksimalkan jumlah pendengar dan produk yang dihasilkan harus menarik perhatian seluruh lapisan masyarakat. </span></span><span><span>Hal ini seolah-olah memperlihatkan pengaruh ideologis musik ditentukan oleh apa yang dibutuhkan pasar, yaitu siapa yang mengontrol pasar, makna, dan selanjutnya, respon masyarakat (Coates, 2005). </span></span></p>
<p><span><span>Namun, apakah kurangnya dukungan industri musik di Indonesia terhadap musik keroncong dapat menghilangkan atau menyebabkan genre musik ini ‘punah’ atau ‘mati’?. Kenyataannya, kurangnya dukungan industri musik tersebut tidak mengurangi semangat komunitas pendukungnya sebagai komunitas subkultur yang memiliki nilai dan keyakinan yang berbeda dari budaya dominan dalam musik populer. Kenyataannya, komunitas pendukung musik keroncong sebagai komunitas subkultur terus meningkatkan upaya mereka untuk melestarikan genre musik ini walaupun komunitas ini berjumlah lebih sedikit apabila dibandingkan dengan komunitas musik pop sebagai arus utama musik populer. Adanya Himpunan Artis dan Musisi Keroncong Republik Indonesia (HAMKRI) di beberapa daerah, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta, merupakan fakta-fakta yang tidak dapat dipungkiri. Fakta meng’geliat’nya musik keroncong juga diramaikan oleh munculnya kelompok-kelompok musik keroncong, seperti O.K. Gita Romantika dan O.K. Rayuan Sukma di Semarang, O.K. Merah Putih di Bandung, dan lain-lain, yang tidak hanya melibatkan para senior dalam musik keroncong, tetapi juga banyak anak muda. Dalam Buletin Tjroeng edisi 07 terdapat artikel </span></span><span><span><em>Keroncong dalam Kurikulum Sekolah</em></span></span><span><span> yang memaparkan tentang usaha komunitas ini untuk mensosialisasikan musik keroncong pada generasi muda, khususnya dalam kurikulum sekolah, yang dilakukan oleh SMP Santa Maria, Surabaya pada 7 Februari 2009 melalui kegiatan pementasan dan seminar musik keroncong yang diselenggarakan atas kerjasama OSIS SMP Santa Maria dan KC Tjroeng Perwakilan Surabaya. </span></span></p>
<p><span><span>Oleh karena itu, tidaklah heran apabila banyak pihak yang berpandangan bahwa musik keroncong tampaknya akan "abadi", paling tidak itu menjadi impian di kalangan seniman musik dan penggemar musik keroncong di Tanah Air. Namun, sebagaimana produk budaya yang lain, untuk tetap bertahan di tengah pelbagai perubahan zaman, musik keroncong harus terus mengikuti perkembangan. Salah satu upaya mengeksplorasi musik keroncong telah dilakukan oleh salah seorang penyanyi perempuan Indonesia, Nyak Ina Raseuki (Ubiet) dalam albumnya </span></span><span><span><em>Ubiet Keroncong Tenggara</em></span></span><span><span> (Ragadi Musik, 2007). Apabila didengarkan secara cermat, gaya bernyanyi yang dilakukan oleh Ubiet dalam menyanyikan lagu-lagu keroncong, khususnya melalui ornamen-ornamen etnik yang ia gunakan, sehingga terdengar berbeda dari umumnya gaya bernyanyi penyanyi keroncong. Hal ini dapat dipahami karena Ubiet bukan hanya penyanyi, tetapi juga seorang etnomusikolog yang menguasai beragam gaya bernyanyi etnik, yang memiliki kesadaran untuk turut melestarikan musik tradisional, termasuk musik keroncong. Mengenai perubahan-perubahan yang dilakukan dalam musik keroncong, seorang etnomusikolog, Prof Dr Rahayu Supanggah dari Institut Seni Indonesia Solo, menyatakan bahwa sebagai musik modern, keroncong akan terus berkembang selama para senimannya mampu mengolah. Supanggah mengemukakan, “</span></span><span><span><em>keroncong itu ibarat wadah. Yang penting bagaimana para komponis mengolah isinya. Kalau hanya terpatok keroncong asli, itu berarti membatasi diri pada wadah saja. Karena itu, untuk bisa tetap bertahan, keroncong harus senantiasa mengikuti zaman yang terus berubah</em></span></span><span><span>," katanya (Kompas, Sabtu, 13 Desember 2008). </span></span></p>
<p><span><span>Bagaimana pandangan kita atas kenyataan tentang masih adanya komunitas subkultur yang mendukung dan adanya eksplorasi yang dilakukan oleh beberapa musisi dalam musik keroncong? </span></span></p>
<p><span><span>Perlu dipahami bahwa musik keroncong berhubungan erat dengan identitas komunitas subkultur dalam masyarakat populer di Indonesia. Kaemmer dalam bukunya </span></span><span><span><em>Music in Human Life: Anthropological Perspectives on Music </em></span></span><span><span>(1993) pernah mengemukakan bahwa m</span></span><span><span>usik seringkali digunakan untuk membentuk dan mempertahankan identitas kelompok. Identitas suatu kelompok meliputi indikasi batas-batas yang memisahkan satu kelompok dari kelompok yang lain dan memperkuat solidaritas di dalam kelompok tertentu. Pernyataan Kaemmer tersebut didukung oleh hasil penelitian Abner Cohen (dalam Kaemmer, 1993) yang juga menyatakan bahwa terdapat beberapa kelompok subkultur yang menggunakan musik secara informal sebagai simbol atas keberadaan mereka. </span></span><span><span>Perubahan yang dilakukan dalam musik keroncong dapat dipahami untuk mempertahankan identitas komunitas subkultur tersebut. Upaya yang dilakukan anggota dari komunitas subkultur untuk melestarikan musik keroncong ini sesuai dengan pernyataan Suka Hardjana dalam bukunya </span></span><span><span><em>Musik: Antara Kritik dan Apresiasi</em></span></span><span><span> (Kompas, 2004) bahwa spirit budaya (tradisional) tak akan pernah terbunuh. Spirit itu akan terus tumbuh dalam suatu proses budaya yang terus-menerus dalam bentuk konvensi, transformasi, konflik, inovasi, bahkan anarki, dan sebagainya. Kesinambungan proses inilah yang membuat kesenian tradisional tersebut selalu menemukan nilai-nilai barunya. Ia hadir bukan sebagai barang antik kehidupan modern, tetapi sebagai cermin proses sejarah dan sebagai roh tindak laku kontemporer.</span></span></p>
<p><span><span>Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa musik populer tidak selalu identik dengan genre musik pop yang menjadi arus utama pada saat ini. </span></span><span><span>Middleton (2006) bahkan menegaskan bahwa tidak ada musik populer yang murni. Yang ada adalah musik yang dihasilkan oleh suara masyarakat yang selalu bersifat plural, hibrid, dan dinegosiasikan. Musik populer tidak hanya mengindikasikan satu jenis musik saja, tetapi mencakup wilayah jenis musik yang sangat luas, yang tidak hanya mencakup musik rock dan genre-genre musik yang sebanding, tetapi juga musik yang berhubungan dengan konteks nasional yang bukan musik Barat, seperti seriosa, kontemporer, tradisional, keroncong, dangdut, campursari yang masing-masing memiliki komunitas pendukungnya sendiri. </span></span><span><span>Hegemoni pihak kapitalis dalam menentukan selera masyarakat terhadap musik yang ‘populer’ bukan berarti tidak menghadapi tantangan dari komunitas-komunitas subkultur yang mendukung genre musik tertentu. </span></span><span><span>Dengan kata lain, h</span></span><span><span>egemoni tidak pernah bersifat absolut, tetapi terus-menerus ditentang dan diredefinisikan. </span></span><span><span>H</span></span><span><span>egemoni merupakan suatu proses, yang tidak hadir secara pasif sebagai suatu bentuk dominansi yang tidak dapat dihilangkan, tetapi harus terus-menerus diperbaharui, diciptakan kembali, dipertahankan, dan dimodifikasi karena hegemoni juga akan terus-menerus ditolak, dibatasi, diubah, dan ditentang </span></span><span><span>oleh </span></span><span><span>hegemoni tandingan</span></span><span><span> (</span></span><span><span><em>counterhegemony</em></span></span><span><span>). </span></span><span><span>Pada waktunya, musik keroncong dapat diapresiasi oleh masyarakat dan industri musik atau memperoleh kembali kebanggaannya yang pernah terjadi pada 1960-an sebagai ’buah manis’ yang dipetik oleh komunitas subkultur atas usaha keras yang mereka lakukan. Mungkin saja... </span></span><span><span><em>Wallahua’lam</em></span></span><span><span>.. Bukankah pluralisme juga berlaku dalam musik? Dengan kata lain, setiap genre musik dalam musik populer memiliki hak yang sama untuk dihargai atau diapresiasi oleh masyarakat dan pihak elit kekuasaan yang mendominasi industri musik di Indonesia. Kondisi ini tentu saja dapat terwujud oleh upaya yang terus-menerus dilakukan oleh komunitas keroncong di mana pun berada dan tidak mengenal kata istirahat. Lirik lagu yang dinyanyikan Mbah Surip (</span></span><span><span><em>alm</em></span></span><span><span>.) di bawah ini tidak akan sesuai dengan semangat yang harus dimiliki oleh setiap anggota komunitas keroncong yang bertujuan agar genre musik ini memperoleh apresiasi dari masyarakat, seperti halnya musik pop.</span></span></p>
<p lang="sv-SE">
<p lang="sv-SE"><span><span><em>Bangun lagi....</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span><span><em>Tidur lagi...</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span><span><em>Bangun lagi...</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span><span><em>Tidur lagi...</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE">
<p lang="sv-SE"><span><span><em>Bangun........</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span><span><em>Tidur lagi......</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE">
<p><span><span>Potongan dari lirik lagu </span></span><span><span><em>Garuda Pancasila</em></span></span><span><span> mungkin dapat kita gunakan untuk memberi semangat dan mendukung tindakan para anggota komunitas keroncong untuk terus meningkatkan upaya mereka dalam memajukan musik keroncong.</span></span></p>
<p lang="sv-SE">
<p lang="sv-SE"><span><span><em>Ayo maju....maju...</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span><span><em>Ayo maju....maju...</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span><span><em>Ayo maju....maju...!!!!</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE">
<p><span><span>Musik Keroncong...... </span></span><span><span><em>Bravo!!!!</em></span></span></p>
<p lang="sv-SE">
<p lang="sv-SE"><span><span>Jakarta, 10 Oktober 2009-10-10</span></span></p>
<p><strong>Susi Gustina</strong></p>
<p>Mahasiswa S3 – Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa</p>
<p>Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=452</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rekaman Indie</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=450</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=450#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 18:54:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Balik Panggung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Peliknya urusan rekaman oleh perusahaan label, membuat banyak grup musik tak terkecuali grup keroncong lantas kemudian memilih jalur Indie. Disamping biaya yang jauh lebih murah, birokrasinyapun relative gampang, meskipun melalui tahapan yang sama dengan perusahaan label. Ada 3 tahapan penting : Recording audio, mixing dan mastering. Ketiga tahapan ini merupakan proses utama recording dari awal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peliknya urusan rekaman oleh perusahaan label, membuat banyak grup musik tak terkecuali grup keroncong lantas kemudian memilih jalur Indie. Disamping biaya yang jauh  lebih murah, birokrasinyapun relative gampang, meskipun melalui tahapan yang sama dengan perusahaan label.</p>
<p>Ada 3 tahapan penting : <em>Recording</em> <em>audio</em>, <em>mixing</em> dan <em>mastering.</em> Ketiga tahapan ini merupakan proses utama <em>recording</em> dari awal sampai selesai.</p>
<p>Untuk <em>recording audio</em> sendiri umumnya dilakukan dalam beberapa proses :</p>
<ol>
<li>Guiding (bisa gitar 	saja atau beserta seluruh alat yang diikuti dengan vocal)</li>
<li><em>Take Bass </em></li>
<li>Alat yang lain 	mengikuti, bisa gitar dulu, cello, cak, cuk, biola kemudian flute 	atau bahkan keyboard jika ada. Tapi biasanya isian musik untuk 	melodi akan dilakukan paling akhir</li>
<li><em>Take Vocal</em></li>
</ol>
<p>Biaya proses ini sangat tentative, tergantung dari studio rekaman yang kita gunakan. Biaya sewa untuk studio yang sudah cukup baik berkisar antara 250 - 500 ribu per shift (Biasanya 6 jam). Jadi untuk menekan biaya seminimal mungkin, disarankan agar sebelum melakukan rekaman, baik penyanyi maupun pemusik sudah menguasai dengan baik aransemen lagu-lagunya. Itu akan menghemat waktu dan pemakaian studio yang berimbas pada biaya <em>recording. </em>Sedikit catatan, apabila kita menggunakan alat musik yang bukan akustik (keyboard atau bass gitar) harus dilakukan pemilihan sound dengan cermat, agar kualitas blending musiknya bisa padu dan dihasilkan hasil yang baik. Biasanya penggunaan alat elektrik akan membutuhkan waktu setting yang lebih lama dibandingkan dengan alat musik akustik yang lain. Hal teknis lainnya yang patut diwaspadai adalah improvisasi pemain maupun penyanyi. Meskipun pemain sudah hafal aransemen, tapi kadang kemudian muncul ide dan gagasan baru pada saat take record sedang dilakukan, pun dengan penyanyi, cengkok yang digunakan pada saat latihan dengan rekaman kadang berbeda, sehingga butuh waktu lagi untuk menyesuaikan. Hal diatas tidak disalahkan, apalagi dengan tujuan untuk memperkaya lagu dengan improvisasi lain yang akan memperindah lagu tersebut.</p>
<p>Setelah proses recording audio selesai, dilanjutkan dengan tahapan mixing dan mastering. Proses ini juga tak kalah pentingnya, komposisi musik dan suara yang bagus akan ditentukan oleh proses ini. Dan ini tidak bisa dilepaskan oleh kemampuan operator mixing dan mastering yang kita tunjuk. Ada baiknya kita juga ikut dalam proses ini, karena tidak banyak operator studio yang belum cukup memahami musik keroncong. Tidak ada salahnya kita mendampingi mereka untuk memperoleh paduan musik yang seimbang tidak seperti musik pop atau yang lainnya. Biaya mixing dan mastering ini juga relatif, untuk studio yang sudah cuup ternama biaya untuk 5 lagi berkisar antara 300- 500 ribu per lagu. Satu catatan penting yang wajib dilakukan pembuat rekaman indie, agar menyiapkan <em>hardisk</em> atau <em>data storage</em> lain untuk keperluan back up data, sebagai langkah antisipasi rusaknya data di studio rekaman, tidak seperti perusahaan rekaman label yang cukup baik dalam pengelolaan rekamannya. Selamat membuat album…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=450</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUMPAH PEMUDA</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=448</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=448#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 18:52:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Dendang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=448</guid>
		<description><![CDATA[( Mardjo Kahar ) Menjadi k’wajiban pemuda Pada masa sekarang Mengabdi untuk Nusa dan Bangsa Memenuhi sumpahnya Karena suasana baru Menggembleng semangatmu Agar selalu bersiap maju Serta teguh bersatu Reff.: Wahai pemuda Apa artinya hidupmu ini Jika kamu tak berjasa Kepada Ibu Pertiwi Pemuda diatas pundakmu Letak nasib Negerimu Hindarkan itu dari musuhmu Bela dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> ( Mardjo Kahar ) </strong></p>
<blockquote><p>Menjadi k’wajiban pemuda</p>
<p>Pada masa sekarang</p>
<p>Mengabdi untuk Nusa dan Bangsa</p>
<p>Memenuhi sumpahnya</p>
<p>Karena suasana baru</p>
<p>Menggembleng semangatmu</p>
<p>Agar selalu bersiap maju</p>
<p>Serta teguh bersatu</p>
<p>Reff.: Wahai pemuda</p>
<p>Apa artinya hidupmu ini</p>
<p>Jika kamu tak berjasa</p>
<p>Kepada Ibu Pertiwi</p>
<p>Pemuda diatas pundakmu</p>
<p>Letak nasib Negerimu</p>
<p>Hindarkan itu dari musuhmu</p>
<p>Bela dengan jiwamu</p></blockquote>
<p><span style="font-size: medium;"><strong>SUMPAH PEMUDA</strong></span></p>
<p><span style="font-size: medium;"><strong>Kalau harapan tertumpah pada pemuda</strong></span></p>
<p>Mengapa teks proklamasi dan UUD 1945 berbahasa Indonesia? Jawabannya adalah karena saat itu kita sudah mempunyai bahasa persatuan : Bahasa Indonesia. Kalau saat itu kita belum mempunyai bahasa persatuan, teks proklamasi dan UUD 1945 mungkin akan ditulis dengan bahasa Belanda, Jepang, Inggris, Melayu atau Jawa.</p>
<p>Mengapa saat itu kita sudah mempunyai bahasa persatuan? Nah, inilah kehebatan dari para pendahulu kita, yang jauh sebelum merdeka, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928  mereka sudah menyepakati –atau istilahnnya— bersumpah. Bertanah air satu : Tanah air Indonesia, berbangsa satu : Bangsa Indonesia, berbahasa persatuan  : Bahasa Indonesia.</p>
<p>Kalau belum ada kesepakatan bahasa persatuan, mungkin kita akan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan, seperti negara eks penjajahan yang kebanyakan menggunakan bahasa penjajahnya sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional.</p>
<p>Kemerdekaan Indonesia bukanlah kemerdekaan pemberian, warisan dari penjajah atau kesepakatan di antara para pemimpin daerah. Kemerdekaan Indonesia ditebus dengan pengorbanan yang sangat besar. Dijajah selama 350 tahun oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang. Oleh kedua negara penjajah tersebut, bangsa kita ditindas penduduknya, dikuras harta bendanya. Dipermainkan, perbodoh dan diperbudak. Betapa banyak penderitaan, betapa besar kesengsaraan dan betapa banyak nyawa yang melayang.</p>
<p>Di masa perjuangan, khsusunya perjuangan merebut kemerdekaan, banyak pahlawan gugur di medan laga, dari Cut Nya Din dan Tuanku Imam Bonjol di Sumatra, Dewi Sartika dan Pangeran Diponegoro di Jawa, Antasari di Kalimantan, Sultan Hasannudin di Sulawesi, sampai Patimura di Maluku dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.</p>
<p>Di tahun 1945-an banyak pula pahlawan yang gugur berjuang melawan Belanda maupun Jepang. Dalam masa perjuangan merebut kemerdekaan, tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan ikut berjuang, berkorban dengan tenada, harta benda, raga, bahkan nyawa.</p>
<p>Dalam setiap kesempatan, baik untuk memperoleh, mempertahankan maupun mengisi kemerrdekaan, pemudalah yang sesungguhnya mempunyai andil yang besar. Merekalah yang berada di barisan paling depan.</p>
<p>Lagu Sumpah Pemuda ini merupakan bakti seniman dalam membangkitkan, mendorong, menggelorakan semangat kepada para pemuda untuk tetap selalu bersiap siaga memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia dengan segala konsekuensinya. Lagu ini juga mengajak para pemuda untuk berlomba-lomba menunjukkan baktinya kepada ibu pertiwi, negeri terinta ini.</p>
<p>Masih relevankah lagu ini dengan situasi saat ini? Masihkah pemuda perlu bersumpah, berjanji untuk kemajuan ibu pertiwi? Jawabannya : Ya. Sebab sebagai negara merdeka, Indonesia tidak lepas dari gangguan, ancaman dan  rongrongan baik dari dalam negri maupun luar negeri. Selain itu cita-cita kemerdekaan, belum tercapai.</p>
<p>Di jaman modern ini, rongrongan terhadap keamanan, kesatuan bangsa masih saja terjadi.</p>
<p>Tantangan juga semakin banyak, dari ledakan jumlah penduduk, kerusakan dan kemerosotan hutan dan sumberdaya alam lainnya, cengkeraman negara besar dalam bidang politik, ekonomi dan budaya, serta masih banyak pekerjaan rumah lainnya. Cita-cita luhur pendahulu kita untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara yang adil dan makmur, saat ini masih belum terwujud.</p>
<p>Di sisi lain, Indonesia menyimpan kekayaan yang sangat besar, dari kekayaan laut, kekayaan dari dalam bumi, kekayaan flora dan fauna, kekayaan budaya serta kekayaan intelektual dan kreatifitas yang sangat tinggi yang semuanya sangat menjanjikan untuk kemakmuran bangsa ini, jika dikelola dengan baik. Kalau sudah demikian, maka pemudalah harapan semua orang, harapan bangsa. Pemuda sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan dan penerus kehidupan yang lebih baik. Di pundak pemudalah masa depan Indonesia.</p>
<p>Ibarat sebuah bangunan yang terdiri dari ratusan bagian, maka tiap bagian sekecil apapun, seperti paku dan sekrup harus terpasang dengan baik, harus berperan dengan nyata. Paku dan sekrup yang tidak berfungsi dengan baik, akan berakibat  bangunan tidak akan kokoh, indah dan nyaman dipakai. Demikian pula dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan bangsa, peran setiap pemuda sangatlah diaharapkan dan diandalkan bagi bangsa, untuk negara, kepada ibu pertiwi. Setiap pemuda harus mempunyai andil, harus menjalankan peran dan harus mengukir jasa sesuai dengan bidang dan kemampuannya. Kalau tidak, kata orang :” Apa kata dunia?”</p>
<p>Wahai pemuda, apa artinya hidupmu ini, jika kamu tak berjasa, kepada Ibu Pertiwi. Pemuda, di atas pundakmu letak nasib Negerimu .....</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=448</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Festival Penyanyi Keroncong 2009</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=440</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=440#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 18:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Stambul Nusantara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Bertempat di Auditorium Gelanggang Remaja Jakarta Selatan pada tanggal, 29,30 dan 31 Oktober 2009, Festival Group dan Penyanyi Keroncong Tingkat Provinsi DKI Jakarta serta Festival Penyanyi Keroncong Tingkat Nasional 2009 yang digelar memperebutkan Piala Menteri Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta usai rampung dilaksanakan. Persaingan dari 7 (tujuh) peserta yang ingin eksis berpenampilan terbaik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Bertempat di</span></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;"> Auditorium Gelanggang Remaja Jakarta Selatan pada tanggal, 29,30 dan 31 Oktober 2009, Festival Group dan Penyanyi Keroncong Tingkat Provinsi DKI Jakarta serta Festival Penyanyi Keroncong Tingkat Nasional 2009 yang digelar memperebutkan Piala Menteri Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta usai rampung dilaksanakan. Persaingan dari 7 (tujuh) peserta yang ingin eksis berpenampilan terbaik dalam group harus melewati penjurian dan penilaian yang ketat. Dewan juri yang a.l: Liliek Jasqee, Sudirman Kiswanda dan Drs. Edy Raheem akhirnya memutuskan dengan resmi juara yang patut menyandang gelar Group dan Penyanyi Tingkat Prof.DKI, yaitu Juara I dari OK. Siaga Raya, Juara II dari OK. Trondholo dan Juara III dari OK.Gaul.</span></span></p>
<p lang="es-ES">
<div id="attachment_441" class="wp-caption alignright" style="width: 410px"><a href="http://www.tjroeng.com/wp-content/uploads/2010/09/07.03.-Fest-Penyanyi-Krc.jpg"><img class="size-medium wp-image-441" title="07.03. Fest Penyanyi Krc" src="http://www.tjroeng.com/wp-content/uploads/2010/09/07.03.-Fest-Penyanyi-Krc-400x300.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Festival Penyanyi Keroncong</p></div>
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Malam kedua tampil lebih resmi dengan sedikit atmosfir tegang terlihat. Festival Penyanyi Keroncong Tingkat Nasional yang diikuti oleh mereka yang memang sudah langganan meraih juara dan saling mempertahankan gelar juara tersebut. Seluruh penampilan 14 (empat belas) finalis mendapat applaus karena tampil begitu memuaskan. Dewan juri yang hadir dengan format berbobot, tampak betul-betul kesulitan karena memang terlihat sekali performa yang bagus dari semua peserta,  dewan juri al: Tuty Maryati, Sukardi SH, Didiek SS, Goteng Supardijono dan Obie AR memutuskan tanpa bisa digugat, bahwa nama-nama tersebut dibawah ini adalah mereka yang masuk dalam jajaran penyanyi keroncong terbaik :</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Juara </span></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Putra  			Nama Penyanyi  		Daerah asal</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">I				Catur Rahmat		Lampung </span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">II				Bagus Dewantoro		Lampung</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">III				Rizal Basri 			DKI Jakarta</span></span></p>
<p lang="es-ES">
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Juara </span></span><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">Putri  			Nama Penyanyi 		Daerah asal </span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">I				Iswati Fersida Emping	Palembang</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">II				Oky Oktaviani		Jawa Barat</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif;"><span style="font-size: x-small;">III				Novita Indri			Jawa Barat</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana, sans-serif; font-size: small;">Tampaknya pemilihan lokasi malam final keroncong tersebut tidaklah salah mengingat GOR-Bulungan yang setiap harinya padat diisi oleh kegiatan pemuda-pemudi wilayah Jakarta itu tidak pernah sepi, maka tidak heran juga saat pementasan tampak kumpulan muda-mudi yang mengisi bangku-bangku penonton untuk menyaksikan performa keroncong setara profesional, mereka terlihat antusias dan tidak meninggalkan tempat sebelum acara usai. “ Musik keroncong asyik juga ya, bisa dengan beat cepat seperti itu… seru!” kata Fatur, mahasiswa yang menyukai lagu berirama cepat yang malam itu dihadirkankan oleh Trio Bintang TTM (Tuti Maryati, Tetty Supangat dan Mamiek Marsudi) dimalam final tersebut. (CR-2009)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=440</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gebyar Keroncong 2009</title>
		<link>http://www.tjroeng.com/?p=436</link>
		<comments>http://www.tjroeng.com/?p=436#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 18:21:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tjroeng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edisi 10]]></category>
		<category><![CDATA[Stambul Nusantara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tjroeng.com/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Udara sejuk di hari Minggu tgl. 2 Agustus 2009 menyambut kami di kota Batu-Malang, oleh karenanya kami sepakat mematikan AC dan membuka jendela agar ada AB ( angin brobos ) yang segera mengusap wajah kami dengan lembut. Irama keroncong yang sayup sayup terdengar meyakinkan bahwa arah yang kami ambil menuju Balai Desa Punten Bumiaji Batu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Udara sejuk di hari Minggu tgl. 2 Agustus 2009 menyambut kami di kota Batu-Malang, oleh karenanya kami sepakat mematikan AC dan membuka jendela agar ada AB ( angin brobos ) yang segera mengusap wajah kami dengan lembut.</p>
<p>Irama keroncong yang sayup sayup terdengar meyakinkan bahwa arah yang kami ambil menuju Balai Desa Punten Bumiaji Batu tidak salah.</p>
<p>Panggung kembar yang dibangun di lapangan bola belakang balai desa meyakinkan bahwa perhelatan ini dikemas dengan serius dan tidak main main. Tidak kurang dari 43 group keroncong unjuk kebolehan dihadapan 3 orang juri yang dengan sangat tenang mengevaluasi dan menilai kemampuan para peserta.</p>
<p lang="sv-SE">
<p>Peserta membawakan 4 buah lagu sehingga total waktu yang dibutuhkan kurang lebih 25 menit tiap group, hal itu pula yang diantisipasi oleh panitia penyelenggara, jumlah peserta cukup banyak sehingga dibangun 2 panggung kembar seperti terlihat dalam foto, sehingga group yang akan tampil berikutnya sudah menyiapkan diri sejak group sebelumnya unjuk kebolehan.</p>
<p lang="sv-SE">
<p>Gebyar keroncong ini diselenggarakan oleh Dinas pariwisata dan kebudayaan kota Batu. Bpk. Soewignyo kabid kebudayaan dinas Pariwisata Kota Batu bahwa acara ini digelar dalam rangka ulang tahun kota Batu yang ke 8 dan sekaligus mencanangkan kota Batu sebagai kota pariwisata dan basis keroncong di Jawa Timur.  Dalam hal teknis lomba dinas Pariwisata bekerjasama dengan PAMORI dan di laksanakan oleh Even Organizer Quattro Media.</p>
<p lang="sv-SE">
<p>Kegiatan ini didahului Musyawarah Wilayah PAMORI Jawa Timur dan Sarasehan, dalam muswil ini terpilih ketua PAMORI periode th. 2009-2012 adalah Bpk. Edy dan wakil Bpk. Bambang.</p>
<p lang="sv-SE">Sarasehan yang bertemakan ‘Eksistensi Musik Keroncong sebagai Warisan budaya Indonesia seiring perkembangan jaman’ dengan pembicara :</p>
<ol>
<li>Ibu Waldjinah ( Solo 	)</li>
<li>Bpk Musafir 	Isfanhari  ( Surabaya )</li>
<li>Bpk. Edy  ( Ketua 	PAMORI Terpilih )</li>
</ol>
<p>Lomba ini selain sebagai upaya menjaga eksistensi keroncong, tentunya juga untuk meningkatkan kembali semangat bermusik bagi para seniman keroncong terutama generasi muda nya</p>
<p lang="sv-SE">
<p><strong>Hasil lomba sbb :</strong></p>
<p>Juara 1 : adalah OK Solo Manise  ( Solo ) menerima piala bergilir walikota Batu, Tropy Juara 1, Piagam penghargaan dan uang pembinaan sebesar Rp. 3.500.000,-</p>
<p>Juara 2 : adalah OK Tengkorak Hitam  ( Surabaya ) menerima Tropy Juara 2, Piagam penghargaan dan uang pembinaan sebesar Rp. 2.500.000,-</p>
<p lang="sv-SE">Juara 3 : adalah OK Esha Karsa Nada  ( Malang ) menerima Tropy Juara 3, Piagam penghargaan dan uang pembinaan sebesar Rp. 1.500.000,-</p>
<p lang="sv-SE">Juara Harapan 1 : adalah OK Pamori Jember  ( Jember ) menerima Tropy Juara harapan  1, dan uang pembinaan sebesar Rp. 1.000.000,-</p>
<p lang="sv-SE">Juara Harapan 2 : adalah OK Gema Irama Nusantara  ( Malang ) menerima Tropy Juara harapan  2, dan uang pembinaan sebesar Rp. 750.000,-</p>
<p>Juara Harapan 3 : adalah OK Passiri Indie  ( Solo ) menerima Tropy Juara harapan  3, dan uang pembinaan sebesar Rp. 500.000,-</p>
<p lang="sv-SE">Juara Favorit ( Peserta termuda ) : adalah pelajar SLTP, OK MTS Model  ( Trenggalek ) menerima Tropy, dan piagam penghargaan</p>
<p lang="sv-SE">
<p lang="sv-SE">Ada beberapa hal yang menarik atas pelaksanaan acara ini, yang<strong> pertama</strong> bagaimana panitia mengatur peserta untuk tampil ( karena jumlah peserta cukup banyak ) maka dibuatlah panggung kembar di tanah lapang ( lapangan sepak bola ) ini membuktikan bahwa keroncong yang selalu dianggap musik kamar bisa dimainkan pula di luar.</p>
<p lang="sv-SE">
<div id="attachment_437" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://www.tjroeng.com/wp-content/uploads/2010/09/07.02.-Gebyar-Keroncong-Nusantara-2.jpg"><img class="size-medium wp-image-437" title="07.02. Gebyar Keroncong Nusantara 2" src="http://www.tjroeng.com/wp-content/uploads/2010/09/07.02.-Gebyar-Keroncong-Nusantara-2-400x299.jpg" alt="" width="400" height="299" /></a><p class="wp-caption-text">Panggung Kembar</p></div>
<p><strong>Kedua</strong>, Panggung atau lokasi lomba ditempatkan di lapangan dekat dengan  pemukiman penduduk, ini dapat pula dipakai sebagai tolok ukur seberapa kepedulian masyarakat terhadap musik keroncong. Karena kepedulian tersebut dapat dibuktikan bahwa musik keroncong manjadi bagian yang tak terpisahkan pula dalam tatanan kehidupan budaya masyarakat Indonesia.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"> </span><span style="color: #0000ff;"> </span></p>
<p lang="sv-SE">
<p><strong>Ketiga</strong>, Dikarenakan jumlah peserta lomba, waktu pelaksanaan lomba menjadi 3 hari termasuk sarasehan, sehubungan hal tersebut panitia menyediakan akomodasi peserta. Peserta disediakan penginapan di rumah penduduk, untuk tiap group ( 10-15 orang ) disiapkan 1 rumah tanpa dikenakan biaya alias gratis.</p>
<p>Uniknya saat para peserta tersebut latihan menjelang lomba, banyak penduduk yang berdatangan dan bergabung bahkan ikut bernyanyi atau request lagu … bukankah ini tanpa sengaja merupakan proses yang sangat pas untuk mengenalkan keroncong pada masyarakat, tak kenal maka tak saying.</p>
<p lang="sv-SE">
<p><strong>Keempat</strong>,  ada sebuah ‘mimpi’ dari pak Edy ketua PAMORI terpilih yang disampaikan kepada Tjroeng yaitu ‘suatu saat nanti saya akan mengadakan lomba keroncong dengan ketentuan : peserta yang ikut harus membawa group yunior binaannya dimana yang dilombakan adalah para yunior atau anak didiknya sedangkan pembinanya atau group seniornya mendampingi tampil hanya sebagai parade musik keroncong … semoga impian ini terlaksana, bukankah dengan demikian pewarisan budaya ini dapat berjalan secara alamiah.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, panitia penyelenggara bekerjasama dengan tempat wisata Selecta, dan bagi para peserta gebyar keroncong diberikan diskon 50% apabila mengunjungi tempat wisata tersebut dengan cara menunjukkan kartu peserta.</p>
<p>Masyarakat disekitar lokasi festival diperkenankan membuka bazaar makanan dan buah buahan khas kota Batu, jadilah acara ini sebagai ajang promosi kota Batu sebagai sentra wisata Jawa Timur dan diharapkan pula sebagai sentra perkembangan keroncong di Jawa Timur.</p>
<p lang="sv-SE">
<p>Untuk itu bpk Soewignya wakil Kepala Dinas Pariwisata kota Batu menawarkan kepada tjroeng apabila ingin menyelenggarakan even keroncong, kota Batu siap membantu memfasilitasi dalam scala Propinsi maupun Nasional.</p>
<p lang="sv-SE">
<p>Tjroeng mendapatkan banyak sekali oleh oleh tentang bagaimana liku liku pembinaan keroncong di daerah, salah satunya cerita dari Situbondo, tentang sekumpulan pemuda yang telah menggantikan <em>roti kalung</em> dengan Cak, <em>rantai</em> dengan Cuk dan <em>pisau</em> dengan Cello, dan senjata yang biasa dibuat tawuran digantikan dengan flute, bas, gitar dan biola, bukankah ini bukti pula bahwa alunan musik keroncong dapat pula merubah perilaku seseorang ?</p>
<p><em>( P. Moen )</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tjroeng.com/?feed=rss2&amp;p=436</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
