Buletin Tjroeng Gelegak Jiwa Nusantara :: Buletin Musik Keroncong

3Feb/080

Kroncong, Kroncong Asli, dan Langgam Jawi

F.X. Widaryanto

Wah, pagi-pagi kok sudah kroncongan.” Ungkapan ini tidak otomatis berarti ‘bermain kroncong,’ seperti halnya ’gitaran’-bermain gitar, ’kendangan’-bermain kendang, dsb. ‘Kroncongan’ dalam kultur Jawa memiliki makna ganda; yang satu ‘bermain kroncong,’ dan yang satunya lagi adalah ‘lapar.’ Perut kroncongan adalah perut yang berbunyi karena lambungnya kosong, bukan karena ada gerak bayi yang mungkin ada di dalamnya.

Tulisan ini tidak akan berbicara tentang ‘kroncongan’ yang berarti ‘perut kosong,’ meskipun di negeri yang telah berusia 63 tahun ini masih banyak orang yang kroncongan perutnya karena sulit mendapat kesempatan untuk mencari sesuap nasi. Namun kroncongan dalam arti yang sebenarnyalah yang kebetulan penulis temukan pada sebuah kamus musik terbitan Harvard University Press yang berjudul The New Harvard Dictionary of Music yang diedit oleh Don Randel. Sebuah kamus musik yang berwibawa di kalangan etnomusikolog dunia, karena sudah mulai menyentuh musik etnis non-Barat yang di masa lalu selalu dianggap inferior.

Kroncong dimasukkan dalam kategori New Music, yang secara umum dibagi tiga yaitu, kroncong, dang-dut, dan pop. Ketiganya memiliki akar pra-elektronik yang dirujuk dari perkembangan lagu dan ensambel petik abad ke-17 dari komunitas pelaut dan pedagang Portugis di pantai barat laut Jawa. Akar dang-dut juga bisa ditemukan pada kroncong seperti halnya dalam nyanyian Melayu-Arab yang diiringi oleh orkes melayu atau iringan terbang dan suling yang banyak ditemui di Sumatera Utara dan pantai barat Semenanjung Melayu sekitar awal abad ke-18. Bentuk-bentuk awal kroncong maupun pop tersaji dalam sajian di restoran atau di jalanan bagi sekelompok penduduk kota bangsa Indonesia sendiri maupun bangsa Eropa kala itu.

Yang menarik adalah bahwa kroncong itu pertama kali berkembang dalam fenomena mengindonesia yaitu kala dibawa ke pusat-pusat masyarakat urban di kota-kota besar lewat radio dan piringan hitam pada awal abad ke-20. Awal tahun 1980-an, seiring dengan turunnya popularitas dang-dut, ada realita baru yang justru membuat bentuk-bentuk kroncong ataupun yang berkaitan dengan kroncong terangkat.

Ada subgenre kroncong yang hanya berbeda dalam penggunaan teks bahasanya, terlihat dalam beberapa sajian yang disebut dengan kroncong asli yang beberapa di antaranya dekat dengan ciri-ciri dari beberapa lagu dari apa yang disebut dengan langgam jawi. Keroncong asli teks lagunya mengunakan bahasa Indonesia sedangkan langgam jawi menggunakan bahasa Jawa. Ada beberapa subgenre dari langgam jawi yang menggabungkan instrumen-instrumen atau larasan gamelan Jawa dengan ciri-ciri perwujudan kroncong, sementara beberapa subgenre yang lain secara lebih gamblang merupakan kroncong, yang dibawakan dalam bahasa Jawa. Dalam beberapa hal, campuran lagu-lagu gamelan telah mempengaruhi subtipe keroncong lainnya dalam isi teksnya, gaya melodiknya, serta iringannya, yang menjadikan kroncong Indonesia salah satunya merupakan imitasi dari langgam jawi.

Inilah yang kemudian, di Jawa Tengah, keroncong terasa erat dengan fenomena larasan gamelan pada nada-nada vokal penyanyinya, namun bila terajut dalam larasan gamelan yang seutuhnya dalam ensambel uyon-uyon atau klenengan, vokalis keroncong masih terasa belum masuk benar dan tenggelam dalam realita polifonik gamelan itu sendiri. Kalangan pengrawit menyebutnya dengan ‘suaranya masih numpang.’

Cobalah kita suatu saat mendengarkan dengan cermat para vokalis keroncong yang sudah mendarah daging dengan genre kroncong ini, terutama bila mereka nembang dalam larasan gamelan murni. Inilah uniknya, dari salah satu penelitian etnomusikolog (sayang penulis tidak ingat namanya), karakteristik larasan gamelan pada vokal keroncong di Jawa Tengah memang telah membedakannya dengan kroncong di luar sentra-sentra kehidupan gamelan Jawa. Kepedulian dari para peneliti Barat inilah seharusnya semakin memicu kita untuk lebih mencintai keroncong, tentunya dengan adaptasi perubahannya dalam dinamika kehidupan kita dewasa ini.

Penulis adalah pecinta kroncong dan pengajar tari di STSI Bandung

3Feb/080

Hans Reinard Loen

Peziarahan Agung Musik Keroncong

Bawalah persembahan hidupmu, ka altar Tuhan-mu.

Semoga langit dan surga berkenan mengambil tanda kasihmu...”

Demikianlah sepenggal syair lagu keroncong yang dimainkan oleh Kerocong Sion, sebuah grup keroncong di mana Opa Hans Reinard Loen saat ini bernaung.

Kami saat ini lebih banyak bermain untuk lagu-lagu rohani, selain kami juga memainkan lagu nasional manakala kami diundang untuk mengisi acara dalam resepsi perkawinan atau ulang tahun,” papar Opa Hans.

Hans Reinard Loen, kelahiran 10 Oktober 1928 merupakan salah satu anggota Orkes Keroncong Bunga Kenuning yang tersohor pada tahun 1950-an. Lelaki dari keluarga keturunan Belanda yang lahir dan besar di Depok ini mengaku bahwa sejak tahun 1935, beliau sudah bermain keroncong. ”Ya, dulu sepulang sekolah saya jarang belajar dari buku-buku, saya pulang sekolah langsung belajar alat-alat musik yang ada di rumah,” tandasnya mengenang masa lalu.

Pada tahun 1933, ayah Reinard, Hieronimus Loen mendirikan grup keroncong dengan nama Muziek Vereniging ous Vriendenkring. Demikian lingkungan keluarga besar Hieronimus Loen menjadi inspirasi bagi Loen muda untuk belajar musik secara otodidak. Kelompok ini berumur tidak lama, ketika pendudukan Jepang pada tahun 1942 group keroncong ini bubar.

Selepas bubarnya OK Muziek Vereniging on Vriendenkring, Hans muda bergabung dengan Orkes Keroncong Bunga Kemuning pada tahun 1949, OK yang didirikan oleh Ferdinand Leander. Pada tahun tahun ini, OK Bunga Kemuning mengalami masa keemasannya.

Dari Bunga Kemuning Ke Sion : masuk ke ruang dalam

Perjalanan musikal Opa Hans dalam dunia keroncong tak lekang oleh waktu. Patah tumbuh hilang berganti, demikian pepatah yang pantas dikutipkan kepada sosok lelaki kurus dengan rambut telah beruban. OK Bunga Kemuning yang telah bubar tidak membuatnya berhenti dari dunia musik keroncong, upaya menghidupkan kembali OK Bunga Kemuning juga dilakukan pada tahun 1985, namun tidak lama OK Bunga Kemuning kembali bubar. Kondisi fisik pera pemain yang sudah menua menjadi hambatan utama bagi upaya konsolidasi OK Bunga Kemuning.

Alhasil, Opa Hans bersama generasi yang lebih muda mendirikan Keroncong Sion, kelompok musik keroncong yang konsentrasi untuk kegiatan kerohanian di gereja GPIB. Setiap 2 bulan sekali, Keroncong Sion mengiringi kebaktian di Gereja GPIB Imannuel, Depok. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan Keroncong Sion juga sering diundang bermain dalam perhelatan perkawinan atau ulang tahun.

Melalui Keroncong Sion, Opa Hans menunjukkan kepada masyarakat bahwa keroncong bisa masuk ke dalam ’ruang dalam’ kehidupan manusia. Lagu-lagu rohani yang dilantunkan mengajak para pendengarnya masuk ke ’kedalaman’ ruang hening, untuk merefleksikan kehidupan untuk masa depan yang lebih baik, dan lebih berserah kepada Tuhan.

Pada kondisi di atas, kesederhanaan nampaknya menjadi pilihan paling logis, yakni tidak terjebak kepada dunia konsumeristik dan tidak mudah goyah terhadap life-style yang dibangun oleh korporasi. Nama tenar dan popularitas tidak serta merta mampu merongrong kepribadian Opa Hans, bahkan dalam membangun Keroncong Sion, komitmen beliau tampak kuat, ”Kami tidak membuat tarif bagi kelompok ini. Seluruh penghasilan yang masuk kami gunakan untuk perawatan alat-alat musik yang ada,” jelas Opa Hans. Hal ini mempertegas komitmen beliau pada musik keroncong.

Namun demikian, dalam era yang serba mengedepankan aspek financial ini, dedikasi seperti ditunjukkan oleh Opa Hans praktis tidak diminati oleh generasi muda, sehingga yang dilihat adalah bahwa musik keroncong tidak memiliki prospek finansial yang bagus, dan oleh karenanya ia tidak banyak dilirik. Dan pada titik ini, Opa Hans berdiri tegak.

Regenerasi Musik Keroncong

Hans Reinard Loen sudah semakin renta, namun komitmen pada musik keroncong tidaklah memudar. Matheus dan Berto 2 dari 15 anak-anak Opa Hans ikut bergabung dalam Keroncong Sion dan ini merupakan hasil regenerasi yang dilakukan untuk menjaga roh Keroncong Depok. Sementara itu beberapa cucu Opa Hans yang masih duduk di bangku sekolah juga sudah mulai membentuk kelompok baru musik keroncong. Pada pundak mereka kelangsungan hidup Keroncong Depok diletakkan.

Untuk kelangsungan Keroncong Depok, Opa Hans Reinard Loen sampai saat ini masih menjadi sumber air yang seolah tak kunjung kering. Sumur yang ada di depan rumah tinggal beliau seolah menjadi tanda.

2Feb/080

ORKEST KERONCONG ARIF LUKISAN

Saya sedang melangkahkan kaki kesuatu tempat yang bernama KARANG KRAF yaitu sebuah tempat yang menjadi “wadah” bagi para seniman pelukis yang telah terdaftar pada Kementerian Kebudayaan dan Warisan Malaysia di mana telah disediakan berbagai chalet untuk tempat mereka berkreasi dan di salah satu gazebo telah terdengar alunan musik ‘Island in the sun’ dengan irama keroncong . Para pemainnya adalah para seniman lukis dari Karang Kraf yang menamakan dirinya OK Arif Lukisan yang membeli alat-alat musiknya melalui pesanan dari para pengrajin di kota Solo, Jawa Tengah..

Menurut pimpinan OK Arif Lukisan yaitu Maamor Jantan  orkes keroncong tersebut telah dibentuk sejak awal tahun 1989 melalui berbagai nama dan tempat berlatih yang menurut kronologinya adalah sebagai berikut :
OK JALAN MELAYU pada tahun 1989 hingga 1998 . Adapun pada waktu itu mereka belum mempunyai tempat resmi berlatih dan hanya mempergunakan sanggar lukisan Kementerian Kebudayaan yang  berada di Jalan Melayu sehingga Kementerian Kebudayaan telah membangun suatu taman dimana para pelancong dari serata dunia dapat melihat dan langsung membeli hasil seni artis-artis tempatan. Taman itu diberi nama KARANG KRAF di mana tahun 1999 orkes keroncong berpindah ke tempat tersebut dan berganti nama :

  • OK LUKISAN dengan anggota sebagian besar adalah dari artis-artis di Jln Melayu sampai tahun 2007 Di dalam tahun 2002 OK LUKISAN telah mendapat bantuan baik moral maupun material dari  DR. Ariff Ahmad , seorang budayawan keroncong yang telah mengarang buku : “SENI MUSIK KERONCONG” terbitan Universiti Kebangsaan Malaysia Bangi tahun 2001 dan sekaligus ikut berpartisipasi memainkan accordion sebagi pelengkap pemain violin dan juga memberikan kesediaannya untuk mengajar para pemain dan menyiapkan lagu-lagu yang akan/telah dilatih. Oleh karena itu selepas DR. Ariff Ahmad meninggal dunia di akhir tahun 2007 untuk mengenang jasa-jasanya maka OK Lukisan telah menambahkan nama Arif, dan menjadi :
  • OK ARIF LUKISAN, dari awalnya kumpulan ini hanya bermain secara otodidak dan tidak segan-segan mengikuti berbagai aktivitas di dalam acara-acara yang diadakan oleh Kementerian Kebudayaan serta NGO. Dan oleh karena kegigihan mereka dalam berinteraksi bermain keroncong walaupun kerja utama mereka adalah pelukis , maka Orkest Keroncong Arif Lukisan boleh dikata sekumpulan seniman yang serba bisa dan mereka mempunyai  keinginan untuk memerikan pengalaman mereka kepada generasi penerus baik para pelukis-pelukis muda yang ingin bermain keroncong serta para kaum muda di Malaysia supaya musik keroncong takkan terputus dan akan diwarisi oleh generasi mendatang.

2Feb/0818

Bengawan Solo

Riwayatmu ... mengalir sampai jauh

Bengawan Solo. Sebuah lagu ciptaan Pak Gesang tahun 1940 silam, sebuah lagu yang sampai saat ini masih dikenal, masih dinyanyikan, masih dipebincangkan. Riwayatmu mengalir sampai jauh, sampai ke abad 21, sampai ke manca negara. Mengapa demikian? Tentu bukan kebetulan, pasti lagu ini mempunyai kekuatan, tanpa kekuatan tidak mungkin bertahan begitu lama, lak lekang dikenang orang.

Di mana kekuatan itu? Pertama di nada-nadanya, di lagunya itu sendiri. Lagu Bengawan Solo sangat indah namun ditulis secara sederhana, hanya ‘not-not pokok’ yang ada di sana, dengan demikian lagu ini bisa dinyanyikan dengan gaya pop maupun keroncong, dibuat paduan suara dengan menambah suara 2, 3, 4 juga bisa. Cengkok juga bisa ‘sesuka hati’, tanpa cengkok juga boleh. Dengan demikian semua kalangan bisa menyanyikan lagu ini, dari anak-anak sampai orang tua, dan tentunya dari negeri sendiri sapai orang asing, Jepang dan Cina sekalipun. Coba saja lagu lain, misalnya Lgm. Saputangan atau Kr. Tanah Airku, tidak semua orang ‘bisa menyanyikan’, apalagi dibuat paduan suara.

Kekuatan kedua ada pada syairnya yang sederhana, mudah diingat, namun indah, coba lihat ‘ Bengawan Solo, riwayatmu ini’, untuk membuat akhir kalimat dengan huruf ‘i’, maka yang seharusnya ‘ini riwayatmu’ menjadi ‘riwayatmu ini’, tapi terasa indah bukan?

Kekuatan ketiga ada pada syairnya yang bermakna, sepintas syair Bengawan Solo biasa saja, namun kalau kita perhatikan –atau ‘secara tidak sadar’-- ada makna tersirat di balik yang tersurat. Ada yang ‘perlu ditafsirkan’, tidak mengalir begitu saja, ini yang membuat orang tidak bosan mengulang dan mengulang lagu ini.

Untuk ‘melihat’ kekuatan kedua dan ketiga tadi, mari kita simak lagu ini.

Bengawan Solo

Bengawan artinya sungai besar, jadi Bengawan Solo artinya sungai ‘Solo’ yang besar.

Nah, pertanyaannya sebelum ada lagu ini, apa memang nama sungai ini Bengawan Solo? Jangan-jangan namanya Sungai Solo atau Kali Solo, nama Bengawan Solo muncul setelah lagu ini populer. Kalau dugaan ini benar, maka Pak Gesanglah yang memberi nama sungai ini.

Bengawan Solo, riwayatmu ini

Kata riwayat atau sejarah, seakan menyiratkan kita bahwa lagu ini akan punya riwayat yang panjang, sampai pergantian abad masih dibicarakan.

Sedari dulu jadi perhatian insani

Ternyata benar, dari dulu sampai sekarang Bengawan Solo menjadi perbincangan banyak insan, banyak orang, dari jaman keemasan di mana keluarga kerajaan bertamasya di sungai ini, pembuatan waduk Gajah Mungkur, sampai soal banjirnya yang ‘menyapu’ berbagai kota akhir-akhir ini.

Musim kemarau, tak seberapa airmu. Di musim hujan air meluap sampai jauh.

Di tahun 40-an saja, kalau hujan sungai ini meluap sampai jauh, mungkin beberapa meter dari bibir sungai. Itu saat masih banyak hutan dan pohon disekitarnya. Seharusnya ini jadi ’pelajaran’ bahwa kita tidak boleh semena-mena membabat hutan dan tanaman di hulu dan sekitar sungai ini, atau ’air akan meluap lebih jauh lagi’, bahkan sampai beberapa kilometer dan merendam wilayah yang dilaluinya. Dengan kata lain pencipta lagu ini sudah mengingatkan lho, sekian puluh tahun yang lalu, akan pentingnya menjaga ekosistem di sekitar sungai besar ini.

Mata airmu dari Solo, dikurung gunung seribu.

Kalau ditulis ‘Mata airmu dari Solo, dari Pegunungan Seribu’ itu sudah benar, memang hulu sungai ini ada di daerah Pegunungan Seribu. Namun, pemilihan kata ‘dikurung gunung seribu’ menjadikannya ‘nyeni’ dan ‘secara tidak sadar’ kita membayangkan ada seribu gunung mengitari mata air Bengawan Solo. Apa nggak hebat?

Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut

Air Bengawan Solo mengalir dari kota Solo sampai Surabaya, memang jauh. Ini biasa saja. Tetapi kalau kita berfikir mungkin belum semua orang Solo pernah ke Surabaya, apalagi tahun 40-an, maka orang akan menduga-duga seberapa panjang sungai ini.

Itu perahu, riwayatmu dulu

Konon dahulu di Bengawan Solo banyak perahu hilir mudik, bahkan pihak keraton Surakarta mempunyai ‘perahu khusus’ untuk melancong di Bengawan Solo.

Kaum pedagang slalu, naik itu perahu

Kaum pedagang mungkin sekarang sudah jarang atau tidak ada lagi yang menggunakan Bengawan Solo sebagai sarana transportasi. Bengawan Solo sudah tidak seramah dahulu.

Ya, saat kita mendengar atau menyanyikan lagu ini, ‘alam bawah sadar kita’ merindukan Bengawan Solo seperti saat lagu ini diciptakan. Mungkinkah? Bengawan Solo yang indah dan ramah, dicintai petani dan disayang pedagang, disokong para pelancong dan digemari untuk rekreasi. Dan tentunya disenangi para penyanyi.

Wd

Tagged as: 18 Comments
2Feb/08Off

Wawancara: Keroncong Protol

Pada Tjroeng edisi sebelumnya, redaksi menerbitkan artikel pendek mengenai lagu Keroncong Protol. Kali ini reporter Tjroeng (Tjroeng) dapat bertemu dan berbincang-bincang langsung dengan Bondan And Fade 2 Black—pencipta sekaligus penyanyi lagu tersebut. Kolaborasi antara Bondan Prakoso (Bondan) dan Fade 2 Black (F2B) yang beranggotakan Eza, Tito dan Ari ini merilis album yang berjudul Unity pada Desember 2007 lalu. Di dalam album itulah lagu keroncong protol yang mereka sebut nyeleneh dan sruntulan itu berada.

Berikut adalah petikan wawancaranya.

Tjroeng: Apa sih arti “keroncong protol”?

Bondan: Protol itu diambil dari Bahasa Jawa, yang artinya lepas, tidak lengkap. Sebenarnya kata ini biasa dipakai di keluarga saya. Kalau sedang ada acara keluarga, paman-paman saya sering memainkan musik keroncong dengan alat musik yang tidak lengkap. Biasanya trio atau pun kuartet saja. Kami menyebutnya keroncong protolan, maksudnya adalah keroncong yang tidak lengkap. Nah kami menamakan lagu ini keroncong protol juga karena lagu ini adalah lagu keroncong yang tidak sempurna, yang tidak lengkap, tetapi justru dicampur dengan musik rap, alat musik modern, dan ditambah dengan suling Sunda.

Tjroeng: Darimana ide untuk membawakan musik berelemen keroncong?

Bondan: Ide awalnya adalah dari saya. Sejak kecil memang saya tidak asing dengan musik keroncong. Ibu dan nenek saya adalah penyanyi keroncong, sedangkan kakek adalah pemain kontra bass. Paman-paman juga sering bermain musik keroncong, sehingga sejak dulu saya memang berkeinginan untuk membuat lagu keroncong.

F2B: Selain itu, kami dari F2B berkeyakinan bahwa lagu rap bisa dinyanyikan di atas musik apa pun. Seperti pada album pertama, lagu rap dinyanyikan dengan musik hip-hop, RnB, punk-rock, jazz, pop, chacha, bahkan akustik. Sampai akhirnya Bondan mencetuskan ide untuk menggabungkan obsesinya bermusik keroncong dengan keyakinan kami tersebut. Kebetulan musik rap memang belum pernah dikolaborasikan dengan musik keroncong. Di lagu inilah keinginan tersebut terwujud. Lagu ini bisa disebut sebagai perwujudan keinginan Bondan berkeroncong sekaligus sebagai pembuktian keyakinan kami bahwa rap memang fleksibel terhadap musik apa pun.

Tjroeng: Ada kesulitan dalam proses pembuatan lagu ini?

F2B: Anggota F2B sebenarnya masih sangat asing dengan musik keroncong. Sehingga reaksi awal kami adalah kaget. Kami kesulitan dalam mengikuti beat keroncong. Rapper bisa nge-rap (bernyanyi rap.red) jika ada beat yang tegas. Sedangkan keroncong tidak memiliki beat tegas karena tidak memiliki alat musik perkusi. Karena itu akhirnya beat lagu ini dipertegas dengan adanya drum. Setelah melalui diskusi panjang dan saling mengoreksi di antara kami, akhirnya lagu ini bisa terselesaikan.

Tjroeng: Kalian mengaku asing dengan musik keroncong. Selama ini musik apa yang sering kalian dengarkan, dan siapa inspirasi bermusik kalian?

Tito: Saya suka mendengarkan musik-musik tahun ’80-an. Inspirasi bermusik saya adalah ibu dan kakak. Merekalah yang membuat saya suka dengan lagu-lagu era ‘80an tersebut.

Ari: Saya banyak dipengaruhi oleh teman-teman dalam bermusik hip-hop.

Bondan: Inspirasi musik saya adalah bapak. Dari kecil saya dibiasakan untuk mendengarkan lagu-lagu The Police, Chicago, Led Zeppelin, James Brown, dan sebagainya. Sehingga kini pun arah musik saya cenderung ke punk dan rock.

Tjroeng: Ada ketakutan menjadi tidak laku karena memilih musik keroncong sebagai salah satu lagu andalan di album terbaru kalian?

Bondan: Kami tidak pernah berpikir sampai ke sana. Yang penting kami berkarya secara jujur dan maksimal. Prinsip kami asalkan lagu tersebut tidak terkesan dipaksakan dan hanya sekedar tempelan di sana-sini (musik keroncongnya bukan hanya sekedar tempelan, tetapi memang dikolaborasikan.red). Terbukti bahwa pendengar suka dengan lagu ini. Mereka bilang lagu ini unik.

Tjroeng: Kenapa justru lagu keroncong protol yang dipilih sebagai salah satu lagu andalan?

F2B: Awalnya ada tiga kandidat lagu, yaitu lagu “R.I.P” yang berirama balada, lagu “Xpresikan” yang berelemen reggae, dan keroncong protol sendiri. Setelah survey dan pembicaraan panjang dari pihak artis dan label, akhirnya diputuskan untuk memilih keroncong protol, dengan alasan unik.

Tjroeng: Apakah ada misi khusus memunculkan lagu berelemen keroncong dalam album ini?

Bondan: Awalnya sih tidak ada misi khusus. Kami hanya ingin sekedar mempertahankan eksistensi kami di dunia musik dengan memilih warna musik yang berbeda. Sampai pada suatu hari saya mendengar wawancara Gesang di radio. Pada waktu itu Gesang masih sakit. Dengan suara yang terbata-bata beliau berpesan agar generasi muda tidak melupakan keroncong dan kembali mendengarkan keroncong agar musik ini tidak “mati”. Ini adalah momen yang pas, dikala kami merilis lagu keroncong protol, lalu Gesang berkata demikian. Pada akhirnya mensosialisasikan keroncong termasuk dalam misi kami. Sejak itu setiap kami membawakan lagu ini pada pertunjukan langsung, kami selalu berpesan kepada penonton agar mempertahankan budaya lokal yang kita miliki, salah satunya adalah dengan mulai mendengarkan keroncong kembali. Sebagai penghormatan, album kedua ini kami dedikasikan kepada Gesang.

Tjroeng: Bagaimana tanggapan penggemar atas lagu keroncong Protol?

F2B: Sebelum album dirilis, kami pernah membawakan lagu ini di Bali dan Makasar. Penonton di sana ternyata masih asing dengan lagu keroncong, sehingga tanggapan mereka biasa-biasa saja. Tetapi setelah album dirilis dan lagunya sering diputar di radio-radio, sambutan penggemar sangat baik. Bahkan anak-anak SMP dan SMA memberi tanggapan yang di luar dugaan. Mereka ikut bernyanyi, dan terlihat sangat menikmati. Terbukti kan bahwa musik keroncong memang tidak mati dan bisa dinikmati lintas generasi.

2Feb/080

ZAMAN PRA KERONCONG II

Asuhan : Wawang Wijaya

Pada pertengahan abad ke 19 di Eropa berkembang musik-musik yang bercorak romantis. Oleh karena itu masa itu disebut juga sebagai Zaman Romantisme. Pada zaman tersebut lahirlah genre musik kamar (Chamber Music) yang merupakan gabungan dari beberapa instrument gesek misalnya violin, viola , cello serta double bass, kadang-kadang ada penambahan piano serta flute. Chamber Music ini bisa terdiri dari dua instrument (Duet) sampai dengan sepuluh instrument (Decet). Banyak grup-grup Chamber Music terbentuk untuk menghibur kalangan bangsawan pada masa itu.

Angin pengaruh aliran musik romantis tersebut juga akhirnya melanda koloni-koloni bangsa Eropa. Salah satu di antaranya adalah Hindia Belanda (Indonesia) yang merupakan jajahan Belanda. Banyak kaum hartawan dari Belanda yang membawa pemain musik kamar ini berikut alat-alat musiknya. Para pemain musik ini kemudian diminta bermain musik untuk mengiringi acara dansa mau pesta-pesta yang diselenggarakan oleh “tuan-tuannya”. Selain kalangan istana, mereka juga mengundang orang-orang kaya non Belanda dalam acara-acara itu. Hal tersebut kemudian ditiru oleh bangsawan-bangsawan istana dan orang-orang non Belanda, khususnya orang-orang Tionghoa yang kemudian membentuk grup Chamber Musik sesuai dengan cita rasa mereka. Grup-grup yang bermunculan ini bermain pada “jamuan balasan” atas undangan dari para pembesar Belanda tersebut. Untuk tujuan itu dari pihak Belanda “totok” memasukkan peranan double bass serta cello kedalam folk music orang-orang keturunan Portugis (lihat keterangan dibuletin perdana) dan menjadikannya sejajar dengan Chamber Music, atau dapat dianggap sebagai musik kamar dengan ciri tersendiri. Dengan demikian musik yang tadinya digolongkan sebagai “street music” telah dinaikkan ‘kelas’nya menjadi musik kamar dengan versi “Krontjong Orkest”

Di lain pihak, selain “Krontjong Orkest” yang sudah timbul pada saat itu, kalangan orang-orang Tionghoa, juga membuka ‘jalan’ bagi satu jenis musik tertentu yang telah berasimilasi dengan kebudayaan Jawa yang akhirnya berkembang menjadi musik Gambang Keromong . Selama tahun 1870-an, lagu-lagu yang biasa dimainkan adalah lagu-lagu klasik dan lagu-lagu Portugis yang telah diberi aksen bahasa Melayu, yang pada perkembangannya mendominasi musik-musik setempat (urban music). Sekitar tahun 1891, atas prakarsa Auguste Mahieu (seniman) dan dibantu oleh Jap Goan Thay (pengusaha) diikuti oleh A Th Manusama (pengarang) dan Otto Knapp (pengatur keuangan), didirikanlah sebuah panggung sandiwara/komedi dengan cerita-cerita yang diambil dari opera-opera Barat juga kisah Seribu Satu Malam, dengan memakai pengantar bahasa Melayu karena penggemar sandiwara komedi ini adalah orang-orang non Belanda yang lebih memahami bahasa Melayu serta menggunakan lagu-lagu setempat (urban music) yang lebih mengena di hati para penonton dari pada lagu-lagu Belanda, lagu-lagu klasik atau lagu-lagu Portugis. Adapun musiknya diambil dari jenis Moresco yang bernama Prounga (Solo) yang bersifat mendayu-dayu dan melankolis, sementara kata-katanya diambil dari pantun-pantun, syair-syair serta gurindam yang biasanya dinyanyikan secara bergantian antara penyanyi solo laki-laki dan perempuan (yang disebut dengan istilah ’jual beli pantun’) tergantung pada sudut pandang dan gaya cerita yang dibawakan, apakah skenarionya sedih, gembira dan sebagainya. Karena sandiwara komedi ini berasal dari Istambul, dan memakai bahasa Portugis yang kian lama kurang dimengerti oleh rakyat setempat, maka Komedi Istambul dengan dialek setempat lahir di persada musik dan sandiwara di wilayah Hindia Belanda pada akhir abad ke 19 dan lagu-lagu yang dibawakannya disebut sebagai Lagu Stambul Komedi.

Kalau kita lihat secara kronologis, di mana pada tahun 1870-an beragam musik berkembang pesat di Batavia tanpa “mengenal lelah” dengan banyaknya grup-grup Chamber Music terbentuk yang memiliki ciri khas ras-ras yang terlibat didalamnya, dan dilain pihak, terjadinya asimilasi antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, musik-musik inilah yang sesungguhnya “memperkaya” kebudayaan Indonesia tanpa melupakan sisi positif maupun negatifnya. Timbulnya icon baru yang dinamakan “BOEAJA KRONTJONG” yang kalau ditimbang lebih berkonotasi ‘ill negative” – daripada positif. Untuk membahas mengenai hal ini, saya akan mengupasnya di kolom yang lain. Begitu juga dengan Gambang Kromong, karena kolom ini hanya membahas mengenai sejarah perkembangan keroncong saja.

Tagged as: No Comments
2Feb/080

YANG MUDA BICARA KERONCONG

Saya baru pertama kali mendengar musik keroncong! Sebelumnya saya tidak tahu banyak mengenai musik ini. Saya terkagum-kagum saat mendengarnya. Sepertinya saya mulai menyukai musik keroncong !!!”

Begitu pernyataan Ivvone (13 th) remaja berkacamata minus ketika ditanya mengenai tanggapannya terhadap musik keroncong selepas menyaksikan Gebyar Keroncong yang disiarkan di TVRI pada tanggal 28 Januari 2008 lalu. Pelajar kelas VIII SMP Santa Maria Surabaya yang saat ini menjadi duta lingkungan yang tengah bersiap-siap mewakili Indonesia dalam pertemuan UNEP PBB di Norwegia ini, memang baru pertama kali memperhatikan musik keroncong, dan nampaknya seperti pepatah, ”tak kenal maka tak cinta”.

Pandangan remaja menggambarkan masa depan, sebab mereka-lah pemilik masa depan. Dan pada titik ini, sejauhmana pandangan remaja terhadap musik keroncong, sebab pandangan mereka serta harapan mereka akan menentukan nasib perkembangan musik keroncong di masa mendatang.

Ivvone, tidak lah sendiri sebagai remaja yang baru mengenal keroncong. Sebab memang sesungguhnya tidak banyak orang tua atau keluarga yang memberikan ruang bagi musik keroncong hadir mengisi rumahnya.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Nikita (13 th), sesama pelajar di SMP Santa Maria Surabaya. Mendengarkan musik keroncong semula dianggap hal yang buruk. ” Ternyata lagu-lagu keroncong tidak seburuk yang saya kira. Lagu-lagu ini mempunyai ciri khas sendiri sehingga dapat menarik perhatian. Lagu-lagu keroncong memang tidak terlalu mudah untuk dicerna dibandingkan lagu Pop, akan tetapi irama lagu keroncong masih dapat diterima di telinga masyarakat.” Dan dibalik kenyataan itu, nada optimis disampaikan oleh gadis lincah berlesung pipit yang menginjak remaja, ”Keroncong juga harus mengikuti perubahan jaman, irama lagu keroncong sebaiknya sedikit dibuat berirama pop agar masyarakat muda mau mendengarkannya,” imbuhnya.

SMP Santa Maria Surabaya memang memiliki komitmen tinggi pada musik, dan salah satunya musik keroncong. Oleh karenanya, kegiatan ekskul-nya mendukung untuk itu. Lodivikus Yakobus Weruin (41 th), sang pengajar musik di SMP tersebut mendorong siswa-siswinya untuk mengenal keroncong. Salah satu cara memperkenalkan musik keroncong kepada siswa siswinya itu, Pak Yacobus, lelaki murah senyum kelahiran Larantuka ini mendorong anak didiknya untuk memperhatikan dan membuat apresiasi musik keroncong, dengan mengambil acara Gebyar Keroncong sebagai media nya.

Anak-anak kami anjurkan untuk menonton acara Gebyar Keroncong. Dan itu merupakan pengalaman yang gress, bener-bener anyar untuk mereka. Baru dalam tahap ’nyicip-nyicip’ seperti dalam acara wisata kuliner. Mudah-mudahan pada akhirnya musik keroncong bisa terasa ’mak-nyussss’ di hati para kawula muda ini,” papar ayah 2 (dua) anak ini dan lulusan Institut Seni Indonesia, Jurusan Musik Jogjakarta dengan logat campuran Surabaya dan Flores sembari tersenyum kepada Tjroeng.

Saya sejak SMP sudah suka keroncong, dan paling enak dengerin keroncong sambil tiduran,” papar Nia (22 tahun) lulusan Universitas Muhamadiyah Medan yang saat ini sudah bekerja di Perkebunan Kelapa Sawit di Riau. Meski tidak banyak, Nia memiliki beberapa koleksi CD keroncong kompilasi dari berbagai penyanyi.

Saya belum pernah mendengarkan lagu keroncong, kayak apa sih lagu keroncong itu ?” jawab Divan, kelas 6 SD saat Tjroeng bertanya, namun ketika Tjroeng memperdengarkan lagu Kr. Roda Dunia versi Kr. Pesona Jiwa yang dinyanyikan oleh Sundari Soekotjo kepada Divan, ”Enak juga ya lagu keroncong ini”, katanya. Ditanya lebih lanjut di sekolah diajarkan musik ini tidak ? dengan tegas Divan menjawab, ”TIDAK !”. Sekedar mengenal pun tidak apalagi diajarkan. Dengar kata keroncong juga baru kali itu. Parah memang !

Kaum Muda dan Keroncong Dekonstruktif

Kegelisahan remaja atau tepatnya generasi muda pada musik keroncong salah satunya terlihat pada sosok Bondan Prakosa, di mana Bondan dengan Keroncong Protol-nya mencoba membongkar image keroncong, dan berhasil. (lihat dalam rubrik Bas Bethot)

Sementara itu, di Jogjakarta terlebih dahulu muncul grup Kornchonk Chaos dan The Produk Gagal yang juga mencoba membongkar establishment musik keroncong. Meski lirik-liriknya dibuat sedikit nakal, tetapi secara kualitas musikalitas Keroncong Chaos dan juga The Produk Gagal cukup baik.

Kornchonk Chaos yang didirikan sejak 2001 memilih keroncong dengan maksud untuk mengusung misi kebudayaan, di mana banyak anak buda yang sudah lupa pada kebudayaan sendiri, dan Kornchonk Chaos mencoba mengulang kebudayaan lama seperti keroncong ini dengan bahasa anak muda. Dengan cara tersebut, generasi muda cukup banyak yang berminat terhadap musik keroncong. Pemasaran album perdana Kornchonk Chaos melalui jejaring mereka membuktikan bahwa hal baru yang mereka tawarkan diminati oleh masyarakat, terlihat CD lagu-lagu mereka terjual habis di counter-counter penjualannya.

Sementara itu, The Produk Gagal sebagai kelompok musik menyatakan dalam blog Friendsternya bahwa The Produk gagal adalah, ”Sekumpulan anak muda yang cakep-cakep..( " diliat pake sedotan " )...tapi hati-hati kalo lagi diatas pentas..mereka akan berubah 180' dari segi penampilan...( " jibang deh..alias jijik bangeet " )... berdiri tgl 2 Maret 2002 mendirikan aliran musik yang mengambil keseharian kita yang dikemas dalam musik orkes moral, jadilah orkes moral The produk gagal, penuh dengan semangat, suka bikin susah panitia..tapi apa mau dikata itulah kita..dari jaman jebot alias belum lahir udah nyusahin..makanye prematur semua bentuknye..dan selalu ngeyel / bandel disegala medan.”

Produksi The Produk Gagal bisa disebut cukup banyak, yaitu : 1) Album Selamat Pagi Indonesia Compilasong dan 2) Wangikan Dunia, selain itu juga sudah memproduksi Video Klip Misteri di Balik Panggung dan Incest.

Gelombang perubahan secara sporadis telah dimulai, namun demikian air cipratan segar cukup bisa membasahi tanah keroncong yang mulai gersang. Nampaknya bagi sebagian kelompok, keroncong dekonstruktif menjadi pilihan bagi sebuah perubahan dalam diri keroncong itu sendiri di tengah rendahnya produktifitas musik keroncong.

Regenerasi Musik Keroncong

Perkembangan musik keroncong tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua, keluarga dan lingkungan remaja. Pengalaman Ivvone, Nikita, dan Divan dan remaja-remaja lain menunjukkan bahwa cukup banyak remaja yang sama sekali asing dengan musik keroncong karena di lingkungan mereka termasuk keluarganya tidak pernah mengalunkan musik keroncong. Hal yang berbeda nampaknya adalah Yusi, ia hidup dalam lingkungan pemusik keroncong, yang oleh karenanya benih keroncong tumbuh subur dalam dirinya.

Secara umum pemahaman terhadap musik keroncong khususnya di kalangan remaja masih minim. Padahal perkembangan musik keroncong di masa depan sangat bergantung kepada mereka, sebab remaja dan anak-anak pemilik masa depan. Pada tangan mereka-lah masa depan keroncong berada. Dan itu pun sangat bergantung kepada lingkungan di mana mereka tinggal.

Benih yang baik membutuhkan lahan yang tepat untuk ia bisa tumbuh subur.


Kekhawatiran berlebihan orang tua bahwa suatu ketika keroncong akan punah seharusnya tidak perlu ditakutkan secara berlebihan, karena generasi penerus terus bermunculan meski jumlahnya tidak terlalu banyak. Salah satu dari yang sedikit itu ada pada sosok Yusiana Ariani (13 thn). Remaja kelas 2 SMP di Bandung yang akrab dipanggil Yusi ini semenjak masih duduk di kelas 3 SD sudah terbiasa menyanyikan lagu-lagu keroncong. Kemampuan Yusi ini tidak lepas dari peran Dadi, sang bapak yang seorang musisi keroncong. Semenjak kecil Yusi sudah ikut bapaknya pentas dari satu panggung ke panggung lain dan dengan iringan Orkes Keroncong yg berlainan pula.

Unik memang remaja seusia Yusi lebih tertarik keroncong daripada musik pop, hip-hop, rock, dll yang lebih banyak digandrungi remaja masa kini. Namun demikian belum pernah Yusi mendapatkan ejekan dari teman-temannya karena seleranya yang terbilang tidak umum, malah sebaliknya banyak yang menyampaikan pujian. “Musik keroncong itu enak didengar dan dinyanyikan”, jelas Yusi ketika ditanya mengapa suka keroncong. “Jangan sesekali mencemooh lagu keroncong karena ini adalah asli Indonesia“, jelas penyuka lagu Kr. Moresko ini. “Banyak juga dari teman-2 saya ingin bisa menyanyikan lagu keroncong, namun tidak tahu harus belajar kepada siapa”, imbuhnya. Keluhan teman-2 Yusi tentang sulitnya belajar keroncong harusnya menjadi perhatian pemerintah. Seni tradisi seperti tari yang dulu wajib diajarkan di sekolah-2 dasar, nampaknya kini harus kembali dilakukan. Keinginan mereka untuk belajar menyanyi keroncong juga membuktikan bahwa keroncong bukannya tidak relevan dengan selera anak muda sekarang, namun alasan seolah mereka enggan dgn musik ini cuma satu, yaitu karena mereka tidak pernah dikenalkan semenjak dini. (ABW)

Tagged as: No Comments