Buletin Tjroeng Gelegak Jiwa Nusantara :: Buletin Musik Keroncong

5Feb/090

Keroncong Goes Global

Upaya meng-global-kan musik keroncong, sebagai gagasan merupakan cita-cita agar musik keroncong bisa melampaui batas kewilayahan serta batas kesejarahannya. Dengan demikian, masyarakat dunia tahu bahwa musik keroncong itu ada. Sedemikian pentingnyakah musik keroncong bagi dunia? Sebagai sebuah aliran musik, sebagai karya budaya manusia musik keroncong tentu memiliki raison d’etre, dan layak untuk tetap ada. Memakai pemikiran Rene Descartes, cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, maka insan pegiat keroncong ditantang untuk terus ada dan meng-ada. Ada berarti terus hadir, dan ada juga berarti hidup dengan karya-karya baru dan original, sebab keroncong yang hidup berarti tumbuh dan berkembang serta berbiak.

Keroncong goes global, akan beriringan globalisasi ekonomi yang telah jauh mendahuluinya. Pada sisi ini, musik keroncong akan bertempur dan bersaing dengan musik-musik jenis lain yang juga ingin berkembang dan bahkan dengan musik-musik yang telah lama berkecimpung dalam ranah industri musik.

Gerakan mendorong musik keroncong meng-global membutuhkan daya imajinasi yang kuat, maka setidaknya keroncong membutuhkan komunitas yang akan menghidupi keroncong itu sendiri. Pada konsep imagine community (Ben Anderson, 1983) komunitas keroncong yang selama ini ada, sadar atau tidak tergerak oleh komunitas terbayang ini, yang pada gilirannya embodied dan membesar. Di situasi ini organisasi menjadi penting untuk mengatur dan mencapai maksud dan tujuan.

Keroncong goes global dalam era globalisasi

Globalisasi secara umum mendorong terjadinya kontak masyarakat dunia yang meretas batas wilayah, melampaui imagined community yang ada saat ini. Namun demikian, tantangan terbesar era globalisasi adalah di bidang ekonomi, sebab penguasaan atas asset ekonomi menjadi begitu dikaburkan, sehingga batas-batas, dan mengaburkan nation, bahkan mengaburkan nation yang sedang dibangun melalui komunitas keroncong itu sendiri.

Meng-global-kan keroncong sebagai gagasan untuk menampilkan wajah identitas bangsa, dan pada saat ini nampaknya mengglobalkan keroncong sebagai wacana untuk menggugat identitas diri yang mana hadirnya musik dari luar telah menenggelamkan heritage yang ada. Menguatkan keroncong dalam rangka memugar kesadaran diri yang baru, dan menegosiasi pola relasi baru (dengan "capitalist") berdasar kesadaran diri yang baru itu. Nasionalisme merupakan strategi sosial-budaya-politik yang digunakan sebagai kendaraan untuk melawan imperialisme global. (Robertus Widjanarko, 2006)

Akhirnya kita dihadapkan pada pertanyaan yang menggelisahkan: dengan senjata apakah kita menghadapi kembalinya gelombang kolonialisme yang lebih dahsyat dengan wajah perdagangan (kapitalisme) global, sementara imagined community tiba-tiba menguap seperti asap? Dengan bahasa dan wacana macam apa kita memproduksi dan terus mereproduksi identitas kita, peran kita, pola relasi kita dengan kaum kapitalis global, sehingga kita tidak sekadar mengikuti nada yang diskema kaum kapitalis. Apakah dengan keroncong, kita akan menuliskan narasi kehidupan atau eksistensi kita sebagai "nation"?

Terminologi kolonialisme seperti disampaikan oleh Vandana Shiva adalah bahwa, ,”The Old colonialization only took over land. The new colonialization is taking over life itself” dan neo-kolonialisme menjadikan pasar bebas sebagai ujung tombak. Pasar bebas tanpa batas, namun kita seringkali tidak memiliki kesempatan atau peluang untuk bersaing. Dan hal ini sudah diingatkan oleh Chomsky, "freedom without opportunity is a Devil's gift".

Cita-cita menduniakan keroncong dan mengeroncongkan dunia bagaimanapun juga merupakan gagasan orisinil untuk menjaga nation yang oleh banyak orang dikatakan merapuh itu. Terus Berjuang!!!

Tagged as: No Comments
3Feb/090

KERONCONG VIRTUAL PALACE

Keraton Imajiner Keroncong dalam Keraton Kasunanan Surakarta, Solo.

Virtual Palace

Virtual Palace

Keraton Kasunanan, disebut juga sebagai Keraton Surakarta Hadiningrat yang dibangun pada tahun 1745 oleh Raja Paku Buwono ke II. Keraton berarsitektur tradisional Jawa dengan nuansa warna putih biru dengan sedikit sentuhan arsitektur gaya Eropa, arsiteknya sendiri pada zaman itu adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Bangunan keraton terdiri dari Pagelaran Sitihinggil, Kori Brojowolo, Kori Kamandungan, Kori Sri Manganti dan Panggung Sangga Buwana. Bagian keraton lain dan tidak boleh dikunjungi wisatawan, antara lain Sasana Sewaka, Sasana Pustaka dan Maligi. Pendopo Sitihinggil dengan ciri khasnya yang tidak dikelilingi tembok pertahanan kerajaan pada fungsinya adalah sebagai tempat penyimpanan benda - benda tanda kebesaran raja, gamelan kuno dan pusaka keraton.

Sekelumit sejarah keraton yang dikaitkan dengan adanya catatan penting yang terjadi di hari penutupan ajang pagelaran ‘International Keroncong Festival 2008’ yang digelar selama tiga hari berturut – turut di tanggal 4,5 dan 6 Desember, bertempat di pendopo Sitihinggil, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo. Diresmikannya Keraton Sitihinggil Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini sebagai Keraton Imajiner Keroncong (Keroncong Virtual Palace) dengan harapan resmi dan berdirinya Keraton Imajiner Keroncong ini akan menjadi wadah kedepan bagi insan perkeroncongan dunia untuk bersama-sama bertemu, berkreasi dan berinteraksi dengan bahasa dunia yang sama yaitu keroncong, keroncong yang mendunia.

Mengingat garis hubungan suatu hal atau keadaan di masa lalu, masa kini dan masa depan yang kelak menjadi sumber informasi dari generasi ke generasi yang bukan saja nasional tapi international maka penting bagi keroncong untuk menemukan tempatnya sebagai persepsi generasi keroncong melintas dari masa ke masa. Teknologi canggih dan cepatnya peradaban manusia membuat perubahan dari segala sisi termasuk pola pikir si manusia itu sendiri, dari yang tidak mungkin menjadi suatu hal yang memungkinkan. Inipun terjadi dalam dunia perkeroncongan dimana keroncong yang dulu pada lintasan zamannya kerapkali ditampilkan hanya sebatas musik hiburan dalam pesta – pesta kecil, pesta pernikahan ataupun khitanan lalu siapa yang dapat mengiranya kini keroncong menjajak di ajang International…

Tagged as: No Comments
3Feb/090

APA KATA MEREKA SEPUTAR GELARAN IKF 2008

gkr-wandasariMusik keroncong dapat menjadi kekayaan budaya, sama halnya dengan Keraton Surakarta yang masih bertahan sampai usia 263 tahun ini “ sambut Kanjeng Gusti Mung saat mengukuhkan Keraton Sitihinggil Surakarta Hadiningrat sebagai keraton imajiner keroncong (Keroncong Virtual Palace).

pedhet-wijayaSelain untuk memperkuat posisi Solo sebagai Kota Keroncong, sekaligus juga membangkitkan kesadaran bahwa keroncong patut di lestarikan dan meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap musik keroncong,” papar Pedhet Wijaya – Ketua Panitia IKF 2008, Solo - kepada sejumlah media yang hadir meliput pembukaan acara pagelaran tersebut.

gesang"Keroncong adalah musik bangsa yang harus di lestarikan bersama bukan hanya milik Solo saja… Ada banyak kelompok keroncong namun yang terpenting adalah tetap menjaga kerukunan," pesan sang legenda, Gesang,  yang kala itu tengah sakit saat dikunjungi ketua panitia IKF 2008 dan beberapa rekan wartawan di kediamannya.

"Kalau IKF sukses, kami ikut senang. Apapun keadaanya. Hamkri adalah salah satu pilar yang mendirikan dan menegakkan keroncong…. alasan kami mengundurkan diri dari kepanitiaan adalah masalah mengenai pemberian kompensasi transportasi ke Solo bagi peserta dari luar Solo, bukan soal nilainya yang penting, tapi soal penghargaan kepada musisi begitulah…" ujar Waldjinah, Ketua Hamkri Solo, yang baru menuturkan alasan Hamkri mengundurkan diri kepada pers setelah IKF 2008 selesai dilaksanakan.

Selama 34 tahun di umur saya sekarang, baru inilah saya menyanyikan lagu keroncong, saya sangat terkesan… “ Melly, penyanyi pop dan selebritis, menyampaikan kesannya pada penonton usai menyanyikan lagunya ‘Suara Hati Kekasih’ dalam iringan keroncong, bahkan tampak di ujung lagu karyanya itu, Melly menambahkan cengkoknya membuat tampilan lagu seperti keroncong.

"Menjadi peserta festival keroncong merupakan tantangan bagi kami karena ini pertama kali kami memainkan musik China dalam irama keroncong. Walau begitu, kami ingin menampilkan yang terbaik dan memberi warna kebudayaan Indonesia, " ujar Andri Harmony- Harmony Chinese Music , Peserta IKF 2008, seusai pertunjukan.

Kami gembira sekali bisa ikut tampil di ajang IKF 2008 ini, bisa bersilahturahmi dengan seniman musik di Indonesia. Semoga acara IKF 2008 ini dapat di agendakan rutin setahun sekali dan Yayasan Warisan Johor diundang kembali,” papar H. Omar Qaib, pimpinan dari Yayasan Warisan Johor ini.

Saya merasa senang ada pelaksanaan IKF seperti ini di Solo. Bahkan sebisa mungkin harus dilaksanakan tahun depan di sini lagi …” ujar Rizky, salah satu warga Kedunglumbu, Solo yang mengikuti acara pagelaran ini dengan sangat antusias.

Tagged as: No Comments
3Feb/091

Musafir Isfanhari : Sang Musafir Keroncong

Saya bersedia dan membuka diri jika generasi muda atau para pelaku musik keroncong ingin belajar teori musik pada saya. Saya akan memberikan pengalaman dan kemampuan saya demi memajukan musik keroncong di tanah air ini. Bukan secara skill, skill musik keroncong harus anda sendiri yang gali sesuai imajinasi anda, pada tataran ini saya hanya memberikan ilmu teori musik. Untuk selanjutnya kreatifitas andalah yang berperan.” (musafir Isfanhari)

Begitulah komitmen seorang Isfanhari dalam hal musik keroncong menjawab gugatan pecinta keroncong atas kondisi musik keroncong yang saat ini masih saja belum mendapat tempat yang memadai, dan musik Keroncong masih kurang diminati oleh masyarakat secara umum.

Musafir Ishfanharu

Musafir Ishfanharu

Cara kita memandang masalah, menentukan cara kita menanggapinya

Ketika Barack Obama menjadi presiden terpilih Amerika Serikat, seketika itu orang Indonesia ikutan menjadi heboh dan ikut merayakan kemenangannya. Wajar saja orang Indonesia ikut merayakannya, karena semasa kecil Barry Soetoro –panggilan Obama semasa kecil- pernah besar dan tinggal di Indonesia –meski hanya 4 tahun-. Dan biasanya kemudian muncul beberapa peristiwa menggelitik di kalangan masyarakat “ jelek-jelek gini, saya dulu teman sekolah Obama lho! ; saya ini istrinya teman sekolah Obama itu.. ; saya ini temannya adiknya mbak yang suaminya teman sekolah Obama tadi.. ; saya ini keponakannya paman saya yang temannya adiknya ibu yang suaminya teman sekolah Obama.. ” ; pasti anda juga pernah mengalami atau mendengar hal semacam itu di masyarakat lingkungan tempat anda tinggal.

Guyonan –lelucon- seperti itu merupakan penggambaran yang pas bagi arti sebuah feodalisme. Di negara tempat kita tinggal ini, banyak terdapat individu yang terkadang menunjukkan ke-aku-annya melalui relasi dan kenalan seperti itu agar dirinya juga dianggap memiliki tingkatan sosial yang sama dengan kenalan atau relasinya tersebut –aku ini anak pejabat, aku ini teman bupati kota Bangkalan, aku ini pamannya lurah Balong Sari begitu seterusnya-. Pola pikir seperti ini berpengaruh terhadap cara pandang individu tersebut terhadap suatu hal.

Gambaran di atas, oleh Isfanhari dilihat sebagai gambaran yang begitu pekat ke-feodal-an masyarakat Indonesia yang pada akhirnya menjadikan cara pandang masyarakat Indonesia tentang sebuah musik sudah terkotak-kotak dan tersekat-sekat, seperti musik Keroncong adalah musiknya orang tua, musik dang dut musik orang kelas bawah, musik jazz musik para mahasiswa yang status ekonominya berkecukupan dan musik orang elite, musik klasik musik para orang yang aristocrat. Pengotakan-pengotakan tersebut yang membuat musik di Indonesia tidak bisa berkembang, tentunya juga bagi musik Keroncong sendiri. Karena sebetulnya ketika musik-musik tersebut tercipta dan diciptakan tidak ada tujuan bahwa musik dang dut adalah musiknya tukang becak, musik jazz adalah musiknya mahasiswa, musik klasik adalah musiknya orang yang aristocrat, jadi siapapun boleh saja menikmati atau menggemari musik apapun. Tukang becak boleh-boleh saja mendendangkan jazz di dudukan becaknya, musik dang dut sah-sah saja didengarkan oleh para mahasiswa dan tak jarang saat ini di mobil-mobil para esmud –eksekutif muda- terdapat cd-cd lagu dang dut yang menjadi teman di waktu berangkat dan pulang kerja mereka, jadi mengapa harus disekat-sekat dan dikotak-kotakkan?

Kisah Piano Berdebu

Pengalaman Isfanhari ketika diminta menjadi pelatih vokal oleh sekelompok anak sekolah untuk menghadapi ujian kesenian di sekolah mereka, tepatnya melatih suatu vokal group sekolah –bukan lomba atau ajang award bergengsi -, setelah beliau sepakat maka beliau mendatangi rumah anak sekolah tersebut.

Gonggongan anjing penjaga yang besar dan galak-galak menyambutnya. Meski8 dalam kandang, gonggongan anjing itu cukup menggetarkan hati. Setelah beliau masuk rumah di ruang tamu langsung disambut dengan sebuah piano kustik yang harganya mencapai 60 jutaan, lantas mencoba memainkannya. Ketika membuka selubung piano itu, tampaklah debu yang sangat tebal melingkupi piano kustik tersebut. Sembari membersihkan piano, Isfanhari bertanya, ” Ini siapa yang biasa memainkan piano?”, dan dijawab, “ Tidak ada pak, tidak ada yang memainkannya”.

Perasaan Isfanhari sebagai seorang guru musik tersintuh, ” Terus kalau tidak ada yang memainkannya mengapa harus dibeli?” lagi-lagi terdengar jawaban,” Wah gak tau papa itu…” jawabnya.

Kisah piano berdebu menyentakkan hati Isfanhari atas kondisi masyarakat yang belum paham betul akan arti pentingnya musik, namun lebih menjadikan jenis alat musik mahal - meski tidak bisa memainkannya – sebagai simbol dan status sosialnya. Pada sisi ini, sang empunya piano berdebu hanyalah sebagian kecil dari perilaku yang sok dianggap beradab melalui musik, namun itu sebuah kehidupan yang artificial, tidak otentik. Isfanhari sendiri menilai jenis irama musik tidak ada yang salah, semua layak berkembang, seperti halnya keroncong pun harus berkembang.

Memang, pengalaman Isfandari dalam mencermati perkembangan musik, khususnya keroncong kalah jauh dibanding musik lain seperti jazz, dangdut, pop, R&B, dll. Jenis musik keroncong yang lembut dianggap kurang menghentakkan jiwa kaum muda, jernih keroncong tak sejernih musik klasik, demikian sering diasumsikan. Sehingga keroncong menjadi musik yang ’nanggung’. ”Pada situasi ini musik keroncong butuh penyegaran, inovasi, dan kreatifitas baru,” papar Isfanhari tegas.

Proses kreatif : kunci tumbuh kembang keroncong

Tahun 2007 Isfanhari membuka pelatihan musik gratis bagi pelaku musik keroncong di Surabaya dengan suka rela dan tanpa dipungut biaya bagi peserta demi memajukan musik Keroncong. Yang dibekalkan oleh Isfanhari adalah ilmu musik, untuk pengembangan skill musik keroncong, para peserta didik diberi kebebasan untuk berkreasi dan mempraktekkan teori musik tersebut pada latihan-latihan di orkes-orkes keroncongnya sendiri. Namun pelatihan tersebut hanya berlangsung selama empat bulan saja, akibat peserta didik yang semakin lama semakin berkurang hingga tandas habis.

Ini merupakan kelemahan dari para musisi Keroncong, yang dalam pikirannya selalu terbersit setiap ‘crong’ itu harus dapat duit. Hal itu tidak salah dan sah-sah saja. Namun, dibanding Group-group yang sudah besar seperti Nidji, Dewa 19, Sheila on 7, Peterpan dan lain sebagainya, setiap kali mereka ‘jrieng’ mereka dapat duit, namun yang harus dilihat bahwa proses dari ‘jrieng’ sampai menjadi dapat duit tersebut, mereka melalui proses yang dinamakan berlatih dan terlebih mempunyai gaya sendiri dalam memainkan musiknya sendiri.

Menemukan gaya dan corak merupakan pilihan sebuah group musik. Sedemikian juga dalam musik keroncong. Bahwa setiap group keroncong pun dituntut untuk secara kreatif dan inovatif menemukan gaya dan coraak setiap group tersebut, meski tetap dalam jalur keroncong. Tujuan awal dari pelatihan yang ingin diberikan pak Isfanhari pada pelaku musik Keroncong adalah memajukan musik keroncong terutama membuka wawasan bermusik para musisinya, jika sudah terbuka silakan anda-anda berkreasi. Karena secara skills musik para pemain keroncong ini sangatlah bagus, namun pengetahuan tentang musik masih kurang. Seperti pada latihan-latihan orang keroncong, sudah menjadi kebiasaan ketika di saat memulai satu lagu, terlontar “main opo? –nada apa?-“ kemudian sang violins menjawab “main satu” –dengan hanya mengacungkan jari telunjuk, yang mengisyaratkan do = G-, kemudian jika dijawab “main dua” –dengan mengacungkan dua jari, yang berarti do = D- untuk nada berikutnya seperti A, Bes, C, F dan seterusnya tidak ada simbolnya. Setelah ditanya “mengapa jika dijawab main satu itu memainkan nada G?, dari mana asalnya?” Karena arti satu bisa ada dua nada, bisa nada G atau juga bisa nada F, jika nada G berarti satu #, kalau satu ? berarti nada F. Contoh kecil seperti itu yang ingin dibuka oleh Musafir Isfanhari pada para musisi Keroncong, pengetahuan tentang ilmu musik khususnya.

Mengambil contoh legenda dangdut Indonesia dan dunia, Rhoma Irama, dulu Rhoma Irama pemain musik rock, namun kemudian dia terjun ke musik dang dut. Dia mencoba meramu musik dang dut dengan musik rock, dalam hal ini dang dut tetap dang dut tetapi dengan kemasan yang baru. Di saat tahun ’70-an musik dang dut itu disepelekan sebagai musik kampungan, musiknya pemabuk dan lainlain yang citranya negatif. Saat itu Rhoma pernah mengarang lagu berjudul musik yang penggalan syairnya ada yang berbunyi “boleh benci tapi jangan mengganggu . . .” saat itu musik dang dut benar-benar dibenci, disepelekan, diremehkan dan dipandang sebelah mata, disini Rhoma ingin mengangkat musik dang dut agar tidak dipandang sebelah mata, ternyata bang Haji ini berhasil mengangkat gengsi musik dang dut. ” Coba sekarang lihat, siapa yang gak suka musik dang dut? Sekarang dang dut jadi sumber uang yang luar biasa. Rock masih kalah, musik rock barang kali penggemarnya banyak, namun frekuensi tampilannya sedikit sekali coba saja lihat di acara Televisi semua acaranya tak terlepas dari musik dang dut. Kunci sukses bang Roma berasal dari ketekunannya menjaga image dang dut jangan sampai jatuh dan semangatnya untuk selalu memperbaharui musik dang dut secara terus menerus”. Musik dang dut saat membikin syair tidak peduli –dalam artian jika musik Jazz, atau musik pop sangat-sangat tersusun rapi- disaat punya inspirasi langsung dikeluarkan secara spontan, seperti SMS, kucing garong, anggur merah, intinya apa yang saat ini terjadi di masyarakat langsung diangkat lewat musik. Saat tahun ‘80an ada sebuah lirik musik dang dut berbunyi “apa arti kamu menangis di depan penghulu, orang lain dapat nangkanya aku dapat getahnya” lirik semacam ini tidak mungkin bisa dibuat oleh pemusik Jazz, coba musik dang dut ya enak saja langsung disenandungkan meski “ngawur” tetapi mereka sangat berani, variatif ditambah dengan pemusiknya banyak sekali anak muda, jadi banyak terjadi pembaharuan-pembaharuan.

Musik Keroncong merindukan ide-ide segar dan pembaharuan seperti pada musik dang dut untuk kemajuan musiknya, segala sesuatu tentulah berproses begitu juga musik keroncong kita saat ini. Jadi Keroncong yang kita main dan dengarkan saat ini adalah hasil evolusi musik dari jaman dulu hingga sampai saat ini yang kita kenal dan kita sebut musik keroncong. Dahulu kala bentukan musik keroncong tentulah tidak sama persis dengan musik keroncong yang saat ini kita dengar, jadi jangan takut untuk berkreasi dan melakukan revolusi musik. Jadi jika pada nantinya setelah berkreasi didalam bermusik keroncong, musik anda dibilang bukan musik keroncong, berarti jenis keroncong anda dengan orang yang berkomentar tadi berbeda. Yang perlu diingat adalah apa yang dimaksud dengan keroncong adalah :

  1. Alat musik seperti gitar tetapi kecil dengan 4 dawai,

  2. Bentuk komposisi musik yang terdiri dari 28 birama ditengah ada interlude, bentuk komposisinya satu model,

  3. Satu group ansambel musik yang terdiri dari bass, cello, gitar, cak, cuk, flute, dan biola,

  4. Keroncong adalah pola permainan –cong crong cong-, jadi meski dengan syair barat namun dengan menggunakan pola permainan demikian, itu sudah bisa dikatakan sebagai musik keroncong,

Keroncong harus mengikuti perkembangan jaman, lebih menampilkan kreatifitas yang segar agar selalu mendapat tempat di generasi muda, khususnya bagi penggemarnya.

-nton-

Rabu, 3 nopember 2008

3Feb/090

Keroncong : Dari Akulturasi hingga Nasionalisme demi Kejayaan Bangsa dan Negara

Oleh : Johan Sopaheluwakan

Edisi Lalu :

Di akhir abad 19 karena Belanda memerlukan musik dalam permainan tonil/sandiwara maka dipakailah musik keroncong. Awalnya dengan nama Kroncong Betawi lalu Kroncong Jakarta” …

Di Jakarta saat itu membutuhkan musik yang netral yang dapat diterima semua suku bangsa yang menetap di Jakarta. Permasalahannya adalah semua suku bangsa memiliki musik daerah masing-masing. Orang Ambon misalnya sulit menerima musik Jawa. Demikian pula orang Aceh tidak mau menerima musik Ambon, demikian pula sebaliknya. Maka satu-satunya musik yang dapat diterima saat itu yang mewakili semua suku bangsa yang ada di Jakarta adalah musik keroncong.

Para seniman sandiwara/tonil dibawa ke seluruh Jawa, lalu terjadi proses penyempurnaan dengan standar yang tetap. Gitar dan Mandolin tetap ada. Ritme juga tetap. Di Jawa meskipun sudah memiliki gamelan, tetapi gamelan bersifat elit karena tidak semua rakyat mampu memainkannya. Rakyat ingin yang lebih bebas dan akhirnya menggunakan keroncong sebagai musik yang merakyat. Pada akhirnya pemain musik mempengaruhi dan menyempurnakan keroncong sesuai selera Jawa, maka jadilah langgam.

Dalam perkembangannya orang Jawa lebih konsisten. Musik gamelan memang sudah lebih dulu ada tetapi musik jawa/gamelam telah selesai secara sistemnya sehingga musik dari luar sulit mempengaruhinya. Tetapi karena mereka ingin lebih bebas mengembangkan musik maka berkreasilah generasi-generasi baru yang pada akhirnya dituangkan dalam bentuk musik keroncong.

Pada awal abad 20 di Nusantara timbul pergerakan-pergerakan nasional yang pada gilirannya melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tokoh-tokoh politikus di Nusantara terdiri atas politikus yang peduli budaya dan ada yang kurang peduli budaya. Politikus yang peduli budaya memikirkan konsep ciri bangsa Indonesia yang menjadi jati diri bangsa. Bahasa sudah ada, kesatuan wilayah ada, hanya dari sisi budayalah khususnya di bidang musik yang belum dimiliki, yang dalam kerangka berbangsa dan bernegara nantinya dapat merangkum dan bernafaskan nasionalisme : Indonesia.

Ada usulan bahwa musik itu yang beraliran Hindia Belanda di parlemen (volksaard) : Dr Douwes Dekker ditolak oleh Belanda, juga ada usulan beraliran Jawa namun juga ditolak. Namun ada satu pengusul yang tidak memunculkan budaya Jawa. Diungkapkan bahwa hasil budaya-budaya daerah yang memiliki nilai tinggi seyogyanya dijadikan modal untuk budaya nasional. Penggagasnya adalah Ki Hajar Dewantara, namun ditolak oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan Mohammad Yamin. Mengapa ? Ternyata saat itupun masih kental unsur kedaerahannya, kesukuan waktu itu demikian kuatnya.

Lalu ada seorang tokoh yang mengusulkan keroncong, tokoh itu adalah Armijn Pane. Dia seorang penyair (bukan pemusik) orang sunda (bukan sumatera). Armijn Pane mempertahankan keroncong menjadi musik bangsa. Alasan yang disampaikan akhirnya dipahami oleh tokoh-tokoh pergerakan waktu itu. Karena memang pada akhirnya fakta membuktikan bahwa tatkala “dikejar” Belanda orang-orang pergerakan dapat mengalihkan perhatian dengan memainkan keroncong. Berlindung dibalik keroncong. Lambat laun lahirlah lagu-lagu keroncong dan juga lahir pemusik-pemusik dan penyair dengan lagu-lagu yang berkualitas tinggi dan membangkitkan nasionalisme, seperti lagu Bandung Selatan karya Ismail Marzuki. Musikus dan penyair bersatu, memberikan dampak positip bagi pergerakan nasional. Pasca Kemerdekaan perkembangan keroncong tertunda karena terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia, misalnya DI/TII, RMS Maluku, dll. Akhirnya keroncong hanya berkembang di Jawa.

Bersambung ….

Tagged as: No Comments
2Feb/090

Keroncong, Musik Tanpa Tali Pocong.


Gelaran Lesehan Keroncong Asli yang mengusung tema Doea Orkes Keroncong di Boelan Doeabelas, 16 Desember 2008, di Taman Budaya Jawa Tengah, adalah secuil bukti bahwa musik keroncong masih layak untuk diperjuangkan. Acara ini juga merupakan wujud apresiasi pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terhadap ajal musik keroncong.

Tak bisa dipungkiri, kenyataan yang terjadi saat ini memang demikian. Musik keroncong sudah dianggap musik yang hanya ‘pantas’ dinikmati oleh kaum tua. Diukur dari usia mereka tentunya. Musik keroncong hanya tinggal lembaran-lembaran sejarah. Dimana tiap lembarnya menyisakan kejayaan masa lalu yang perlahan namun pasti direnggut oleh westernisasi di bidang musik. Generasi tua sekarang ini masih menjadi pemuda pemudi gagah yang selalu mengibarkan bendera keroncong. Dulu.

Yang cukup menarik adalah penulisan ejaan lama yang masih dipergunakan dalam judul gelaran ini. Ejaan ‘u’ ditulis ‘oe’. Ejaan yang sudah jarang digunakan lagi pada era sekarang. Hal ini semakin menunjukkan adanya keinginan kuat dari pejuang keroncong untuk merebut kembali kejayaan masa lalu yang sempat diraih. Kejayaan yang diharapkan juga bisa dinikmati oleh anak-anak mereka, anak teman mereka, anak cucu mereka, bahkan anak cucu Negara tetangga.

Sedikit, dua kelompok penyaji malam itu mencoba menunjukan bagaimana perjuangan mereka. Tingginya apresiasi terhadap musik keroncong dengan semangat bertahan yang kuat. OK Sapta Pesona, Klaten dan OK Senandung Rindu, Solo berhasil menyajikan nomor-nomor lagu keroncong asli, stambul dan langgam dengan apik. Saudara seperjuangan ini masih sama-sama berusia muda. OK Sapta Pesona berdiri tahun 2003 dan OK Senandung Rindu tahun 2008. Tidak ada persaingan malam itu. Kerjasama yang cukup solid.

Kelembutan dan ketenangan dalam bermusik masih terasa malam itu. Karakter musik keroncong masih melekat. Tampilan penyanyi wanita bersanggul terbalut oleh kebaya nan eksotik. Para penonton yang memang rata-rata berusia ‘kakek-nenek’ dengan seksama menikmati alunan merdu musik keroncong. Konsep lesehan berhasil membuat penonton ber-lesehan-ria ditemani makanan minuman yang dijajakan di tengah-tengah mereka. Cuaca dingin yang bergelayut sejak sore tidak menghentikan pertemuan antara pejuang dan simpatisan keroncong malam itu. Guyuran hujan bukan hambatan yang berarti. Kampanye harta warisan bangsa yang hampir tertinggal rupanya.

Derasnya serangan budaya musik popular tidak lantas membuat semangat gerilyawan keroncong melemah. Tidak bisa dipungkiri memang, budaya musik popular berhasil mencuri perhatian generasi muda. Keroncong hanya sebatas wacana. Wacana yang tertinggal jauh di belakang musik popular. Tidak ada gerakan yang berarti dari generasi muda untuk turut serta melanggengkan kejayaan musik keroncong. Lebih memilih yang populer dan ngetrend.

Bondan and Fade 2 Black adalah sedikit gambaran dari generasi muda yang ‘peduli’ terhadap musik keroncong. Lewat tembang Keroncong Protol, mereka berhasil mengangkat idiom musik keroncong ke dalam musik rap. Yang perlu dipertanyakan adalah saat-saat dimana musik keroncong berhasil ‘menjelma’ menjadi musik popular untuk sesaat. Ternyata musik keroncong mengalami nasib yang sama dengan musik-musik popular. Berjaya sebentar lalu menghilang ditelan permintaan pasar. Analogi yang bisa dipakai adalah adakah lagu dari musik popular yang berhasil mensejajarkan diri dengan Bengawan Solo milik Gesang? Lantas muncul pertanyaan lain, seberapa besar apresiasi generasi muda terhadap satu bentuk perubahan sesaat ini. Tidakkah faktor kepopuleran grup Bondan and Fade 2 Black juga memiliki andil.

Dari kalangan keroncong sendiri juga mengalami kemandulan lagu. Produktivitas mereka tidak seperti di jaman-jaman keemasan mereka dulu. Jika memang tekanan-tekanan penjajah di masa itu adalah faktor utama kemunculan musik keroncong, bukankah di jaman sekarang tekanan itu juga datang secara besar-besaran dan membabi buta. Militan-militan musik popular sudah sedemikian rupa mengambil alih media-media informasi. Hampir di setiap stasiun televisi menyiarkan acara berlatar belakang musik popular. Lagu-lagu keroncong yang ada sekarang adalah peninggalan lagu-lagu keroncong jaman dulu.

Wacana aktual semacam ini bisa dijadikan gambaran betapa sebenarnya masyarakat kita masih terpecah belah secara budaya. Rahmah tamah menyambut musik-musik popular berakibat kurang baik terhadap kehidupan musik-musik yang lebih dulu tinggal di Indonesia. Seperti kedatangan tentara Belanda yang disambut baik oleh rakyat Indonesia tapi berujung pada penderitaan yang berkepanjangan.

Perbedaan prinsip antara yang tua dan muda pun menjadi kendala tersendiri. Yang muda selalu segera ingin mengadakan perubahan, yang tua ingin melakukannya perlahan-lahan. Justru dengan keadaan musik keroncong seperti sekarang ini bisa saja musik keroncong menjadi sesuatu yang unik. Musik yang berkarakter dan memiliki perfomance yang berkarakter pula. Penuh ketenangan dan tidak ada riuh penonton yang berlebih. Hanya tepuk tangan biasa tanda kenikmatan mendalam. Keroncong bukanlah merupakan pertunjukan yang akan mengubah penonton menjadi pocong, bahkan disaat musik keroncong hampir menjadi pocong.

Didik Wahyu Kurniawan

Mahasiswa Etnomusikologi ISI Surakarta

04112101

2Feb/090

Pudarnya “Imagined Community”

Oleh Robertus Wijanarko

Nations, however, have no clearly identifiable births, and their deaths, if they ever happen, are never natural. (Benedict Anderson)

MOMEN kelahiran nasion memang tidak pernah teridentifikasi secara gamblang. Nasion lahir sebagai sebuah produk (strategi), karena itu kematiannya juga terjadi karena diproduksi, bukan terjadi sendiri secara alamiah.

Kematiannya disebabkan suatu tindakan, keputusan, atau strategi (sosial-budaya-politik) tertentu. Surutnya perasaan kesatuan sebagai nasion, kaburnya cita rasa akan identitas sebagai bangsa-entah secara spatial maupun kultural-atau memudarnya kesatuan cita-cita yang hendak diraih, selalu disebabkan rangkaian tindakan, keputusan, atau strategi sosial, budaya atau politik tertentu.

Untuk meneliti kebenaran dan memahami relevansi pemikiran Benedict Anderson, bagi Indonesia, kita perlu menelusuri gagasan-gagasan yang diajukan tentang nasion sebagai imagined community (komunitas terimaji), dan tentang bagaimana tumbuhnya kesadaran akan nation dari bangsa Indonesia, sebagaimana disajikan dalam karyanya yang kian mendapat tempat di antara pemikir Eropa dan Amerika, Imagined Communities.

Definisi antropologisnya Benedict Anderson menunjukkan, nasion, pertama-tama, adalah sebuah imagined community, karena tidak semua anggotanya pernah (akan) saling kenal, bertemu, atau mendengar, meski dalam benak mereka selalu tumbuh kesadaran, mereka merupakan suatu persekutuan.

Kedua, betapapun besar komunitas yang terimaji, selalu ada batas teritori (limited), yang memisahkan nasion itu dengan nasion-nasion yang lain.

Ketiga, komunitas terimaji itu komunitas yang berdaulat (sovereign), karena konsep itu lahir dalam konteks era sekularisasi, atau dalam rumusan Anderson "born in an age in which Enlightenment and Revolution were destroying the legitimacy of the divine-ordained, hierarchical dynastic realm". (Benedict Anderson, Imagined Communities, 7)

Keempat, nasion selalu terimaji sebagai sebuah komunitas (community), sebab meski dalam kenyataan komunitas itu ditandai aneka perbedaan atau kesenjangan, nasion selalu dipahami sebagai persaudaraan yang mendalam.

Anderson menengarai, embrio sense of nation di Indonesia berawal dari ditinggalkannya sikap indiferent inlanders sebagai kaum terjajah. Meski kita tidak bisa membidik secara akurat kapan momen kelahiran kesadaran itu tumbuh, demikian Anderson, kesadaran itu secara perlahan mulai digenggam kaum muda terpelajar, yang berkat kemampuannya memahami bahasa Belanda (bilingual), mempunyai akses, entah melalui ruang kelas atau pergaulan dengan kaum penjajah, ke soal-soal atau tema-tema berskala internasional, antara lain kesadaran akan identitas, bahasa, dan nasionalisme a la Eropa, yang pada gilirannya mencerahkan budi kaum muda cendekia bangsa Indonesia dan memutus sikap indiferent. Pencerahan budi yang menggugah kesadaran akan identitas dan kedaulatan, yang dipompa semangat, energi, dan imajinasi sebagai ciri "kemudaan" kaum muda terpelajar, inilah yang lalu saling di-sharing-kan, ditukar dan ditularkan melalui bahasa.

Kesadaran akan kesatuan identitas yang terakit melalui "media" bahasa dengan sendirinya menempatkan "bahasa penyatu" (kesatuan) sebagai prasyarat yang tak dapat dielakkan (conditio sine qua non) untuk membangun identitas dan mengikat komunalitas. Karena itu bukan tanpa alasan, kaum muda tercerahkan ini menganonisasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan atau nasional.

ANALISIS antropologis Benedict Anderson ini membuktikan, pertama, bahasa memainkan peran signifikan dalam proses kelahiran nasion. Bahasa-lah yang mencerahkan kaum muda terpelajar sekaligus menghantar mereka kepada ide-ide besar, yang pada gilirannya menghentikan sikap indiferent. Bahasa pula(!) yang merakit kisah-kisah kaum inlanders muda, yang menggumpal menjadi kesadaran akan kesatuan identitas, yang lalu berkembang menjadi kesadaran akan nasion. Sementara emblem-emblem lain merupakan tambahan yang meramaikan sekaligus menegaskan!

Kedua, studi Benedict Anderson juga menunjukkan, identitas nasional merupakan produksi. Perasaan kesatuan identitas (nasional) tidak pertama-tama muncul berdasar kesadaran akan kesatuan latar belakang budaya, suku, agama, atau golongan sosial, tetapi lebih merupakan "strategi" (produk) sosial-budaya-politik untuk membangun, memproduk, dan mereproduksi identitas diri (self-identity) baru sebagai negasi terhadap identitas yang diimposisikan kekuatan penjajah.

Karena itu, benar apa yang ditegaskan Soekarno saat mengutip Ernest Renan: "Nationalism! To be a nation! It was no later than the year 1882 that Ernest Renan published his idea of concept of ’nationhood’". "Nationhood", according to this author is a spirit of life, an intellectual principle arising from two things: firstly, the people in former times had to be together to face what came, secondly, the people now must have the will, the wish to live and be one. Not race, nor language, nor religion, nor similarity of needs, nor the borders of the land make that nation…. (Holtsappel, Nationalism, 74)

Nasionalisme merupakan wacana untuk menggugat identitas diri yang diimposisikan penjajah, memugar kesadaran diri yang baru, dan menegosiasi pola relasi baru (dengan "penjajah") berdasar kesadaran diri yang baru itu. Nasionalisme merupakan strategi sosial-budaya-politik yang digunakan sebagai kendaraan untuk melawan imperialisme.

Ketiga, energi intrinsik golongan muda terpelajar Indonesia, yang menyembul dalam sikap-sikap yang berani untuk menggugat status dan pola relasi mapan yang diimposisikan, mengkritisi keadaan berdasar pemahaman-pemahaman baru, mengartikulasikan dan mengonsolidasikan kesadaran dan keyakinan, dan membangun jaringan–jaringan kesadaran akan identitas, merupakan élan vital bagi berkembangnya (dan sustainabilitas) gagasan tentang nasion.

STUDI antropologis Benedict Anderson tentang lahirnya nasion (imagined community) di Indonesia menunjukkan, nasion lahir sebagai produk, merupakan strategi sosial-budaya-politik guna menghadapi penjajah, karena itu kematiannya tak pernah terjadi dengan sendirinya atau secara natural, tetapi disebabkan suatu produk, suatu "deformasi" strategi sosial-budaya-politik yang terwujud dalam tiap tindakan dan keputusan sosial-budaya-politik dari pihak-pihak yang punya akses ke kebijakan publik, kekuasaan, dan pengaruh.

Bukankah keluhan-keluhan tentang merosotnya semangat nasionalisme (kalau benar)-kendornya ikatan sosial dan rasa solidaritas yang tercermin dalam tindakan menindas-menguras-memanipulasi guna melanggengkan status sosial? Lunturnya kesadaran akan kesatuan identitas yang tampak pada sikap-sikap egois dan mencari keuntungan sendiri, kaburnya imaji akan batas wilayah teritorial nasional yang tercermin pada meningkatnya semangat kedaerahan atau primordial atau kesukuan, surutnya semangat persaudaraan yang terlihat dalam konflik sosial berdasar sentimen agama-golongan sosial-etnik, disebabkan deformasi strategi sosial-budaya-politik tanpa visi sistematis (strategis), yang tercermin dalam kebijakan dan keputusan publik yang serampangan, yang menepikan cita rasa persaudaraan dan kesadaran sebagai sebuah tubuh atau komunitas yang disebut nasion, yang sarat vested interests dan agenda-agenda sempit tersembunyi?

Dengan kata lain, lunturnya semangat nasionalisme, bukan terjadi dengan sendirinya karena penjajah telah pergi, tetapi justru diproduk penguasa yang mempunyai akses ke kebijakan publik. Mereka inilah kuman yang membusukkan sel-sel yang menjadi daya hidup yang disebut nasion.

Akhirnya kita dihadapkan pada pertanyaan yang menggelisahkan: dengan senjata apakah kita menghadapi kembalinya gelombang kolonialisme yang lebih dahsyat dengan wajah perdagangan (kapitalisme) global, sementara imagined community tiba-tiba menguap seperti asap? Dengan bahasa dan wacana macam apa kita memproduksi dan terus mereproduksi identitas kita, peran kita, pola relasi kita dengan kaum kapitalis global, sehingga kita tidak sekadar mengikuti nada yang diskema kaum kapitalis. Dengan bahasa, apa kita akan menuliskan narasi kehidupan atau eksistensi kita sebagai "nation"?