Buletin Tjroeng Gelegak Jiwa Nusantara :: Buletin Musik Keroncong

5Dec/080

SERENDIPITI KERONCONG

MENGOLAH SERENDIPITI KERONCONG INDONESIA

Alkisah di sebuah negeri, karena kecapaian seorang tukang masak ketiduran ber jam-jam setelah membuat adonan roti. Akibatnya adonan roti itu pun mengalami proses fermentasi dan mengembang saat dipanggang. Si koki menjadi cemas saat harus menghidangkan roti yang menggelembung itu kepada majikannya. Namun, alih-alih dimarahi, ia justru dipuji. Roti yang terfermentasi ternyata terasa lebih enak, empuk dan lembut. Sejak saat itu orang mulai menggunakan ragi untuk membuat roti. Negeri tempat terjadinya peristiwa itu bernama Serendipiti. Selain ‘kecelakaan’ si koki, masih banyak kebetulan-kebetulan lain serupa itu yang terjadi di negeri serendipiti, hingga serendipiti menjadi istilah umum untuk setiap peristiwa kebetulan yang berakhir menyenangkan.

Dapat dikatakan bahwa keroncong pun lahir di Indonesia secara kebetulan. Beberapa teori mengenai asal usul keroncong mengatakan bahwa pihak yang memperkenalkan alat-alat musik Barat kepada penduduk setempat sehingga lahir musik keroncong di Nusantara adalah para budak yang dibawa serta Portugis ke daerah jajahannya. Sejarah kelam kolonialisme yang mewarnai kelahiran genre musik berirama damai ini memang terasa ironis. Namun begitulah musik ini merefleksikan karakter masyarakatnya yang adaptatif dan kreatif. Karena kelahirannya tidak direncanakan dapat dikatakan bahwa keroncong adalah serendipiti bangsa Indonesia. Seandainya wilayah Nusantara tak terjamah kaum kolonialis, tidak akan ada orang-orang yang memperkenalkan alat-alat musik Barat ke masyarakat kita, dan seandainya agen yang membawakannya bukanlah kalangan budak yang mampu membaur dengan masyarakat setempat, maka tidak akan muncul jenis musik baru yang merupakan perpaduan antara musik asing dan musik lokal Nusantara. Keroncong adalah kebetulan yang menyenangkan. Dengan lirik-lirik yang menggelorakan semangat para pejuang kemerdekaan, keroncong turus serta dalam mengantarkan kemerdekaan negeri ini.

Sungguh disayangkan, lepas dari penjajahan, rakyat yang terlena dengan ide globalisasi harus mengalami kolonialisme jilid dua. Korporasi multinasional yang kita ijinkan memasuki ranah-ranah publik mengkhianati kita. Kepentingan bisnis yang mereka utamakan terbukti gagal menyelesaikan masalah-masalah utama di dunia: kemiskinan, kerusakan lingkungan, kesehatan yang buruk. Krisis global yang terjadi saat ini adalah akibat dari keserakahan yang dirasionalisasi dan egoisme yang dimandatkan oleh kapitalisme korporat global. Globalisasi menyebabkan kita rentan terinfeksi krisis negara maju. Di tahun ini saja, belum selesai rakyat menata ulang kehidupannya setelah gonjang-ganjing naiknya harga minyak dunia, krisis keuangan yang awalnya hanya terjadi di negara yang berada nun jauh di ujung lain dunia, mulai menampakkan pengaruhnya ke negeri ini. sekali lagi kemampuan rakyat untuk bertahan dalam kesulitan dan kekurangan diuji.

Semua perubahan memang selalu membutuhkan energi tambahan untuk beradaptasi. Sejarah mencatat, beberapa kali rakyat harus terluka saat menghadapi tantangan perubahan. Namun, selagi masih ada harapan, hidup layak diperjuangkan. Bahkan justru dalam situasi yang penuh ketidakpastian tahun ini, banyak hal menggembirakan bagi komunitas pecinta keroncong. Dibanding tahun sebelumnya, aktivitas keroncong yang dilakukan oleh seniman maupun pegiat keroncong terasa lebih semarak dan beragam. Kegiatan yang dilaksanakan tidak melulu pementasan musik, sementara frekuensi, intensitas dan skala event-event yang dilangsungkan pun semakin besar.

Tentu bukan kebetulan apabila semaraknya kegiatan keroncong tahun ini berjalan paralel dengan penerbitan media keroncong Tjroeng sejak Februari tahun 2008 lalu. Kami meyakini bahwa apa yang kita kerjakan dengan tulus akan memantulkan energi positif di bagian lain semesta ini, langsung atau tidak langsung. Untuk itulah edisi ke-6 buletin Tjroeng menyajikan kilas balik kegiatan keroncong dan peristiwa di dunia keroncong selama tahun 2008. Banyak yang menggembirakan, ada pula yang menyedihkan, semoga dapat menjadi bahan renungan untuk memantapkan langkah pegiat keroncong selanjutnya, tidak hanya untuk menghidupkan keroncong, tapi juga memampukan keroncong mengambil peran yang bermakna bagi publik. Perenungan dalam rangka merumuskan langkah yang nyata, bukan sekedar menanti kebetulan.

Tagged as: No Comments
3Dec/080

Keroncong, Oh Keroncong

Raushanfikr Muthahari *)

Raushanfikr Muthahari *)

Musik itu terdengar mendayu, memecah keheningan pagi di rumah tua, rumah kesayangan eyangku. Semakin lama terdengar, semakin menggoda perhatianku untuk mendengarnya secara seksama. Alunan biola itu seolah-olah bernyanyi berharmoni bersama penyanyi, mengubah frasa "sepasang mata bola" menjadi indah terdengar. Musik yang santai, lembut, membawaku larut dalam suasana. Nada demi nada indah berbaur dengan suasana pagi itu; kicauan burung, embusan pagi, dan sedikit kabut putih lembut. Apa mungkin ini nostalgi yang dikatakan para pecinta musik itu, sebuah memoar yang timbul dari suara indah?

Hingga saat ini, keroncong menjadi musik yang selalu kusukai. Alunannya mengantarkanku ke memori masa lalu, pemandangan yang indah pagi itu, rumah eyangku, dan beliau yang selalu tersenyum padaku. Setiap kali kudengar, semakin jelas ingatan itu. Kenangan masa lalu pada setiap liriknya. Damai, tenang, dan bahagia.

Ketertarikan pada musik keroncong, juga mendorongku untuk berlatih instrumen favoritku yang sering kudengar, biola. Aku yang pada waktu itu duduk di bangku SMP, belum sadar bahwa musik itu bernama "keroncong", yang kutahu ialah "musik-memoar-masa-lalu", jadi aku berkembang untuk menyukainya, bukan dari pencarian yang dalam pada musik, tetapi "kecelakaan" ketika aku tidak sengaja mendengarnya dulu...(mungkin ini rasanya jatuh cinta pada pendengaran pertama :D ).

Setelah aku tahu, bahwa di TVRI Jogja ditayangkan "musik-memoar-masa-lalu" itu, barulah aku tahu bahwa itu adalah musik "keroncong" hehe.. Sedikit aku mengernyitkan dahi, aneh pikirku, kenapa lagu ini sering diawali dengan kata "langgam"? Ternyata, musik ini spesial, berbeda seperti musik lainnya pada zaman ini, berbeda seperti namanya. Ya, musik ini spesial. Banyak yang belum kutahu tentang musik spesial ini. Aku ingin tahu lebih banyak!

Keroncong-Teman-Keroncong

Sering aku bermain definisi, apakah itu orang gila. Sekedar untuk lelucon sebenarnya, apakah orang gila itu adalah "orang gila di tengah-tengah orang waras" ataukah "orang waras di tengah-tengah orang gila"? Guyonan itu sering aku sampaikan pada teman-temanku, ketika pendapatku berbeda, sekedar untuk bercanda. Kesukaanku pada keroncong juga menambah keheranan teman-temanku pada "kegilaanku". Mungkin aneh bagi mereka yang didikte oleh perkembangan jaman. Tak sedikit dari mereka yang berkata "Jadul banget, sih kamu San!", atau, "Musik orang tua tuh!". Menurutku, itu hal yang wajar, karena mereka berparameter pada kesukaan mayoritas. Tapi, berbeda dengan tanggapan seorang temanku, yang bersama-sama bergabung dengan kelompok ensambel di sekolah, ternyata dia juga simpatik terhadap keroncong! Menurutnya, keroncong adalah musik yang "everlasting", berbeda dengan lagu pop masa kini. Yah, ternyata ada yang sependapat akhirnya :) .

Temanku yang lain mengaitkan keroncong dengan salah satu band yang memakai musik keroncong pada salah satu lagunya, Fade2Black-Bondan Prakoso. Ia baru mengenal dan menyukainya, karena dibawakan oleh anak muda, dengan gaya "funky" dan elegan masa kini. Ya, aku juga menyukainya. Sangat cocok alunan keroncong dimainkan bersama rap keren dari Bondan. Aku jadi berandai-andai. Kalau saja teman-teman sekolahku juga mendapatkan pengalaman ’indah’ dengan keroncong, mungkin ada banyak Bondan Prakosa, yang mampu memadukan kekinian jaman dengan keindahan dan kedamaian keroncong menjadi karya seni yang ’everlasting’, elegan, sekaligus ’funky’. Hmmm.... kapan ya itu terjadi?

*) Siswa SMA Negeri I Yogyakarta

3Dec/080

Geliat Keroncong Surabaya – Festival Keroncong 2008

Minggu, tanggal 23 Nopember 2008, bertempat di Gedung Cak Durasim, Dalam lingkungan Taman Cagar Budaya kebanggaan masyarakat seniman Surabaya berlangsung Festival Keroncong.

Sebuah lagu ‘Krc terkenang kenang’ dialunkan dengan merdunya oleh Bpk. DR. Ir Hari Wardana pejabat dinas Kebudayaan dan Pariwisata, sebelum bernyanyi beliau menyampaikan ; Kalau bicara perihal gedung yang di cagar budayakan, keroncong harusnya di cagar budayakan, di patent kan karena ini satu satunya didunia

Festival keroncong dibuka dengan sebuah tarian remo, tari selamat datang khas Jawa Timur, kemudian di sambung dengan sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Ibu Dra. Wiwik Widayati :

Festival ini sebagai salah satu cara untuk menyambung tali seniman keroncong yang muda dan yang tua, satu hal yang pantas kita banggakan adalah bahwa keroncong masih exsis di dunia budaya musik yang banyak dan macam macam coraknya.

Festival ini adalah kegiatan rutin Pemerintah daerah Surabaya, dengan kegiatan ini kita masih punya komitmen, tekat yang bulat melestarikan warisan budaya yaitu keroncong di tengah era globalisasi musik dunia yang serba modern, yang merupakan tanggung jawab bersama baik pemerintah, komunitas keroncong dan tokoh tokoh seniman pada umumnya.

Apa yang kita mulai hari ini dan sebelumnya akan membuahkan hasil dimasa depan. Festival ini melibatkan lebih dari 90 seniman keroncong baik itu pemain maupun penyanyi

Akhirnya saya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berharaf dukungan dari tokoh seniman di Surabaya untuk bersama sama melestarikan aset budaya bangsa ini.

Festival diikuti oleh 9 group keroncong yang berlomba, di tambah group spontanitas yang mengisi jeda saat juri melakukan penilaian bersama para seniman Surabaya.

Disela sela kesibukan festival, Tjroeng berbincang bincang dengan Ibu Ir. Maulisa yang akrap dipanggil bu Itja Kepala bidang ( Kabid ) Kebudayaan dan Pariwisata selaku penyelenggara festival tahun 2008 ini.

Tjroeng : Dalam rangka apa festival ini di lakukan bu ? dan tujuan yang ingin dicapai tentunya

Kabid : Festival ini dilakukan dalam rangka Hari Pahlawan 10 Nopember diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, tujuannya untuk melestarikan keroncong sebagai aset budaya bangsa.

Tjroeng : Berapa group yang berlomba dan ada berapa group keroncong di Surabaya ini bu ?

Kabid : Festival ini diikuti 9 Group yang berlomba dan 2 group pendukung acara

Di Surabaya ini sebenarnya ada banyak group keroncong, namun banyak diantara pemain maupun penyanyinya yang berada di dua bahkan tiga group yang berlainan. Kalau yang terdaftar di Surabaya ada kurang lebih 15 group

Tjroeng : Sejauh ini upaya apa yang dilakukan pemerintah daerah terhadap perkembangan keroncong bu ?

Kabid : Upaya itu ada, salah satunya adalah festival ini, namun kamipun menghimbau agar komunitas seniman keroncong tidak tergantung pada Pemda, silahkan berkembang dan bekerjasama dalam pembinaan keroncong, kami akan memfasilitasi.

Beberapa penonton yang di tanya Tjroeng tentang festival ini mengatakan : seharusnya pengikut dapat lebih banyak dari ini pak, tetapi karena tampaknya agak mendadak mengejar kurun waktu peringatan hari pahlawan di bulan Nopember, banyak group yang tidak siap, sehingga kali ini belum maksimal dalam artian hanya group yang siap saja bisa ikut festival.

Peserta lomba dalam festival ini membawakan satu lagu wajib yaitu “ Pahlawan Merdeka “ dan satu lagu pilihan.

OK Canina, membawakan lagu Pahlawan Merdeka dengan inovasi irama, yang tidak sebagaimana ‘pakem’ lagu tersebut pada umumnya, didahului semacam puisi yang bersemangat mengantarkan Canina menjuarai festival ini.

Bisik bisik penonton di belakang Tjroeng, …. iki dudu kroncong … biasa main band band-an arek arek iku ( ah .. ini bukan irama keroncong, biasa main band anak anak itu ) ..

Barangkali demikianlah gambaran pro-kontra tentang perkembangan keroncong, sebagian mengatakan keroncong tetap pada pakem keroncong asli, sebagian lagi harus ada pembaharuan agar berkembang.

Salah seorang juri yang dihubungi Tjroeng, mengatakan penilaian juga didasarkan kepada dinamika musik atau expressive sehingga tampak pesan yang disampaikan dalam irama dan lagu yang dibawakan.

Hasil selengkapnya sebagai berikut :

  1. Juara I : OK Canina
  2. Juara II : OK Mitra Surabaya
  3. Juara III : OK Suara Surabaya
  4. Harapan I : OK Melati Asri
  5. Harapan II : OK Mini Boyo Concours
  6. Harapan III : OK Peni

Tumbuhnya harapan bahwa keroncong tidak akan mati terlihat di dalam festival ini, lebih dari 40% peserta baik pemain maupun penyanyinya adalah kalangan anak muda.

Bahkan sang Juara OK Canina adalah group kawula muda, dan perlu diketahui pula bahwa group Canina ini tidak lain adalah group Keroncong Taman Bungkul ( Tabung ) yang di muat dalam Tjroeng edisi 5, mereka dalam ikatan group adalah Canina.

Para muda perlu dikenalkan dengan keroncong pak, demikian bisikan mas Pras salah seorang pemain dan sekaligus ketua komtas tabung kepada Tjroeng, …… kami yakin kalau keroncong tak akan mati, kami perhatikan kalau malam minggu pengunjung warung ‘Sedap malam’ tempat kami ‘bekerja’ kebanyakan para muda dan mereka dengan penuh perhatian menikmati alunan musik keroncong … memang kalau tidak kenal dari mana mereka akan menyayangi … imbuh Pras dengan yakinnya.

Dengan tidak mengurangi hormat kepada group yang kelompok para sepuh, Satu lagi kelompok yang berani melakukan terobosan diluar irama keroncong yang ‘pakem’ adalah group Mini Boyo Concours, mereka adalah group para muda didampingi oleh pak Sunaryo sebagai pelatihnya, Mini Boyo merebut juara harapan II dan menjadi peserta favorit menurut pilihan penonton. Dan pemain cellonya Antonius adalah salah seorang anggota komunitas keroncong cyber

Saat jeda menunggu hasil penilaian juri, tampil kembali group pendukung acara yang sebenarnya lah para pemain keroncong senior di Surabaya. Bahkan bapak Sidiq Cs yang dikenal sebagai seniman Ludruk Surabaya ikut menyumbangkan suaranya pula.

Dalam kesempatan yang baik ini kami membagikan buletin Tjroeng edisi 5 kepada para peserta festival, serta sebagian tamu VIP yang hadir, tak ketinggalan dewan juri dan bahkan salah seorang juri Festival berjanji akan menulis artikel keroncong disini

( Moen )

3Dec/080

The Beauty Of Unity In Diversity

Sabtu, 15 November 2008 Kompleks Gereja Tugu yang merupakan Cagar Budaya yang berada di Jl. Raya Tugu, Kelurahan Semper Utara, Jakarta Utara diadakan Festival Kampoeng Toegoe (FKT). Acara terasa menjadi sangat istimewa dengan hadirnya 3 Duta Besar 1 perwakilan dari Negara-negara sahabat. Mereka adalah Duta Besar Portugal Jose Santos Braga, Dubes Mozambik Geraldo Chirinza, dan Dubes Timor Leste Ovidio de Jesus Amaral, dan juga perwakilan dari Negara Brasil. Kehadiran mereka adalah bentuk solidaritas terhadap penduduk kampoeng toegoe yang mayoritas merupakan keturunan portugis.

Pangung besar disiapkan sebagai tempat pementasan kebudayaan Toegoe baik tari-tarian maupun Keroncong Toegoe yang termasyhur itu. Tak negara sahabat itu juga menampilkan kebudayaan mereka masing-masing. Kedubes Portugal menampilkan tarian rakyat yang penuh keceriaan yang dibawakan oleh muda-mudi Kampung Toegoe. Sedangkan Kedubes Timor Leste membawakan tarian daerah Timor Leste yang menggambarkan keberanian. Sementara itu, meski tidak dihadiri langsung oleh Dubes Edmundo Sussumu Fujita yang berhalangan hadir, Kedubes Brasil menyumbangkan peragaan seni bela diri capoeira. Meski memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, tapi disitu letak keindahannya. Seperti saudara jauh yang dipertemukan kembali, suasana meriah dan penuh kekeluargaan tergambar jelas dalam Festival yang juga dihadiri oleh Komunitas Keroncong Cyber (KC) ini. Dalam kesempatan itu, KC yang merupakan tulang punggung tabloid Tjroeng didaulat membawakan 2 buah lagu secara spontanitas. Meskipun dari latar belakang yang berbeda, para personel yang baru pertama kali itu bertemu untuk naik panggung, tetapi penampilan mereka ternyata mendapatkan apresiasi yang cukup tinggi dari hadirin.

Penampilan Keroncong Toegoe di Festival Kampoeng Toegoe 2008

Penampilan Keroncong Toegoe di Festival Kampoeng Toegoe 2008

Pecinta Keroncong sejati tentu tahu siapa itu Keroncong Toegoe (KT), selain mempunyai gaya permainan yang khas dan berbeda dengan Keroncong pada umumnya, tetapi eksistensi mereka patut diacungi jempol. Regenerasi yang berkesinambungan membuat mereka senantiasa eksis di belantika keroncong tanah air. Saat ini, Andre Juan Michiels selaku pimpinan adalah generasi yang ke 10. Konsistensi mereka yang luar biasa hebat ini yang mengantarkan mereka bisa menembus ketatnya protokol istana Negara untuk mengumandangkan keroncong yang dianggap mati suri ini. Berkat konsistensinya pula, dalam buku harian mereka juga tergores catatan pengalaman tampil di mancanegara, yang salah satunya Belanda. Pengalaman-pengalaman yang mengagumkan ini pula yang mungkin menjadi salah satu alasan Keroncong Toegoe terus bertahan, dan bahkan saat ini, sudah terbentuk Keroncong Toegoe Junior (KTJ) yang berarti merupakan generasi ke 11. KTJ juga mampu dengan apik membawakan lagu dalam penampilan mereka. Personel KTJ saat ini adalah Arend Michiels (11) pada biola, Nabila Formees (15) pada cello, Adrian Michiels (9) pada prounga (Cuk), Augusta MH (17) pada mecina (Cak), Revila Formess (16) pada contra bass, George Febrian Adolf M (11) pada gitar, dan Rafeel Formees (7) yang bermain rebana serta Vokalis mereka Angela Julliete Margriette Ermestine Michiels yang merupakan putri dari Saartje Michiels, biduanita KT. Salah satu yang menjadi ciri khas permainan KT selain cara memetik alatnya adalah sebagian besar lagu-lagu yang dibawakan mereka selalu bernuansa ceria. Menggambarkan semarak pesta yang memang menjadi kegemaran bangsa portugis. Salah satunya adalah Lagu “Cafrinho” (baca: kafrinyo) yang pada kesempatan FKT ditampilkan sebagai lagu andalan yang ditampilkan dengan khas, riang dan penuh semangat.

Pada kesempatan yang sama, Dalam acara pembukaan FKT, Pemprov DKI Jakarta yang diwakili oleh Kepala Suku Dinas Kebudayaan DKI Jakara Pinondang Simanjuntak menyumbangkan seperangkat instrumen keroncong baru yang berupa 3 buah Biola, 2 Buah Viola, Mandolin, Acardeon, Bass, Cello, Gitar dan Bass Gitar. Sebagai bentuk keseriusan dalam usaha melestarikan keroncong toegoe sebagai kekayaan budaya. Acara yang berakhir sekitar pukul 15.00 WIB itu diprakarsai diselenggarakan berkat kerjasama Suku Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Jakarta dengan Forum Kajian Antropologi Indonesia. (Wied)

Penampilan Keroncong Cyber (Tjroeng) di Festival Kampoeng Toegoe 2008

Penampilan Keroncong Cyber (Tjroeng) di Festival Kampoeng Toegoe 2008

3Dec/080

Michiel Meijer menghidupkan Keroncong di Belanda

Michiel Miejer

Michiel Miejer

Michiel Meijer”. Mendengar nama tanpa melihat wajah dari pemilik nama itu, pasti akan langsung membayangkan sosok bule, berkulit putih, bermata hijau, dan berambut pirang. Pikiran itu akan langsung berubah 180 derajat ketika bertemu langsung dengan sang empunya nama. Orang dalam hati langsung akan bertanya “Kok rambut dia hitam, kulit coklat ya?”. Ya, meski mempunyai nama Belanda, ternyata Michiel ada keturunan Indonesia. Bahkan ia lahir di Surabaya dan cukup lama tinggal di sana, hingga orang tuanya memboyongnya ke Belanda.

Bercerita tentang Keroncong di Belanda, nampaknya tidak bisa dijauhkan dari nama Michiel Meijer. Kecintaannya kepada keroncong menggiringnya untuk mau terlibat banyak di sela-sela kesibukannya, demi mempromosikan keroncong di Negeri Belanda. Di Negera Kincir Angin ini memang terdapat banyak warga keturunan Indonesia. Apalagi sejarah Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah Belanda, tak heran jika di Belanda keroncong digemari oleh banyak kalangan.

Melalui acara-acara Pasar Malam di Belanda, Michiel ikut ambil bagian dengan menggelar stand untuk mempromosikan seni Budaya Bangsa Indonesia, termasuk Musik Keroncong, beserta pernak-perniknya. Melalui diskusinya yang intens dengan Tjroeng, Michiel bersedia untuk menjadi kontak person Tjroeng di Belanda. Melalui Michiel perkembangan keroncong di Indonesia bisa diterima oleh penggemar keroncong di Belanda lewat media Tjroeng.

“Saya mempromosikan keroncong di Belanda itu bukan untuk kepentingan bisnis, tetapi atas dasar kecintaan saya terhadap keroncong”, demikian Michiel Meijer menjelaskan ketika ditanya mengapa ia sangat gencar mempromosikan keroncong di Belanda. Ungkapan Michiel Meijer ini seolah menjadi pelengkap bagi aktifitas kawan-kawan yang tergabung di Tjroeng. Mereka mau bekerja secara sukarela untuk memajukan keroncong karena atas dasar kecintaan yang luarbiasa. Keroncong memang patut dicinta karena iramanya yang sangat cantik. (ABW)

2Dec/084

Toto Salmon

Toto Salmon

Toto Salmon

Minggu pagi yang cerah, bertempat di Cempaka Putih Utara, kami dari Tjroeng di sambut dengan ramah sekali oleh Bapak Toto Salmon dan Keluarga. Sebelum memulai wawancara, beliau sempat menanyakan Buletin Tjroeng dan tentu saja kami tidak lupa membawakan edisi kelima tersebut khusus untuk beliau.

Di usianya yang ke-65 tahun di dampingi sang istri tercinta Ibu Tjitjik Sri Sutini, berdua tampak segar dan bersemangat sekali saat kami mulai bertanya tentang debut awal seorang Toto Salmon,

“ Kalau cerita soal karir menyanyi, saya ini mulai dari menyanyikan seriosa, guru yang mengasah kemampuan saya itu adalah Pak WS. Nardi, sekitar tahun 60-an saya yang lulusan sekolah tehnik sudah bernyanyi seriosa dengan teman-teman dulu, pernah tergabung dalam TDC alias Teenager Dance Club yang ‘twist all around’ pada jaman itu, ya ikut pop singer juga, nyanyi di Night Club juga…” katanya dengan ramah, waktu Tjroeng menanyakan apa yang membuat seorang Toto Salmon terjun dari seriosa beralih kepada musik keroncong, kemudian dengan tertawa beliau melanjutkan kisah karirnya,

“ Nah kalau dibilang ‘fight’ saya untuk keroncong, saya ingat sekali umur saya belum dua puluh lima tahun, saya lihat kok tidak ada anak muda yang membawakan lagu keroncong pada saat itu. Di situ saya mulai muncul dengan gaya penampilan yang berbeda, rambut panjang sebahu, dan zaman dulu itu penyanyi bernyanyi tanpa boleh memegang mic suara, saya ya mecahin aturan itu sebagai acting stage saya, ha… ha.. tapi malah juara keroncong terus kesana dan kesananya, “

Perjalanannya dari panggung festival ke panggung festival lain selalu membuahkan prestasi yang bagus memang seperti di tahun 1975 sampai dengan tahun 1982 beliau menempati posisi pertama bertahan selama dekade tersebut sebagai Juara I Bintang Radio dan Televisi se-DKI Jakarta dan Nasional dengan pilihan jenis musik keroncong. Dari arsip Harian Tempo Nomor Edisi 44/ 03 Januari 1976 di artikel Bintang Suara dan Gaya, menarik memaparkan komentar juri penampil Bapak Taufiq Ismail yang meyebutkan seorang Toto Salmon sebagai penyanyi yang muncul dengan tidak membosankan.

Deretan penghargaan yang beliau terima antara lain di th.1998, dari Anugerah Musik Indonesia dalam penghargaan Album Keroncong Tradisional Terbaik, th.2002 penghargaan Penyanyi Keroncong Sepanjang Masa dari Walikota Jakarta Barat, dan th. 2004 Penghargaan Orkes Keroncong Kreatif dari ASPINDO. Tentunya pantaslah seorang Toto Salmon menyandang gelar Maestro of Keroncong Music (http://www.totosalmon.com)

Pembahasan berlanjut kepada cara pandang positif seorang Toto Salmon terhadap musik keroncong yang sudah mulai ditinggalkan adalah bahwa dia tidak setuju dengan pandangan musik keroncong yang berasal dari Portugis, “ Kalau saya cenderung kepada anggapan bahwa pada dasarnya justru nenek moyang bangsa kitalah yang teramat cerdas hingga dapat membuat improvisasi dari alat musik yang ditinggalkan penjajah sehingga menemukan identitas musiknya sendiri dijaman penjajahan yang serba sulit itu, cerdas bukan?” katanya bersemangat,

Toto Salmon, Bapak dari lima putra dan putri ini tidak memaksa putra putrinya harus menekuni bidang seni musik terutama keroncong pada mereka, walaupun dibilangan rumahnya yang asri dan nyaman itupun beliau membuatkan studio khusus musik untuk anak-anaknya. tapi beliau yakin sekali dengan keberadaan keroncong yang kedepannya akan makin terangkat, salah satunya dengan kehadiran Buletin Tjroeng, “ Saya sangat antusias sekali dengan keberadaan bulletin troeng ini, sebagai media yang mengekspose anak-anak muda berkegiatan berkeroncong, tapi hanya saran saja agar pembaca tjroeng nanti tidak hanya dari kalangan komunitas keroncong saja, ya mungkin disisipkan padu padan jenis musik lainnya seperti pop, jazz atau lainnya, itu akan sangat bagus sekali, “ paparnya,

Tidak sia-sia Tjroeng bertandang kerumah seorang Toto Salmon di minggu pagi yang cerah, selain mendapatkan berita menarik, kami malah diajak melihat-lihat studio musik miliknya dan pulang dari sana pun beliau memberikan oleh-oleh CD Album Keroncong Asli sebagai koleksi Tjroeng tentu saja.

Jakarta, 23 November 2008

Tagged as: 4 Comments
2Dec/0812

Gurah, Bengkel Penyanyi Menjernihkan Suaranya

Pernahkah pembaca mengenal pengobatan yang disebut Gurah ? apa kasiatnya dan bagaimana cara pengobatannya ?

Berikut pengalaman penulis mengantar seorang kawan untuk pengobatan gurah, yang katanya telah beberapa kali dia dilakukan.

Kraton, sebuah daerah disebelah barat Krian, kurang lebih 30 km dari Surabaya kearah Mojokerto, pk. 08.15 disebuah rumah berpekarangan luas dan teduh kami berhenti.

Bahrul Ulum, sebut saja tabib gurah menyambut kami dengan wajah damai dan senyum yang lembut. Setelah mempersilahkan kami dan menanyakan keperluan kami beliau menjelaskan secara singkat maksud pengobatan :

Gurah adalah pengobatan tradisional yang amat dikenal sejak dahulu oleh kalangan pesinden, untuk menjernihkan suaranya. Sampai sekarang Gurah dikenal dikalangan penceramah, penyanyi untuk menjernihkan dan menyaringkan suaranya.

Sebenarnyalah gurah bermanfaat bagi gangguan yang berhubungan dengan tenggorokan dan pernafasan seperti Asma, sinusitis, batuk kering dan sebagainya juga gejala kepala sering pusing akibat polusi udara, serta perokok.

Bahrul Ulum kemudian menjelaskan proses pengobatan dan apa yang harus dilakukan si pasien, pengobatan dimulai setelah pasien mengetahui benar (terutama untuk pasien yang baru pertama kali gurah) apa yang harus dilakukan.

Pasien diminta tidur telentang, melalui hidung di teteskan ramuan obat gurah (yang dibuat dari pohon Sirgunggu, yang konon tumbuh di daerah imogiri Yogya) setelah di minta menggeleng gelengkan kapalanya selama kurang lebih 3 detik, pasien disuruh tengkurap.

Gurah itu intinya adalah proses pengobatan mengeluarkan slem / dahak atau lendir yang ada di rongga hidung dan tenggorokan. Oleh karena nya bed tempat pasien di mana tindakan pengobatan dilakukan di desain secara khusus, ada lubang yang berhadapan langsung dengan mata, hidung dan mulut. Yang akan mengeluarkan airmata dan lendir selama pengobatan berlangsung. Disebelah bawah bed ditempatkan baskom plastik untuk menampung lendir yang keluar.

Pengobatan ini berlangsung antara 1 sampai 3 jam tergantung kondisi pasien, biasanya pasien yang baru pertama kali gurah akan cukup lama, karena banyaknya lendir yang dikeluarkan.

Sang Tabib selama setengah jam pertama, memijit kepala dan tengkuk pasien dengan lembut untuk melancarkan aliran lendir, pasien diminta membantu mendorong lendir dengan jalan melakukan seperti mengeluarkan ingus (sisi – bhs jawa) dengan pelan pelan.

Rasanya hanya pengar seperti kalau hidung kemasukan air waktu berenang, dan pada saat ini, bernafas harus melalui mulut karena hidung benar benar tersumbat oleh lendir yang kental, lendir yang keluar dari hidung tidak boleh diputus (maaf : lendir yang keluar demikian pekat sehingga tergantung diluar hidung sampai 15 - 20 cm ) kalau diputus akan mulai proses awal lagi dengan menggantungnya lendir yang diluar ini menarik yang ada didalam kepala … demikian paparan sang Tabib.

Kami datang memang masih cukup pagi, sehingga baru kami pasien yang di tangani Pada tahap ini tidak ada yang dikerjakan oleh tabib, sehingga kami bisa berbincang bincang panjang lebar

Pengobatan ini turun temurun dari kakek dan ayah saya, keluarga kami sudah manjalankan praktek ini lama sekali, ayah saya dulu memulai pekerjaan ini dengan menjajakan keliling di th 1945, beliau meninggal pada umur 98 th

Biasanya Hari Sabtu sore dan Minggu pasien paling banyak, dan datang secara rombongan, pernah ada rombongan yang berjumlah sampai 40 orang.

Pasien terbanyak adalah penyanyi untuk membenahi atau mempertahankan suaranya, kalau dikalangan santri para Qori’ / Qori’ah agar bening dan nyaring dalam membaca Al-Qur’an. Daya tampung pengobatan yang ada ini bisa 12 orang sekaligus, bila yang datang rombongan besar ya harus antri.

Percakapan kami terputus karena kedatangan tamu, yang datang dengan maksud serupa, salah seorang yang tidak ikut gurah kami ketahui adalah seorang penyanyi elektone yang biasa mengiringi hajatan dan mengisi lagu lagu pada sebuah rumah makan.

Saya melakukan gurah ini rutin pak, 3-4 bulan sekali. Kali ini saya mengantarkan kawan (sambil menunujuk pasien yang sedang diobati) saya merasakan sekali manfaatnya, setelah gurah tenggorokan ini rasanya plong. Saya perlukan ini karena saya cari uang lewat suara … ( sambil tersenyum )

Lho mbak ini penyanyi ? penyanyi apa dan dimana ?

Saya penyanyi elektone pak, di sebuah restoran (menyebut nama restoran masakan china) dan juga melayani tanggapan kalau ada hajatan.

Menyanyi apa mbak ? keroncong juga ?

Menyanyi apa saja, dan memang dituntut demikian karena kalau tidak kan … hm jadi kalah bersaing dan nggak laku. Keroncong dan campursari juga ini biasanya kalau di hajatan. Kalau di rumah makan jarang yang minta lagu keroncong .. ( senyum lagi )

Terus yang paling senang nyanyi apa mbak ?

Jujur saja saya paling senang nyanyi lagu China, atau tepatnya senang kalau di minta membawakan lagu China ….. karena hm … tip dari pengunjung rumah makan yang meminta lagu lumayan .. bahkan kadang melebihi honor tetap .. ( senyum lagi .. )

Sewaktu penulis mengatakan mungkin obrolan kita ini akan saya kirimkan ke sebuah buletin keroncong dia kipa kipa ( meminta dengan sangat ) jangan menyebutkan namanya dan rumah makan tempat bekerja.

Jangan pak .. benar ya jangan tulis nama saya dan kawan saya serta rumah makan tempat saya bekerja, apalagi ditulis sedang Gurah disini … ini rahasia dapur kami Pak, terus terang saya nggak mau pesaing kami melakukan hal serupa disini ( kali ini agak cemberut ) dan jangan difoto ya pak, saya berikan alamat group saya saja barangkali bapak memerlukan hiburan elektone untuk keperluan hajatan ….

Sayapun berjanji tidak menyebutkan dalam tulisan ini, karena yang dikatakan Erni ( bukan nama sebenarnya ) adalah urusan perut, dialam persaingan yang ketat barangkali.

Hal yang menjadi tanda tanya, benarkah Gurah sedemikian ampuhnya untuk menjaga agar suara tetap jernih dan bagus hingga rahasia bengkel pita suaranyapun dirahasiakan.

Barangkali dari pembaca ada yang minat mencoba, tak ada salahnya toh ? minimal urusan tenggorokan dan saluran pernapasan kita plong dan bebas gangguan.

Rekan kami selesai proses dengan tanda tanda hidung tidak buntu lagi dan sudah tidak ada cairan yang keluar, perjalanan jarum panjang di arloji saya berputar dua setengah kali yang artinya proses gurah teman saya memerlukan waktu 2.5 jam … wow.

Setelah proses pengobatan selesai pasien duduk untuk menghilangkan pusing, kemudian dipersilahkan untuk cuci muka, dengan sedikit sempoyongan kawan saya menuju kamar kecil untuk membasuh muka membersihkan hidung dan mulut.

Sempoyongan, sedikit sembab pada mata dan pusing adalah hal biasa setelah pengobatan ini. Hal ini disebabkan karena tengkurap yang lama, pandangan mata kebawah terus, bukan karena obat, dalam 2-3 hari ini biasanya masih ada sisa lendir yang keluar, setelah itu baru terasa manfaat gurah - demikian tutur pak Tabib.

Tidak ada pantangan dalam pengobatan ini, hanya dihimbau dalam 3 hari setelah gurah disarankan tidak makan makanan pedas dan minum es, dalam waktu seminggu setelah guran disarankan tidak makan ikan laut dan makanan cepat saji.

Ongkos Gurah serela hati, namun biasanya pasien memberikan imbalan kisaran Rp. 50.000,- per orang, yang di terima dengan senang hati di iringi doa semoga pengobatan ini bermanfaat bagi pesien.

Pak Moen, Surabaya, 8 Nepember 2008