Tatang Muntari: Berjuang dengan Senapan dan Flute
Tidak ada kata berhenti untuk seorang pejuang. Lahir pada 22 Agustus 1935,
Tatang Muntari, Purnawirawan TNI yang terakhir berdinas di Kodam Siliwangi ini, selain turut mengangkat senjata untuk membela negara, juga mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk mempertahankan eksistensi musik keroncong. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi kecintaannya terhadap musik, membuatnya masih tetap aktif bermusik hingga kini. Alat musik yang menjadi spesialisasinya adalah flute. Tatang mengisahkan, saat masih duduk di Bangku SR (Sekolah Rakyat- setingkat SD), dia dan teman-temannya memang diajarkan bermain seruling bambu untuk memainkan lagu-lagu Jepang, yang saat itu menjajah Indonesia. Bahkan sampai sekarang dia masih bisa membawakan lagu-lagu tersebut. Tahun 1957, Tatang muda mulai memiliki Flute sendiri. Dari situ ia mulai mengembangkan bakatnya dengan bergabung pada beberapa grup musik yang ada saat itu. Flute itu menjadi saksi setia didalam kisah hidupnya. Mengikuti setiap langkah dan suka duka dalam hidupnya, flute itu seolah pusaka hingga ia keberatan jika ada orang lain yang menyentuh, apalagi memainkannya. Flute bersejarah yang pertama kali dimiliki tersebut sampai sekarang masih dalam keadaan baik, bahkan selalu ia bawa tatkala harus melatih keroncong ataupun manggung di berbagai event.
Di kalangan pemain keroncong di Bandung, nama Tatang Muntari tidak asing lagi. Selain melatih, dia juga aktif bermain di beberapa grup. Beberapa orkes keroncong yang masih mengandalkan kemahirannya di antaranya Cipta Selaras, Sederhana Bandung, Sederhana Cimahi, Harapan Cimahi, Gema Awangga, Dewi Fortuna dan masih banyak lagi. OK Jempol Jenthik dan OK Unpar adalah dua buah grup yang dia latih dan diarahkan mulai dari nol. Dengan tekun dia memberikan dasar-dasar keroncong sampai pada akhirnya keduanya menjadi grup keroncong yang diakui eksistensinya. Orkes keroncong Palapa yang cukup legendaris juga merupakan grup yang dia rintis bersama tokoh keroncong Suwito Sudarman dan beberapa musisi lainnya.
Sebagai seniman musik, Tatang mewajibkan anak-anaknya bisa bermain musik. Hal ini tidak kemudian membuat dia mengharuskan 5 anaknya tersebut untuk ikut terjun dalam dunia yang digelutinya, meskipun beberapa di antaranya memiliki jiwa seni yang diturunkan oleh bapaknya. Dia tidak menyebutkan alasannya mengarahkan anak-anaknya untuk menggeluti pekerjaan lain.
Seiring berkembangnya musik keroncong, ia berpesan agar para seniman keroncong muda terus berprestasi. Perkembangan aliran-aliran baru keroncong sangat perlu didukung, dengan catatan tidak mengubah pakem musik aslinya, baik dalam intro maupun interludenya. Karena dari situlah penikmat bisa mengetahui jenis keroncong yang sedang dibawakan. Apabila pakem ini ditinggalkan, maka tidak akan ada bedanya lagi apakah musik itu berjenis keroncong, langgam atau stanbul. Yang ada hanyalah musik berirama keroncong.
Demikian ia sampaikan berdasarkan pengamatannya, di mana sejumlah pemusik bermaksud menunjukkan kemampuan individunya (dalam bermusik), padahal itu melanggar pakem. (Wied)
Beng Gwan : Sang Pendekar Keroncong
Dentingan dawai melodi gitar yang hadir melalui Orkes Keroncong (OK) Dian Irama tidak lepas dari sosok Beng Gwan. Beliau merupakan pemain melodi gitar di OK Dian Irama, dan dari perjalanan panjang OK Dian Irama, pada saat ini sosok Beng Gwan menjadi muara informasi, sebab hanya tinggal Beng Gwan sendiri, sementara yang lain telah berpulang. Kesendirian Beng Gwan menjadi begitu berarti untuk menggali kembali sejarah panjang OK Dian I
rama. Dan untuk itu lah, Tjroeng berkunjung ke kediaman Oom Bang Gwan.
Guratan wajah Oom Bang Gwan sangat jelas, sejelas posisinya di dalam OK Dian Irama. Namun usia yang semakin bertambah membuatnya secara fisik melemah. Namun, ingatan dan komitmen pada keroncong masih sangatlah kuat. Mengagumkan.
”Mulanya mencoba-coba memainkan gitar milik kakak. Saya belajar otodidak memainkan gitar, dan memang keroncong sangat menarik perhatian saya waktu itu. Dari sini saya semakin mendalami melodi gitar irama keroncong,” paparnya jelas. Dengan bekal ini Beng Gwan Muda ke Jakarta pada tahun 1949 dan kemudian bergabung dengan beberapa Orkes Keroncong (OK Dupa Irama, OK Swara Marga dan OK Restu) dengan gaya yang diusung adalah gaya Jakarta-an di mana ukulele tidak dipetik melainkan dikemprung.
Perjumpaan dengan salah satu tokoh keroncong pada masa itu, Bapak Momok Kelana yang mengajaknya main di RRI Jakarta pada akhirnya mempertemukan Beng Gwan Muda ini dengan tokoh-tokoh keroncong lain seperti Bapak Achmad, Jayadi, Benny Waluyo, Manto (Manthous), Budiman BJ dan Tan Eng Lim. Bersama pegiat keroncong ini, bakat musik beng Gwan Muda semakin terasah. Bakat besar yang ada pada diri Beng Gwan ini pula yang akhirnya mempertemukan dengan Bp. Lettu Pol. M. Wiromo di tahun 1952. bersama Bapak Wiromo inilah kemudian lahir OK Dian Irama yang bermarkas di Gedung Panjang, Tanah Pasir, Jakarta Barat, dekat studio rekaman Remaco. Formasi pertama orkes ini adalah Tang Tian Hu (biola), Darmo (flute), Beng Gwan (gitar), Damsyik (cello), Wiromo (ukulele), Ma’ruf Abd (cak) dan Umang (bas). Beberapa tahun kemudian terjadi perubahan formasi di mana masuk Budiman BJ (biola), Nur Marzuki (cello) dan Mulyono (flute).
Pada tahun 1961 OK Dian Irama menjadi pengisi siaran keroncong di TVRI dengan membawa penyanyi Tuty, Julia dan Ram Marzuki. Kemudian pada tahun 1966 menjadi pengirimg dalam Pemilihan Bintang Radio. Orkes ini juga masuk ke dapur rekaman Remaco dan mengeluarkan PH dengan judul Tukang Sado, dan Stb. Jampang dengan penyanyi Masnun Satoto, Utji Sanusi, M. Syah, Itjih Suwarni, Is Marzuki, Ani Hadi, Abd. Hadi, Suhaeri Mukti dan Ma’ruf Abdullah.
Sepanjang perjalanannya OK Dian Irama mempertahankan gaya permainannya yaitu gaya Jakarta-an dan kemudian dalam beberapa lagu divariasikan dengan penambahan instrumen lain seperti tamborin, guiro, farfisa vibraphone dan organ.
”OK Dian Irama berprinsip irama keroncong bukan milik etnis tertentu dan hal ini tercermin juga dengan dimainkannya lagu-lagu daerah dan dalam beberapa lagunya menggunakan bahasa Sunda, bahkan sempat berkolaborasi dengan dengan musik gambang kromong dan membawakan lagu-lagu Betawi,”papar Oom Beng Gwat kepada Tjroeng. Dengan gaya ini, OK Dian Irama bersama Tang Tjeng Bok membuahkan dua (2) album kaset.
Untuk perkembangan musik, sebenarnya pemilik Remaco menawarkan OK Dian Irama untuk mengiringi Waldjinah dan Enny Kusrini, namun gagasan itu ditolek karena akan mengubah permainan OK Dian Irama. Akibat penolakan ini mendorong Budiman BJ untuk menerima tawaran tersebut dengan membentuk OK Bintang Jakarta dan membuahkan PH berjudul Tanti lan Tanto. Meskipun telah memiliki orkes sendiri Budiman BJ masih membantu OK Dian Irama dan mengeluarkan beberapa kaset album keroncong dengan gambar album “Stasion Kota”, “Jl. Hayam Wuruk – Gajah Mada”, “Air Terjun” dan “Karikatur Pemain Biola dan Flute”.
Setelah Budiman BJ berkonsentrasi pada OK Bintang Jakarta, OK Dian Irama sering mengalami bongkar pasang pemain biola dan flute, di antaranya Mardi, Wawi, Benny Waluyo, Giman, E’no, Tang Tian Hu dan Tan Eng Lim. Gaya permainan dari OK Dian Irama ini juga mengakibatkan susahnya mencari pemain pengganti jika anggotanya keluar atau meninggal, apalagi mencari generasi penerusnya.
“ Saya adalah satu-satunya anggota dari OK Dian Irama yang masih hidup, teman-teman dalam OK Dian Irama sudah tidak ada semua,”cerita Oom Beng Gwan dengan sedih.
Darah Seni
“Meski semua anak-anak saya yang berjumlah delapan orang bisa bermain musik, namun saya tidak mengajarkan agar mereka mengikuti jalan hidup saya. Dengan hanya bermain keroncong saja tidakakan bisa hidup,” demikian dinyatakan oleh Oom Beng Gwan kepada Tjroeng. Perkembangan dunia keroncong yang relative biasa-biasa saja seolah membenarkannya.
Komentarnya terhadap perkembangan musik keroncong dinilainya cukup maju, dan ia berharap dengan masuknya aransemen-aransemen moderen sebaiknya juga tetap membuat aransemen lagu dengan pakem-pakem keroncong yang murni sehingga orang masih tetap dapat melihat bagaimana keroncong itu bisa berkembang sampai ke bentuknya sekarang. “ Hanya menurut penilaian saya, permainan musik keroncong sekarang ‘kurang ayu’ jika dibandingkan dengan permainan keroncong tahun 1950 – 1960-an. Misalnya permainan sepakbola, permainan musik keroncong tidak hanya asal cepat saja tetapi harus menjiwai lagunya dan menjaga keharmonisan dengan pemain lain. Keharmonisan yang penuh dengan penjiwaan inilah yang membuat permainan keroncong menjadi ayu,” sembari tersenyum, “Memainkan musik keroncong itu memang sukar tetapi dengan latihan yang disiplin pasti akan membawa hasil yang baik. Jangan takut untuk meniru permainan dari orang lain, sebab dengan menirukan ini akan memperkaya teknik permainan dan gaya permainan kita.” lanjutnya seraya berpesan kepa Tjroeng.
(Isaac)
Lgm. Babad Bumi Mataram
Oleh Slamet Tame
Ada kisah kecil yang konon kelak sanggup membelokkan sejarah, khususnya dikalangan kerajaan, dan masyarakat Jawa pada umumnnya.
Setelah Aryo Penangsang tewas oleh Sutawijaya, maka para penasehat Pajang, Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan berrekayasa, seolah-olah merekalah yang telah melakukannya. Seperti telah dijanjikan oleh Sultan Pajang sebelumnya, maka Ki Juru Mertani segera memperoleh daerah Pati. Tapi Sultan tidak segera memberikan daerah Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Pemanahan menjadi agak masygul, dan sempat tidak “sowan” dalam beberapa pisowanan. Ada kecemasan dalam benak Sultan, bahwa menurut ramalan Sunan Giri, daerah Mataram kelak akan menjadi kerajaan yang besar, dan itu akan segera terjadi kalau Mataram diserahkan kepada Ki Ageng Pemanahan. Dengan disaksikan Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pemanahan bersumpah tidak akan melakukan aksi mbalelo kepada Pajang, selama ia masih hidup, namun setelah meninggal dunia, semuanya terserah bagaimana kehendak Tuhan dengan Mataram.
Sultan lega dan percaya, dan diserahkannya tanah Mataram kepada Ki Ageng Pemanahan. Keluarga Pemanahanpun berangsur-ansur pindah, membentuk satu pemukiman atau perkampungan di Mataram.
Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan berteman karib dengan Ki Ageng Giring, yang pekerjaannya adalah tukang “nderes”. Dalam bahasa Jawa, “nderes” adalah memotong bunga kelapa, menampung legen dengan bambu, selanjutnya diolah menjadi gula. Oleh karena itulah Ki Ageng Giring mendapat julukan Ki Ageng Paderesan.
Tersebutlah, ketika suatu hari Giring sudah berada diatas pohon kelapa, terdengar suara dari pohon kelapa disebelahnya, “wahai saudara, ketahuilah, siapapun yang bisa minum air kelapa muda ini sampai habis dengan sekali tenggak, maka ia akan menurunkan Raja-raja ditanah Jawa ini........” Giring segera turun untuk memanjat pohon kelapa yang hanya berbuah satu itu, dan memetiknya. Giring percaya ini adalah wangsit dari Tuhan. Dibawanya pulang, dipapras ujungnya, dan diletakkannya dipaga didapurnya. Giring tidak segera minum air kelapa itu, karena dirasa masih terlalu pagi dan tidak merasa haus. Dipesankan kepada istrinya, tidak boleh siapapun minum air kelapa itu, kemudian Giring keluar untuk mencari kayu.
Sementara Giring keluar, datanglah Ki Ageng Pemanahan, langsung masuk kedapur, dicarinya legen untuk diminum karena merasa haus. Legen tidak ditemukan, dan dilihatnya kelapa yang sudah siap untuk ditenggak. Istri Giring dengan sengit melarang Pemanahan minum, namun Pemanahan langsung minum sekali tenggak sampai habis. “Biar saja nanti aku yang ngomong pada Kangmas Giring” kata Pemanahan.
Begitu pulang, Giring sungguh sangat kecewa, dan dikatakan sejujurnya tentang air kelapa itu. Pemanahan hanya terhenyak. Giring sempat menawar, untuk anaknya bertahta bergantian, bahkan sampai turun yang ke tujuh. Pemanahan tidak memberikan jawaban, dan kemudian pamit.
Demikianlah, setelah Pajang surut, Mataram pun berangsur makin kuat dan berkuasa di Jawa. Anak Pemanahan, Sutawaijaya dinobatkan sebagai Raja yang pertama dengan gelar “˜Panembahan Senopatiâ”, dengan menurunkan Raja-Raja Mataram berikutnya.
Sejarah terus berlanjut, hingga Mataram terbagi dua menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Bagaimana kira-kira perjalanan sejarah kraton Jawa, seandainya Giring yang menghabiskan air kelapa itu sekali tenggak ????
Kita memang tidak usah berandai-andai dengan sejarah, karena sejarah tidak mengenal œseandainya.........
(diceritakan kembali secara bebas dari Babad Tanah Jawi)
Kopi Darat Komunitas Keroncong Surabaya
Komunitas keroncong terus mengupayakan agar geliat keroncong tidak akan berhenti. Pada tanggal 11 April 2008, beberapa pegiat keroncong di Surabaya bertemu (kopi darat) untuk memperbincangkan keroncong dan aktivitas perkeroncongan di Surabaya. Pertemuan yang berlangsung di SMA St. Maria yang beralamat di Jln. Raya Darmo itu diprakarsai oleh kepala sekolah SMA tersebut, Sr. Windhi yang juga merupakan anggota milis komunitas keroncong.
Peserta kopi darat itu adalah para pecinta keroncong yang menggiatkan aktivitas berkeroncong di Surabaya dengan berbagai cara, entah sebagai pemusik atau pimpinan sebuah orkes keroncong, penyanyi keroncong, hingga pementasan-pementasan keroncong di Surabaya. Selain perbincangan melalui media internet, hampir semua peserta bertemu muka pertama kali dalam acara itu. Meskipun begitu, suasana terasa akrab dan cair. Terlebih dengan keragaman aktivitas berkeroncong yang telah dilakukan, bincang-bincang santai saat itu tidak sekedar beragih pengalaman, namun juga bertukar gagasan untuk meramaikan khazanah keroncong, tidak saja di lingkup Surabaya dan sekitarnya, tapi juga di lingkup yang lebih luas lagi.
Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa ternyata masih banyak penikmat keroncong di wilayah Jawa Timur. Bahkan menurut Susiyono yang merupakan pimpinan OK Generasi Symphoni, cukup banyak penggemar keroncong berusia muda. Banyak remaja dan anak-anak di sekitar kediamannya yang bermula dari ketertarikannya pada musik keroncong, akhirnya ikut bergabung dalam latihan yang dilakukan oleh OK yang dibinanya. Pambuko, salah seorang pegiat seni di Surabaya juga bercerita mengenai pementasan keroncong secara live di kafe tenda oleh Komunitas Keroncong Taman Bungkul yang rutin diselenggarakan secara rutin, tidak pernah sepi dari penonton. Bagi komunitas keroncong Surabaya, semua itu adalah peluang yang perlu ditindaklanjuti. Pertemuan tersebut mengerucut pada kesepakatan untuk mempererat silaturahmi antar pegiat keroncong di Surabaya dengan mengadakan pertemuan rutin. Dengan perjumpaan langsung di antara pecinta keroncong tersebut, diyakini dapat menjaga stamina perkeroncongan sekaligus menjadi langkah awal membentuk semacam paguyuban pegiat keroncong Surabaya. (Isna)
KERONCONG DI TAMAN BUDAYA SURAKARTA
Keroncong sebagai bagian dari seni tradisi tidak boleh dipisahkan dari keseharian rakyat yang melahirkannya. Meski saat ini industri hiburan menawarkan rupiah yang menggiurkan, beberapa elemen masyarakat peduli keroncong yang ada di Solo tidak tertarik untuk mengeksploitasi keroncong demi mendapatkan keuntungan material. Secara bergantian dan teratur mereka mengadakan pementasan keroncong yang dapat dinikmati masyarakat umum secara gratis. Salah satunya adalah pementasan yang diadakan setiap Selasa malam minggu ketiga di Taman Budaya Surakarta (TBS).
Menurut koordinator musik dari TBS, Suparman, S.Kar. (Sarjana karawitan yang cinta musik keroncong), pentas keroncong TBS awalnya diadakan secara sederhana. Namun pelan tapi pasti kemasannya diperbaiki dan dikembangkan sehingga lebih memuaskan publik. Terbukti, pementasan yang dilakukan belakangan ini memang lebih apik dari pementasan-pementasan yang sudah lewat. Sekarang pentas digelar di Pendapa TBS yang megah dan didukung dengan sound system yang lumayan, ditambah kamera shooting untuk merekam pertunjukkan tersebut dalam keping DVD yang nantinya akan diserahkan kepada grup pengisi acara tersebut.
“Uang pengganti biaya transportasi (orkes keroncong ) kami akui memang masih kurang, tapi bagaimana lagi, alokasi dananya memang hanya segitu”, tandas Suparman, S.Kar. “Makanya sebagai kompensasi kami berikan rekaman DVD kepada grup pengisi acara, biar jadi kenang-kenangan”, imbuhnya. Sementara menurut grup-grup pengisi acara yang dihubungi penulis menyatakan, meskipun mereka bersyukur bila nanti uang transpornya ditambah, namun yang diterima saat ini pun sudah cukup, buktinya banyak grup yang meminta pentas ulang.
Dengan cara yang bersahaja, aktivitas pegiat keroncong ini juga memberikan berkah tersembunyi bagi berbagai kalangan masyarakat. Pentas yang dikemas dalam format lesehan, di mana penonton duduk di lantai menghadap ke pusat pendapa (kecuali penonton yang ada di luar) mendatangkan rejeki bagi banyak penjual minuman dan makanan khas Solo (wedang jahe, ronde, jadah bakar, dll) yang ada di sekitar pendapa. Mereka siap mengantar sajian khas itu ke tempat duduk penonton yang memesan.
“Kasihan juga bakul-bakul (penjual) kalau tak ada penontonnya”, tukas Pamuji salah seorang kru penyelenggara. “Maka kami buat undangan kepada penonton yang disebarkan ke kampung-kampung dan grup-grup sekitar Surakarta, tidak apa ada pekerjaan ekstra”. Tidak sia-sia upaya ini, penonton pun berdatangan dari berbagai penjuru.
Seiring dengan makin banyaknya pengunjung makin banyak pula penjual makanan. Pendapa TBS yang notabene terletak agak pinggir timur kota Solo seperti pasar malam hingga tukang parkir pun ikut sibuk.
“Kami heran penontonnya begini banyak”, kata Nandang Wijaya Pimpinan Orkes Keroncong Nadia Dewi Purbalingga.
Mengingat beragamnya penonton yang datang, grup yang akan tampil harus cukup hati-hati dalam penampilannya, baik dari musiknya, penyanyinya maupun busana yang dikenakan agar tidak dipermalukan di hadapan penonton. Mayoritas grup di Solo sudah menampilkan garapan/aransemen mereka sendiri. Agar tidak membosankan, di setiap pementasan terdapat dua pengisi acara, satu diambil dari kota Solo dan satu lagi grup dari kota/kabupaten di seluruh Jawa tengah, Jawa Tengah, Slawi, Purbalingga, Wonosobo, Kebumen, Pati, dll. Pada bulan Februari 2008 (yang pementasannya jatuh pada tanggal 19 Februari 2008) ditampilkan orkes keroncong dari kota Solo OK PALOMA (Paguyupan Longgar Manah) Pimpinan Panggih Raharjo, untuk luar kota OK Karanganyar Pimpinan Sutaryo.Acara ini diselenggarakan mulai pukul 19.30 s.d. 22.00. Satu pementasan pada Medio November 2007 perlu mendapat apresiasi. Pada bulan itu diadakan pentas 3 group dari 3 generasi antara usia 20an, 30-40an, dan golongan tua, sungguh luar biasa.
Akhirnya Bravo untuk rekan-rekan di TBS! Selamat berjuang, semoga keroncong langgeng tidak hanya di pentas Pendapa TBS namun juga di bumi tercinta Nusantara.
(Wartono, Wakil Ketua III HAMKRI, Korwil Surakarta)
MENIKMATI PADUAN MUSIK KERONCONG DAN KULINER DI KOTA BANDUNG
Makan sambil menikmati pertunjukan musik keroncong live pasti menyenangkan sekali. Walaupun belum saling kenal di antara sesama penonton, rasanya tidak perlu ada kendala untuk segera menjadi akrab mengingat kesamaan hobi dalam hal menikmati keroncong. Hal inilah yang terjadi di Bandung, tepatnya di Restoran Kampung Priangan, Gedung Metro Trade Center, pada hari Sabtu, 29 Desember 2007, dalam acara : Wisata Kuliner dan Apresiasi Keroncong Segala Usia tahun 2007. Tepat sebulan sebelum edisi perdana buletin TJROENK terbit.
Acara dipandu oleh, Agus dari Jakarta Joko, mantan penyiar Radio P2SC dan pesulap Arbain. Arbain pun menyempatkan untuk menyisipkan aksi sulap dan lawakannya saat memandu acara. Acara yang diisi oleh empat grup keroncong dari empat daerah, yakni OK. Gema Awangga dari Bandung, OK. Tunas Bersemi dari Jakarta, OK. Irama Pusaka dari Garut, dan satu OK dari Cianjur ini melibatkan 40-an vokalis dari empat daerah tersebut. Untuk dapat tampil dalam acara ini, baik peserta maupun penyanyi tidak dipungut biaya pendaftaran. Mereka hanya diwajibkan untuk membeli satu kaset rekaman keroncong produksi Gema Nada Pertiwi. Mengingat banyaknya peserta yang tampil, satu penyanyi hanya dapat menyanyikan sebuah lagu keroncong, langgam atau stambul.
Dalam acara tersebut penulis sempat ikut tampil bermain flute untuk OK dari Cianjur yang saat itu tampil tanpa flute dan biola. Bahkan penulis juga sekaligus ikut menjadi peserta dengan menyanyikan lagu karya sendiri Lgm Baturaden pada penampilan OK tersebut. Namun, sebagai ajang apresiasi seni musik dan lagu keroncong, bukan acara festival yang diperlombakan, tidak ada yang dinobatkan sebagai juara. Peserta mendapatkan penghargaan atas keaktifannya dalam menyukseskan acara, bukan kemampuannya dalam berolah vokal maupun kehebatan aksi panggungnya. Tjetjep, peserta dari Bandung yang membawakan Kr. Pujaan karya Soewito, Bandung, dengan melodi yang agak melenceng mendapat apresiasi, karena dia adalah motor panitia di Bandung. Ari dari OK Tunas Bersemi mendapatkan apresiasi sebagai musisi termuda. Apresiasi juga diberikan kepada musisi tertua dan figur pegiat yang memberikan dukungan sehingga acara berlangsung lancar.Apresiasi diberikan dalam bentuk piala, piagam penghargaan, souvenir dan bingkisan.
Acara yang berlangsung dari pukul 13.00 dan selesai pukul 21.00 WIB ini terselenggara atas kerjasama PT. Telkom, Gema Nada Pertiwi, Yayasan DR. RH. Soetomo dan Metro Trade Center, Bandung. Maestro kroncong yang nampak hadir adalah S Dirno (musisi/komposer), Acep Jamaludin (musisi/komposer), S. Narko(violist), Dani Mustar (musisi dari OK Alunan Jakarta). Sedang peserta dari Jakarta antara lain J. Han, Ami Susilo, Tina Slamet, Diana. Ir Retno Kusumo Astuti yang bersama Fathoni Azis dan Nano Sutikno hadir sebagai wakil dari Yayasan DR RH Soetomo, Jakarta. Sayangnya, Toto Salmon dan Tuti Maryati yang santer dikabarkan akan hadir, tidak nampak.
Ada beberapa kekurangan yang seharusnya dapat dihindarkan seandainya acara ini dilaksanakan dengan lebih terencana. Hal-hal yang kurang mengenakan adalah sound-system yang kurang bagus, pemandu acara yang merangkap tim apresiasi, ditambah dengan keterlibatan dua atau tiga ‘juri’ yang masih belum dewasa. Namun, meski ada kekurangan di sana sini, ide dan pelaksanaan acara ini patut diberi apresiasi tersendiri. (Slamet Tame, Jakarta)
Kerontjong menyampaikan pesan dengan keindahan bahasa
Mungkin kita ingat film kepahlawanan yang berjudul Serangan Fajar, atau Jogya Kembali. Dalam film tersebut, satu lagu karya Ismail Marzuki (1914 – 1958 ) sempat muncul dalam salah satu adegan film yang dilantunkan Almarhum Gito Rollies dengan iringan gitar, manis sekali. Lagu tersebut berjudul Rindu Lukisan.
Mari kita ikuti lirik lirik lagu tersebut,
Rindu Lukisan..mata suratan..hatiku nan merindu..
Rindu bayangan nan meliputi paras seri wajahmu...
Mengapa membisu seribu basa..
Mungkinkah bulan merindukan kumbang
Dapatkah kumbang mencapai rembulan
Rindu katakan, rindu usah kau malu karna asmara
Risau engkau dik, risau akupun maklum maksud hati tak sampai
Rindu hatimu akupun demikian, rindu sudah nasib untung dibadan.
<Ismail Marzuki >
Fiuuhhh.. selamanya saya tidak akan bosan dengan lagu ini.
Kekuatan lirik lagu
Lagu ini bercerita tentang pemuda yang sedang kasmaran. Yang menarik adalah pengungkapan perasaan sang pemuda tersebut, tidak cengeng walaupun tampak sekali bahwa sang pemuda sangat mengharapkan, tidak bernafsu meskipun sangat jelas bahwa sang pemuda sangat menginginkan pujaannya , justru yang sangat menonjol adalah penghargaan yang tinggi terhadap wanita yang sedang dipuja.
Dan memang seharusnya seperti itu, tidak layak bagi kita memuja seseorang dengan ungkapan dan kata kata sarkastic yang penuh sumpah serapah atau ungkapan menghiba hiba yang berlebihan. Menempatkan sesuatu secara proporsional, itulah kelihatannya yang ingin disampaikan dalam lagu kerontjong masa lalu semacam Rindu Lukisan tersebut.
Lirik lirik lagu dengan penggunaan kata kata yang bermakna dalam, namun dalam tingkatan bahasa yang santun banyak kita temukan pada lagu lagu kerontjong masa lalu, seperti Aryati, Rangkaian Melati, Juwita Malam, Dibawah Sinar Bulan Purnama, Terkenang Kenang, Dewi Murni dan lain lain.
Jelas itu adalah kesengajaan sang pencipta lagu, yang tidak hanya mengharapkan keindahan sebuah lagu, tetapi ada makna pendidikan yang ingin disampaikan. Maka tidaklah mengherankan apabila banyak lagu kerontjong yang sudah berumur puluhan tahun, tetap nyaman didengar sampai sekarang, karena memang pemilihan kata kata dalam lirik lagu tersebut sangat hati hati. Contohnya lagu Rindu Lukisan diatas, lagu tersebut diciptakan oleh Ismail Marzuki di era tahun 40-an, dan sampai sekarang tetap saja lagu tersebut terasa nyaman ditelinga.
Bandingkan dengan lagu lagu kasmaran modern yang lebih vulgar dalam pemakaian kata. Banyak hal hal tabu dimasyarakat dengan alasan seni dipakai secara bebas tanpa memikirkan akibat dari setiap lirik lagu itu di masyarakat. Saya bahkan sempat terkejut ketika mendengar salah satu lagu yang dibawakan penyanyi pop terkenal yang menggunakan kalimat “ siapapun yang mencintaimu akan kubunuh” ... sangat luar biasa aneh menurut saya.
Biasanya, lagu lagu semacam ini hanya akan bertahan dalam hitungan bulan, setelah itu akan dilupakan orang. Repotnya lagunya sudah tidak begitu populer, tetapi penggalan lirik lagu tersebut lebih lama bertahan dimasyarakat.
Lirik yang bertanggung jawab
Ismail marzuki adalah sedikit dari banyak pencipta lagu kerontjong yang mencoba menyampaikan pesan lewat lagu, dengan tetap memikirkan sisi budi pekerti yang baik dalam setiap bait lagunya. Beliau sangat tahu betul, bahwa sebuah lagu bisa merubah perilaku masyarakat dengan sangat mudah. Bukti paling nyata bahwa lagu bisa merubah perilaku masyarakat adalah ketika konser musik berlangsung, ratusan penonton bisa berjingkrak tanpa kontrol karena pengaruh lagu yang sedang dibawakan sang penyanyi.
Bertanggung jawab.. itulah kata paling tepat yang pantas diberikan kepada Bapak kerontjong kita ini. 250 lagu beliau ciptakan semasa hidupnya, tidak satupun lagu yang beliau ciptakan, menggunakan kata kata kurang pantas dan tanpa makna didalamnya. Hebat bukan?...
Alasan Kerontjong harus tetap ada
Musik Kerontjong saat ini dalam masa masa hibernasi, dilupakan dan tidak dilirik oleh generasi muda sekarang. Tetapi Kerontjong tidak boleh mati, karena keberadaannya adalah cermin bening keluhuran budaya timur yang penuh tata krama dan sopan santun.
Ditengah masyarakat yang sedang mengalami degradasi moral, seharusnya Lirik lirik lagu Kerontjong bisa dijadikan contoh bagaimana seharusnya lagu menyampaikan pesan dengan indah dan hati nurani. Bagaimana sang pencipta lagu berkomunikasi dengan masyarakat secara santun. Sehingga bukan hanya hiburan yang didapat masyarakat kita, tetapi nilai nilai budi pekerti sang pencipta lagu yang bisa ditiru.
Kerontjong adalah keindahan yang dibalut budi pekerti, yang memunculkan keteladanan bukan keedanan yang menghancurkan.
Aryatiiii... dikau mawar asuhan rembulan... Aryatiiii... dikau gemilang seni pujaan... tjroenk ..tjroenk..tjroenk..
(seagate)




