KETIKA PEREMPUAN BERBICARA KERONCONG
Geliat musik keroncong pada tahun abad 21 ini masih jauh panggang dari api, adem-adem saja. Dan oleh karenanya gerakan mempopulerkan musik keroncong dan sekaligus menjadikan musik keroncong regeneratif bagi tunas-tunas bangsa harus menjadi perhatian semua pihak.
Lahirnya tunas-tunas baru akan sangat bergantung dengan apa yang telah dilakukan pada saat ini, dan secara khusus dalam edisi ini, Tjroeng menghadirkan suara perempuan, suara ‘ibu”, di mana peran perempuan dan ibu sangatlah besar dalam proses regenerasi bangsa, termasuk keroncong tentunya. Dan pada posisi ini perlu kita mengutip aya yang disampaikan oleh Yuningsih Ketua Fatayat Kec. Gebang yang juga aktif dalam pemberdayaan peran perempuan, “Suara perempuan harus didengar dalam membuat kebijakan pemerintah baik saat mereka berada di rumah (peran domestik) atau mereka yang berperan dalam sektor publik,”.
Ny. Hj. Yuli Erawati, ibu dari 3 orang putri-putra yang sekaligus merupakan Ketua Himpunan Artis dan Musisi Keroncong Republik Indonesia (HAMKRI) - Jawa Barat, menyatakan bahwa sejak kecil ia telah bergelut dengan dunia musik, sebagai penyanyi, “ Sebagai penyanyi saya dituntut untuk bisa membawakan lagu apa saja, termasuk keroncong. Apalagi keroncong adalah musik asli Indonesia, saya tertantang untuk bisa menguasai. Ternyata setelah mencoba, lagu keroncong itu sangat enak untuk dinyanyikan. Lama kelaman, satu demi satu lagu keroncong pun bisa saya bawakan. Ada rasa kebanggaan ketika bisa menyanyikan lagu, sebab tidak semua orang bisa membawakannya, “paparnya mengenang masa kecil.
Perkembangan keroncong saat ini dirasakannya ada sedikit kemajuan, hanya belum seperti yang diharapkan. Lewat penyanyi-penyanyi didikannya, Yuli optimis bahwa keroncong tidak akan pernah mati. Apalagi saat ini banyak anak muda yang bergiat untuk memajukan keroncong, rasa optimis itu semakin tumbuh. Namun demikian Yuli berharap pemerintah mau ikut memperhatikan musik keroncong, dengan memberikan ruang sebanyak-banyaknya bagi artis dan musikus keroncong di dalam mengekspresikan proses berkeseniannya. Respons Yuli sangat baik melihat HAMKRI Solo sudah mengusulkan kepada Pemkot Solo untuk membuat Perda tentang kewajiban station radio di Solo untuk setiap harinya mengtalokasikan acara untuk pemutaran lagu keroncong. Yuli sangat senang. Ia berharap, hal itu bisa diterapkan di kota-kota lain. Sebab promosi dan pengenalan terus menerus merupakan cara ampuh untuk memperluas penggemar keroncong. Seperti kata pepatah, tidak kenal maka tidak sayang.
Menurut, Yuli yang juga memiliki 2 group keroncong, untuk menjadikan orang tertarik kepada keroncong memberi kiat-2 supaya orang tertarik belajar keroncong dengan mengatakan bahwa bernyanyi keroncong itu bisa dipelajari. Asal punya dasar menyanyi, semua orang bisa belajar. Maka di rumahnya yang luas, Yuli membuat gedung yang di beri nama Gedung Brataatmadja, disana didirikan Sanggar Brata Nada untuk melatih orang-orang yang ingin belajar keroncong. Saat ini Yuli mempunyai 2 group keroncong. Yang satu bernama OK Gita Romantika, yang pemainnya kebanyakan anak-anak muda. Dan OK Rayuan Sukma yang diisi pemain yang lebih senior/tua. OK Rayuan Sukma merupakan nama OK milik ayahandanya, yang eksis di Semarang
Yang hanyutkan rasa
Sedikit berbeda adalah Ny. Eko Nugrahaeni (40 th) yang akrab dipanggil Anik Cenil. ” Irama musik keroncong itu menghanyutkan rasa. Rasa adalah salah satu hal penting dalam kehidupan kita yang harus dijaga. Nglaras rasa, merupakan hal terpenting bagi kita untuk menyelaraskan kehidupan lahir maupun bathin. Dan hal tersebut bisa saya dapatkan saat mendengarkan lagu lagu keroncong yang maklegender (oleh beberapa orang dibilang mendayu ndayu…). Walaupun oleh beberapa rekan … saya dibilang jadul banget” lebih lanjut ia menjelaskan, ”Irama musik keroncong sangat unik, bahkan lagu keroncong terkait erat dengan awal berdirinya negara kita tercinta ini. Semua orang tidak dapat mengelak dari fakta tersebut. Jadi memang tidak ada salahnya kita menyukai lagu keroncong.... Lagu keroncong dapat membuai rasa, membuat penikmatnya tidak menjadi histeris atau heboh... mereka menikmati lagu keroncong.. ya dengan nikmat, apalagi kalau ditemani secangkir kopi tubruk... wow!!!”
Dari kesukaan terhadap musik keroncong ini, Ibu Cenil berharap, jika ada event event yang berhubungan dengan lagu keroncong agar lebih dipublikasikan agak ramai. Sehingga masyarakat menjadi aware... Bisa via surat kabar, majalah, atau tabloid. Kalau hanya via milis.. kan tidak seluas media media tersebut. Semoga Festival Keroncong secara rutin bisa diadakan, se-heboh Jak Jazz, misalnya.
Harapan lain, untuk meningkatkan kualitas supaya lebih ngeroncong bintang keroncong juga dipublikasikan, dan juga di-trainee, supaya cengkoknya bisa seperti senior senior yang ada. ” Karena jujur.. buat saya.. penyanyi penyanyi yang masih muda, belum begitu ngeroncong banget suaranya... kurang mak nyuss ndengernya..Kalau perlu akses ke stasiun televisi swasta ditembus.. bahkan kalau perlu diPAKSA,. rating diabaikan, dan harapannya Video klip lagu keroncong bisa mengakses MTV. Itu baru jos gandhos... top markotop. Memang sih, semua hal diatas membutuhkan investasi yang tidak sedikit, namun namun siapa tahu dengan adanya dukungan pemerintah, kita bisa menembus semua itu, asal jangan didukung oleh produsen rokok aja... disini independensi dipertaruhkan.” lanjut ibu dari 3 anak yang memiliki hobby keluyuran di alam bebas, mendaki gunung atau ke masuk ke dalam hutan, membaca buku buku tentang sejarah dan sosial budaya, karya sastra fiksi berlatar sejarah, bermain dan mendengarkan lagu, dengan penuh harap.
Keroncong is trully Indonesia
”Yo jelas karena keroncong itu trully Indonesia, and 100% me,” begitulah yang dinyatakan oleh ibu Soufana Intan (40 th) ketika ditanya kenapa ia menyukai musik keroncong, ” Kerontjong is an Indonesian Heritage, itulah alasannya dan alasan lain adalah, rasanya kalau denger musik keroncong semua kerinduan tersapu, musiknya yang mendayu memberikan sensasi nyaman, serasa lenggahan di pelataran rumah Embah, lihat syairnya - kerontjong yang kukenal sebagian besar mendendangkan lagu cinta tanah air, ya kan?” sergahnya.
Soufana, yang lulusan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) dan saat ini aktif sebagai konsultan pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri di Provinsi Banten melihat bahwa Keroncong ngga boleh punah, ngga boleh mati... Ini warisan negeri, kita sekarang yang masih ada harus mengupayakannya biar bisa dinikmati terus. Harus ada memang orang-orang yang mendedikasikan diri untuk melestarikan, membuat kegiatan-kegiatan yang mempopulerkan kembali, merangkul kelompok-kelompok yang sebenarnya masih ada di berbagai tempat untuk bisa saling kontak dan berbagi.
Berbagi dengan si Miskin yang hidup sengsara
”Mendengarkan keroncong mungkin sekali sejak di dalam perut Ibunda, karena Ibu adalah penyuka keroncong. Kalau tertariknya, sejak Mbah Kakung saya meninggal, karena setiap kangen sama Beliau, saya selalu mendengarkan lagu favoritnya, yaitu : Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dengan irama keroncong. Saya selalu diingatkan untuk bisa berbagi seperti lirik dalam lagu itu, yaitu berbagi suka dengan semua, termasuk si miskin yang hidup sengsara, agar mereka turut bersuka,” demikian disampaikan oleh Ny. Rinawati (37th) kepada Tjroeng. Ibu dari 2 orang puteri ini lulusan Teknik Arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung nampak sangat antusias dengan ketika bercerita mengenai keroncong.
Dinilainya, perkembangan musik keroncong saat ini sangat sangat memprihatinkan, karena tidak ada para pemegang kuasa dipemerintahan yang peduli. Misalnya saja institusi kendali budaya di negara ini-pun tidak peduli, baik dengan mem-patent-kan keroncong sebagai musik asli indonesia, lalu mengembangkannya, menjadikan generasi penerus suka, lalu mungkin bahkan mengangkat derajat para pegiat keroncong. agar mereka tetap bisa eksis dan terlindungi kreatifitasnya, sehingga mampu menularkan virus positif keroncong kepada lintas generasi.
Harapan kepada penyelenggara negara paling diharapkan saat ini untuk semakin menggiatkan dan menjaga eksistensi keroncong adalah : 1) Mempatenkan musik keroncong sebagai musik Indonesia, 2) mendorong dan memfasilitasi pegiat keroncong untuk menjaga kontinuitas keromcong sekaligus membuat film yang berbasis musik keroncong, bisa berupa film musikal yang dibuat menarik dan dapat memberi kesan positif bagi lintas generasi; 3) Mendirikan pusat pengembangan musik tanah air, yg di dalamnya terdapat musik keroncong, semacam TIM, tapi khusus musik, disitu ada gamelan/musik tradisional dari berbagai daerah, dan termasuk keroncong sebagai yg bernuansa nasional, tapi khas Indonesia. Di situ rutin ada diskusi tentang musik di Indonesia pertunjukan musik, perpustakaan, dan tempat kursus beragam alat musik khas tanah air, dan juga bekerjasama dg stasiun tv ato radio utk buat acara rutin di station mrk, juga dibuka kerjasama dengan dunia akademik untuk memberikan kursus musik keroncong melalui kegiatan ekstra kurikuler, selain itu melalui lembaga ini dapat bekerjsama dengan KBRI melalui Deplu untuk pentas secara rutin dalam setiap event di negara2 lokasi KBRI di seluruh dunia.
Harapan sebagian perempuan terhadap keroncong merupakan harapan bangsa. Dan seluruh masyarakat dituntut untuk terlibat dalam menjaga kekayaan musikal Indonesia. Kepedulian insan Indonesia, khususnya peguat keroncong semakin ditantang dengan harapan-harapan itu. (tjroeng)
SRI WIDADI MENGALIR BERSAMA KERONCONG
Seperti udara, keroncong menghidupinya. Layaknya kekasih, ia cintai iramanya sepenuh hati. Jiwanya melebur dalam setiap langgam yang ia nyanyikan. Katanya, keroncong dan anak-anak adalah dua sumber bahagia yang selalu menyediakan oksigen untuk terus bernapas. Membuatnya tak gentar menjalani hidup.
Nama Sri Wida
di lebih lekat dengan keroncong meski ia juga cukup sempat menjejakkan kaki di kancah musik pop. Namanya bersanding dengan nama-nama besar penyanyi era ‘70an seperti Toto Salmon, Dedy Damhudi, Ida Rasyid. Namanya tak juga tenggelam kala nama baru di ranah keroncong seperti Tuti Maryati dan Sundari Sukoco muncul. Karier musiknya mungkin tak melesat seperti meteor, tapi bertahan konstan dan berjalan stabil mengikuti perubahan. Hidup pun ia jalani layaknya menyanyikan sebuah langgam mendayu. Pelan namun pasti.
Debutnya Acara Selamatan Bayi
Keroncong memang nafas hidup wanita kelahiran Solo ini. Sejak kecil, musik ini telah mengakrabi hari-harinya. Ayahnya adalah seorang pemain melodi grup keroncong yang rutin berpentas di acara-acara hajatan di Solo dan sekitarnya. “Saya rajin ikut ayah manggung. Biasanya kami pergi naik sepeda yang dikendarai ayah. Saya anteng duduk di boncengan dan gembira menikmati perjalanan,” kenangnyan. Sri kecil kerap menemani ayahnya berpentas. Ia senang dengan keramaian yang terjadi di sekelilingnya dan tentu saja lantunan lagu keroncong yang dimainkan ayah dan kawan-kawannya.
Kebiasaan itu lantas membuat Sri akrab dan hafal beberapa lagu keroncong. Tapi berbeda dengan anak-anak sekarang yang sengaja ikut berbagai kompetisi untuk jadi penyanyi dengan dandanan heboh, kelahiran 1951 ini justru tidak ‘diplot’ untuk jadi penyanyi. Nyatanya, arus hidup menyeretnya masuk ke kancah musik keroncong. Debut pertamanya adalah acara selamatan Bayi di daerah Delanggu pada 1958. Kala itu, Sri masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar. “Suatu hari saya ikut ayah manggung bersama grupnya yang bermana Keroncong Petir. Kebetulan penyanyinya hanya satu. Lalu ayah menyuruh saya menyanyi. Sejak itu, saya selalu tampil bersama ayah,” kisahnya.
Maka Sri pun mengawali babak baru dalam kegiatan bermusik bersama sang ayah. Ia tak lagi hanya jadi penonton, “Lumayan, honornya bias jadi tambahan uang saku sekolah.” Sri masih dapat mengingat dengan jelas suasana panggung kala itu. “Karena belum ada listrik, listrik untuk pengeras suaranya dihasilkan dari aki dan speakernya besar sekali,” katanya sambil tertawa. Dengan tekun, ia jalani hari-hari menjadi penyanyi ‘hajatan’. Kualitas suara dan kemampuannya berinteraksi di atas panggung makin terasah seiring berjalannya waktu. Karir bernyanyinya terus berjalan ketika ia menikah dengan seorang wartawan dan memiliki tiga orang anak.
Selain tampil di berbagai acara, Sri juga rajin ikut berbagai perlombaan nyanyi yang kala itu marak seperti Lomba Pop Singer serta Bintang Radio dan Televisi. “Saya mulai sering ikut lomba-lomba sejak 1967. Baru pada 1972 saya berhasil merebut juara pertama Pop Singer di Solo. Karirnya makin bersinar. Pada 1973, ia pindah ke Surabaya dan mendapat kontrak sebagai penyanyi di night club LCC milik ayah Hayono Isman. “Dulu, night club jadi tempat bergengsi untuk menjajal kualitas bermusik. Mereka memilih penyanyi dengan sangat selektif dan penyanyi yang bias masuk di night club besar seperti LCC biasanya punya kualitas yang baik. Hampir semua penyanyi tenar kala itu pasti berangkat dari night club. Mungkin kalau sekarang night club itu sama seperti kafe-kafe,” jelasnya.
Dari Hajatan ke Perlombaan
Titik balik karir Sri Widadi terjadi di sini. Selain bernyanyi rutin di LCC, ia juga makin rajin ikut berbagai kompetisi yang membuat namanya makin dikenal. Tak hanya keroncong, ia juga memenangi berbagai kompetisi bergenre pop. Pada 1974, ia memenangi lomba Pop Singer se-kota Surabaya dan kemudian tingkat propinsi Jawa Timur. Ia kemudian ke Jakarta untuk mengikuti lomba final di tingkat nasional dan berhasil merebut juara kelima. Perjalanan hidupnya ternyata ‘mengikat janji’ dengan Jakarta. Sebab langkahnya lantas berbelok ke Ibukota.
Ia pindah ke LCC Jakarta yang terletak di bilangan Monas. “Di LCC saya lebih banyak menyanyi pop. Saya juga punya album lagu pop, lho! Perusaha rekamannya bernama Ramayana,” kenangnya. Ia menyanyikan lagu Layu Sebelum Berkembang dalam bahasa Jawa yang cukup laris manis di pasaran dan cukup meledak di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Suriname. Nama Sri Widadi makin melambung. Pertengahan decade 70an, namanya makin ajeg di kancah musik Indonesia, khususnya keroncong. Ia kerap tampil bersama penyanyi tenar lain seperti Toto Salmon, menyanyikan lagu-lagu Maladi dan Toto Salmon sendiri.
Sri mengaku sempat menikmati masa kejayaan sebagai penyanyi. “Tapi dunia hiburan pada masa itu jauh berbeda dengan dunia hiburan sekarang. Artis hidupnya ya sederhana saja. Beda dengan sekarang. Artis pendatang baru saja sudah jadi selebriti,” katanya sambil tertawa. Hidup, meski manis ia rasakan kadang-kadang juga menyuguhkan kegetiran. Pernikahan dengan suami pertamanya kandas dan ia menjadi orang tua tunggal bagi ketiga anaknya. “Beruntung saya bisa nyanyi. Dari situ saya bias menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak,” katanya. Ia sempat menikah lagi dan mempunyai seorang anak dari pernikahan keduanya. “Tapi ya hubungannya juga tidak terlalu baik. Meski tidak resmi bercerai, kami tidak lagi hidup bersama,” kisah Sri yang tak mau bercerita banyak tentang pernikahan keduanya. Kesetiaanya pada keroncong tak pupus kendati musik ini tak menghadiahinya kehidupan glamor. “Saya mengalami banyak musim dalam hidup. Ada musim pasang juga surut. Hampir semuanya saya lalui bersama keroncong,” ungkap wanita yang berulang tahun pada 8 Agustus ini.
Bergulir Bersama Hidup
Selain sang ayah, Sri menyebut satu nama yang ia anggap sangat berjasa bagi perkembangan musikalitasnya. “Pak Budiman dari Orkes Keroncong(OK) Bintang Jakarta. Kalau tidak dididik dia, mungkin kemampuan menyanyi keroncong saya tidak terasah dengan baik,” katanya. Selain itu, Sri menyebut Toto Salmon sebagai partner yang memperluasa jangkauan musiknya. “Dia yang mengajak saya rekaman album. Kami pernah rekaman di Musica dan Dian,” katanya. Sri mengaku meski namanya cukup terkenal, ia sendiri hidup sederhana. “Ya itu tadi, kalau dulu dunia hiburan tidak seperti sekarang. Bayarannya kecil dan kalau rekaman nilai kontraknya juga tidak terlalu besar,” kisahnya. Sebagai seorang penyanyi yang cukup terkenal, hidupnya tetap bergulir layaknya roda pedati, “Kadang di atas, kadang di bawah dan saya sudah terlatih untuk berdamai dengan hidup.”
Sri bercerita, ada suatu masa dalam karir musiknya, ketika uang bukan masalah baginya. Ia yang orang tua tunggal bias memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik. “Dulu, pejabat-pejabat itu langgangan night club seperti LCC. Mereka datang benar-benar untuk menikmati dan mengapresiasi musik yang mainkan. Ia juga kerap muncul di TVRI dan membuat album bersama penyanyi lain seperti Dedy Damhudi dan Ida Rasyid. Honornya cukup tinggi untuk ukuran kala itu. “Dua ratus ribu itu sangat banyak,” katanya. Tapi waktu terus berjalan. Nama besarnya ia akui tidak berbanding lurus dengan pendapatannya. Terlebih, ketika televisi-televisi swasta mulai bermunculan, berebut pasar dengan mengusung eforia kehebatan generasi MTV, keroncong mulai terpinggirkan, goyah tergerus serbuan modernitas, ia pun ikut mengalami pasang surut. “Jadi meski saya sering tampil di TVRI, ya hidup saya biasa-biasa saja. Kedengarannya klise, tapi begitulah yang terjadi dan mungkin juga dialami penyanyi-penyanyi angkatan saya yang lain,” katanya. Maka hidup yang sesungguhnya pun harus ia jalani. “Tapi karena keahliannya memang menyanyi, saya terus saja menyanyi. Kalau dibilang penyanyi menjual suara untuk menghidupi anak-anaknya, itu tepat sekali menggambarkan saya,” katanya. suatu ketika, sebelum tinggal di rumahnya di Bekasi yang baru beberapa tahun dimiliki, ia dan anak-anaknya sempat berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. “Sempat juga diusir karena terlambat membayar,” kenangnya.
Namun alunan lembut keroncong yang mendayu, selalu bias menyembuhkan keletihannya bergelut dengan hidup. Ia tetap setia berlatih keroncong agar selalu siap saat tawaran untuk menyanyi dating. Terbukti, di usia yang mencapai bilangan 58, suaranya tetap renyah dan nikmat didengar. Seperti saat Sri tampil dalam acara Gebyar Keroncong yang diampu Tuti Maryati di TVRI beberapa waktu silam. Kebaya biru membalut tubuhnya. Sesekali tampak bibirnya menggumamkan doa saat menanti giliran menyanyi tiba. Meski terlihat grogi, ia toh tetap tenang dan mantap ketika berada di atas panggung. Gangguan pada kelenjar tiroid yang sempat menyerangnya pada 2007, tak merubah kualitas bernayinya. Suara Sri masih tetap merdu dan mantap mencapai nada-nada tinggi. Binar wajahnya begitu cemerlang dan tak sedikitpun membiaskan kegelisahan yang mungkin setia menemani hari-harinya. Tak terbersit tanda kalau ia pernah selalu gemetar seperti kedinginan saat gangguan kelenjar tiroid bermukim di tubuhnya. Hidupnya untuk keroncong dan anak-anaknya. Dua hal yang membuatnya tetap bahagia. (Nala Indira)
ENDANG SETYAWATI, PENYANYI KERONCONG KONDANG DI NEGERI BELANDA
Panasnya sinar matahari tidak menghalangi Tjroeng untuk mewawancarai langsung Endang Setyawati penyanyi yang berasal dari Indonesia namun bermukim di Belanda. Keramahtamahan Endang Setyawati dan keluarganya terlihat ketika menyambut kedatangan Tjroeng di kediamannya, di kawasan Bungurasih Barat Surabaya. Tujuan kedatangan ke Indonesia disamping berlibur, juga dalam rangka pembuatan video klip album ketiganya. Album yang sedang digarapnya ini sengaja mengambil latar belakang keindahan alam Indonesia.
Wanita kelahiran Blitar 19 Agustus 1958 ini sejak kecil sering mengikuti perlombaan menyanyi. Sebelumnya, hampir selama 11 tahun Endang bekerja di Dinas Sosial sebagai pengajar musik untuk anak-anak tuna netra. Pengalaman-pengalaman hidup Endang, diukir dengan sangat bermakna. Karier bernyanyinya dimulai semenjak masih tinggal di Bali. Wanita dengan rambut sebahu ini tidak berhenti meniti karier di Pulau Bali. Tahun 1996 Endang terbang ke Belanda dan mengembangkan profesi bernyanyinya disana. Perlahan namun pasti, Warga Belanda mulai mengenal kiprah Endang sebagai penyanyi. Banyak tawaran menyanyi dengan bahasa Indonesia, terutama membawakan lagu-lagu berirama keroncong. Karena terpukau dengan kepiawaiannya melantunkan lagu-lagu keroncong, di Belanda Endang dijuluki Endang Setyawati Penyanyi Keroncong Surabaya.
Animo warga Belanda terhadap musik dan lagu-lagu keroncong sangat baik. Ini terbukti melalu Pasar Malam Tong-Tong yang rutin digelar, yang selalu menampilkan musik keroncong. Apresiasi anak muda di Belanda terhadap musik keroncong juga cukup baik. Tidak heran jika setiap ada penampilan Endang Setyawati selalu juga dihadiri oleh kalangan anak muda. Seringkali Warga Belanda dapat menikmati penampilan Endang menyanyikan lagu keroncong pada saat ada acara-acara reuni warga Belanda yang dulu pernah tinggal di Indonesia. Kiprah Endang di Belanda juga tidak terlepas dari dukungan Kedutaan Besar Indonesia untuk Belanda, melalui pertemuan-pertemuan rutin yang dilakukan, yang selalu menampilkan musik keroncong. Di Belanda, Lagu-lagu keroncong yang sering diminta untuk dilantunkan diantaranya adalah Bengawan Solo, Bunga Anggrek, Sepasang Mata Bola, dan lain-lain.
Memang tidak mudah untuk mempromosikan musik dan lagu-lagu keroncong di negara lain. ”Perlu dicari cara-cara khusus untuk mempromosikan budaya di negara lain agar secara bertahab dapat diterima dengan lebih luas oleh warga masyarakat” Jelas Endang. Untuk menghilangkan kebosanan, ada kiat khusus yang dilakukan Endang yaitu dengan menyuguhkan lagu-lagu dalam setiap penampilannya secara bervariasi (Pop, Country, Dangdut dan keroncong) tergantung dari permintaan penonton. Pada akhir pertemuan dengan Tjroeng, Endang mengatakan ”Yang paling penting peninggalan budaya leluhur yang adi luhung ini tetap lestari dan terus dicari cara supaya tidak hanya diminati oleh generasi tua namun juga generasi mudanya”. (Koes)
Bung Karno dan Musik Keroncong
“Indonesia itu dimana ?”, tanya seorang warga negara Rusia ketika seorang wisatawan Indonesia yang sedang berkunjung ke sana menjelaskan asal usulnya. Setelah cukup repot menjelaskan di mana keberadaan Indonesia, akhirnya orang Rusia itu mengerti Indonesia dengan mengatakan,” Oh … yang presidennya dulu bernama Mr. Soekarno ya ?”. Luar biasa, nama Bung Karno ternyata jauh lebih dikenal daripada nama negara asalnya.
Bung Karno memang terkenal di seluruh penjuru dunia sebagai seorang politikus yang punya kemampuan berorasi yang luar biasa. Di Indonesia sendiri hampir mustahil ada orang yang tidak mengenal nama Bung Karno. Semenjak SD anak-anak sudah dikenalkan dengan nama Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia. Meski begitu, nampaknya hanya sedikit saja orang yang tahu bahwa Bung Karno juga merupakan penikmat dan pencinta musik keroncong yang fanatik.
Kecintaan Bung Karno pada musik keroncong bisa dilihat dengan jelas ketika Bung Karno masih memimpin negeri ini. Pada tiap akhir pekan di Istana Bogor, selalu terdengar alunan musik keroncong. Musik keroncong live di tampilkan disana. “Bapak senang keroncong sejak semasa di pembuangan (Bengkulu dan Ende). Jadi beliau pintar sekali menyanyi keroncong”, ungkap Ibu Hartini. Bahkan Ibu Hartini didorong oleh Bung Karno supaya bisa bernyanyi keroncong. Untuk mewujudkan hal itu Ibu Hartini meluangkan waktu belajar bernyanyi keroncong pada Fetty Fatimah dan Titik Puspa (Intisari, Desember 1997).
Perkembangan keroncong pada era Bung Karno yang begitu pesat memang tidak luput dari campur tangan Bung Karno pada musik ini. Bung Karno sangat bangga dengan seni tradisi asli Indonesia, termasuk keroncong. Kebanggaan itu juga diimbangi dengan promosi. Seringkali Bung Karno mengirimkan misi kebudayaan ke luar negeri, dengan turut menyertakan musik keroncong. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh pemerintahan saat ini.
Melalui pengalaman ini, nampaknya campur tangan pemerintah masih bisa dikatakan sebagai sesuatu yang ampuh di dalam mengembangkan dan melestarikan budaya bangsa. Maka jika musik keroncong, sebagai suatu peninggalan dan aset yang luar biasa mau terus berkembang maka intervensi pemerintah masih sangat diperlukan. Kalau perlu ada kurikulum khusus terhadap musik keroncong, di sekolah-sekolah. Semoga pementasan Keroncong Toegoe di Cikeas dan Istana Negara, bisa sedikit membuka hati dan mata pemerintah bahwa negara perlu melindungi dan melestarikan budaya agung peninggalan leluhur ini. Semoga …
Menyajikan Nostalgia dalam Keroncong
Catatan Perjalanan OK Toegoe ke Pasar Malam Besar Denhaag Mei – Juni 2008
Andre Juan Michiels *)
Denhag. Kkota itu selalu menduduki tempat khusus dalam memori kami. Tanggal 19 Mei sampai dengan 2 Juni 2008, untuk keempat kalinya sejak tahun 1998 OK Toegoe diundang untuk tampil di Pasar Malam tahunan yang diadakan di kota Denhaag ini. Event tahun ini diberi tajuk Pasar Malam Besar 50.
Pukul sembilan pagi tanggal 19 Mei, OK Toegoe berkumpul di Markas Besar untuk melakukan pemeriksaan terakhir. Kami harus seksama dalam mempersiapkan perlengkapan yang kami bawa, agar tidak terjadi kelebihan bagasi saat terbang ke negeri kincir angin nanti. Tepat pukul 10.30, dengan diawali doa yang dipimpin oleh isteri mas Winarno (salah satu kru OK Toegoe) kami berangkat dengan tiga mobil menuju bandara Cengkareng. Tak dinyana, saat kami melakukan check in, masih ada kelebihan bagasi yang kami bawa. Untungnya biro perjalanan mau membayarkan kelebihan tersebut. Tapi ternyata masih ada masalah yang menunggu kami, saat kami masuk untuk boarding, cello yang kami bawa tidak boleh masuk ke kabin pesawat. Kami tidak mau mengambil risiko dengan memasukkannya ke bagasi. Akhirnya diputuskan kami batal terbang sore itu, dan harus bermalam di bandara untuk penerbangan hari berikutnya dengan pesawat lain. Kekhawatiran kami terbukti. Cello yang akhirnya kami masukkan ke bagasi pesawat patah, sehingga kami harus menyewa cello di sebuah sekolah musik yang berlokasi tidak jauh dari tempat kami tinggal di Denhaag.Pada akhir perjalanan, masalah ini pun masih membuntuti. Biro perjalanan yang mengurus penerbangan kami membebankan biaya pembatalan penerbangan pertama dengan nilai yang cukup tinggi (mencapai 3.200 Euro). Tidak satu pun penjelasan kami yang mereka terima, termasuk kerugian kami atas cello yang patah. , Seharusnya sejak awal biro perjalanan itu memberikan informasi bahwa cello tidak dapat masuk kabin pesawat. Seandainya saja mereka memahami betapa besar arti cello yang sudah menemani permainan OK Toegoe sejak 8 Februari 1993 itu.
Pada tanggal kedatangan kami tersebut, kami sudah harus tampil. Namun meski badan capek kami mengeluarkan semua kemampuan yang ada untuk memberikan yang terbaik buat penonton yang sudah menunggu kehadiran kami. Beruntung hari pertama kami hanya main satu kali pada pukul 14.00. Hari kedua kami bermain dua kali di panggung tongtong podium. Di situ kami bertemu dengan Michiel Maijer, salah satu anggota millis keroncong yang ada di Belanda. Sayangnya, buletin Troeng yang sedianya saya siapkan untuk buah tangan bagi Meijer tertinggal di tas tangan yang tidak jadi kami bawa ke Denhaag. Sebagai gantinya, kami berikan kaos unik produksi Komunitas Keroncong dan permainan musik yang indah. Sungguh luar biasa sambutan dan antusiasme penonton Belanda. Mereka sangat menghargai kami sebagai pemusik keroncong. Bagi mereka, kami layaknya air yang menyegarkan kehausan dan kerinduan mereka akan Indonesia. Dalam sekejap rasa lelah dan capek kami pun hilang, tidak kami rasakan lagi melihat penonton yang puas dengan pertunjukan yang kami suguhkan. Kami memang tidak hanya membawakan lagu-lagu keroncong asli, tapi juga lagu-lagu yang sedang hits atau lagu-lagu tempo dulu yang populer, agar dapat menjaring penikmat di kalangan muda. Kami juga menyelenggarakan workshop mengenai cara bermain dan bernyanyi keroncong yang benar. Sungguh bangga bisa membawa misi budaya asli indonesia meski dengan kemasan yang sedehana.
Kejutan manis berikutnya adalah saat kami bertemu dengan duta besar indonesia untuk kerajaan Belanda, Bapak Habibi dan para stafnya di pavilion Indonesia. Kami diundang makan siang oleh wakil duta besar, Bapak Johary dengan sajian makanan khas jawa timur. Beliau berjanji untuk mengundang kami tampil di pesta perayaan kemerdekaan RI, tangal 17 Agustus 2008. Ya.. seperti mimpi rasanya, setelah empat kali kunjungan kami ke pasar malam Tongtong Denhaag, baru kali ini kami dapat bertemu dengan orang-orang KBRI, dan malah diundang pula untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan negeri kita di Belanda.
Selain hal-hal yang tidak mengenakkan dengan biro perjalanan, kami mendapat pelipur yang ampuh atas kekecewaan dan kejengkelan itu. Di kota Denhaag, kami tinggal di rumah salah seorang pengemar Kr. Toegoe, Tamara, yang pernah datang ke Jakarta dan Badung. Tamara bersama Bung Bram & Uci Andry Warkor menyambut kami sebagai representasi dari Kr.Toegoe, dan menyediakan makanan dan tempat tidur yang nyaman untuk kami beristirahat. Kami juga mendapat keluarga baru di sana, yaitu Erick dan Reina yang menyambut kami di hari ke 3 dengan makan malam di rumahnya. Hidangan khas Indonesia yang dimasak sendiri oleh Reina, yaitu pepes ikan hasil pancingan Erick suaminya membuat kami merasa seperti di rumah sendiri. Kami juga diundang makan malam Oleh Keluarga Victor yang menerima kami layaknya keluarga sendiri. Keluarga baru inilah yang menguatkan makna kehadiran kami di Denhaag. Mereka mengadakan Farewell Party di Apeldoren dengan pesta Barbeceu yang dihadiri hampir semua famili Michiels. Tidak ketinggalan Michiel Meijer dan istri hadir juga hadir di situ. Suasana akrab kekeluargaan yang melingkupi, membuat kami lupa bahwa kami baru saja kehilangan 3200. Air mata tak terbendung lagi saat kami harus melambaikan kata perpisahan di bandara Schipool pada pagi hari tanggal 2 Juni 2008 ke Tamara & Reina Ibunya, Bang Bram dan Uci Audry tante Nell, serta saudara-saudara yang mengantar kami. Seolah kami bisa mendengar lagi lagu LEAVING ON THE JET PLANE yang kami dendangkan sebagai penampilan terakhir kami di pasar malam Tontong.
*) Pimpinan OK Toegoe
OK Toegoe – Cikeas
Beberapa waktu yang lalu, OK Toegoe berkesempatan latihan di kediaman Presiden Susilo Bambang Yudoyono, di Cikeas Bogor. Latihan itu untuk mempersiapkan pementasan menyambut Tamu Negara di Istana Negara Jakarta. Pada kesempatan itu juga hadir dua penyanyi, yang saat ini menjadi ikon penyanyi keroncong wanita yaitu Sundari Soekotjo dan Tuti Maryati. Nampak pada Foto, OK Toegoe sedang berfoto bersama dengan Presiden SBY dan Ibu Ani.
OK Nadya Dewi Putri
Bagi orang yang tinggal di luar Kota Purbalingga, apalagi yang berasal dari luar P
ropinsi Jawa Tengah mungkin agak sulit menemukan sebuah hal yang berhubungan erat dengan kota ini. Meski demikian ada satu hal menarik dan unik yang ditawarkan oleh Kota Purbalingga bagi penggemar keroncong. Hal unik tersebut adalah adanya Group Keroncong yang semua pemainnya adalah wanita. OK Nadya Dewi Putri namanya.
Beberapa kali OK Nadya Dewi Putri ikut terlibat di dalam upaya menggeliatkan Keroncong di Kota Purbalingga dan sekitarnya, bahkan hingga Kota Semarang, Ibu Kota Propinsi Jawa Tengah. Tanggal 21 April 2008 yang lalu, bersamaan dengan Hari Kartini, OK Nadya Dewi Putri berkesempatan unjuk gigi dengan tampil secara live di TVRI Semarang. Ketika Tjroeng memperoleh kesempatan mendengarkan rekamannya, decak kagum langsung muncul. Hanya dalam waktu 2 tahun Group Keroncong Putri ini bisa eksis dan bermain seindah sekarang. Bisa dibayangkan, ibu-ibu yang biasanya mengurusi urusan rumah tangga, bisa menampilkan alunan musik keroncong yang dimainkan secara rapi dan indah. Tanpa bekal pengetahuan bermain musik yang memadai, tidak menyurutkan tekad mereka untuk bisa bermain keroncong dengan apik.
Keberadaan OK Nadya Dewi Putri tidak lepas dari peranan Ibu Nandang, istri Nandang Wijaya, tokoh keroncong Purbalingga sekaligus Ketua Hamkri Wilayah Purwokerto. Ketika Tjroeng berkesempatan singgah di kediaman mereka, di pusat Kota Purbalingga, nampak jelas disana bahwa Nandang merupakan penggemar dan pegiat Keroncong yang aktif. Tidak tanggung-tanggung, dalam seminggu tiga kali ada latihan keroncong di kediamannya yang luas dan asri itu.
Eksistensi orkes keroncong wanita dari Purbalingga ini semakin memperkuat rasa optimisme dikalangan pemerhati keroncong, bahwa keroncong tidak akan pernah mati. Kekhawatiran yang selama ini muncul memang tidak seharusnya hanya berupa ucapan khawatir namun harus bisa diwujudkan melalui langkah nyata. Seperti yang dilakukan Nandang Wijaya, dengan membentuk Group Keroncong Wanita berharap banyak wanita yang juga semakin menggemari musik asli Indonesia ini. Proficiat untuk OK Nadya Dewi Putri maju terus pantang mundur !

